Selasa, Januari 22, 2013

Nasdem, Surya Paloh, dan Perseroan Terbatas

Masalah yang muncul di partai politik Nasdem (Nasional Demokrat), menunjukkan ciri khas atau karakter politikus Indonesia masa kini. Lebih banyak bersiasat dalam level taktik, dan belum sampai pada yang bernama strategi. 
Mendirikan Nasdem sebagai organisasi sosial di satu sisi dan kemudian sebagai partai politik di sisi lain, menunjukkan taktik politik Surya Paloh yang tidak teguh-kukuh berlapis baja. Apa yang terjadi pada saat pengunduran Hari Tanoe sekarang ini, tak jauh beda dengan mundurnya Sri Sultan Hamengku Buwana X dan lainnya dulu, ketika Nasdem dari organisasi sosial mau beralih ke parpol.
Gaya berpolitik SP (Surya Paloh, Nasdem), tidak elegan, dan berkesan kurang jantan. Hal itu pastilah dirasakan sebagai bentuk kualitas kepemimpinan yang diragukan kapasitas dan ketulusannya. Pola komunikasi politik SP terlebih dulu menjebak dengan hal paling memungkinkan, untuk kemudian memasukkan ke perangkap keinginan sebenarnya. Ia memberikan ruang atau oportunisme kelompok, namun menyembunyikan agenda tertentu di belakangnya. Yang penting orang lain setuju dulu, tapi dalam diskusi yang tidak tuntas (hampir mirip model SBY). Itu ciri khas politik oportunisme.
Rio Capela sebagai ketua umum, hanyalah boneka bagi SP, sama persis dengan ormas Nasdem sebagai boneka dari parpol Nasdem. Model test the water ini, menunjukkan karakter SP yang hanya terasa macho di wajah tapi tidak dalam sifat dan kualitas kepemimpinan. Analisis lain, baru setelah verifikasi aman dan Nasdem pasti menjadi parpol (disahkan sebagai peserta Pemilu 2014), barulah SP berani menyatakan diri sebagai ketua umum parpol Nasdem yang sebenarnya. Tudingan orang, karena SP tak berani menanggung malu jika Nasdem gagal jadi parpol (makanya butuh boneka bernama Rio Capela), mendapatkan impresinya.
Kekisruhan yang terjadi di internal Nasdem, sekarang, hanyalah cerminan dari ketidakberanian SP berduel head-to-head dalam menyodorkan ide. Pada sisi itu, gaya retorikanya yang memukau hanyalah gimmick, teater, akting, hanya sampai dataran teknis namun kurang "dalem".
Bung Karno ketika berpidato, mungkin saja tak sekaya idiom atau gesture SP, tapi Bung Karno yang sederhana bukan hanya mempesona, melainkan mampu menyihir dan inspiring karena ketulusannya. Apa yang dikatakan, adalah suara hatinya. Bukan atas perintah atau arahan ghost-writer dan para instruktur teknik berpidato.
Ketulusan tentu sesuatu yang sulit diukur manusia. Namun ketulusan dalam berpolitik, akan tampak pada personalitas politikus. Jika bahan dasarnya kurang, tidak mungkin sampeyan bisa membuat pakaian yang nyaman dipakai.
Nasdem di bawah SP, tak jauh beda dengan sembilan parpol peserta Pemilu 2014 lainnya. Hanya sebuah perseroan terbatas.
Apa beda SP dengan Rhoma Irama coba? Ada dua yang pasti, bentuk cambang dan soal kancing baju. Selebihnya, kesukaan akan parfum rasanya sama. Namun dibandingkan SP, Rhoma Irama lebih macho dan berani malu dalam nyapres. Sementara SP seperti mahasiswa politik yang sedang menjalani masa plonco. Mau nyapres aja belibet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar