Kamis, April 18, 2013

Yogyakarta Berhati Preman (2)



“Jadi kamu anti-Kopassus, dan pro-Preman?” bertanya seorang teman kepada saya.
“Saya tidak ingin menghina Kopassus,” jawab saya, “kamu tahu, Kopassus itu pasukan elite nomor empat yang disegani dunia? Apanya yang saya perlu bela? Mau menggarami laut atau menghinanya? Saya gemetaran dengan ancaman Mayjend Agus Sutomo, siapa yang berani menghinanya?”
“Tapi kenapa kamu membela preman?”
“Kenapa begitu kesimpulannya? Preman itu makhluk lemah, di mana-mana. Ia pantas dibela,” kata saya, “saking lemahnya, banyak preman selalu mempunyai pelindung dan pembela, dari organisasi agama, militer, polisi, politik, etnik. Tak ada preman berani berdiri sendiri.’
“Tapi mereka meresahkan masyarakat?”
“Memangnya para pembela dan pelindungnya tidak? Kalau para preman berbuat jahat, ya dibetulin dong, biar jadi baik. Kalau preman dimusuhi, lantas apa jasamu? Sedang Jesus dan Muhammad sendiri pernah menyilakan, siapa yang lebih suci dari preman itu, jadilah pelempar batu yang pertama. Kalau preman makin marak, itu tanda kalian semua yang jadi pelindung, ternyata hanya memakai mereka sebagai bak sampah atau kambing hitam. Sementara kalian sendiri tak mampu membina mereka. Fungsi social-enginering kalian mampat. Meski kalian memakai kata agama, politik, etnik, nilai-nilai kemiliteran, yang konon menurut kalian penuh keluhuran dan kemuliaan, dsb, dsb itu, tak berjalan. Masyarakat involusi. Sekian kutbah saya,...”
Saya tak peduli teman saya bengong, saya lagi asyik mentions Ikang Fawzie ke akun twitter @SBYudhoyono, request lagi hit satu-satunya; “Pap-para-pap, preman-preman,...!”

Yogyakarta Berhati Preman (1)



Di Yogyakarta, yang dikenal dengan slogan berhati nyaman itu, kini dipenuhi dengan poster, spanduk, mural anti premanisme. Agaknya, paska kasus LP Cebongan, yang muncul adalah dukungan meluas, kepada TNI dan terutama Kopassus, yang entah kenapa kini mendapat dukungan melimpah (setidaknya lewat poster dan spanduk-spanduk itu, terima kasih digital pinting, yang memberi kemudahan untuk bikin spanduk murah dan cepat).
Herannya, peng-anti-an preman dan peng-iloveu-an TNI/Kopassus itu, dibarengi dengan berbagai hujatan 'ke Yogya untuk belajar bukan jadi preman', 'sejuta preman ditembak mati rakyat yogya tidak rugi', waduh, keren. Sementara, tak ada yang menuntut bagaimana penyidikan kasus empat tersangka yang membuat tewasnya Sertu Heru Santosa di Hugos Cafe (19/3). Benarkah 4 orang tersebut preman? Buktiin di depan hukum dong, kalau mau fair, atau kasusnya ditutup karena masing-masing yang bertikai sudah tewas semua? Kalau gitu, gampang, suruh orang membunuh orang, terus pembunuh suruhan itu kita bunuh juga, selesai persoalan. Ok?
Saya sebagai orang Yogya merasa heran saja, kok poster-poster kita keren banget menghantam preman. Sayangnya, preman-preman yang dimaksud adalah preman-preman amatiran yang miskin-miskin. Kalau kita mau awut-awutan, kenapa tidak minta para ksatria kita yang gagah berani itu untuk membunuhin preman berdasi dan beseragam yang berkait bisnis narkoba di Yogya? Menggasak preman perijinan tempat hiburan malam? Preman-preman yang menjadi backing salon plus-plus, hotel-hotel, tempat-tempat perjudian kelas atas di Yogyakarta? Nggak usah nembakin para koruptor di Jakarta atau Senayan deh, cukup dari Yogya untuk Indonesia dengan nembakin preman kelas atas di Yogya saja, agar jangan menepuk air di dulang terpercik ke muka sendiri.
Sayangnya, kita suka memuliakan ajaran buruk ortu; Buruk muka, preman dibelah!

Kamis, April 04, 2013

Soal KPK, DPR Menjilat Ludahnya dan Kura-kura dalam Perahu



Abraham Samad mendapatkan hukuman 'sedang' atas pelanggaran etik berkait surat perintah penyidikan kasus AU. Seperti biasa, bangsa Indonesia selalu menyambut apa pun dengan gegap gempita, alias riuh-rendah. Anggota DPR apalagi, mereka beramai-ramai menghujat, dan Muzamil dari PKS mengatakan keputusan itu membuka peluang transaksional (itu tentu karena PKS dan lainnya terbiasa bertransaksi).
Sebetulnya, apa yang terjadi di KPK adalah cerminan hasil kerja anggota DPR-RI juga, yang mengobrak-abrik peringkat panitia penyeleksi capim KPK. Hanya karena waktu itu anggota DPR kesal dengan gaya Busyro Muqodas, maka mereka pun membuat aturan yang ribet, antara lain soal apakah yang dibutuhkan 4 ketua KPK itu di bawah Busyro, atau Busyro harus ikut seleksi lagi.
Peringkat yang direkomendasikan pansel (November 2011), adalah (1) Bambang Widjojanto, (2) Yunus Hussein, (3) Abdullah Hehamahua, (4) Handoyo, (5) Abraham Samad, (6) Zulkarnaen, (7) Adnan Pandu Pradja, dan (8) Ariyanto Sutadi. Salah satu anggota pansel, sosiolog Imam Prasodjo mengatakan pembuatan rangking merupakan salah satu kewajiban Pansel untuk memberikan hasil penilaiannya kepada masyarakat. "Rangking itu dibuat berdasarkan kemampuan calon, apakah memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin KPK seperti yang diatur oleh UU. Jadi DPR boleh setuju, boleh tidak," kata Imam.
Dan kita tahu, dengan pongah anggota DPR mengatakan, "..., meskipun memang tidak ada larangan membuat rangking itu, kita akan tetap pada prosedur kita sendiri. Dan kita juga kan sudah cukup banyak pengalaman dalam melakukan fit and proper test," tutur Trimedya Panjaitan.

Pemeringkatan yang dilakukan untuk memenuhi UU (Anda tahu UU itu artinya digodog oleh DPR juga), diabaikan oleh DPR sendiri. Dari sini tampak, pragmatisme politik DPR yang menghalalkan segala cara.
Kita juga tahu, bagaimana akhirnya komposisi ketua KPK ditentukan DPR, bukan dengan ketua Busyro Muqodas, tapi justeru Abraham Samad yang dalam rangking menduduki posisi ke 5, menyingkirkan 4 orang di atasnya (meski Bambang Widjojanto untungnya diikutkan juga).
Orang mungkin menganggap Abraham sebagai orang Makasar, bisa lebih kuat, keras, lugas, terbuka, dan lain-lain. Pendekatan itu menyesatkan, karena orang harus dilihat dengan integritasnya bukan asal daerah (ini pandangan kolonialis yang memetakan watak orang berdasar etnis), dan untuk itu dibentuk pansel dari pakar orang yang dianggap punya otoritas dan kredibel. Tapi seperti biasa, orang DPR selalu merasa lebih pinter.
Dalam tampilannya, Abraham Samad baik-baik saja, tapi dalam berbagai wawancara, tampak kemampuan komunikasi dan diplomasinya memang lemah. Untuk lembaga anti korupsi, yang mesti clean dan transparan, dia tidak bisa memposisikan diri. Dan fakta terakhir, yang juga dikritik oleh anggota DPR juga, kenapa Abraham tak mau menyerahkan isi BB-nya untuk dikloning? Apakah ini pribadi terbuka untuk ketua lembaga anti korupsi? Itu patut disayangkan, karena seperti slogan KPK, "Berani Jujur, Hebat". Tak berani isi BB-nya dikloning berarti tidak hebat? Tidak tahulah. Tapi yang bisa ditebak, orang akan menduganya, "pasti ada apa-apanya". Misalnya, jangan-jangan ada isi BBM-an dia kencan dengan wartawati dari Amerika,... (jangan ngamuk itu cuma misalnya).
Selama ini, Bambang Widjojanto (yang menduduki ranking teratas dalam seleksi capim KPK, 2011), memang menunjukkan performance lebih baik. Kenapa bukan dia yang dipilih jadi ketua KPK waktu itu? Tahu 'ndirilah politik transaksi DPR. BW bahkan sekarang makin tampak matang, dia bisa menyampaikan road-map KPK ke depan, dengan lebih fasih dan menguasai daripada Abraham. Bagaimana pun dengan adanya BW dan BM (Busyro Muqodas sang filsuf KPK itu), lembaga anti korupsi ini masih akan kuat, meski digempur terus-terusan oleh mereka yang anti-KPK (tapi berlagak pro-KPK), dengan alasan demokratisasi, lembaga super-body, atau demi ini dan itu.
Tulisan ini tidak ingin menyodorkan tudingan apa-apa. Biarkan KPK bekerja menyelesaikan tugas-tugasnya. Soal kesalahan, toh Abraham Samad dan Adnan Pandupraja (yang memang agak o'on, peringkat 7 dari 8 yang terpilih), sudah memetiknya. KPK masih bisa jadi tumpuan harapan. Kalau soal Abraham dan Adnan, itu soal kematangan dan kecerdasan saja. Kebetulan keduanya belum.
Menurut filsuf India, Stahl PJ., "Orang yang berani tidak akan membabi-buta melompat masuk ke dalam jurang, tetapi masuk dengan perlahan-lahan dan dengan mata yang terbuka, setelah mengukur dalamnya." Bukan penakut dan hati-hati, tetapi mempelajari, berhitung, dan menguasai. Itu yang belum tumbuh pada Abraham (termasuk Wiwin Suwandi, sekretarisnya, yang dengan alasan norak membocorkan sprindik karena "saya benci koruptor". Semua orang juga benci, Dul! Tapi berbuat bodoh itu mencelakakan rumah kita bukan? Kalau dalam peperangan, itu artinya sampeyan kini sedang menyenangkan musuh).
Dan jika kita sudi melihat secara lebih jernih, itu semua hasil kerja DPR ketika memilih pimpinan KPK. Semua itu sudah diprediksi tiga tahun sebelumnya, membuka peluang politik transaksional, seperti yang mereka tudingkan balik ke KPK.
Abraham masih kredibel jadi ketua KPK, tak apa, paling cuma terkurangi dikit saja, dia sebagai pejabat publik 'takut' isi BB-nya diketahui oleh komite etik, apalagi diketahui publik. Tapi itulah, orang yang ngotot dipilih DPR dengan segala argumentasinya, yang mementahkan pendapat sosiolog dan psikolog, kini memetik buahnya. Kini DPR menjilat ludah sendiri. Jangan pura-pura tak tahu, Bung!

Rabu, April 03, 2013

Bagaimana Berkomunikasi di Dunai Maya?


Pernah merasa jengkel, terhina, disepelekan, atau biasa saja ketika Anda memboncengkan seseorang di sepeda motor Anda, dan yang Anda boncengkan asyik sendiri dengan monitor HP atau BB-nya? Merasa lucu ketika kita duduk berhadapan di satu ruang tamu dengan masing-masing lebih asyik mencet keypad dan mata tak lepas dari monitor HP/BB?
Atau bagaimana rasanya makan bareng tapi pasangan Anda celingak-celinguk terus ke monitor HP/BB-nya? Dan akan lebih sebel lagi tentu, jika tiba-tiba saat berdua, HP/BB dia memberi sinyal ada telpon masuk, tapi buru-buru dia mematikannya dengan alasan salah sambung?
Jika Anda berkomunikasi di dunia maya, entah chatt di wall atau pm/inbox, jangan bayangkan Anda sedang berhadapan dan menyerahkan diri 100% untuk berdialog hanya dengannya. Untuk tidak kecewa, berlakulah juga seperti mereka, tidak menganggapnya istimewa, dan lakukan sambil lalu dan hanya merespons atau mereplynya jika prioritas yang Anda hadapi di dunia nyata terselesaikan. Jangan bayangkan kita sedang berhadapan dan bercakap berdua saja, karena siapa tahu lawan dialog Anda melakukannya sambil beol, atau bahkan sambil chatting dengan lainnya lagi dan lainnya lainnya lagi.
Jangan perlakukan etika di dunia nyata pada komunikasi dunia maya. Karena kalau salah melakukan, ada dua kemungkinan sama-sama buruk. Anda merasa diistimewakan padahal tidak, dan Anda memain-mainkan hati Anda untuk yang Anda sendiri tidak tahu serta boros waktu tentu.
Etika, adab, tatakrama, atau sopan-santun kita di dunia nyata saja belum selesai atau belum fasih, tapi tiba-tiba kita meloncat ke gelombang komunikasi maya, pasti jamak membuat kita tersesat atau bahkan bertabrakan. Dari gelombang satu langsung, menurut Toffler, loncat ke gelombang empat. Bagaimana kita membacai fakta di fesbuk, apa beda Ijon Janbi dengan para fesbuker yang menyembunyikan identitas aselinya, itu juga hal-hal yang membuat kita bisa terjebak.
Kita sendiri belum bisa fokus, tetapi tiba-tiba teknologi media kita memaksa kita untuk multi-focus, semuanya butuh perhatian, semuanya menyedot perhatian, tapi kita tak sudi menaikkan peringkat pengetahuan dan sensibilitas kita. Bahkan untuk menuliskan kalimat (karena komunikasi ini tertulis dan membutuhkan huruf-huruf) yang bisa dipahami standard atau umum saja masih problem besar, hingga buku-buku teks kita pun mulai belepotan kata-kata lisan karena takut dianggap tidak gaul (sebetulnya takut 'tidak laku' sih), dan kita sulit mendapatkan referensi standar. Bahasa Indonesia kita, adalah bahasa lisan.
Pada kenyataannya, media seperti fesbuk misalnya, tetap saja bertumpu pada persahabatan dunia nyata (sehingga kemudian banyak orang yang meremove atau membatasi hanya confirm dengan yang sudah dikenalinya), karena kita sendiri memang belum siap menjalin persahabatan di dunia maya. Apalagi kalau sudah mis-communication gara-gara salah baca atau salah nulis dengan kalimat tak lengkap. Belum lagi jika masuk dalam tema pembicaraan yang agak ideologis (entah agama, politik, etnis), sensitivitas dan sensibilitas kita yang "tak merata" itu, menjadi polisi tidur yang benar-benar mencelakakan, bukannya membangunkan kesadaran.
Berdumaylah dan bergembiralah, tapi tak perlu menyerahkan diri menjadi hambanya dalam 24 jam, dan tidak bodoh-bodoh banget dalam menyikapinya.

Percakapan dengan Eksekutor Cebongan pada Sebuah Kafe


Tidak sangat sulit dan rumit untuk menemui eksekutor Cebongan. Tidak dibutuhkan ilmu yang sangat tinggi, karena orang yang saya temui ini juga tidak sangat tinggi. Saya bocorkan percakapan kami dari sebuah cefe coffee yang sangat ndesit dan nyempil di sudut kegalauan saya.
"Sampeyan ini Kopassus, atau Intelpam?"
"No comment!"
"Dari Brimob?"
"No comment!"
"Grupnya Ugro Seno atau Gories Mere?"
"No comment!"
"Hm, no comment itu artinya iya atau tidak iya?"
"No comment!"
"Hadeh, saya kira sia-sia Anda mengajak saya menikmati kopi pahit ini," saya melenguh sembari menyeruput espresso kayak tap olie itu.
"Tapi saya sungguh ingin bercerita,..." katanya kemudian. Ia menyedot rokoknya seperti menyedot jantung perawan seekor monyet. Asap mengepul kental membentuk segi tiga biru, seperti lambang karung terigu.
"Iya, tetapi tidak dengan dua kata gelap itu. Atau sampeyan sudi mendengar saya ceritakan novel Iwan Simatupang?"
"Oh, no, jangan! Saya penikmat cerpen-cerpen macam di Kompas atau Tempo, gitulah. Jangan yang gelap-gelap!"
"Lho, cerpen di Kompas kadang juga gelap,..."
"Enggaklah. Digelap-gelapkan iya sih,..."
Tak tahan saya mencomot lagi sebatang rokok, "Kok malah diskusi sastra!"
"Ya, ini memang sastra. Sangat sastra."
"Di mana sastranya? Lihat puisi-puisi dan curhatan di fesbuk, jauh lebih sastra!"
"Sungguh penyerbuan itu nggak sengaja dilakukan,..."
Saya mulai menyimak, dan membiarkan asap rokok berkelana bebas sebagaimana tulisan Mariska Lubis.
"Ya, kami memang terlatih, sangat terlatih. Tapi, ini memang kelompok yang tidak dikenal, karena kami ogah kenalan!"
Kata-kata badut, gumam saya dalam hati. Kalau kelas pembunuh pun juga badut, apalagi yang bisa saya harap dari negeri ini?
"Masih ada,..." tiba-tiba ia menyahut, seolah mendengar kata hati saya. Saya perhatikan wajahnya persis Ki Ageng Suryomentaram yang meyakinkan Sukarno, bahwa pasukan intelijen itu penting bagi Indonesia. Sukarno saja yang agak dogol ketika bertanya, "Untuk apa?"
Kuperhatikan ia menyeruput coffelate. Seleranya tentang kopi agak pop sebenarnya, persis merk sepatu putih Remy Sylado.
Tapi saya benar-benar mulai tak sabar, "Lantas, siapa sesungguhnya penyerbu Cebongan itu? Benarkah itu Joko Pekik, pelukis celeng, sebagaimana ditulis besar-besar di sampul majalah Tempo itu?"
Dia tertawa, "Bang, kita semua sedang bermain kata-kata, Bang! Kami senang Zuckerbergh membantu kami!"
"Mark Zuckerbergh? Yahudi yang dihujat tapi temuannya juga dinikmati para penghujatnya?"
"Abang 'kan lebih tahu definisi masyarakat munafik itu seperti apa," ia mulai serius, "bukan itu maksudku. Tapi dengan fesbuk, reproduksi kata-kata itu membantu pembiasan. Pembiasan itu penting untuk stabilitas nasional, Bang!"
"Dengan mengorbankan harga-harga sembako?"
"Manusia itu kalau cuma satu-dua, Bang, bisa merepotkan kita. Tapi kalau mereka berhimpun, itu hanya himpunan angka."
"Baiklah, jangan terlalu filosofis, siapa sebenarnya sampeyan ini?"
"Kami? Kami adalah kata-kata, kata-kata yang tak dikenal dan memang sangat terlatih,..."
Pagi ini bukan hanya kopi saya yang pahit. Saya tak sabar untuk menyudahi pertemuan ini. Pengin segera bercinta di lumpur sawah.

Selasa, April 02, 2013

Kisah Tentang Polisi yang Jujur



Markas Korps Lalu Lintas Polri di jalan MT Haryono, Jakarta, begitu megah. Fasilitasnya baru dan modern. Sayang, diduga ada aroma busuk di dalamnya. Pada 31 Juli 2012, belasan penyidik KPK mengobrak-abrik markas tersebut. Mereka mencari bukti-bukti keterlibatan Kepala Korps Lalu Lintas Irjen Djoko Susilo dan Brigjen Didik Purnomo dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM. Bulan ini, April 2013, kasus Djoko Susilo diserahkan ke kejaksaan.
Dulu, tahun 1968, Brigjen Pol Ursinus Medellu yang membangun markas korps lalu lintas itu dengan susah payah. Mendiang adalah polisi jujur. Pencipta konsep BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor, pada tahun 1960-an) dan Tilang ini, melihat bahwa pendapatan dari hasil BPKB ternyata cukup besar. Meski begitu, sedikitpun tak terlintas di benak Ursinus Elias Medellu untuk mencari keuntungan, apalagi korupsi.
Semua pendapatan itu oleh Ursinus, digunakan untuk kesejahteraan polisi. Ursinus mewujudkan itu dengan melakukan sejumlah pembangunan, salah satunya adalah kantor Direktorat Lalu Lintas (kini Korps Lalu Lintas) itu.
Lima bulan berjalan, Ursinus yang sibuk baru melapor ke Panglima Angkatan Kepolisian (kini Kapolri) Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Ursinus menjelaskan jika pembangunan gedung utama memakan biaya Rp 50 juta lebih, "Maaf Pak Jenderal, saya sudah menggunakan uang BPKB untuk membangun gedung. Rencananya untuk kantor Direktorat Lalu Lintas, karena ruang kerja kami di gedung Mabak terlalu penuh sesak," katanya.
Ursinus harap-harap cemas karena khawatir pembangunan itu tak disetujui. "Tapi kalau tidak disetujui, sudah ada orang yang mau membeli dengan harga Rp 120 juta. Jadi kita masih untung Rp 70 juta," ujarnya.
Susah payah Ursinus membangun gedung tersebut dengan kerja keras dan kejujuran. Kini keringat Ursinus dikhianati para polisi korup yang tak punya integritas. Ursinus membangun kantor dan fasilitas lalu lintas Polri dengan fasilitas terbaik ketika itu. Saking semangatnya bekerja keras untuk Polri, jenderal jujur ini lupa memperhatikan kesejahteraan keluarganya. Dia mati-matian mencicil rumah dengan uang pensiunnya.
Ursinus adalah kisah seorang polisi yang menolak sogokan bahkan hanya satu almari es pun. Ia pernah menolak mentah-mentah 1.000 liter minyak sawit waktu menjabat Kapolda Sumut (1972-1975). Selalu mengecek kesiapan anak buahnya jam 04.00, dan kalau ada anak buah kedapatan menerima uang dari jalanan, tanpa ampun ia akan kirim ke pendidikan lagi. Ia tak pernah membawa pulang uang, selain hanya dari gajinya semata. Ia paling benci dengan korupsi dan itu dibuktikan dengan tindakan nyata. “Kalau saya mau kaya, saya tak akan jadi polisi,” kata Ursinus yang bahkan tak mampu menguliahkan anak-anaknya dan tak mampu membeli rumah sendiri. Ia membeli rumah cicilan, dengan lebih dulu meminjam uang ibu mertuanya.
Ursinus bukan kisah polisi ecek-ecek, dia bukan pejabat rendahan, karena ia pernah menjadi Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian (1965-1972), Kapolda, dan pernah punya proyek BPKB, dan membangun markas polisi lima lantai di MT Haryono. Ursinus pula, yang menciptakan konsep tilang (pengganti langsung) untuk menekan korupsi polisi di jalanan, tapi berbalik dan akhirnya justeru hal itu dipakai juga alat untuk korupsi. Beliau adalah juga pengajar di PTIK (1975-2000), dan menjadi pengajar Djoko Susilo juga. Dan apa kata Ursinus tentang sang Djoko Susilo yang resmi bakal jadi terdakwa kasus korupsi? “Dia adalah murid kesayangan saya, dan dia murid terpintar,...”
"Papa bangga sekali dengan Djoko Susilo,” cerita Eli, anak Ursinus, yang tak bisa kuliah karena uang ayahnya pas-pasan, “nilainya paling bagus. Papa bilang tidak ada komandan lalu lintas penggantinya yang secerdas Djoko."
Tapi murid terpintar itu, tak sejujur gurunya yang meninggal 8 Januari 2012 itu, yang bisa membangun gedung polisi megah namun tak mampu membeli rumah sekali pun rumah sederhana bernama ‘gudang hantu’. Salute, Pak Jenderal Ursinus!