Rabu, Januari 30, 2013

Orang Bejo versus Orang Pintar


Orang bejo lebih untung daripada orang pintar, itu tagline dalam iklan jamu masuk angin. Ini agaknya ingin menggusur tagline yang popular sebelumnya, 'Orang Pintar Minum Tolak Angin' dari produksi yang lain lagi. Ikon iklan ini, memakai Bob Sadino dan Butet Kartaredjasa, tampaknya benar-benar ingin menyodorkan tesis mereka (yang lebih menguntungkan produk mereka), bahwa orang beruntung itu jauh lebih untung.
Adakah yang salah? Tentu saja tidak. Karena demikian faktanya. Benar dalam konteks kita mencari untung. Bahwa orang bejo, memang lebih untung daripada pintar. Namun ini ciri ajakan fatalistik dari masyarakat pragamatis. Copy-writer dengan bangga menyodorkan 'key-words' itu, dan tak perlu berfikir tentang dampak sosio-psikologis masyarakat. Toh agency periklanan juga lebih mengabdi client daripada memberi inspirasi ke masyarakat (sementara style eksploitasi itu sudah lama ditinggalkan dalam disain-disain dari beberapa negara maju. Kenapa mesti membandingkan ini, karena banyak produk iklan kita mengacu ke sini baik dari ide maupun teknis penyampaian).
Kembali ke pokok persoalan. Cara pandang orang bejo yang "lebih untung" dari orang pintar ini, menyesatkan. Sebagaimana filosofi 'thenguk-thenguk nemu gethuk'. Karena siapa yang tahu dirinya bejo atau nemu gethuk? Manusia 'one momen' adalah dalam kuasa Tuhan. Sedangkan manusia pintar, adalah manusia berusaha. Apakah pintar dan berusaha jaminan berhasil? Tidak. Tapi sebejo-bejonya orang, tidak ada yang tahu kapan saat dirinya akan bejo kapan sial, kecuali post-factum ia mengevaluasi dirinya, apa yang sudah dilakukannya.
Sementara itu, Bob Sadino sebagai personifikasi orang bejo, ngomong pada penonton, meyakinkan dengan mobil luxurynya, "Jangan banyak mikir, kerja saja,..." Di situ baru ketahuan goblognya, kerja apa? Dalam piramyda korban manusia, ajakan Bob Sadino itu lebih fatal lagi bisa diartikan; Kalian kerja saja, jadi buruh, nggak usah mikir. Itu sudah bejo, daripada nganggur. Kerja sekarang susah. Orang bejo itu lebih untung daripada orang pintar.
Jika diteruskan kalimatnya; Omong kosong orang Indonesia akan pintar, sia-sia, tuh lihat banyak orang pintar sengsara, tidak beruntung, tidak kaya,... Itu ajakan khas jaman Orde Baru Soeharto dulu, jangan mikir, kerja saja.
Baru terpaksa mikir setelah semuanya lewat dan telat, aku kerja tapi kok miskin terus ya? Orang bejo itu adalah orang yang bersyukur, dan mereka yang bersyukur adalah manusia pembelajar. Seperti Thomas Alva Edisson, Muhammad Ali, Made 'Edam' Burger, Ciputra, Sugiarto, dan banyak enterpreuner yang bukan orang kaya karena keturunan dan warisan.
Bob Sadino sendiri, karena kepintarannya dalam bahasa Inggris, memulai karirnya dengan menjual telur ke para ekspatriat, dengan harga yang sangat mahal. Sementara, kata seorang sahabat saya, tetangganya (yang bernama Parno, dan tidak ada kata ‘bob’ di depannya), tetap saja hingga kini miskin, meski jualan telur jauh lebih dulu dibanding Bob Sadino. Tentu saja, karena ia hanya memungut keuntungan seribu-duaribu rupiah dari setiap kilogramnya, sementara Bob bisa menjual dengan harga jauh lebih mahal dan untung jauh lebih besar. Itu bejo? Bukan. Itu pintar.
Bejo itu lebih pada sikap hidup, dan sikap lahir dari pemahaman. Pemahaman hanya bisa dilakukan oleh mereka yang pintar. Artinya, orang bejo itu akan benar lebih beruntung dari orang pintar, karena ia tahu setelah belajar dan berupaya pintar, masih ada kekuatan lain yang menentukan. Orang pintar yang seperti ini, ialah mereka yang, seperti kata Imam Syafei, tunduk kepada kerendahan hati dan menjadi manusia pembelajar.
Orang seperti itu, bisa dipastikan tidak minum jamuk masuk atau tolak angin. Karena dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang tidak gampang masuk angin.

Senin, Januari 28, 2013

Raffi Ahmad, Narkoba, dan Kultur Pop Dunia Hiburan Indonesia


Pada Minggu pagi (27/1/2013) jam 05.00, para petugas BNN (Badan Nasional Narkotika) mulai menyatroni rumah Raffi Ahmad di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Konon menurut intaian mereka, selama hampir tiga bulan dan juga laporan masyarakat sekitar, rumah itu sering dipakai untuk pesta dari malam hingga pagi hari.
Dan demikian yang terjadi kemudian, seperti dilansir banyak media, ada 17 orang ditangkap BNN dan diperiksa. Beberapa nama beken di samping Raffi Ahmad, juga terdapat Wanda Hamidah (mantan model, dan kini politikus anggota DPRD DKI fraksi PAN), Irwansyah serta isterinya Zaskia Sungkar. Para petugas membutuhkan waktu cukup lama untuk mengetahui siapa yang positif menggunakan narkoba atau bukan.
Untuk test urine narkoba, sebenarnya hanya berlangsung kurang lima menit. Namun BNN dalam kasus test urine Raffi Ahmad cs., (27/1/2013) membutuhkan waktu dua jam lebih. Dan hasilnya, dari 17 orang itu, hanya lima orang yang positif menggunakan narkoba. Dari ke-limanya itu, tak ada nama artist, seperti misalnya Raffi Ahmad, Wanda Hamidah (sebenarnya bukan artis lagi, tapi politikus, anggota DPRD DKI dari PAN). Nama Irwansyah dan isterinya, Zaskia Sungkar (anak Mark Sungkar), juga tidak terindikasi sebagai pemakai. Mungkin mereka cuma mampir ngombe, ngombe teh misalnya. Sementara itu, BNN konon mengatakan sebelumnya, mereka telah "mengincar" Raffi Ahmad hampir selama tiga bulan.
Ada yang janggal? Dua hal, yakni lamanya test urine berlangsung, dan Raffi yang tidak terindikasi narkoba sementara sudah tiga bulan diburu. Kalau masing-masing orang butuh 5 menit pemeriksaan, maka 5 menit kali 17 orang adalah 85 menit. Tetapi BNN ternyata butuh waktu mengumumkan lebih dari dua jam yang dijanjikan. Terlalu bodohkah BNN atau terlalu pintarkah? Orang-orang awam menuding, itu karena proses tawar-menawar yang menyebabkan lama. Maukah BNN memakai second opinion?
Memang dalam kasus itu, BNN bisa mengatakan "bisa terjadi orang berada di tempat yang salah dan pada waktu yang salah", artinya, hanya orang sial yang tidak terlibat dalam peristiwa itu (jumlah orang sial itu mencapai 12 orang, karena hanya 5 orang terbukti mengkonsumsi narkoba). Benarkah? Bisa saja. Tapi bagaimana logikanya, dan menjelaskannya? Berjalan di tanah yang rata saja orang bisa jatuh tersandung, apalagi berjalan di pinggir jurang. Apa yang dicari Wanda Hamidah di rumah Raffi, membujuk Raffi menjadi caleg PAN? Pada hari apa, jam berapa semua peristiwa itu terjadi, dari sejak malam hingga lewat subuh hari berikutnya?
Apa pun data dan cerita fakta yang mau disodorkan oleh siapa pun tentang mereka, masyarakat bukan hanya merasa tahu apa yang terjadi, namun juga mereka telah memvonis tidak berdasarkan fakta kejadian dan fakta hukum. Masyarakat mempunyai logikanya tersendiri yang dinamakan realitas dan idealitas imajiner, yang itu terbangun karena psikologisme mereka yang apatis, sinistic, dan fatalistic.
Akan halnya mereka sebagai public figure, yang katanya selalu diharap memberi teladan kebaikan, tidak relevan dibicarakan di sini. Karena figure public itu tidak paralel dengan upaya-upaya kemuliaan yang dicapai dan dilalui untuk mendapatkan semua itu.
Sama tidak relevannya misalnya mengharap Olga, atau Sule, atau Nunung, atau Raffi Ahmad, dan siapa saja yang menjadi popular dari media hiburan kita. Karena popularitas dalam gurita bisnis hiburan di Indonesia, tak berkait dengan kualitas personal baik sebagai profesional maupun seorang individu. Dua hal itu tidak bersenyawa.
Yang lebih memukau dari itu semua, keartisan dan popularitas itu adalah pada persoalan akibat ekonominya. Menjadi selebritas itu artinya mudah mendapatkan uang dalam jumlah besar. Dalam satu hari tak sedikit yang bisa mendapatkan puluhan hingga seratusan juta. Dan itu yang juga terjadi pada Raffi Ahmad, yang memegang lebih dari empat program acara TV tiap harinya, serta tambahan main di beberapa sinetron yang disebut FTV. Ini yang lebih mengiurkan dibanding soal lain-lain.
Pola rekrutmen industri hiburan kita, yang tidak mempunyai acuan, tentu tak bisa dipakai sebagai rujukan untuk menyamakan antara popularitas dengan kualitas, idola dengan nilai-nilai intrinsik dan simbolik dari seorang yang memiliki teladan kemuliaan. Apalagi, konon, hanya ada dua kriteria untuk menjadi artis nge-top di (utamanya televisi) Indonesia; yakni cakep banget, atau ancur sekalian. Itu ciri kultur pop, sebagai anak kandung kapitalisme, yang lebih dekat pada eksploitasi daripada eksplorasi kebudayaan.

DUIT YANG BERPUTAR DI TELEVISI | Duit yang berputar di televisi, adalah seolah sebuah bisnis remang-remang sedap, karena kalau dilakukan audit yang ketat, dan berada dalam pengamatan cermat KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), akan tampak bermasalah di situ.
Dunia televisi, bukan sekedar dunia hiburan dengan beragam selebritas sohornya yang gemebyar. Bukan hanya soal gossip dan moralitas sinetron atau artis, melainkan yang lebih mengiurkan, adalah perputaran duit di dalamnya. Televisi bukan hanya menyajikan ketenaran Raffi Ahmad, melainkan Raffi Ahmad juga mendapatkan uang setiap hari mencapai ratusan juta rupiah. Sule bisa jadi milyarder karena tiap hari nongol di OVJ atau berbagai acara hiburan lainnya di televisi.
Hingga bagaimana bisnis ini berkecenderungan melanggar UU entah persaingan usaha (berkait monopoli) atau kebijakan penyiaran, sensor, dengan berbagai bias masalahnya.
Masyarakat mengeluh tentang kualitas sinetron, tetapi kenapa televisi tetap saja belagak pilon, dan pekerja-pekerja sinetron kita pun juga tutup kuping dan mata sembari mengatakan, "Yah, dunia kita bener-bener dunia sinetron sebenarnya,…"
Kita mulai dari sinetron. Seorang pemain bintang (kelas A-B), dalam satu episode 1-2 jam, bisa berkisar 40jt-10jt (sutradara dan apalagi penulis skenario, bisa kalah jauh), untuk figuran, jika tak dipotong calo (bahasa kerennya agency) perhari syuting bisa 50rb + makan, dan jika nasib baik ada jemputan. Berapa honor crew? Tak ada aturan. Bisnis ini, tak punya asosiasi profesi, tak ada organisasi profesi dan tak ada standar profesi. Maka mekanisme yang terjadi, semua orang bisa terdorong seperti sopir taksi, kejar setoran. Harapannya bisa bekerja untuk episode nan tak kunjung habis, syukur striping (tiap hari, seperti Tukang Bubur Naik Haji), atau setidaknya 30-40 episode. Tinggal mengalikan berapa penghasilannya.
Biaya produksi sinetron, antara 100jt-300jt. Harga jual dari PH ke station TV bisa antara 150jt-600jt dengan berbagai klasifikasinya. Dari sini, TV menjual ke pemasang iklan dengan harga 1 spot (per 30 detik) berkisar antara 5jt-25jt, tergantung jam tayang dan station TV-nya. Prime time di TV yang merajai rating, spot iklan bisa berharga 15jt-25jt. Jika ruang iklan tersedia standar minimal (aturan UU adalah 20% dari durasi acara, misal 1 jam maka ruang iklan adalah 12 menit = 24 spot, maka hitungan rata-rata tinggal dikalikan, misal harga spot 15jt x 24 spot = 360jt. Keuntungan tinggal dikurangkan dari berapa harga belinya. Keuntungan akan lebih tinggi, jika station TV melanggar aturan, misal ruang iklan bukan hanya 20%, melainkan bisa sampai 30%-40%, terutama pada acara yang konon ratingnya tinggi, dan itu artinya keuntungan luar biasa.
Perputaran uang di bisnis sinetron ini, membuka persaingan bisnis dengan munculnya anak-anak perusahaan station TV itu sendiri, agar duit berputar ke mereka-mereka juga. Misal, EMTEK sebagai holding membawahi SCTV, Indosiar, O Channel, namun ia juga mendirikan Screenplay, sebagai pemasok sinetron yang sama posisinya dengan SCTV. Untuk posisi itu, Screenplay bisa memonopoli dengan mengisi jam siaran semampunya, mau 24 jam juga boleh (kalau bisa). Mutu tidak mutu, SCTV tak bisa menolak Screenplay karena mereka satu induk. Pola lain, pemilik Station TV menanam saham ke PH, seperti Harry Tanoe (MNC Grup) ke SinemArt misalnya. Atau jika tidak perjanjian bawah tangan seperti MD dengan MNC TV, dan seterusnya. Pada posisi ini, peluang pemain baru, sama sekali tersumbat, kecuali milik bintang yang bisa menyeret iklan, misal PH milik Deddy Mizwar. Dengan ruang jam tayang yang besar, tapi dengan hanya sedikit PH bermain di sana, indikasi monopoli tak terhindarkan. Bagaimana KPPU melihat hal ini? Dan apa akibatnya untuk dunia kreatif dan pengembangannya soal kualitas? Dilema ini sering tak mau didengar.
Untuk acara Non-Drama, seperti Dahsyat atau Idola Cilik, atau Pesbuker, dan sebagainya (yang biasanya diproduksi secara in-house), biaya produksi lebih kecil, maka honor pemain atau host, meski kecil bisa mengiurkan, berkisar antara 10jt-20jt. Jika Raffi Ahmad sehari memegang tiga program, dan itu daily, maka dalam seminggu, bisa kita hitung berapa penghasilannya. Pola kerja mereka, jika merangkap kerjaan, bisa dibayangkan, kerja keras, rutin, underpressure, tapi duit banyak, bisa memunculkan displite di situ. Apalagi dalam pola pergaulan yang permisif dan akomodatif.
Sementara itu, di balik semua kemudahan, ada jebakan maya bernama pergaulan, life-style, yang bukan saja dalam hal fashion, kuliner, tetapi juga perdugeman, sex, narkoba, atau bahkan judi. Karena itu, tak heran kadang ditemui kenyataan ironis, seorang artis terkenal kepepet ngutang, baik karena kalah judi atau sakaw. Meski penghasilan tinggi, pengeluaran untuk pemenuhan gaya hidup mereka, kadang jadi jauh lebih tinggi. Dalam acara para selebritas, semalam menghabiskan ratusan juta konon jadi trend dan ajang adu kekuatan.
Nah, para selebritas yang popular dan jadi mesin uang itu, bekerja dalam situasi yang eksploitatif. Maka duit di sana bisa tak berkait dengan esensi kerja keras. Karena pola rekutmen artist kita juga tak dibimbing oleh nilai-nilai intrinsik dari yang namanya pekerjaan. Fenomena Raffi Ahmad (juga dulu misalnya Olga dalam hal lain), akan terus terjadi, karena dunia hiburan kita yang eksploitatif itu, dengan nilai perputaran duit yang juga tak berhubungan dengan "tanggung jawab media", karena kita tak mempunyai UU yang spesifik mengenai hal ini. KPI dan LSF, hanya aksesoris demokrasi media, yang sama sekali tak bisa mengawal UU Penyiaran 2002.
Pada sisi ini, kita tak pernah mau melihat, bahwa industri hiburan sebenarnya juga punya limbah dan polusi. Baik dampak pada pekerjanya dan terutama impact pada masyarakat penontonnya.

| Sunardian Wirodono, pernah bekerja di stasiun televisi dan production house selama 10 tahun lebih. Menulis buku "Matikan TV-Mu! Teror Media Televisi di Indonesia" (2006), yang menjadi buku wajib beberapa mahasiswa broadcast di Indonesia.

Selasa, Januari 22, 2013

Nasdem, Surya Paloh, dan Perseroan Terbatas

Masalah yang muncul di partai politik Nasdem (Nasional Demokrat), menunjukkan ciri khas atau karakter politikus Indonesia masa kini. Lebih banyak bersiasat dalam level taktik, dan belum sampai pada yang bernama strategi. 
Mendirikan Nasdem sebagai organisasi sosial di satu sisi dan kemudian sebagai partai politik di sisi lain, menunjukkan taktik politik Surya Paloh yang tidak teguh-kukuh berlapis baja. Apa yang terjadi pada saat pengunduran Hari Tanoe sekarang ini, tak jauh beda dengan mundurnya Sri Sultan Hamengku Buwana X dan lainnya dulu, ketika Nasdem dari organisasi sosial mau beralih ke parpol.
Gaya berpolitik SP (Surya Paloh, Nasdem), tidak elegan, dan berkesan kurang jantan. Hal itu pastilah dirasakan sebagai bentuk kualitas kepemimpinan yang diragukan kapasitas dan ketulusannya. Pola komunikasi politik SP terlebih dulu menjebak dengan hal paling memungkinkan, untuk kemudian memasukkan ke perangkap keinginan sebenarnya. Ia memberikan ruang atau oportunisme kelompok, namun menyembunyikan agenda tertentu di belakangnya. Yang penting orang lain setuju dulu, tapi dalam diskusi yang tidak tuntas (hampir mirip model SBY). Itu ciri khas politik oportunisme.
Rio Capela sebagai ketua umum, hanyalah boneka bagi SP, sama persis dengan ormas Nasdem sebagai boneka dari parpol Nasdem. Model test the water ini, menunjukkan karakter SP yang hanya terasa macho di wajah tapi tidak dalam sifat dan kualitas kepemimpinan. Analisis lain, baru setelah verifikasi aman dan Nasdem pasti menjadi parpol (disahkan sebagai peserta Pemilu 2014), barulah SP berani menyatakan diri sebagai ketua umum parpol Nasdem yang sebenarnya. Tudingan orang, karena SP tak berani menanggung malu jika Nasdem gagal jadi parpol (makanya butuh boneka bernama Rio Capela), mendapatkan impresinya.
Kekisruhan yang terjadi di internal Nasdem, sekarang, hanyalah cerminan dari ketidakberanian SP berduel head-to-head dalam menyodorkan ide. Pada sisi itu, gaya retorikanya yang memukau hanyalah gimmick, teater, akting, hanya sampai dataran teknis namun kurang "dalem".
Bung Karno ketika berpidato, mungkin saja tak sekaya idiom atau gesture SP, tapi Bung Karno yang sederhana bukan hanya mempesona, melainkan mampu menyihir dan inspiring karena ketulusannya. Apa yang dikatakan, adalah suara hatinya. Bukan atas perintah atau arahan ghost-writer dan para instruktur teknik berpidato.
Ketulusan tentu sesuatu yang sulit diukur manusia. Namun ketulusan dalam berpolitik, akan tampak pada personalitas politikus. Jika bahan dasarnya kurang, tidak mungkin sampeyan bisa membuat pakaian yang nyaman dipakai.
Nasdem di bawah SP, tak jauh beda dengan sembilan parpol peserta Pemilu 2014 lainnya. Hanya sebuah perseroan terbatas.
Apa beda SP dengan Rhoma Irama coba? Ada dua yang pasti, bentuk cambang dan soal kancing baju. Selebihnya, kesukaan akan parfum rasanya sama. Namun dibandingkan SP, Rhoma Irama lebih macho dan berani malu dalam nyapres. Sementara SP seperti mahasiswa politik yang sedang menjalani masa plonco. Mau nyapres aja belibet.

Minggu, Januari 06, 2013

Kisah Blusukan Seorang Presiden di Suatu Negeri


Syahdan, menurut sahibul blusukan, Presiden dengan tanpa menjelaskan agendanya (tapi sekretaris kepresidenan sudah dibisiki untuk mengajak banyak wartawan), melakukan kunjungan kerja di sebuah desa terpencil. Di desa ini, hampir penduduknya kaum urban, dan berprofesi di sektor-sektor informal.
Presiden pun berwawancara dengan seorang Ibu penjual jamu gendong, "Sudah berapa tahun jualan jamu gendong?"
"Wah, lha ya sudah lama, Poak,..." jawab Ibu penjual jamu ngeri-ngeri sedap, karena baru kali ini ngobrol dengan Presiden.
"Berapa anaknya?"
"Anak saya sudah gede-gede, Poak,... Pada mencar. Ada yang di ITB, UI, IPB,..." jawab Ibu penjual jamu gendong itu.
"Oh, ya? ITB Bandung?"
"Lha iya, Poak. Masak Bantul!"
Presiden pun mengedarkan pandangannya ke masyarakat yang mengerubung. Protokoler memang agak longgar, biar rakyat merasa pemimpinnya memang merakyat.
"Lihat saudara-saudara,...." Presiden setengah berteriak, "Ibu ini patut dicontoh. Meski hanya berjualan jamu gendong, tapi anak-anaknya ada yang di ITB, UI, dan, mana Ibu?"
"IPB, Poak!"
"Ya, di IPB, saya juga alumni di situ. Semuanya itu dari kerja keras seorang Ibu, berjualan jamu gendong," Presiden terus berbusa-busa, "Coba, ceritakan Ibu pada saudara-saudara kita semua, ini inspiring dan penting buat kita semua. Kita jangan gampang mengeluh, kita bekerja keras untuk memperbaiki kualitas SDM kita. Ibu ini berhasil memperbaiki kualitas taraf hidup bangsa dan negara ini. Apa profesi anak-anak Ibu ini di sana?"
"Ya, di sana itu, anak-anak saya itu ya jual jamu jugalah, Poak,...!"


Kesempatan Kedua dalam "The Spirit Carries On"


“Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond?” begitu pertanyaan Nicholas dalam “The Spirit Carries On”, karya John Petrucci, gitaris progressive metal band (di Indonesia disebut progressive rock) Dream Theater.
Tampaknya hidup begitu mencemaskan. Apakah hidup ini sudah ditentukan, apakah ini hanya kebohongan alam? Adakah hidup setelah kematian?
Pertanyaan tergenting manusia hidup sebenarnya bukan “kemana kita setelah kematian?”, tetapi fatalisme pada keyakinan “apakah tidak ada kesempatan kedua?”
Hidup memang pendek, tetapi sepanjang kita masih hidup, ada begitu banyak kesempatan. Kesempatan pertama gagal, bisa kita buka kesempatan berikutnya. Tentu setelah mempelajari kegagalan pertama. Kegagalan kedua, bisa membuka kesempatan ketiga, dan seterusnya. Karena kesempatan lahir dari kemauan, gagasan, harapan, dan tentu saja kemampuan menciptakannya.
Dan hal itu terjadi bukan karena kata-kata kosong. Gagasan bukanlah lamunan, tapi buah pikir yang aktif bergerak. Gagasan tidak turun dari langit, atau ngangkang di closet, tapi dari tanah dan pekerjaan kata Alain Prost.
Nicholas (hidup di 1999) yang semula selalu dibayangi Victoria Page (korban perang yang meninggal 1922), toh pada akhirnya juga mampu membebaskan dirinya. Ia tak lagi takut mati. Bahkan ia sangat yakin, “If I die tomorrow I’d be allright, because I believe, that after we’re gone, the spirit carries on,…” (Jika aku mati besok, aku kan baik saja, karena aku percaya, walaupun setelah kita tidak ada, jiwa ini akan tetap ada,…”)
Jiwa yang tetap ada adalah jiwa yang menginspirasi. Jiwa yang menginspirasi ialah jika apa yang kita kerjakan bisa menjadi contoh model, entah untuk anak kita atau generasi yang akan datang.
Tidak selalu dalam kerja raksasa dan sesuatu yang spektakuler. Berbuat baik pada diri sendiri dan orang lain, itu sudah sangat menginspirasi siapapun. Apalagi ketika kita masih hidup, maka kesempatan jauh lebih banyak, sebanyak yang diinginkan.
Persoalannya, mana yang bisa diujudkan, syarat-syaratnya itulah yang mesti dipenuhi. Belajar, berlatih, bekerja, terus demikian, sederhana saja.
Bahkan Victoria Page pun, dalam kematiannya, masih punya kesempatan berbuat baik untuk menginspirasi Nicholas. Itu bukti selalu ada kesempatan berikutnya. Sekiranya mau. “Move on, be brave, Dont weep at my grave!” Ayo, beranilah, jangan menangis di kuburanku! 

Blusukan dan Pamor Politik SBY


Saan Mustofa dari Demokrat, mengatakan SBY lebih dulu blusukan, demikian pula Partai Demokrat mengatakan SBY sudah blusukan mulai 2004. Hal itu terkait pendapat yang beredar, bahwa SBY meniru gaya blusukan Jokowi. Sementara, Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, mengatakan bahwa SBY sudah blusukan sejak dulu, tidak meniru dirinya. Puas?
Meskipun perdebatan ini terlihat ecek-ecek, dan agak menjijikkan, tapi justeru memang tampak, bahwa kualitas kepemimpinan Jokowi berada di atas SBY. Para cocomeo di sekitar SBY terlihat hanya semakin memerosotkan citraan SBY. Dari ngotot soal siapa lebih dulu, orang-orang Demokrat tak bisa menutupi politik pencitraan itu.
Apakah politik pencitraan jelek? Dalam komunikasi politik tentu tidak. Tapi masalahnya, cara berkomunikasi yang buruk justeru makin memperburuk citra yang hendak diraih. Personalitas Jokowi yang humbel dan tanpa pretensi, sekali lagi menohok SBY. Tahun lalu, dalam Pilkada DKI, perintah SBY pada Sutiyoso untuk memenangkan Foke, juga dipatahkan dukungan pemilih Jakarta pada Jokowi.
Tentu saja tulisan ini tak hendak mengajak orang Demokrat belajar berpolitik dari Jokowi. Bisa ngamuk mereka, dan mengatakan bahwa mereka sudah belajar politik sebelum Jokowi lahir. Tapi berpolitik dengan kesantunan dan ketulusan, akan bisa terasakan (bukan sekedar terlihat) oleh rakyatnya. Dalam soal personalitas, SBY kalah pamor dengan Jokowi.
Apakah tulisan ini mendorong Jokowi untuk menjadi capres? Tidak. Jokowi-Ahok sangat diperlukan untuk Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Dan masyarakat Jakarta bisa membantunya, dengan cara mengawasi DPRD-DKI yang mengaku-aku sebagai wakil rakyat Jakarta.
Soal capres 2014? Kalau rakyat Indonesia bisa menghasilkan wakil rakyat yang bermutu (artinya yang tidak bermutu tidak dipilih), kita tak perlu khawatir siapa presidennya. Presiden yang buruk masih bisa dibenahi dari parlemen yang baik. Tapi dengan parlemen yang buruk, presiden yang baik tidak bisa bekerja maksimal, apalagi presiden yang buruk.

MUI-Perjuangan dan Repotnya Duduk Ngangkang


MUI-P, Majelis Unyu-unyu Indonesia Perjuangan, mempunyai problem baru akan hal fatwa yang barusan dikeluarkan. Masalahnya bukan soal ngangkang dan tidak ngangkang. Lebih jauh lagi, soalnya adalah apakah jenis kelamin sepeda motor laki-laki boleh dinaiki (baik nggonceng atau mengemudikan) oleh yang berjenis kelamin perempuan? Begitu juga sebaliknya, apakah sepeda motor perempuan (jenis bebek itu), boleh dinaiki oleh kaum lelaki? Masalahnya, mereka bukan muhrimnya. Ini bisa mengundang perbuatan tak senonoh.
Repotnya, kalau sepeda motor berjenis kelamin perempuan juga dinaiki kaum perempuan, sementara sepeda motor laki-laki dinaiki oleh laki-laki, bagaimana hukumnya? Adakah berarti para Unyu-unyu melegalkan hubungan sejenis? Bukankah itu juga aib, tabu, larangan, pamali?
Persoalannya, memang agak repot mencari dalil apakah boleh mengawinkan antara sepeda motor dengan manusia? Ini mengundang perdebatan yang tak perlu. Lagian, bagaimana dengan jenis sepeda motor yang tak jelas kelaminnya, yakni model-model sepeda motor yang lelaki bukan perempuan juga bukan (kayak Satria FU itu). Masih butuh pendalaman.
Maka setelah melakukan perdebatan panjang, Majelis Unyu-unyu merekomendasikan pada pabrik-pabrik sepeda motor, untuk membuat prototype yang sesuai dengan kaidah perunyu-unyuan. Majelis Unyu-unyu Indonesia juga mengingatkan, pabrik sepeda motor yang tidak sesuai akidah unyu-unyu, tidak akan mendapat sertifikat halal. Kalau sepeda motor itu haram, artinya onderdilnya halal disembelih (dan bisa langsung dijual protholan atau kiloan ke pasar klithikan).
Keputusan sementara, para lelaki dan perempuan yang berhasrat naik atau menggonceng sepeda motor, apapun jenis kelamin kendaraannya, mohon tidak dinaiki dulu. Meski mesin boleh dihidupkan, tapi disarankan sepeda motor itu dituntun saja. Itu lebih aman dan terhindar dari gibah. Lebih disarankan lagi, sepeda motor itu dituntun dalam kondisi mesin mati, itu lebih hemat energi 'kan?

Film Indonesia: The Raid Mengalahkan Skyfall

The Raid (Serbuan Maut), film aksi seni bela diri dari Indonesia yang disutradarai oleh Gareth Evans dan dibintangi Iko Uwais, sangat membanggakan. 
Pertama kali dipublikasi pada Festival Film Internasional Toronto (Toronto International Film Festival, TIFF) 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, para kritikus dan penonton memuji film tersebut sebagai salah satu film aksi terbaik setelah bertahun-tahun, sehingga memperoleh penghargaan The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award. 
Terpilihnya film ini untuk diputar pada beberapa festival film internasional berikutnya, seperti Festival Film Internasional Dublin Jameson (Irlandia), Festival Film Glasgow (Skotlandia), Festival Film Sundance (Utah, AS), South by Southwest Film (SXSW, di Austin, Texas, AS), dan Festival Film Busan (Korea Selatan), menjadikannya sebagai film komersial produksi Indonesia pertama yang paling berhasil di tingkat dunia. Bahkan, film ini menduduki peringkat kedua film terbaik sepanjang 2012 versi majalah Femalefirst dan peringkat keempat versi Total Film. 
The Raid malah mengalahkan film Skyfall (James Bond 007) yang ada diperingkat ketiga, versi Femalefirst. Menurut Ario Sagantoro, producer The Raid, hal itu sangat tak sebanding dengan kecanggihan dan spektakuler film sutradara Sam Mendes tersebut. "Enggak nyangka, enggak yakin. Kita enggak sebanding dengan film Skyfall, filmnya bagus, keren, akting Daniel Craig juga bagus. Tapi mungkin ngeliat dari sisi mana kita kan enggak tahu. Alhamdulillah, banggalah film Indonesia bisa bersaing di kancah internasional," jelasnya.
Aktor Hollywood, Vin Diesel ternyata diam-diam telah menonton film ini. Hal itu diungkapkan lawan main Diesel di film Fast and the Furious 6, Joe Taslim. Menurut Taslim, Diesel tak segan memuji film yang dibintangi Iko Uwais dan Yayan Ruhian itu, "Mereka cuma tanya, 'dari Indonesia ya? Kita sudah lihat The Raid, keren filmnya,..." 
Basic cerita The Raid, sangat sederhana, bahkan cenderung stereotype. Konsep utama film ini, adalah tim SWAT yang terjebak di dalam gedung dengan penjahat di sekitar mereka. Ini membuat banyak pilihan bagi tim produksi, untuk tidak hanya mengeksplorasi koreografi aksi, tetapi juga memberikan berbagai sensasi ketegangan yang tercipta dari film ini, bahkan juga sensasi horor.
Dramatic tidak cukup tergarap, meski telah di introdusir dalam adegan awal ketika Rama (Iko Uwais) hendak bertugas dan meninggalkan isterinya yang tengah mengandung tua. Demikian juga hadirnya tokoh Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang sebenarnya menjadi surprises cerita, sebagaimana bertemunya kakak beradik Rama dengan Andi (Donny Alamsyah) yang berada di posisi berlawanan. Dalam ending cerita, sentuhan dramatic itu agaknya tidak sangatlah diutamakan.
Toh film sebagai karya audio-visual, harus dilihat adil dan utuh. Plot lebih dibangun oleh pengadeganan dan pola editing yang terstruktur rapi. Dari detik ke detik, film ini terus memacu jantung penonton. Dan bagi yang menyukai adegan full action, mereka akan sangat terpuaskan. Apalagi The Raid adalah film yang memunculkan gaya pertarungan pencak silat Indonesia yang sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini kita tonton (apalagi kalau nonton sinetron laga kita, yang justeru mendatang instruktur fighting dari China atau Hong Kong). Pada sisi ini, The Raid, sebagaimana Merantau, mempunyai sumbangan berharga dalam perfileman Indonesia.
Ini kerja sama kedua antara Gareth Evans dan Iko Uwais, setelah film aksi pertama mereka, Merantau (2009), yang juga tetap memakai penata laga Iko Uwais dan Yayan Ruhian, yang menonjolkan seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. 
Proses pengerjaan film ini dikerjakan selama tiga bulan. Selain kedua aktor laga tersebut, The Raid juga dibintangi oleh aktor kawakan diantaranya Ray Sahetapy, Donny Alamsyah, Pierre Gruno dan atlet Judo Indonesia, Joe Taslim.
Penggarapan musik latar rilis versi asli Indonesia dikerjakan oleh komposer Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi. Penggarapan skoring musik The Raid yang rilis di wilayah Amerika Utara, Amerika Latin dan Spanyol juga melibatkan musisi Mike Shinoda, (personil Linkin Park) dan Joseph Trapanese, seorang komposer yang menggarap musik untuk film Tron: Legacy (2010) dari Walt Disney Pictures.
Selain pengambilan gambarnya, olahan koreografi seni bela diri film ini juga menuai decak kagum dari para juri dan penonton di berbagai festival fim Internasional. Film ini setelah dirilis sempat bertengger di posisi 15 besar top box office bioskop Amerika. Dengan kesuksesan itu, The Raid berhasil meraup penghasilan sekitar US$ 1.228 juta atau sekitar Rp 11 miliar.
Sebagian besar ide cerita keluar dari Gareth Evans. Ia mengatakan di dalam blognya, sejak kecil terobsesi dengan film "Peace Hotel" (1995) yang dibintangi Chow Yun Fat. Dia tidak pernah bisa menemukan film ini di Inggris dan hanya memiliki gambar poster serta sinopsis yang samar-samar.
Evans mengatakan bahwa dia menyukai konsep sebuah bangunan terisolasi yang menawarkan perlindungan kepada penjahat.
Namun ketika Evans akhirnya melihat film tersebut lebih dari 15 tahun kemudian, "khayalan" mengenai film ini benar-benar berbeda. Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk "Merantau", keinginannya untuk membuat film yang 95% berada di dalam satu ruangan makin mendesak. Evans mulai menonton banyak film untuk inspirasi, seperti Assault on Precinct 13 (1976) dan Die Hard (1988) untuk mencari struktur cerita, bagaimana mengembangkan adegan aksi ke dalam cerita sealami mungkin.
Evans mengatakan selalu ingin menemukan cara untuk mencampur genre bersama-sama, untuk membawa lebih ke film seni beladiri daripada sekedar murni action. Itulah yang sebagian besar fans dari genre action ingin lihat.





PENGHARGAAN | The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award, TIFF 2011 | Salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight dalam Festival Film Sundance 2012 | Terpilih menjadi penutup sesi FrightFest dalam Festival Film Glasgow 2012 | Audience Award dan Dublin Film Critics Circle Best Film dalam Festival Film Internasional Dublin Jameson 2012 | Prix du Public dalam 6ème Festival Mauvais Genre di Tours, Prancis | Sp!ts Silver Scream Award pada Festival Film Imagine ke-28 di Amsterdam, Belanda

Tak Dibutuhkan Dalang Setan untuk Indonesia

Mobil listrik Ferrarri Dahlan Iskan yang remuk-redam.

Ki Manteb Sudarsana mengatakan bahwa ritual tolak bala yang dilakukannya, adalah untuk keselamatan Dahlan Iskan. Menyingkirkan gangguan yang bisa membahayakan pribadi Dahlan Iskan. Doa keselamatan itu katanya untuk benda hidup bukan untuk benda mati. Karena menurut orang yang disebut Dalang Setan ini, "Meski pun didoakan berkali-kali, tapi kalau ada kerusakan teknis, ya tetap saja rusak." Tapi, saudara, jangan tanyakan pada saya, jika yang dimaksudkan seperti itu, kenapa yang dimandikan dengan air dari empat penjuru Sala itu mobilnya Dahlan Iskan? Kok bukan Dahan Iskannya yang dimandikan? Toh post-factum manusia masih bisa berkilah, "Manusia berusaha, Tuhan menentukan!"
Lepas dari kontroversi tersebut, kita memang bangsa yang penuh paradoks namun dengan cepat bisa mencari alasan dan logikanya. Mobil listrik sebagai pencapaian teknologi masa depan, pada akhirnya masih membutuhkan sentuhan tradisi, dengan mengundang Ki Manteb Sudarsana yang konon sehari sebelumnya puasa penuh untuk ritual tolak bala itu. Penggabungan dua hal itu khas Indonesia. Kita juga masih ingat, bagaimana dulu Soeharto melakukan pecah kendi untuk memandikan pesawat terbang buatan IPTN. Demikian juga ketika SBY hendak meluncurkan energi biru, sumber energi dari bahan baku air biasa (sebagai pengganti bensin) dengan ritual tertentu. Dan ketiga-tiganya, tidak berjalan mulus. Mobil listrik Dahlan Iskan nabrak karena rem blong. Pesawat Terbang IPTN mangkrak karena perubahan politik. Bensin dari air mineral, ini sama sekali tak ada kabarnya.
Bukan hanya mereka sesungguhnya, Jokowi pun ketika masih jadi walikota Solo, ketika meluncurkan mobil Esemka ke Jakarta, dalam rangka uji emisi, juga memakai ritual membasuh mobil dengan air kendi. Dan hasilnya waktu itu, uji emisi pertama gagal. Meski uji emisi kedua berhasil, namun industri mobil Esemka mengalami kendala tak adanya dukungan politik (dan ekonomi) pemerintahan SBY.
Antara gagasan dan capaian, sesungguhnya bukan sesuatu yang berjarak. Doa, harapan (mau dengan ritual atau tidak), tentu bolah-boleh saja sebagai bangsa yang religius. Namun, Tuhan sendiri sudah mengingatkan kita, bahwa segala sesuatu dikembalikan pada bagaimana upaya manusia mencapainya. Artinya, tetap saja antara gagasan dan pencapaian diperlukan proses perjuangan yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis yang presisi atau mumpuni.
Dalam hal terakhir ini, bangsa ini sering abai, karena pemerintah juga tak punya gagasan untuk pencapaian sebagai bangsa yang terdidik dan terlatih. Soeharto selama 30 tahun telah memaksa kita sebagai bangsa yang pragmatis, lebih menekankan pada filsafat kepentingan dan kemanfaatan, management by product, yang antara lain outputnya menjadikan bangsa ini lebih sebagai masyarakat konsumsi. Sementara dengan management by process, negara-negara kawasan Asia yang dulu masih tertinggal dibanding Indonesia, telah mampu dan melampaui menjadi negara berbasis produksi dan kinerja.
Akibatnya? Bahkan untuk urusan sepakbola saja, negara dengan 200 juta lebih penduduknya ini, tidak meyakinkan. Tapi, sungguh, kita tidak memerlukan Dalang Setan untuk meruwat bangsa dan negara ini. Kita butuh kesadaran baru, generasi baru, yang berbeda dengan kualitas serta tingkah para elite kita, baik yang di jajaran pemerintahan, dan apalagi di Senayan. Mereka sudah out of date.

Sabtu, Januari 05, 2013

Jakarta, Siapa Mewakili Apa


Di Jakarta Raya, pertanyaannya, siapa sesungguhnya yang menjadi wakil rakyat? Jokowi-Ahok yang berada di eksekutif, ataukah para politikus yang duduk di kursi legislatif? Silakan tuan John Locke dan tuan Montesquieu studi banding dan boleh belajar di Indonesia, untuk kembali merumuskan konsep trias-politikanya.
Ketua DPRD-DKI mengritik habis penanganan kemacetan dan banjir Jakarta baru-baru ini, padahal mereka tahu hukum kausalitas. Para anggota DPRD-DKI meminta Jokowi menghentikan acara blusukannya, dan seterusnya dan sebagainya, padahal mestinya acara blusukan itu dilakukan oleh wakil rakyat, untuk memantau, mengawasi, mengontrol jalannya kekuasaan eksekutif. Sementara pembahasan perencanaan anggaran bisa menggantung karena harus melalui persetujuan DPRD, yang jika telat maka pihak eksekutif yang akan memperoleh pinalti dari Kemendagri.

Sistem pemerintahan kita sendiri, pada semua levelnya, memang diciptakan untuk menjadi sapi perah oleh para praktisi politik kita. Pada kita hanya diperlihatkan fakta, bahwa partai politik di Indonesia hanya lahir karena untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri. Sampai hari ini, belum banyak orang baik yang diproduksi dari partai politik ini. Justeru malah, orang baik pun bisa disulap perlahan membusuk di dalamnya. 
Namun memang, demokrasi tidak akan mungkin berkembang di tanah kering-kerontang. Daulat rakyat yang bulatlah yang mampu menghentikan langkah para durjana dan petualang politik itu. Dan itu jalan yang melelahkan memang, yang sering menggoda mereka yang tak sabar untuk melakukan revolusi, yang hasilnya sering juga sama buruknya.
Adakah tuan John Locke dan tuan Montesquieu sudi mampir di mari? Mungkin penting Anda membuka diskusi dengan Jokowi-Ahok. Tapi tak usah bawa-bawa isyu SARA, nanti tuan berdua akan kelihatan goblognya.