Kamis, Maret 07, 2013

Raffi Ahmad, Pahlawan Narkoba atau Sapi Perah

Di Indonesia, yang disangkakan penjahat tiba-tiba bisa dibela seolah-olah pahlawan. Dan media, sebagai pihak yang mengaku selalu netral, selalu juga menampilkan bakat oportunistiknya, memanfaatkan situasi demi keuntungan kepentingan mereka sendiri.
Contoh paling mudah, setelah dijadikan tersangka oleh KPK, Arnas Urbaningrum tiba-tiba dibela yang lainnya seolah pahlawan pembela kebenaran. Dan media mau saja menjadi media gratisan, karena mendapat durian runtuh. 
Setelah dicokok oleh BNN dan hendak direhabilitasi, Raffi Ahmad tiba-tiba (setelah munculnya Hotma Sitompul), didukung puluhan pemujanya, dan menuding BNN melakukan konspirasi (tapi apa mereka mengenai hal ini?). Mereka menuntut Raffy Ahmad dibebaskan dari rehabilitasi. Hotma menyeret-nyeret Amy Qanita, ibu Raffi memamerkan tangisnya di depan anggota DPR. Dan Hotma menuding BNN tidak tahu hukum karena menolak menghadirkan Raffi dalam persidangan praperadilan. Bahkan Luna Maya pun ikut berdemo membela Raffi Ahmad. Wah, sudah jadi pejuang pembela HAM nih!
Tiba-tiba, muncul salinan percakapan antara Yuni Shara dengan seorang anggota BNN di Malang, soal rencana penggerebekan pesta narkoba di rumah Raffi. Tapi, persis omongan Anas, semua hal itu khas masyarakat gossip, tak ada referensi, tak ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana Yuni Shara bisa terseret dalam kasus ini? Selalu ada kambing hitam untuk blufing dan teater hukum bagi mereka yang punya dan menghamba pada duit. Masyarakat percaya teater informasi ini, tanpa harus bertanya, otentisitas rekaman percakapan itu dan apa bukti yang valid dipertanggungajawabkan? Hotma dengan pinter langsung memuter taktik, "Saya tidak tertarik menanggapi gossip itu,..." Lempar batu sembunyi tangan. Bangun opini dan kemudian tusuk dari depan.
Di kalangan artis, semua orang sudah tahu siapa Raffi Ahmad. Tapi di depan media, semua mereka ngomong tak tahu-menahu dan membela-bela Raffi sebagai anak baik. BNN sendiri, menurut laporan masyarakat, sudah memburu Raffi Ahmad dalam waktu yang cukup lama.
Raffi Ahmad dan narkoba, adalah satu kesatuan yang sederhana saja. Logis. Pembelaan dan pembebasan pada Raffi, bahwa ia tidak terkena dan tidak pesta narkoba, dengan segala upaya hukum dan paranormal, lebih karena melihat Raffi sebagai mesin uang bagi mereka yang berkepentingan. Siapa yang berkepentingan? Tentu saja yang diuntungkan.
Sebelum dicokok BNN, setiap hari syuting program televisi, Raffi bisa menghasilkan uang ratusan juta rupiah. Sebuah program acara daily, Raffi bisa mendapat honor antara Rp 20 juta hingga Rp 50 juta. Belum jika ada acara off-air di luar televisi. Raffi adalah mesin uang yang tiap hari bekerja mungkin lebih dari 24 jam. Tidak lebih mulia dari buruh yang bekerja maksimal dalam sehari tak lebih dari delapan jam.
Ibu Raffi, Amy Qanita selalu mengatakan, ia mengontrol terus Raffi tiap jam. Sementara 24 jam Raffi bekerja penuh dan berada di lapangan. Dan ibunya, lebih sering berada di tempat lain, terlihat muda, cantik, dengan pakaian yang menunjukkan kelas sosialita sebagai ibu-ibu dari para selebritas remaja. Bagaimana bisa mengontrol Raffi tiap saat? Nonsens banget. Raffi di sana, ibunya di sono.
Pola kerja Raffi dan juga para artis populer dalam industri hiburan kita, sangat tidak manusiawi. Hukum eksploitasi, membuat artis terkondisikan begitu rupa. Kedekatan Raffi dengan narkoba, adalah kausalitas wajar. Bekerja tak kenal jadwal, honor gede, dan lingkaran hedonistik yang melingkunginya dengan berbagai previlege. Karena ia harus kerja keras tak kenal waktu, maka dia harus dikondisikan bugar terus. Tubuh adalah mesin, karena itu sebagai mesin butuh bensin, olie dan tetek-mbengek asupan lainnya. Untuk apa? Untuk perputaran duit itu sendiri. Penikmatnya, dalam hal ini, sering bukan artis pelaku, tetapi orang di sekitar yang mengeksploitasi atau memanfaatkannya. Sementara, sang artis bisa menjadi boneka atau mesin uang yang diletakkan dalam kehidupan yang semu, dunia bawah tanah dan penuh halusinasi. Sampai di sini, mereka pahlawan atau sapi perah? Tergantung cara kita memandang.
Raffi direhabilitasi, atau dikarantina, artinya hilang waktunya untuk syuting atau bekerja. Artinya apa? Seperti pabrik libur produksi, maka pasti akan mengalami kerugian. Siapa yang dirugikan? Mereka yang berteriak paling keras, mesti didengar cermat, apa alasan sesungguhnya. Kenapa Raffi harus segera syuting dan bekerja lagi? Pentingkah syuting Raffi? Begitu mendesakkah, atau apakah remaja Indonesia akan menjadi tidak produktif kalau Raffi tidak syuting?

Dunia bintang adalah dunia yang datang dan pergi. Semua orang akan dieksploitasi. Raffi juga akan disingkirkan begitu masyarakat telah mencapnya jelek. Itu sebabnya, para yang berkepentingan atas rapi membangun opini, bahwa Raffi korban konspirasi BNN. Soal dia menggunakan narkoba? Itu fitnah katanya.
Di Indonesia, sebagai penganut filsafat pragmatisme yang paling akut, kepentingan adalah tema utamanya. Mau pahlawan atau sapi perah, itu sudut pandang yang akan menentukan. Dan sudut pandang, selalu karena kepentingan. Sebagaimana pepatah sesama muslim bersaudara, maka ada juga istilah sesama Batak pun bersaudara, kecuali klien-nya berbeda.
Selamat pagi dan malam selalu, Indonesia Raya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar