Kamis, April 18, 2013

Yogyakarta Berhati Preman (1)



Di Yogyakarta, yang dikenal dengan slogan berhati nyaman itu, kini dipenuhi dengan poster, spanduk, mural anti premanisme. Agaknya, paska kasus LP Cebongan, yang muncul adalah dukungan meluas, kepada TNI dan terutama Kopassus, yang entah kenapa kini mendapat dukungan melimpah (setidaknya lewat poster dan spanduk-spanduk itu, terima kasih digital pinting, yang memberi kemudahan untuk bikin spanduk murah dan cepat).
Herannya, peng-anti-an preman dan peng-iloveu-an TNI/Kopassus itu, dibarengi dengan berbagai hujatan 'ke Yogya untuk belajar bukan jadi preman', 'sejuta preman ditembak mati rakyat yogya tidak rugi', waduh, keren. Sementara, tak ada yang menuntut bagaimana penyidikan kasus empat tersangka yang membuat tewasnya Sertu Heru Santosa di Hugos Cafe (19/3). Benarkah 4 orang tersebut preman? Buktiin di depan hukum dong, kalau mau fair, atau kasusnya ditutup karena masing-masing yang bertikai sudah tewas semua? Kalau gitu, gampang, suruh orang membunuh orang, terus pembunuh suruhan itu kita bunuh juga, selesai persoalan. Ok?
Saya sebagai orang Yogya merasa heran saja, kok poster-poster kita keren banget menghantam preman. Sayangnya, preman-preman yang dimaksud adalah preman-preman amatiran yang miskin-miskin. Kalau kita mau awut-awutan, kenapa tidak minta para ksatria kita yang gagah berani itu untuk membunuhin preman berdasi dan beseragam yang berkait bisnis narkoba di Yogya? Menggasak preman perijinan tempat hiburan malam? Preman-preman yang menjadi backing salon plus-plus, hotel-hotel, tempat-tempat perjudian kelas atas di Yogyakarta? Nggak usah nembakin para koruptor di Jakarta atau Senayan deh, cukup dari Yogya untuk Indonesia dengan nembakin preman kelas atas di Yogya saja, agar jangan menepuk air di dulang terpercik ke muka sendiri.
Sayangnya, kita suka memuliakan ajaran buruk ortu; Buruk muka, preman dibelah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar