Minggu, Januari 06, 2013

Kesempatan Kedua dalam "The Spirit Carries On"


“Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond?” begitu pertanyaan Nicholas dalam “The Spirit Carries On”, karya John Petrucci, gitaris progressive metal band (di Indonesia disebut progressive rock) Dream Theater.
Tampaknya hidup begitu mencemaskan. Apakah hidup ini sudah ditentukan, apakah ini hanya kebohongan alam? Adakah hidup setelah kematian?
Pertanyaan tergenting manusia hidup sebenarnya bukan “kemana kita setelah kematian?”, tetapi fatalisme pada keyakinan “apakah tidak ada kesempatan kedua?”
Hidup memang pendek, tetapi sepanjang kita masih hidup, ada begitu banyak kesempatan. Kesempatan pertama gagal, bisa kita buka kesempatan berikutnya. Tentu setelah mempelajari kegagalan pertama. Kegagalan kedua, bisa membuka kesempatan ketiga, dan seterusnya. Karena kesempatan lahir dari kemauan, gagasan, harapan, dan tentu saja kemampuan menciptakannya.
Dan hal itu terjadi bukan karena kata-kata kosong. Gagasan bukanlah lamunan, tapi buah pikir yang aktif bergerak. Gagasan tidak turun dari langit, atau ngangkang di closet, tapi dari tanah dan pekerjaan kata Alain Prost.
Nicholas (hidup di 1999) yang semula selalu dibayangi Victoria Page (korban perang yang meninggal 1922), toh pada akhirnya juga mampu membebaskan dirinya. Ia tak lagi takut mati. Bahkan ia sangat yakin, “If I die tomorrow I’d be allright, because I believe, that after we’re gone, the spirit carries on,…” (Jika aku mati besok, aku kan baik saja, karena aku percaya, walaupun setelah kita tidak ada, jiwa ini akan tetap ada,…”)
Jiwa yang tetap ada adalah jiwa yang menginspirasi. Jiwa yang menginspirasi ialah jika apa yang kita kerjakan bisa menjadi contoh model, entah untuk anak kita atau generasi yang akan datang.
Tidak selalu dalam kerja raksasa dan sesuatu yang spektakuler. Berbuat baik pada diri sendiri dan orang lain, itu sudah sangat menginspirasi siapapun. Apalagi ketika kita masih hidup, maka kesempatan jauh lebih banyak, sebanyak yang diinginkan.
Persoalannya, mana yang bisa diujudkan, syarat-syaratnya itulah yang mesti dipenuhi. Belajar, berlatih, bekerja, terus demikian, sederhana saja.
Bahkan Victoria Page pun, dalam kematiannya, masih punya kesempatan berbuat baik untuk menginspirasi Nicholas. Itu bukti selalu ada kesempatan berikutnya. Sekiranya mau. “Move on, be brave, Dont weep at my grave!” Ayo, beranilah, jangan menangis di kuburanku! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar