Kamis, Februari 28, 2013

Mencoba Membaca Anas Urbaningrum yang Adem Panas

Apakah Anas Urbaningrum sudah mulai "menulis" lembar-lembar berikut dari buku yang akan dijanjikan sangat panjang? Rasanya belum ada waktu, karena ia masih sibuk menerima tamu, atau sibuk wawancara di berbagai media televisi, dengan mencoba mendekonstruksi ketegangan gesturenya dengan kostum kain sarung, atau back-ground foto KH Ali Maksum, pendiri Pondok Pesantren Krapyak (Yogyakarta). Maunya santai, tapi sangat formal.
Tapi, saya pikir, dari berbagai wacana yang ditebarnya, saya membaca, atau tepatnya menduga, barangkali hanya inilah yang ditulis Anas. Tulisannya berbentuk lisan. Sayangnya, ekspresi wajah, gesture dan move tubuhnya (beserta set backdrop-nya) kehilangan spontanitas. Joke-jokenya juga boring. Jawaban-jawabannya seolah tertata rapih dalam bahasa yang santun dan tertata, tetapi tampak seperti anak sekolah yang lupa-lupa ingat teks yang sudah disiapkan dan dihafalkan sebelum pidato. Apalagi, jika ketemu dengan interviewer yang cerdas, saya bayangkan, sorot mata dan raut wajah Anas akan lebih menyedihkan lagi.
Tentu saja, Anas bukanlah Gus Dur, yang sekali pun marah atau kecewa, tetap saja dengan karakter aselinya, teguh dan tak terbantahkan. Sementara sorot mata Anas, jadi terasa sangat depresif, antara mengingat yang ingin dikatakan, atau sibuk mencari kata mana yang denotatif mana yang konotatif. Otak yang sibuk memilih kata itu, jadi lamban memerintahkan sensor motorik pada lidah, sementara momentum bergerak butuh aksentuasi segera, sehingga yang terjadi ketidaksinkronan yang outputnya terlihat di raut muka. Saya jadi capek sendiri menunggu wawancara amatiran itu.
Tentu posisi Anas tidaklah mudah. Di satu sisi, ia mesti menjalani proses hukum dari KPK, dan itu sifatnya final. Mau ngomong konspirasi, intervensi, tidak mandiri, dan sebagainya, silakan saja. Tapi, selama hal itu hanya diomongkan di media, dan dikembangkan jadi gossip untuk membangun opini publik, maka nilainya adalah sampah (pada sisi ini, Anas tak beda dengan politikus lain, ngumbar omongan setelah jadi tersangka). Beda halnya jika hal itu kelak dilakukannya pada sidang pengadilan, dan apalagi bisa mementahkan semua tudingan KPK, itu baru keren.
Sebagai insan politik, tentu saja kasusnya menjadi berdimensi politis, itu semua orang juga tahu. Beda kasus jika yang menerima grativikasi Harier itu misalnya tukang jahit tetangga saya. Jadi apa reaksi Anas, bisa dimengerti, meski terasa tidak taktis. Bahwa ia merepotkan kubu SBY, tentu saja. Tetapi bahwa Anas adalah politikus yang juga bermain-main politik, itu yang menyebabkan ia sendiri pun masuk dalam kategorinya sendiri, menjadi bagian dari para Sengkuni.
Kedatangan Hari Tanoe ke Teluk Langsa, dan kemudian berbalas kedatangan Anas di Batam menemui Hari Tanoe, serta kemudian masuknya Anas ke ormas Perindo (Persatuan Indonesia), hanya sedikit membedakan kelasnya dengan Muhammad Nazaruddin? Apakah begini calon presiden Indonesia 2019 yang akan digadang-gadang oleh Perindo (yang sebelumnya ormas terus kemudian diparpolkan oleh) Hari Tanoe, dan dimantra-mantrai kesaktian oleh Akbar Tanjung? Bukankah semua orang yakin berkalkulasi, bahwa Anas punya banyak modal, sebagai pahlawan baru HMI dan pahlawan kader Pardem yang disingkirkan dan dikecewakan, belum lagi nanti sokongan dari KAHMI the kingdom? Hari Tanoe seperti sudah membayangkan akan panen di 2019.
Tapi memang, politik selalu lebih banyak melahirkan pertanyaan-pertanyaan, tetapi memberikan sedikit jawaban, atau bahkan sama sekali tidak memberikan jawaban.
Apakah Anas akan menjalankan politik santun? Atau jangan-jangan dia hanya tampak lebih pintar mencari kosakata dan idiom, yang tentu beda kelas dengan Ruhut Sitompul dan Sutan Batoeghana, tapi sesungguh-sungguhnya sama juga tidak santunnya, sama sadis dan jahatnya, sama bohong dan tipu-tipunya, dengan Ibas, dengan SBY, dengan Amir Syamsuddin, dan seterusnya?
Politik tanpa subyek dan predikat model Anas (karena saking seringnya mengeluarkan pernyataan tapi menghindar untuk menjawabnya jika ditanya balik, atau ngeles dengan sibuk mencari kata-kata pengganti yang kira-kira sopan), mungkin dipuja orang sebagai kepiawaian bahwa dia pribadi yang sulit ditebak. Padahal, sulit ditebak itu adalah cacat pertama seorang politikus, sebagaimana rakyat menebak-nebak SBY dengan segala macam citranya, dan ternyata kita kemudian dikecewakan oleh berbagai blunder dan hiden-agendanya.
Tapi begitulah, dalam politik Indonesia juga mengenal adanya pepatah: Guru kencing berdiri, murid kencing berdiri pula, meski posisinya agak miring dikit, karena kakinya tidak kukuh menyangga, apalagi sudah tak jadi ketua parpol pula! Ketika Anas membagikan buku (lamanya) "Apa Adanya", ia sedang meniru senior yang kini ditantangnya, ada apanya dengan membagi buku itu, jika tidak sedang jualan citra? Idem dito alias setali tiga uang!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar