Rabu, Mei 08, 2013

Indonesia di Bawah Selangkangan Uang yang Mahakuasa

"Semua orang memuji-muji surga," kata James Baldwin, penulis dan aktor, "tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga."
Benarkah demikian? Kita tak bisa bertanya pada Uje, ustad puluhan juta rupiah per-15 menit itu. Soal beginian, yang tahu tentu hanya yang Mahatahu dan yang Soktahu (yang terakhir ini biasanya dikategorikan pada industriawan gossip selebritas dan para korbannya).
Di Indonesia Raya, kita selalu dipaksa untuk yakin, ada begitu banyak ahli sorga, yang entah kapan dapat SK dari Tuhan, hingga bisa menghakimi orang perorang murtad atau tidak, bahkan bisa menentukan layak atau tidak layak seseorang masuk sorga atau neraka, semengtara beberapa anak MUDA komika dari 'Negeri Stand Up Commedy' meyakini, “masuk neraka” adalah idaman mereka, sesuai sabda Indro Warkop. Padahal menurut Habib Soleh (yang dibantah Habib Selon sebagai bukan pengurus FPI) ketika membela Eyang Subur, “Hanya Allah yang berhak menilai manusia itu sesat atau tidak,...!”
Di tangan manusia, agama bisa jadi blunder, khususnya pada manusia-manusia yang selalu memakai dalil agama, comot pasal sana pasal sini, menjadi agama teks tapi kehilangan konteks. Para agamawan ini kemudian bisa tak jauh beda dengan para lawyer, yang menafsir satu pasal bisa menjadi beragam dalil sesuai kepentingannya, bahkan bisa jadi dulu memakai pasal ini untuk itu, esoknya memakai pasal itu untuk ini, yang satu sama lain bertolakbelakang. "Hidup bersama orang suci ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi orang suci itu sendiri," demikian keluh Robert Neville, sang aktor dari Amerika Serikat kita sikat (dan Inggris kita linggis, jika SBY mau mengembalikan gelarnya sebagai Ksatria Inggris).
Di negeri nasionalis religius ini, bahkan partai politik pun memakai agama sebagai opium, untuk membius kesadaran kritis. Ada banyak korupsi, dinasehatkan jangan su’udzon. Ada banyak penyelewengan, jangan menuduh mereka karena belum tentu kita lebih baik. Mantra-mantra agama perlahan justru dipakaikan untuk mematikan daya kritis, karena daya kritis diidentikan dengan kekafiran. Maka Hitler, sang pemimpin Nazi, bisa dimengerti jika berkata, "Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir. Aku tidak perlu berpikir, karena aku adalah pegawai pemerintah,..."
Mengutip Charles de Gaulle, Presiden Perancis pertama, "Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya." Maka demokrasi, kata yang selalu dipakai sebagai alasan, berjalan dalam rel pseudo-demokrasi, demokrasi yang semu, karena; "Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi," seperti ujar Clement Attlee. Dan itu melelahkan. Makanya PM Inggris itu berkata kemudian, "demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut."
Alat tutup mulut paling efektif, adalah uang (mungkin ujar AF juga sex dan mobil mewah) seolah membenarkan pelawak Will Rogers, yang mengatakan; "Politik itu mahal, bahkan untuk kalah pun kita harus mengeluarkan banyak uang."
Bukan hanya kalah, bahkan di Indonesia, untuk masuk penjara pun juga memerlukan uang. Bukan hanya bayar lawyer, melainkan juga membayar yang lain-lain, entah jaksa, hakim, polisi, sampai pun sipir.
Praktik politik kita, di Indonesia, pada akhirnya lenjeh dengan manipulasi, korupsi, dan politik ekonomi rente yang bisa menjerat siapa pun. Maka jika tak kuat mental, dengan kerja mudah dapat milyaran rupiah (misal dalam politik cuma ngomong ngacau bisa dapet duit, misal dalam agama jadi ustad seleb bisa dapet duit, semuanya mudah dan jumlah ngaudzubillah), akibatnya bisa seperti AF yang bagi duit, jam, mobil bernilai milyaran pada banyak perempuan bukan muhrimnya.
Politik berbiaya tinggi itu, mengindikasikan semuanya semu. Semuanya dibangun di awang-awang. Dan uang lebih berputar di sana. Dalam praktik beragama, kita juga mengenali gejala yang sama. Berapa banyak panitia acara keagamaan ternganga, disodori DP puluhan juta dari tarif ustad seleb, dan tidak akan dikembalikan jika acara batal. Karena membatalkan acara adalah dosa, dan dosa harus dibayar di muka.
Apakah semuanya ini? Formalisasi berfikir dan beragama kita menyeret kita dalam pragmatisme. Semua hal dinilai dari azas kemanfaatan (diri sendiri). Kapitalisme Orde Baru beranak-pinak subur, hingga teriakan reformasi hanya omong kosong, karena lebih merupakan kelanjutan, makanya SBY suka teriak, "Lanjutkan!". Dan kita makin didorong vandalism yang binal dalam kekuasaan (politik, agama, uang), "Hasil dari kerja adalah uang. Hasil dari uang adalah lebih banyak uang. Hasil dari lebih banyak uang adalah kompetisi yang ganas. Hasil dari kompetisi yang ganas adalah dunia yang kita diami ini," ujar DH Lawrence sang penyair itu.
Dan ketika yang mengaku ini dan itu, yang lebih baik dari yang lain, ketika dihujat dan dituduh munafik, tidak konsisten dan sebagainya, akan berbalik menyerang; Bukan saya saja yang melakukan ini. Temen saya juga! Don Marquis, seorang kolumnis, dengan sinis menyebutnya; "Orang yang munafik adalah orang yang,... 'hey, siapa sih yang tidak munafik?'”
Apa yang akan didapat dari Indonesia, dengan kualitas pemimpin negara (politik dan agama) seperti itu? Saya teringat pidato presiden AS, Herbert Hoover, yang sinis, "Berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa."
Pemerintahan yang tidak produktif, adalah pemerintahan yang lebih banyak meninggalkan hutang, apalagi jika pemerintahan itu korup (dan menjadikan masyarakatnya konsumtif, seperti kata Pram). Demikian juga suatu bangsa akan mendapatkan celaka, ketika pemimpin agama tidak bisa membimbing umatnya, apalagi mereka juga menjadi bagian dari masalah. Ketika Tuhan menguji kita dengan ‘soal’ Eyang Subur saja, kita lebih suka main kayu daripada berdiskusi sebagaimana diajarkan nabi-nabi yang direkomendasikan Tuhan.
Kenapa demikian? Menurut Kyai Eyang Cubluk dari desa bawah paha, yang mengutip Eyang Voltaire, sang filsuf klasik Yunani itu, "Apabila kita bicara soal uang, maka semua orang sama agamanya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar