Jumat, Februari 22, 2013

AU Tersangka, Dan Masyarakat yang Tersandera Involusi



 Yang terbelah, dalam menyikapi kasus Anas Urbaningrum, bukan hanya para petinggi Pardem, melainkan juga di tengah masyarakat itu sendiri. Para analis politik di fesbuk, juga beragam tanggapannya.
Dalam psychopolitic, hal itu juga mesti dilihat pada sudut pandang pertarungan David dan Goliath. Pernyataan AU di twitter, meminjam istilah “Nabok Nyilih Tangan” (Nggampar via tangan orang lain), sungguh sangat efektif untuk membuat keterbelahan itu makin nyata. Dan yang muncul kemudian, adalah sosok Goliath, yang diam-diam ditengarai bukan hanya oleh istilah AU, melainkan juga dalam ingatan kebanyakan masyarakat.
Psikologisme masyarakat kita juga akan lebih mendukung underdog. Ketika semua orang mendukung Barca atau Madrid misalnya, tak sedikit yang akan membela tim-tim papan bawah ketika mereka melawan tim raksasa itu.
Namun memang, kita sendiri juga telah terkontaminasi oleh acuan-acuan dan istilah-istilah politicking. Dan semuanya itu, dilemparkan dalam pertarungan wacana yang eksplosif. Media yang cair, telah mengajari publik untuk berfikir sejurus dengan hal itu, yakni sama cairnya.
Di tengah buruknya sistem peradilan kita, seyogyanya memang kita mesti mempersilakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) membuktikan dalil-dalil dan bukti-bukti hukum yang dimilikinya. Sebagaimana kita mestinya juga selalu proporsional terhadap apa pun obyek penilaian kita.
Menilai perilaku politikus di DPR, tentu semestinya mengacu pada sistem, mekanisme, dan aturan yang berlaku di Senayan. Demikian juga menilai kualitas kerja Presiden, Menteri, Gubernur, Jaksa, Kepolisian, Media Massa, dan seterusnya, harus sama pada profesionalitas dan proporsionalitas.
Meski tentu, gairah publik turut berwacana adalah juga cerminan dari dialektika kita dalam proses berbangsa dan bernegara itu sendiri. Apalagi, teknologi informasi juga menyodorkan banyak pilihan media bagi masyarakat untuk meneguhkan identitas masing-masing, yang selama jaman Orde Baru, tidak ditemukan, apalagi dilatihkan dan dipraktikkan. Euforia ini mesti dilalui.
Jadi? Dalam proses transformasi nilai-nilai dan tatanan baru, kita bisa menyatakan apa saja. Sampai muntah-muntah. Tapi memberi ruang bagi masing-masing entitas untuk bekerja pada ranah masing-masing, agar kita jernih melihat masalah, juga masih membutuhkan proses waktu.
Pernyataan AU jauh sebelumnya, soal kesediaan digantung di Monas, adalah contoh blunder (artinya juga tidak proporsional) yang banyak dipraktikkan oleh siapa saja, termasuk SBY dan rakyat jelata. Akibat lebih jauh dari hal itu, satu sama lain bisa saling mengeruhkan air kolam, dan kita tak pernah sampai pada pembelajaran menangkap ikan emasnya.
Kita benar-benar mengalami involusi dan terjebak dalam formalisme, dengan begitu banyak menguasai teori-teori, logika, dan dasar argumentasi. Namun satu-sama lain justeru mengaburkan apa masalah esensialnya. Segala macam Undang-undang, aturan, birokrasi dan sebagainya, bukan saja diciptakan untuk melakukan kemuliaan, melainkan juga membuka ruang pengkhianatan.
Negeri ini juga begitu riuh-rendah, karena semua orang boleh berkomentar apa saja, dan merasa penting, sekali pun tidak proporsional dan bukan otoritasnya. Negeri penuh feedback ini, tentu saja jadi penuh interpretasi, penuh konspirasi, namun muter-muter dalam perdebatan semantika yang kadang jadi penuh kegenitan.
Jika KPK bisa membuktikan AU sangkaannya, dan hakim secara logika dan argumenasi hukumnya memvonis bersalah, atau memutuskan sebaliknya, biarkanlah semua itu berjalan. Jika para pihak yang bersengketa tak mempercayai kinerja mereka, tempuhlah jalur hukum, sebagaimana sudah diatur. Sampai naik banding, kasasi, dan seterusnya.
Dan kita bisa berfokus pada posisi masing-masing, karena Indonesia Raya ini toh tidak hanya tergantung kemakmuran dan kesejahteraannya hanya karena kerja eksekutif dan legislatif semata (sebagaimana teori ngawur Sutan Batoeghana ketika menyodorkan gagasan uang pensiun untuk anggota DPR).
Atau, memang kita masyarakat pasar yang riuh-rendah, karena kita adalah juga para pedagang yang bagai “mbok bakul sinambi wara”? Baiklah, jika demikian, terima kasih pada Mark Zuckerbergh, yang memberi kami ruang untuk lebih cepat dalam proses pencarian jati-diri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar