Rabu, Januari 30, 2013

Orang Bejo versus Orang Pintar


Orang bejo lebih untung daripada orang pintar, itu tagline dalam iklan jamu masuk angin. Ini agaknya ingin menggusur tagline yang popular sebelumnya, 'Orang Pintar Minum Tolak Angin' dari produksi yang lain lagi. Ikon iklan ini, memakai Bob Sadino dan Butet Kartaredjasa, tampaknya benar-benar ingin menyodorkan tesis mereka (yang lebih menguntungkan produk mereka), bahwa orang beruntung itu jauh lebih untung.
Adakah yang salah? Tentu saja tidak. Karena demikian faktanya. Benar dalam konteks kita mencari untung. Bahwa orang bejo, memang lebih untung daripada pintar. Namun ini ciri ajakan fatalistik dari masyarakat pragamatis. Copy-writer dengan bangga menyodorkan 'key-words' itu, dan tak perlu berfikir tentang dampak sosio-psikologis masyarakat. Toh agency periklanan juga lebih mengabdi client daripada memberi inspirasi ke masyarakat (sementara style eksploitasi itu sudah lama ditinggalkan dalam disain-disain dari beberapa negara maju. Kenapa mesti membandingkan ini, karena banyak produk iklan kita mengacu ke sini baik dari ide maupun teknis penyampaian).
Kembali ke pokok persoalan. Cara pandang orang bejo yang "lebih untung" dari orang pintar ini, menyesatkan. Sebagaimana filosofi 'thenguk-thenguk nemu gethuk'. Karena siapa yang tahu dirinya bejo atau nemu gethuk? Manusia 'one momen' adalah dalam kuasa Tuhan. Sedangkan manusia pintar, adalah manusia berusaha. Apakah pintar dan berusaha jaminan berhasil? Tidak. Tapi sebejo-bejonya orang, tidak ada yang tahu kapan saat dirinya akan bejo kapan sial, kecuali post-factum ia mengevaluasi dirinya, apa yang sudah dilakukannya.
Sementara itu, Bob Sadino sebagai personifikasi orang bejo, ngomong pada penonton, meyakinkan dengan mobil luxurynya, "Jangan banyak mikir, kerja saja,..." Di situ baru ketahuan goblognya, kerja apa? Dalam piramyda korban manusia, ajakan Bob Sadino itu lebih fatal lagi bisa diartikan; Kalian kerja saja, jadi buruh, nggak usah mikir. Itu sudah bejo, daripada nganggur. Kerja sekarang susah. Orang bejo itu lebih untung daripada orang pintar.
Jika diteruskan kalimatnya; Omong kosong orang Indonesia akan pintar, sia-sia, tuh lihat banyak orang pintar sengsara, tidak beruntung, tidak kaya,... Itu ajakan khas jaman Orde Baru Soeharto dulu, jangan mikir, kerja saja.
Baru terpaksa mikir setelah semuanya lewat dan telat, aku kerja tapi kok miskin terus ya? Orang bejo itu adalah orang yang bersyukur, dan mereka yang bersyukur adalah manusia pembelajar. Seperti Thomas Alva Edisson, Muhammad Ali, Made 'Edam' Burger, Ciputra, Sugiarto, dan banyak enterpreuner yang bukan orang kaya karena keturunan dan warisan.
Bob Sadino sendiri, karena kepintarannya dalam bahasa Inggris, memulai karirnya dengan menjual telur ke para ekspatriat, dengan harga yang sangat mahal. Sementara, kata seorang sahabat saya, tetangganya (yang bernama Parno, dan tidak ada kata ‘bob’ di depannya), tetap saja hingga kini miskin, meski jualan telur jauh lebih dulu dibanding Bob Sadino. Tentu saja, karena ia hanya memungut keuntungan seribu-duaribu rupiah dari setiap kilogramnya, sementara Bob bisa menjual dengan harga jauh lebih mahal dan untung jauh lebih besar. Itu bejo? Bukan. Itu pintar.
Bejo itu lebih pada sikap hidup, dan sikap lahir dari pemahaman. Pemahaman hanya bisa dilakukan oleh mereka yang pintar. Artinya, orang bejo itu akan benar lebih beruntung dari orang pintar, karena ia tahu setelah belajar dan berupaya pintar, masih ada kekuatan lain yang menentukan. Orang pintar yang seperti ini, ialah mereka yang, seperti kata Imam Syafei, tunduk kepada kerendahan hati dan menjadi manusia pembelajar.
Orang seperti itu, bisa dipastikan tidak minum jamuk masuk atau tolak angin. Karena dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang tidak gampang masuk angin.

2 komentar:

  1. http://cholate-gustiar.blogspot.com/2013/03/otak-kanan-otaknya-orang-bejo.html

    BalasHapus
  2. Intinya yang dimaksud bejo itu orang yang dominan otak kanannya.
    Karena banyak orang pintar yang stuck dengan otak kirinya, analisisnya,tapi tidak bergerak. Jadi kesimpulannya berdasarkan teori, sedang yang dominan otak kanan berdasarkan pengalaman baik dari pribadi maupun dari orang lain

    BalasHapus