Kamis, Maret 07, 2013

Leo Kristi dan Religiositas Lintas Batas



Leo Imam Soekarno, 64 , tentu sangat dikenal oleh para fanatikus Konser Rakyat Leo Kristi, nama sebuah grup musik yang berada di luar mainstream industri musik kita.
Pernah satu grup dengan Franky Sahilatua dan Gombloh, dalam awal perjalanan musiknya, Leo kemudian menyebal dan benar-benar sebagai sang traubador. Mendirikan grup Konser Rakyat Leo Kristi (KRLK) pada 1973. Ia bukan hanya berjalan dari kota ke kota, melainkan keluar masuk kampung, dan juga hutan, bahkan di pelosok yag sunyi sampai ke Makasar, Bandung, Yogya, Bali, kemudian Jakarta dan tentunya antero Surabaya.
Bukan untuk berpentas, melainkan lebih banyak untuk menyerap energi alam dan kehidupan. Dan dari sana, lahir lagu-lagunya yang sangat kuat dalam bertutur. Bukan hanya dengan alat musiknya, atau pun dengan syair-syairnya, melainkan dengan perkawinan yang liat keduanya, sampai cara memainkan gitar atau pun menyanyikannya.
Hal yang menarik dari Leo Imam Soekarno, lahir di Surabaya 8 Agustus 1949, religiositas sosialnya sangat kuat. Religiositas sosial? Yah, karena tema agama dalam semua lagu KRLK, meski kadang dengan pengucapan verbal, namun tetap terjaga dalam nuansa religi yang bersifat universal, religi yang tercerminkan dalam hidup keseharian, praksis kemanusiaan, hablumminannash, bukan bersibuk menghitung pahala dan sorga pada Tuhan.
Dalam lagu KRLK, kita bisa menikmati doa seorang Hindu, suara adzan, atau pun dentang lonceng gereja. Koor-koor Georgiannya sangat menggetarkan, menunjukkan kesuntukannya dalam pergulatan musikalitasnya.
Ia sendiri seorang Islam KTP yang baik (bagi kaum Wahabi tentu saja jelek!), beristeri seorang Hindu. Tetapi lagu-lagunya mampu menohokkan nuansa keagamaan yang kuat. Dalam Nyanyian Maria, Baptis Theresia, Sillhouette Kathedral Tua, atau pada Layar Asmara, Anna Rebana, Bedil Sepuluh Dua,..., Beludru Sutera Dusunku, Bra Bra Desember, Sitti Komariah Ikal Mayang, SASL (Solus Agreti Suprema Lexest),... ia merambah lintas agama, dan itu sangat mengesankan di tengah kekeraskepalaan kita yang makin terkotak-kotak.
Menikmati musik KRLK, saya merasa tidak menyesal ketika dulu, tahun 1976 waktu masih kelas dua SMP, menipu orangtua minta uang untuk beli buku, padahal sejatinya untuk beli kaset Nyanyian Fajar, yang waktu itu harganya Rp 350,00! | Sunardian Wirodono, 4 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar