Sabtu, Maret 23, 2013

Lagi-lagi Setan Gundul Menyerbu Hukum


Jika saja empat tersangka kasus pembunuhan Sertu Santoso, anggota Kopassus Grup II Surakarta di Hugos Cafe (19/3) Yogyakarta, ditahan di markas Polda DIY, bisa jadi peristiwa seperti di Polres Ogan Komering Ulu (9/3) bakal berlangsung semalam di Yogyakarta.
Tapi tidak. Sebanyak 17 orang bertopeng, bersenjata organik, merangsek ke LP Cebongan Sleman (Yogyakarta), dan langsung menembak 4 tahanan di dalam sel (23/3). Bagaimana kisahya? Sebelumnya (19/3) terjadi kasus penganiayaan oleh empat tersangka atas Sertu Santosa (anggota Kopassus) di Hugo’s Cafe Yogyakarta, hingga tewasnya sang prajurit grup II Kidang Menjangan Surakarta itu.
Oleh Polda DIY, empat pelakunya kemudian ditahan. Dengan lokasi berpindah-pindah, hingga akhirnya mereka ditempatkan di LP Cebongan Sleman. Dan di situlah, semalam ke-empatnya tewas ditembak dalam sel.
Penempatan di LP Cebongan, memungkinkan operasi penyerbuan berlangsung dengan mudah. Disamping LP itu kecil, berada jauh dari pusat keramaian, dan hanya dijaga dua orang, memungkinkan 17 penyerbunya bergerak leluasa.
Siapa penyerbunya? Awam mudah menebak, karena mereka hanya menghabisi 4 tahanan pelaku pembunuhan oknum Kopassus itu, tudingan bisa diarahkan ke mana. Apalagi penyerbuan dilakukan sangat taktis. Pada jam 02.00 dinihari, ketika media cetak sudah naik cetak dan esoknya berita itu tak nongol, meski di media internet dan televisi tak bisa dibendung.
Perusakan CCTV dan hanya langsung menuju sasaran, menambah kuat dugaan, apalagi mereka teroganisasi dan bersenjata. Siapa yang mampu melakukan itu? Masyarakat sipil tidak cukup terlatih untuk tindakan seperti itu. Meski tentu saja, para petinggi militer langsung sibuk membantah. Sebelum penyelidikan dimulai pun, bantahan sudah diberikan (ini ciri kasus tersebut bakal gelap). Bahwa anggota TNI tak mungkin bertindak seperti itu, tak ada perintah, semua prajurit disiplin, dan TNI-Polri DIY soliditasnya tinggi. Siapa mau percaya?
Pemindahan tahanan yang dilakukan Polda, mengisyaratkan Polda DIY “mengetahui” setidaknya menduga akan terjadinya peristiwa itu, karena hal itu dilakukan berpindah-pindah. Jika benar bahwa penyerangnya adalah korps kesatuan Kopassus, semestinya atasan mereka mengundurkan diri, karena menunjukkan mereka gagal membina prajuritnya. Siapa yang mesti mundur? Mungkinkah adik ipar Presiden yang jadi KSAD, mundur sebagaimana dulu bapaknya (Komandan RPKAD, Sarwo Edhie Wibowo) juga mundur secara ksatria, sebelum Indonesia diguncang isyu Malari 1974?
Tentu akan banyak alasan untuk menolak hal itu. Kita sudah hafal. Tapi di tengah isyu kudeta, yang dihembuskan oleh presiden sendiri, kita mengerti, betapa kepemimpinan nasional memang berjalan tidak maksimal. Setidaknya, presiden telah gagal menegakkan hukum di segala lini.
Peristiwa itu sendiri, jika dikaitkan dengan latar belakangnya, tak bisa dilepaskan dari sindikasi peredaran narkoba di Yogyakarta. Satu dari empat tersangka pembunuhan anggota Kopassus itu, adalah desertan polisi karena kasus penggunaan sabu-sabu dan baru keluar dari RS Grhasia Yogyakarta (rumah sakit khusus narkoba). 
Lokasi pembunuhan anggota Kopassus itu juga terjadi sebuah diskotik, Hugos Cafe di Yogyakarta. Sebelumnya, di tempat yang sama pada 7 Desember 2012, Kusnan (28) menjadi korban pembunuhan pula. Berdasar penelusuran Polres Sleman, tersangka pembunuhan itu ternyata seorang anggota TNI AD yang telah dipecat.

Bagaimana mereka semua ada di situ? Polisi dan tentara yang deserse, dan kini tentara anggota Kopassus yang masih aktif? Komandannya tentu saja berkilah, anak buahnya sedang menjalankan tugas. Tugas apa?
Lagi-lagi, setan gundul akan jadi korban fitnah. Hidup Narkoba!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar