Selasa, Februari 26, 2013

Krisis Kepemimpinan Indonesia dalam Praktik



Leadership is a matter of intelligence, trustworthiness, humaneness, courage, and discipline, ujar Sun Tzu. Kepemimpinan adalah gabungan unsur-unsur kecerdasan, sifat amanah (dapat dipercaya), rasa kemanusiaan, keberanian, serta disiplin.
Sun Tzu kemudian menambahkan, “Hanya ketika seseorang memiliki kelima unsur ini menjadi satu dalam dirinya, masing-masing dalam porsi yang tepat, baru dia layak dan bisa menjadi seorang pemimpin sejati.
Ketika dalam masa pembuangan politik oleh Belanda di Bengkulu (1938), Bung Karno pernah didatangi seorang tukang perah susu yang tengah dililit kesulitan uang. Dia sangat membutuhkan uang, dan celakanya orang itu pun yakin, dengan mendatangi Bung Karno persoalannya akan selesai. Apa yang terjadi?
Sumpah mampus. Sebagai orang buangan, Bung Karno tidak punya uang sepeser pun. Tapi Bung Karno lantas meminta si pemerah susu menunggu. Bung Karno masuk bilik, mengambil satu potong baju dan keluar rumah lewat pintu belakang. Bung Karno menggadaikan bajunya, demi mendapatkan uang tiga rupiah enampuluh sen. Itu jumlah yang dibutuhkan si pemerah susu. Problem pun terselesaikan. Leadership is solving problems, begitu kata Karl Popper. Kepemimpinan adalah memecahkan masalah. Sangat sederhana.
“Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai; kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya,” begitu aseli kutipan dari Peter F. Drucker, pendidik dan penulis asal Amerika Serikat, yang blas tidak kenal sama sekali dengan Susilo Bambang Yudhoyono.
Kepemimpinan berarti memecahkan masalah. Hari ketika para bawahan Anda berhenti membawa permasalahan mereka kepada Anda, adalah hari ketika Anda berhenti menjadi pemimpin mereka. Bisa jadi bawahan Anda tadi tidak percaya lagi akan kemampuan Anda menolong memecahkan masalah mereka, atau bisa jadi mereka menyimpulkan bahwa Anda tidak peduli lagi akan semua permasalahan mereka. Yang manapun alasan mereka berhenti menghadap Anda untuk semua masalah mereka, either case is a failure of leadership, begitu dikatakan Karl Popper. Itu adalah tanda kegagalan kepemimpinan Anda.
Tapi, ingatlah, sebagaimana Dwight D. Eisenhower, “You do not lead by hitting people over the head!”  Kau tidak memimpin dengan cara menindas orang. Itu kekerasan namanya, bukan kepemimpinan.   
Orang sering bertanya, apa bedanya seorang pemimpin dan seorang boss (atasan)? Bedanya adalah, seorang pemimpin memimpin, yaitu membuat orang melakukan sesuatu dengan memberi contoh dan melakukan sendiri juga apa yang dilakukan pengikutnya. Pemimpin membuat yang dipimpin melakukan sesuatu dengan suka hati karena inspirasinya. Sementara boss (atasan) membuat orang lain melakukan sesuatu dengan menyuruh mereka melakukannya, tidak peduli mereka suka atau tidak. Itu kata-kata Theodore Roosevelt. The boss says, "Go!", the leader says, "Let's go!"
Mari sejenak kita lihat kasus: Meski sama-sama parpol yang ketua umumnya terlibat dugaan korupsi, PKS jauh lebih cepat konsolidasinya dibanding Pardem. Ketua Majelis Syuro langsung dengan tegas menjalankan roda organisasi dan mengambil keputusan. Organisasi dan kepemimpinan di situ berjalan efektif. LHI yang dicokok KPK langsung diganti posisinya oleh AM.
