Jumat, Mei 10, 2013

Korupsi Segumpal Daging Bawah Selangkangan dan Teori Konspir-sapi



Dari semua uraian mengenai teori konspirasi (conspirations theory), tak ada yang bisa meyakinkan, darimana asal-usul teori persekongkolan ini. Kalau bisa diketahui, maka relatif kebohongannya besar, karena salah satu sifat dasar teori ini adalah kerahasiaan. Hanya di Indonesia saja, seorang reserse memasang sticker di pintu rumahnya, bahwa penghuninya adalah reserse (apa maksudnya jika bukan untuk menakut-nakuti debt-collector dibanding tugas kerahasiaannya?) Itulah Indonesia Raya!

Namun, jika kita cermati dari bunyi kata itu sendiri, besar kemungkinan teori ini pertama kali ditemukan di daerah ngapak-ngapak seperti Kebumen, Kutoarjo, Kutowinangun, Banyumas, Wonosobo, yang bisa jadi terjadi di pusat-pusat perekonomian. Di pasar-pasar, warung-warung, dan di setiap transaksi antara pedagang-petani, bakul-pembeli, selalu kata-kata itu muncul; “Kon pira, sih? Inyong ora wani,...” (Minta berapa sih, harganya,... kira-kira demikian terjemahannya).

Pedagang atau bakul yang selalu ingin membeli murah dan menjual mahal, agar untung gede, agaknya kemudian bersepakat, bersekongkol dengan para pedagang dan bakul lainnya, agar mereka dapat mencapai tujuannya. Dan hasilnya, petani jadi korban, pembeli jadi korban, dan mereka untung besar.

Inti konspirasi adalah persekongkolan atau kesepakatan. Untuk menunjang itu, dibutuhkan skenario. Karena itu, pada waktu dulu, kebutuhan akan penulis skenario sudah luar biasa banyak. Profesi penulis skenario, dibayar tinggi, tak seperti sekarang, banyak PH (production house) membayar penulis skenario (script-writer) murah, dan jangan heran kalau sinetron-sinetron di televisi kita kualitasnya acakadut.

Apalagi ketika kebutuhan akan scriptwriter ternyata tak hanya di televisi, melainkan juga di partai politik, perselingkuhan suami-suami takut isteri. Akhirnya semua itu mengakibatkan tak ada seleksi, karena antara kebutuhan dan ketersediaan SDM tak memadai. Maka lahirlah kisah-kisah yang ecek-ecek dalam dunia peradaban sosial kita, tanpa kecuali kepolitikan kita.

Seperti apa yang terjadi sekarang, ketika KPK mulai menyisir barang-barang bukti milik LHI atau AF, PKS bagai kebakaran jenggot (entah ini dalam maka konotatif atau denotatif). Mereka marah dan menyusun strategi perlawanan. Bahwa ini pasti konspirasi, KPK dipakai sebagai alat kekuasaan tertentu. Sama persis dulu ketika orang-orang Demokrat dicokok KPK, mereka juga menuding hal serupa.  

Nah, kita bisa membayangkan, jika semua orang yang dicokok KPK, atau dicokok hukum, menuding balik seperti itu? Susno Duadji dan Yusril Ihsa ngomong ini konspirasi kekuasaan, teroris ngomong itu konspirasi kekuasaan, Eyang Subur nuding ia korban konspirasi 3M (media gossip, masyarakat gatel, dan MUI), terus apa jadinya negeri ini? Ya, tetap saja jadi negeri Indonesia, kecuali kelak ganti owner dan ganti nama menjadi Indokampret misalnya.

Bahwa ketua KPK Abraham Samad goblog dan temperamental (nggak apa nuduh dia begitu, tapi kan tidak menyuruh dia mundur, daripada bilang dukung KPK, tapi bikin konspirasi untuk mendongkel dan mengobrak-abrik KPK), kita tahu itu. Tapi kita harus memulai dari satu titik, untuk mendorong lembaga ini menyelesaikan pekerjaannya, yakni dengan pembuktian hukum-hukum yang logis, dan bukan tudang-tuding teori konspirasi tanpa mampu menyebut alamat, kecuali hanya ingin memecah opini publik.

Jangankan orang Indonesia, orang Amerika saja, percaya adanya teori konspirasi. Tak sedikit yang percaya bahwa John F Kennedy sejatinya diselamatkan kaum alien karena teori konspirasi. Sebagaimana juga peristiwa 11 September terjadi karena persoalan petrolium dollar more!

Tapi, saya ingatkan, hal lain yang ingin disembunyikan dari diedarkannya teori konspirasi, ialah menyembunyikan fakta dasarnya atau fakta logikanya. Intinya, kalau misal bahwa elite PKS ini dijebak, lha kok mau dijebak? Orang yang tidak tahu dijebak, kemudian dia terjebak, dan menyalahkan penjebaknya, pastilah orang yang tidak siap menjadi pemimpin, teladan, dan tidak fathanah (itu sebabnya mereka menolak Fathanah bukan orang PKS, karena kalau mereka cerdas, berarti di PKS ada fathanah-nya dikit-dikit gitu lho). Lebih celaka lagi, menyalahkan penjebak tetapi menikmati hasil jebakannya itu, yang bukan tadi siang menikmatinya, tapi sudah lebih dari dua tahun, sudah dipakai kowan-kawin, mbela-mbeli mobil mewah, apartemen untuk isteri muda, kawin syiri, dll, dsb, lha kok tiba-tiba ngomong kita dijebaaaaaakkkk,...! Dijebak dari Hong Kong?

Yang namanya jebakan, itu sudah setua sejarah manusia, dari sejak Kanjeng Nabi Adam hingga Kanjeng Nabi Muhammad. Dan selalu hanya pemimpin yang cerdas, yang bisa dipercaya, yang tidak bisa dijebak, yang akan diikuti ummat. Karena itu mereka biasanya tidak mendirikan partai politik, tetapi mendirikan shalat, menegakkan kebenaran dan keadilan, bukan mendirikan keadilan untuk kesejahteraan elitenya.
Think localy act globaly, dari Banyumasan seanteronya, menuju teori konspirasi dunia. Kalau kamu tidak berkeadilan dengan kebenaran, kesejahteraanmu hanya setingkat selangkangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar