Rabu, April 03, 2013

Percakapan dengan Eksekutor Cebongan pada Sebuah Kafe


Tidak sangat sulit dan rumit untuk menemui eksekutor Cebongan. Tidak dibutuhkan ilmu yang sangat tinggi, karena orang yang saya temui ini juga tidak sangat tinggi. Saya bocorkan percakapan kami dari sebuah cefe coffee yang sangat ndesit dan nyempil di sudut kegalauan saya.
"Sampeyan ini Kopassus, atau Intelpam?"
"No comment!"
"Dari Brimob?"
"No comment!"
"Grupnya Ugro Seno atau Gories Mere?"
"No comment!"
"Hm, no comment itu artinya iya atau tidak iya?"
"No comment!"
"Hadeh, saya kira sia-sia Anda mengajak saya menikmati kopi pahit ini," saya melenguh sembari menyeruput espresso kayak tap olie itu.
"Tapi saya sungguh ingin bercerita,..." katanya kemudian. Ia menyedot rokoknya seperti menyedot jantung perawan seekor monyet. Asap mengepul kental membentuk segi tiga biru, seperti lambang karung terigu.
"Iya, tetapi tidak dengan dua kata gelap itu. Atau sampeyan sudi mendengar saya ceritakan novel Iwan Simatupang?"
"Oh, no, jangan! Saya penikmat cerpen-cerpen macam di Kompas atau Tempo, gitulah. Jangan yang gelap-gelap!"
"Lho, cerpen di Kompas kadang juga gelap,..."
"Enggaklah. Digelap-gelapkan iya sih,..."
Tak tahan saya mencomot lagi sebatang rokok, "Kok malah diskusi sastra!"
"Ya, ini memang sastra. Sangat sastra."
"Di mana sastranya? Lihat puisi-puisi dan curhatan di fesbuk, jauh lebih sastra!"
"Sungguh penyerbuan itu nggak sengaja dilakukan,..."
Saya mulai menyimak, dan membiarkan asap rokok berkelana bebas sebagaimana tulisan Mariska Lubis.
"Ya, kami memang terlatih, sangat terlatih. Tapi, ini memang kelompok yang tidak dikenal, karena kami ogah kenalan!"
Kata-kata badut, gumam saya dalam hati. Kalau kelas pembunuh pun juga badut, apalagi yang bisa saya harap dari negeri ini?
"Masih ada,..." tiba-tiba ia menyahut, seolah mendengar kata hati saya. Saya perhatikan wajahnya persis Ki Ageng Suryomentaram yang meyakinkan Sukarno, bahwa pasukan intelijen itu penting bagi Indonesia. Sukarno saja yang agak dogol ketika bertanya, "Untuk apa?"
Kuperhatikan ia menyeruput coffelate. Seleranya tentang kopi agak pop sebenarnya, persis merk sepatu putih Remy Sylado.
Tapi saya benar-benar mulai tak sabar, "Lantas, siapa sesungguhnya penyerbu Cebongan itu? Benarkah itu Joko Pekik, pelukis celeng, sebagaimana ditulis besar-besar di sampul majalah Tempo itu?"
Dia tertawa, "Bang, kita semua sedang bermain kata-kata, Bang! Kami senang Zuckerbergh membantu kami!"
"Mark Zuckerbergh? Yahudi yang dihujat tapi temuannya juga dinikmati para penghujatnya?"
"Abang 'kan lebih tahu definisi masyarakat munafik itu seperti apa," ia mulai serius, "bukan itu maksudku. Tapi dengan fesbuk, reproduksi kata-kata itu membantu pembiasan. Pembiasan itu penting untuk stabilitas nasional, Bang!"
"Dengan mengorbankan harga-harga sembako?"
"Manusia itu kalau cuma satu-dua, Bang, bisa merepotkan kita. Tapi kalau mereka berhimpun, itu hanya himpunan angka."
"Baiklah, jangan terlalu filosofis, siapa sebenarnya sampeyan ini?"
"Kami? Kami adalah kata-kata, kata-kata yang tak dikenal dan memang sangat terlatih,..."
Pagi ini bukan hanya kopi saya yang pahit. Saya tak sabar untuk menyudahi pertemuan ini. Pengin segera bercinta di lumpur sawah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar