Selasa, Februari 12, 2013

Menimbang Nasib Susilo Bambang Yudhoyono

 Antara apa yang dikatakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan apa yang dilakukannya, bisa jauh panggang dari api. Dan itulah blunder, yang bukan hanya sekali-dua dilakukan. Yang paling mutakhir tentu, ketika ia mengatakan meski pun 2013 adalah tahun politik, namun ia minta jajaran kabinetnya untuk terus berkonsentrasi, bekerja sesuai tugas dan kewajiban masing-masing.
Dan apa yang terjadi? Kita semuanya tahu, bahwa SBY justeru belum lama lalu berkubang dengan masalah partainya sendiri. Lawatannya ke luar negeri (Liberia, Nigeria, Arab Saudi, dan Mesir), justeru dipakainya untuk melakukan manuver politik, dengan menggeser Anas Urbaningrum, dan mengambil alih penanganan partai di tangannya langsung selaku Ketua Dewan Majelis Tinggi Partai Demokrat.
Dikatakan manuver, karena alasan-alasan SBY sendiri, masihlah sangat sumir. Turunnya elektabilitas PD, dari hasil survey Saiful Mudjani (1/2013), langsung disorongkan sebagai buah dari posisi Anas Urbaningrum berkait kasus-kasus korupsi, yang sejatinya oleh KPK sendiri belum ada keputusan jelas, apakah AU terkait dengan kasus-kasus korupsi (khususnya Hambalang), atau bahkan sebagai tersangka. Bahkan, lebih menyesakkan lagi, dalam pada itu, munculnya sprindik (surat perintah penyidikan) KPK, yang ditengarai paksu dan menyebutkan AU sebagai tersangka, yang diduga diluncurkan oleh pihak istana (kelompok SBY), untuk sesegera menyudari posisi AU di PD.
PD sendiri, tipikal partai politik di Indonesia, tidak mempunyai ikatan ideologi yang kuat, kecuali hanya menyandarkan pada personalitas politik SBY. Meski pada mulanya AU merasa yakin akan kekuatan pendukungnya, yang terjadi kemudian adalah perpecahan yang semakin nyata. Semakin nyata karena perintah SBY sendiri, dalam meminggirkan AU, justeru mengundang berbagai implikasi politis yang tidak sesederhana disangkakannya.
Setidaknya, dua kubu yang pro perubahan (pro AU dan mencoba mandiri lepas dari bayang-bayang politis SBY), melawan kubu yang memanfaatkan posisi strategis SBY sebagai bapak ideologi mereka.
Pada posisi itulah, perbenturan itu makin menunjukkan, bahwa kekokohan posisi SBY tidak lagi tampak utuh dan solid. Citra SBY selaku presiden, kepala negara dan kepala pemerintahan sendiri, tidak cukup absolute untuk menjadikan posisi tawarnya diperhitungkan. Bahkan, dalam berbagai hal, kubu AU tampak mengerti betul, bahwa SBY bukanlah kekuatan yang tak bisa dilawan.
Tipikal ketidakjelasan dan ketidaktegasan SBY ini, tampak sekali dimanfaatkan dengan baik oleh AU dan para pendukungnya.
Bagaimana kemungkinannya? Alih-alih menyelamatkan citra dan elektabilitas partai, langkah SBY justeru membuat soliditas partai semakin sulit diteguhkan. Pertikaian akan sangat panjang, dan itu pasti merugikan persiapannya dalam Pemilu 2014.
Namun, dalam politik, blunder selalu dilahirkan oleh mereka yang sesungguhnya adalah bagian dari masalah. Pada sisi itulah, SBY terjebak dengan berbagai kepentingannya yang melibet. Bukan soal melangkah hati-hati, namun kalkulasinya lebih banyak menemui jalan buntu, karena ikatan-ikatan kepentingan yang satu-sama lain saling bertabrakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar