Rabu, April 03, 2013

Bagaimana Berkomunikasi di Dunai Maya?


Pernah merasa jengkel, terhina, disepelekan, atau biasa saja ketika Anda memboncengkan seseorang di sepeda motor Anda, dan yang Anda boncengkan asyik sendiri dengan monitor HP atau BB-nya? Merasa lucu ketika kita duduk berhadapan di satu ruang tamu dengan masing-masing lebih asyik mencet keypad dan mata tak lepas dari monitor HP/BB?
Atau bagaimana rasanya makan bareng tapi pasangan Anda celingak-celinguk terus ke monitor HP/BB-nya? Dan akan lebih sebel lagi tentu, jika tiba-tiba saat berdua, HP/BB dia memberi sinyal ada telpon masuk, tapi buru-buru dia mematikannya dengan alasan salah sambung?
Jika Anda berkomunikasi di dunia maya, entah chatt di wall atau pm/inbox, jangan bayangkan Anda sedang berhadapan dan menyerahkan diri 100% untuk berdialog hanya dengannya. Untuk tidak kecewa, berlakulah juga seperti mereka, tidak menganggapnya istimewa, dan lakukan sambil lalu dan hanya merespons atau mereplynya jika prioritas yang Anda hadapi di dunia nyata terselesaikan. Jangan bayangkan kita sedang berhadapan dan bercakap berdua saja, karena siapa tahu lawan dialog Anda melakukannya sambil beol, atau bahkan sambil chatting dengan lainnya lagi dan lainnya lainnya lagi.
Jangan perlakukan etika di dunia nyata pada komunikasi dunia maya. Karena kalau salah melakukan, ada dua kemungkinan sama-sama buruk. Anda merasa diistimewakan padahal tidak, dan Anda memain-mainkan hati Anda untuk yang Anda sendiri tidak tahu serta boros waktu tentu.
Etika, adab, tatakrama, atau sopan-santun kita di dunia nyata saja belum selesai atau belum fasih, tapi tiba-tiba kita meloncat ke gelombang komunikasi maya, pasti jamak membuat kita tersesat atau bahkan bertabrakan. Dari gelombang satu langsung, menurut Toffler, loncat ke gelombang empat. Bagaimana kita membacai fakta di fesbuk, apa beda Ijon Janbi dengan para fesbuker yang menyembunyikan identitas aselinya, itu juga hal-hal yang membuat kita bisa terjebak.
Kita sendiri belum bisa fokus, tetapi tiba-tiba teknologi media kita memaksa kita untuk multi-focus, semuanya butuh perhatian, semuanya menyedot perhatian, tapi kita tak sudi menaikkan peringkat pengetahuan dan sensibilitas kita. Bahkan untuk menuliskan kalimat (karena komunikasi ini tertulis dan membutuhkan huruf-huruf) yang bisa dipahami standard atau umum saja masih problem besar, hingga buku-buku teks kita pun mulai belepotan kata-kata lisan karena takut dianggap tidak gaul (sebetulnya takut 'tidak laku' sih), dan kita sulit mendapatkan referensi standar. Bahasa Indonesia kita, adalah bahasa lisan.
Pada kenyataannya, media seperti fesbuk misalnya, tetap saja bertumpu pada persahabatan dunia nyata (sehingga kemudian banyak orang yang meremove atau membatasi hanya confirm dengan yang sudah dikenalinya), karena kita sendiri memang belum siap menjalin persahabatan di dunia maya. Apalagi kalau sudah mis-communication gara-gara salah baca atau salah nulis dengan kalimat tak lengkap. Belum lagi jika masuk dalam tema pembicaraan yang agak ideologis (entah agama, politik, etnis), sensitivitas dan sensibilitas kita yang "tak merata" itu, menjadi polisi tidur yang benar-benar mencelakakan, bukannya membangunkan kesadaran.
Berdumaylah dan bergembiralah, tapi tak perlu menyerahkan diri menjadi hambanya dalam 24 jam, dan tidak bodoh-bodoh banget dalam menyikapinya.

2 komentar:

  1. My relatives every time say that I am killing my time here at net, except I know I am getting familiarity
    everyday by reading such nice articles.

    my web page - loiseliere

    BalasHapus
  2. I was curious if you ever considered changing the page
    layout of your website? Its very well written; I love what youve
    got to say. But maybe you could a little more in the way
    of content so people could connect with it better.

    Youve got an awful lot of text for only having 1 or 2 images.
    Maybe you could space it out better?

    Here is my web blog :: lavinsky

    BalasHapus