Beda dengan Pardem. Bahkan lewat beberapa hari, Majelis Tinggi Partai sama sekali tak berinisiatif mengundang AU, padahal posisi AU "bebas" (tak sebagaimana LHI yang langsung ditahan). Di situ SBY bertindak lamban. Kenapa? Bukan karena karakter pribadinya yang lemah dan lamban mungkin, namun ketidaktegasannya karena begitu banyak hiden agenda atau pamrih liyan yang membelenggu. Dalam teori Sun Tzu, sifat amanahnya sulit dipenuhi. Berhari-hari mendiamkan masalah, sampai ketika AU sebagai Ketum parpol pidato mengundurkan diri pun, didiamkan saja, tak ada tegur-sapa. Ditelpon juga tidak, apalagi chatting sikit-sikitlah. Ya, karena memang ada permusuhan antara blok AU dan blok SBY. Tak bisa ditutupi. Dan gaya kepemimpinan SBY itu, jadi penyumbang penting terpuruknya Pardem.
Lihat contoh yang lain,  Indonesia sekitar 1997, waktu itu sedang dilanda krisis moneter. Gus Dur, sebagai Ketua Umum PBNU hendak mencairkan selembar cheque di BCA sebesar Rp 50 juta. Menyuruh sopirnya untuk melakukan tugas tersebut, beliau menunggu di Kramat Raya (Jakarta), kantor PBNU.
Namun, bank menolak pencairan itu. Alasannya, tak ada uang. Sang sopir pun balik dengan tangan kosong. Ngamuklah Gus Dur, "Lho, ini 'kan uang saya. Uang sendiri nggak boleh diambil itu gimana ceritanya. Tolong, sana balik lagi!"
Sang sopir kembali ke bank. Namun sama saja hasilnya.
Maka, muncullah akal-akalan Mafioso model Gus Dur, "Begini saja. Tugas kamu, pokoknya, harus bisa ngambil uang itu! Begini caranya. Masukkan tanganmu ke dalam tas kresek warna hitam. Datang lagi ke bank. Katakan kepada petugas bank, uang Gus Dur harus diambil hari ini juga. Kalau tidak boleh, bilang; Kalau masih tidak boleh, Gus Dur minta agar saya membuka katup granat ini. Biar semua berantakan. Ini perintah! Pilih diberi atau saya harus meledakkan tempat ini,...!"
Berangkatlah kembali sang sopir, menjalankan tugas mulia itu. Sampai di bank, tanpa banyak ba-bi-bu, sang sopir langsung memberondongkan kata-kata sebagaimana diamanatkan Gus Dur. Keruan saja, petugas bank gemetaran. Akhirnya, dengan cepat petugas bank mencairkan cheque milik Gus Dur.
Sang sopir pun pulang dengan sukses. Dan Polisi pun hanya bisa nyengir, ketika tahu di tangan sopir itu tak ada apa-apanya. "Kalau bukan saya yang nyuruh," cerita Gus Dur, "sopir tadi sudah dikombongkan (di-sel) Polisi,...!"
Kita melihat, bagaimana kepemimpinan Bung Karno, Gus Dur, dan SBY dalam praktik. Tentu saja, masing-masing berangkat dari sejarahnya sendiri. Satu sama lain tak bisa dibandingkan, namun kita melihat, one moment, bagaimana kepemimpinan dipraktikkan.
Pemimpin, apapun, adalah menyelesaikan masalah, bukan bagian dari masalah. Dan apakah kalian bukan pemimpin? Para suami, para isteri, para guru, para buruh, para tukang becak, para pencopet, para tukang jamu, para bloger, para mahasiswa, para ibu yang sendiri, para,... kalian adalah para pemimpin bagi orang-orang yang kalian kasihi dan berharap. You don't have to hold a position in order to be a leader, kata Anthony D’Angelo. Anda tidak perlu memiliki jabatan atau posisi tertentu untuk bisa menjadi pemimpin.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar