Rabu, Januari 25, 2012

Apriani Susanti : Tragedy at the Tugu Tani, Jakarta

By Sunardian Wirodono

Apriani Susanti (29), had now become targets of mass amok, as cold-blooded killer in one hit killed nine human lives. With the variety of social media such as facebook and twitter, people become more get a place, for spew all resentment and anger.
Something that is reasonable and understandable. Similarly, a pickpocket or a chicken thief, who got beat rollicking mass, in the village, street, or the middle market.
Overall it was just pointed to, how our society, in the midst of which he held myths about the glory, also are in a situation requiring a trigger valves, for a variety of canalization college life more complex and meticulous.
Basically, we have values and social norms that standard, standard, and is often called normative. As a normative value, it becomes likely not operational. Because he had no power to do the reduction or action, or even expulsion, unless the discharge valve that is psycho-social. The existence and the existence of the public to be maintained, represented and embodied, that they have opinions and dignity.
The rest? The events that doomed the social norm that, just keep going. Not only Apriani, chicken thieves, pickpockets, but also corrupt behavior, social irregularities committed by members of parliament, politicians, ministers, even the president, continued to be possible to grow, evolve, and even the more experienced massive and sophistication.
In fact, systemic, social evils, economic, and political, can be designed into the system created, to be able to tolerate these things, in order to become a formal legally legitimate and non-infringement. Often put forward on behalf of the law, a statement which basically can injure the public morality and logic. Examples easy; How the police always say that his actions according to SOPs, how the political criminals are always screaming that they meet the law, and so on. See for example, how KPSI versus PSSI. All supposedly refers to the laws, regulations, statutes of FIFA, and so on. But no one has the ability to unravel the root causes. "Cause" only sought related to the "consequences thereof". Never "cause" wanted for "the consequences of what" (not resulting in anything).
We believe, trust normative community of nations, will be a bastion affirmation of our social values. But flat-out the fort, he could collapse because of the sophistication who want to overthrow it always increases the class. Meanwhile, the higher the walls that we build, the old adage, also pointed to how the weak inside. Not to mention, if the construction of the fort that was built with poor materials, the quality of cementing that has been corrupted, and the like. The proof? Apriani hijab, could not cover laboratory investigation, that he was taking drugs. That means the fort he built, is only in quality and interest of camouflage, and many analogies can we wear.
The media has done such blow-ups, with various effects of mediation. It should we immediately began to discuss the substance of the problem and its solution. While certainly this solicitation will not be popular, because not only the laity, but the MUI (Majelis Ulama Indonesia, Indonesian Ulemas Council) and we elites, degraded intelegentia, preferring to blame the wrong people, and reluctant to question "why all this could happen?". And we will only repeat complaints, and swearing.
Apriani certainly guilty. But that does not downplay the incident, we should not reluctant to seek out the cause. And back to the focus of our problems. Because the error Apriani, in different cases, can also apply on minister's decision, the president's decision, the legislature's decision, a decision police, prosecutors, judges, because they are also in situations fly, flying, not grounded, because the drug in other forms and meanings. Which may not only killed nine or a hundred lives, but it could be a lost generation, being trapped in structural poverty.
Supposedly, the people must be smarter than the media. If the media is still memblow-up events, the public should memblow-up problem.

Dan Kita Hanya Mengulang-ulang Keluhan dan Sumpah Serapah

Oleh Sunardian Wirodono

Apriani Susanti (29), sekarang ini menjadi sasaran amuk massa, sebagai pembunuh berdarah dingin yang dalam sekali hantam menewaskan sembilan nyawa manusia. Dengan adanya berbagai media sosial seperti fesbuk dan twitter, masyarakat menjadi lebih mendapatkan tempat, untuk meluncahkan semua kekesalan dan kemarahan.
Sesuatu yang wajar dan bisa dimengerti. Sama halnya dengan seorang pencopet atau maling ayam, yang dihajar massa beramai-ramai, di kampung, jalanan, atau tengah pasar.
Semuanya itu hanya menunjuk, bagaimana masyarakat kita, di tengah berbagai mitos yang digenggamnya mengenai nilai kemuliaan, juga berada dalam situasi membutuhkan katup-katup pemicu, bagi berbagai kanalisasi kehidupan yang makin maha-kompleks dan njelimet.
Pada dasarnya, kita memiliki nilai-nilai dan norma sosial yang baku, pakem, dan sering disebut normatif. Sebagai suatu nilai yang bersifat normatif, ia menjadi cenderung tidak operasional. Karena ia tidak mempunyai daya untuk melakukan reduksi atau aksi, atau bahkan pengenyahan, kecuali katup pelepasan yang bersifat psiko-sosial. Eksistensi dan keberadaan publik menjadi terjaga, terwakili dan terwadahi, bahwa mereka mempunyai pendapat dan harkat.
Selebihnya? Kejadian-kejadian yang terkutuk dalam norma sosial itu, terus saja terjadi. Bukan hanya Apriani, maling ayam, copet, tetapi juga perilaku koruptif, penyimpangan sosial yang dilakukan oleh anggota DPR, politikus, menteri, bahkan presiden, terus saja dimungkinkan tumbuh, berkembang, bahkan massif dan semakin mengalami pencanggihan.
Bahkan, secara sistemik, kejahatan sosial, ekonomi, dan politik, bisa dirancang masuk ke dalam sistem yang diciptakan, untuk bisa mentolerir semuanya itu, agar menjadi sah dan secara hukum formal bukan pelanggaran. Sering atas nama hukum yang dikedepankan, muncul pernyataan yang pada dasarnya bisa melukai logika dan moralitas publik. Contoh mudah; Bagaimana polisi selalu mengatakan bahwa tindakannya sesuai protap, bagaimana para penjahat politik selalu berteriak semuanya sesuai undang-undang, dan seterusnya. Lihat misalnya, bagaimana antara yang berada di KPSI-PSSI dan yang berada di luarnya. Semua konon mengacu undang-undang, peraturan, statuta FIFA, dan sebagainya. Namun tidak ada yang mempunyai kemampuan untuk mengurai akar permasalahan. "Sebab" hanya dicari yang berkait dengan "akibat yang ditimbulkan". Tidak pernah "sebab" dicari karena "akibat dari apa" (bukan mengakibatkan apa).
Kita percaya, kepercayaan normatif masyarakat suatu bangsa, akan menjadi benteng peneguhan nilai sosial kita. Namun sekuat-kuatnya benteng, ia bisa runtuh karena kecanggihan yang hendak meruntuhkannya selalu mengalami kenaikan kelas. Sementara, semakin tinggi tembok yang kita bangun, dalam adagium kuno, juga menunjuk betapa semakin lemahnya yang berada di dalam. Belum lagi, jika pembangunan benteng itu ternyata dibangun dengan material yang buruk, kualitas penyemenan yang sudah dikorupsi, dan sejenisnya. Buktinya? Pemakaian jilbab Apriani, tak bisa menutupi penyidikan laboratorium, bahwa ternyata ia mengkonsumsi narkoba. Itu artinya benteng yang dibangunnya, hanyalah dalam kualitas dan kepentingan kamuflase, dan berbagai analogi bisa kita kenakan.
Media telah melakukan blow-up sedemikian rupa, dengan berbagai efek mediasinya. Semestinyalah kita segera memulai untuk membicarakan substansi masalah dan solusinya. Meski tentu ajakan ini tidak akan populer, karena bukan hanya kaum awam, namun MUI dan para elite kita pun, mengalami degradasi intelegentia, lebih suka menyalahkan orang yang salah, dan enggan untuk mempertanyakan "kenapa semua itu bisa terjadi?". Dan kita hanya akan mengulang-ulang keluhan, dan sumpah serapah.
Apriani tentu bersalah. Namun bukan mengecilkan arti kejadian itu, kita semestinya tak enggan mencari tahu penyebabnya. Dan kembali ke fokus masalah kita. Karena kesalahan Apriani, dalam kasus berbeda, juga bisa berlaku pada keputusan menteri, keputusan presiden, keputusan anggota legislatif, keputusan polisi, jaksa, hakim, karena mereka juga dalam situasi fly, melayang, tidak membumi, karena narkoba dalam bentuk dan arti lain. Yang bisa jadi bukan hanya menewaskan sembilan atau seratus nyawa, melainkan bisa jadi satu generasi hilang, karena terjebak dalam kemiskinan struktural.
Semestinya, masyarakat harus lebih pintar dari media. Jika media masih memblow-up peristiwa, masyarakat mestinya memblow-up masalah-nya.

Dongeng Tentang Makna Kata

Syahdan, pada jaman dahulu banget, ketika belum ada politikus busuk banget dan presiden buluk banget, adalah dua orang kakak-beradik. Mereka belum lama ditinggal ayahnya. Ditinggal meninggal maksudnya, karena tidak sopan meninggal ajak-ajak orang lain, kecuali karena kegemblungan orang mabuk yang menyetir mobil. Di samping masing-masing mendapat warisan toko, mereka juga mendapatkan dua pesan penting: Pertama, jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu. Dan kedua, jika engkau pergi dari rumah ke tokomu, jangan sampai muka kamu terkena sinar matahari.
Waktu pun berjalan terus, kadang berhenti sebentar karena traffic jam. Dan terjadilah apa yang mesti terjadi, beberapa tahun kemudian, si anak yang sulung bertambah kaya, sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.
Apa pasal? Itulah yang ditanya sang Ibunda, kepada dua anaknya.
"Yah, ginilah gara-gara ngikutin nasehat ayah," sungut si bungsu yang semakin miskin, "Ayah berpesan, kita tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepada kita. Akibatnya, modalku susut karena orang yang berhutang tidak membayar. Sementara aku tidak boleh menagih,..."
"Terus? ujar ibunya.
"Ayah juga berpesan, kalau pergi atau pulang dari toko, tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku mesti naik tandu atau joli. Padahal, jalan kaki saja 'kan cukup? Gara-gara nurutin pesan ayah, pengeluaranku bertambah banyak,..." si bungsu tampak terus menggeremeng.
"Lha, bagaimana kamu, Nak, apa yang terjadi denganmu?" bertanya sang ibu pada anak sulungnya, "Kok kamu jadi makin kaya, kayak lagunya Rhoma Irama,..."
"Wong ini dongeng jaman dulu kala kok, ada Rhoma Irama segala, Bunda,...!" si bungsu menyahut kheki.
"Ups, sorry, Guys!"
"Ini semua karena saya mentaati pesan ayah," jawab anak sulung. "Ayah berpesan, agar saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya. Maka saya tidak menghutangkan uang saya, hingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar berangkat dan pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Jadinya, toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup,... Gitu deh,...!"
Tamat.

Minggu, Januari 22, 2012

Dongeng Tentang Trias Politika yang Celaka

Konon, menurut sahibul bokis, tanpa sengaja, adalah tiga makhluk aneh bernama Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif, tersesat di hutan raya gelap-gulita. Konon bapak mereka, yang bernama Montesqiue, tak bertanggung jawab mengasuhnya.
Namun, karena kebijaksanaan dongeng, di tengah hutan gelap-gulita itu, ketiganya ndilalahnya ndilalah menemukan botol kosong di salah satu sudut ruang sidang banggar bernilai 20 milyar. Entah bagaimana di hutan gung liwang-liwung bisa terdapat ruang sidang yang aneh itu. Entah juga bagaimana bisa terdapat sebuah botol bir. Namanya juga dongeng, mau kayak gitu, nggak mau ya, ayo demo!
Ketika dibaui, memang bau bir, meski Cuma setitik. Siapa yang ngebir di ruangan mulia itu? Dan kenapa mesti memabukkan diri, adakah pusing memikirkan negara atau jabatannya yang terancam? Ini termasuk salah satu rahasia negara, yang Indoleaks pun belum menciumnya.
Eksekutif dan Legislatif pun berebut membuka tutup botol. Siapa tahu, setitik bir bisa membuka pikirannya, karena selama ini dengan setitik nila pun sudah tak mempen.
Eh, sudenly bin tiba-tiba, "Buuuuzzzzzzzzzz,..." muncullah asap tebal bagaikan muntahan abu vulkanik dari Gunung Merapi.
"Huahahahahahahaha,... Baik, cukup sudah!" bentak Jin yang tiba-tiba keluar dari botol bir itu. Tapi sekali pun membentak, tetap kudu ketawa ngakak dulu, persis fesbuker.
Eksekutif dan Legislatif terjengkang jatuh. Mereka melihat sekeliling. Untung tak ada yang melihatnya. Mereka cuma melihat Yudikatif ngekek, sepertinya senang sesama elite terjengkang.
Jin yang buesar sekali itu, jika diperhatikan baik-baik, bentuk tubuh dan wajahnya benar-benar mirip pemeran iklan Rosa! Rosa!
"Ini keempat kalinya dalam bulan ini orang menggangguku!” berkata Jin mirip Mbah Maridjan itu dengan marah, “Aku begitu marah, sampai aku hanya akan memberimu satu permintaan, dan bukannya tiga seperti dongeng-dongeng jadul itu! Jadi ayolah, ayo! Katakan apa yang kau inginkan, dan jangan membuang waktuku seharian!"
Makhluk aneh bernama Eksekutif, seperti biasa berkata cepat, melebihi pikirannya yang selalu lambat, "Yah, saya akhir-akhir ini selalu bermimpi, bagaimana Kabinet kami, beserta presiden dan keluarganya tentu, mempunyai lorong rahasia, yang langsung bisa menghubungkan kami ke luar negeri, ke Swiss atau ke mana saja deh, yang sulit terjangkau hukum negara kami,..."
Legislatif menimpali, "Saya sendiri juga pengin, bagaimana rakyat tidak lagi,..."
"Stop!" Mbah Maridjan, eh, Jin itu menukas perkataan Legislatif, "kubilang hanya satu permintaan, kamu ngerti hukum enggak sih Leg! Ini hanya satu permintaan, bagaimana kalian bisa bersatu, bersatu dalam permintaan saja sulit! Sok demokratis, asal beda! Emangnya kalau beda itu demokrasi? Politik macam apa itu, bar-bar banget! Demokrasi kok asal beda, asal nggak setuju, asal membantah, asal bertengkar, asal berdebat, asal aneh, asal teoritis,..."
Sang jin malah sibuk memberi ceramah politik.
Eksekutif dan Legislatif terdiam. Yudikatif lirak-lirik dan cengar-cengir melihat dua sohibnya kena damprat guru politiknya. Baru kali itu ada yang berani membentak mereka, syukurin!
Yudikatif (masih saudaranya Yudi Latief, 'pa ya?) pun sebenarnya jiper. Tapi dia diam saja. Kalau rakyat sih, kata hati Yudikatif, saya masih berani melawan. Lha ini jin, sesembahan beta?
Jin pun melanjutkan ngomyangnya, "Permintaanmu itu, amatlah sangat sulit! Sulit pitik! Kamu mesti juga tahu, bukan hanya mahasiswa, tetapi penumpang gelap perubahan, juga punya cara makin canggih. Bahkan, sekarang masing-masing kelompok kepentingan, bisa berhubungan langsung dengan agen-agen di luar negeri, dengan Amerika terutama. Mereka pasti juga telah berpikir, bahwa kalian akan melakukan hal itu. Di negeri anehmu ini, perubahan politik ternyata juga bisa diproyekkan. Disiapkan proposal dan disimulasikan. Dan kamu minta aku melawan mereka? Kamu pasti bercanda! Itu sama sekali sesuatu yang tidak akan mudah dilakukan oleh sebangsa jin sekali pun! Pikirkan permintaan lain!"
Kecewa, amat kecewa, Eksekutif dan Legislatif terdiam. Mereka berunding, berusaha keras untuk memikirkan permintaan lain.
Akhirnya setelah kasak-kusuk, Eksekutif dan Legislatif meminta Yudikatif yang ngomong, "Yud, ayo dong ngomong, sekali pun nggak mutu!"
"Baiklah, jadiiii,..." Yudikatif langsung 'main jadi' saja, seperti ciri pidato orang-orang pinter, "kami hanya ingin semua rakyat negeri yang pernah kami layani dalam masa tugas kami, yang menuding bahwa kami tidak peka, budeg, bisu, tuli, itu fitnah. Kami berusaha dan berusaha untuk menyenangkan mereka, namun tidak ada yang berhasil. Kami sudah bekerja 27 jam sehari semalam. Kami tidak tahu di mana kesalahan kami. Jika kami hanya boleh satu permintaan saja, satu permintaan kami ialah, bagaimana caranya untuk mengerti rakyat, tahu bagaimana sebenarnya perasaan mereka ketika mereka membisu pada kami. Tahu mengapa mereka menangis. Tahu apa yang mereka inginkan, ketika mereka tidak memberitahu kami, apa yang sebenarnya mereka inginkan. Kami ingin tahu, apa yang membuat rakyat benar-benar bahagia,..."
Sunyi. Senyap.
Tak ada suara.
Kemudian Jin itu berkata, nyaris berbisik, sangat perlahan, "Eksekutif dan Yudikatif, kalian tadi menginginkan lorong rahasia ke luar negeri? Ke Swiss atau ke mana gitu? Katakan padaku segera, lorong itu full-AC, berjalur dua atau empat?"

Sabtu, Januari 14, 2012

TIGA BUKU BARU SUNARDIAN WIRODONO.

"Belajar dari Seratus Puisi dari Seratus Penyair Indonesia". Berisi 100 pembahasan dari sudut makna permenungan kehidupan, dari 100 penyair Indonesia. Penyair dari sejak Kartini, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, hingga penyair-penyair periode 1970, 1980, dan nama-nama yang sekarang bertebar di media massa serta media online.
Buku ini berukuran 11x18 Cm, 320 halaman, kertas HVS 70 gram, harga Rp 50.000/eksp., sudah termasuk ongkos kirim untuk wilayah Indonesia.

"Dialog Dogol Susilo & Mbambang" incl. "Dongeng-dongeng Dogol", berisi lelucon dari dan tentang Indonesia. Ada banyak masalah dalam kebudayaan kita, ekonomi dan politik, namun humor tetap menjaga semangat kita untuk turut menguliti dan mendapatkan pencerahan.
Ukuran buku ini dan harga, s.d.a.


"Serat Centhini Dwi Lingua", berisi teks asli karya Sri Susuhunan Pakubuwana V yang kemudian diterjemahkan text by text oleh Sunardian Wirodono, dan dijadikan satu buku menjadi Serat Centhini Dwi Lingua alias dua bahasa. Ukuran 13,5x21 Cm, tebal 600 halaman, kertas mangkak 70 gram, harga soft cover Rp 80.000 dan hardcover Rp 100.000, tambah ongkos kirim Rp 20.000.

Tidak dijual di toko buku. Pemesanan pembelian, kirimkan email ke sunardianwirodono@yahoo.com, atau sms ke 0813 9817 8411.

Mengapa tidak dijual di toko buku? Karena toko-toko buku besar, akan langsung mematok potongan harga 50-70% untuk mereka. Maka beberapa penerbit yang ingin masuk ke toko buku, mesti melipatgandakan harga jual buku menjadi berlipat-lipat. Agar didapat harga buku yang murah.

Melawan buku mahal dengan buku murah.
Syahdan, pada suatu pagi, Ayu Ting Ting bertemu dengan Tuan Presiden. Terjadilah dialog keduanya, seperti dalam sebuah opera yang agung di Yunani sana.
"Di mana, di mana, di manaaaa,..."
"Ho ho ho ho ho, Mari kita bergembira kawan,..."
"Di mana, di mana, di manaaaa,..."
"Ho ho ho ho, Tinggalkan rasa duka kawan,..."
"Di mana, di mana, di manaaaa,..."
"Ho ho ho ho, Indahnya persahabatan kita,..."
"Di mana, di mana, di manaaaa,..."
"Ho ho ho ho, Hidup kita kan bahagia,..."

Fade Out. The End.

Kata-kata di atas, dikutip dari syair "Alamat Palsu" (Ayu Ting Ting) dan syair lagu "Kawan" (album ke-tiga SBY).

Senin, Januari 09, 2012

Siapa yang Bodoh dan Tak Punya Otak

Oleh Sunardian Wirodono

Marzuki Alie, ketua DPR-RI dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa rakyat bodoh dan tidak punya otak, dalam kaitan reaksi rakyat terhadap renovasi toilet di gedung DPR yang menghabiskan anggaran Rp 2 milyar.
Bisa jadi tudingan Marzuki benar, sebagaimana banyak pernyataan Marzuki yang juga dituding rakyat sebagai bodoh dan tak punya otak. Tapi apa makna semuanya itu? Ialah soal kesantunan dan kebijaksanaan.
Sama persis dengan perdebatan antara partai yang ada dalam koalisi partai pemerintah, yang menyebut "ikan salmon" dan "ikan teri". Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik, menyebut kualitas perdebatan politikus Indonesia dalam perang verbal itu menunjukkan rendahnya kualitas perdebatan anggota dewan. "Pemakaian analogi binatang menunjukkan keadaban politik anggota Dewan ini masih pada taraf purba. Coba bandingkan dengan perdebatan politik di negara maju, itu kan rata-rata elegan dengan mengutip sastrawan seperti Shakespeare atau menggunakan metafora yang indah," ujarnya.
Tak perlu jauh ke luar negeri, kualitas perdebatan politik dalam parlemen Indonesia pada 1945-1957 menunjukkan kualitas lebih baik. Bukan hanya fokus pada content, melainkan juga dibalut dengan kata-kata yang menunjukkan kualitas referensi (apa yang mereka baca) dan kesantunan mereka. Di samping tentu, perdebatan politik sebagai sudut pandang mereka dalam mengupayakan kualitas bangsa dan negara, namun persahabatan antarmanusia tidak dikorbankan.
Kembali pada soal omongan Marzuki Alie, tentu saja tidak perlu terjadi, jika ketua DPR itu bijak, atau setidaknya tidak bodoh dan punya otak! Kenapa? Karena reaksi rakyat tentu saja tidak berkait soal proporsi biaya, melainkan lebih pada proporsi keberadaan para elite politik (dan juga partai politik dengan sendirinya), yang tidak merepresentasikan keterwakilan dan kepentingan rakyat. Apa yang terlontar dalam kasus renovasi toilet, hanyalah akumulasi psikologis akan kejengkelan perilaku dan peranan wakil rakyat.
Sama halnya dengan kemuakan publik atas polisi, jaksa, hakim, sistem pengadilan, penegakan hukum, dan performance pemerintah dalam menjalankan tegaknya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, semua adalah bukti-bukti kekecewaan yang bertumpuk-undhung. Pada sisi ini, mereka yang bijak akan mengerti, bahwa yang diperlukan adalah sikap responsif, bukan sikap reaktif. Jika sikap terakhir yang dimunculkan, kita tahu bahwa ada penjarakan posisi antar keduanya, yakni rakyat sebagai obyek dan para elite sebagai subyek. Dalam posisi itu, maka personalisasi dalam menjalankan pemerintahan ini, tidak akan pernah mementingkan sistem, melainkan lebih pada kualitas pribadi-pribadi elite kita yang sama sekali tidak mau dan tidak bisa dikontrol oleh rakyat dengan slagordenya.
Pada sisi itu, mudah dimengerti pula, jika rakyat bertanya-tanya, ke mana selama ini presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang hanya berani hadir dalam seremonial kenegaraan, namun sama sekali tidak berani menghadapi langsung, tampil memimpin untuk menjawab masalah-masalah yang muncul, dan tanpa perlu membangun bemper dengan segala macam staf khusus, juru bicara kepresidenan, satgas, atau bahkan hanya muncul sembari secara protokoler meminta para pembantunya untuk menyelesaikan masalah.
Apa yang dipidatokan presiden menjelang resufle kabinet tahun lalu, dan tekad untuk menjadikan kepemimpinannya menjadi lebih berbeda dan lebih akseleratif, tidak terbukti sama sekali. Sama persis dengan kampanye politiknya yang terakhir, pada 2009 ketika SBY sebagai jurkam Demokrat di putaran akhir Yogya, bahwa partainya mendukung keistimewaan Yogyakarta dengan penetapan, namun orang yang sama kemudian pada 2011 (hanya dua tahun, dan dokumen mengenai semua itu dengan gampang didapatkan) mengatakan hal yang 180 derajat berbeda. Itu semua adalah kualitas kepemimpinan yang sangat berbakat dan dekat dengan kepembohongan.
Setelah ditipu oleh para "tokoh" atau "elite politik" kita, ke depan semestinya rakyat Indonesia lebih fokus pada terbangunnya demokrasi yang lebih mengacu pada sistem kepolitikan yang benar. Tidak mau ditipu oleh siasat kekuasaan dengan mengumbar uang. Karena korbannya bukan hanya rakyat yang tak mau dibeli, melainkan beberapa orang yang dulu menerima uang bensin, uang pembinaan, uang transport dari partai politik, pun kini juga jadi korbannya. Karena apa yang mereka berikan dengan apa yang mereka rampok, sama sekali tak sebanding. Jika rakyat mau ditipu berkali-kali, sejak Soeharto hingga SBY, maka statemen Marzuki Alie bisa jadi benar.

Minggu, Januari 08, 2012

Indonesia dan Momentum yang Ke-sekian

Oleh Sunardian Wirodono

Adakah Indonesia menerapkan "trias politica" (eksekutif-legislatif-judikatif) sebagaimana dikuliahkan oleh Montesquie? Sepertinya tidak. Karena ketika legislatif, juga judikatif, berada dalam satu barisan kepentingan eksekutif, maka mereka adalah super-elite eksekutif itu sendiri. Dan mengenai pers sebagai pilar ke-empat demokrasi? Sungguh tidak mudah mempercayainya. Di negeri tanpa aturan, media bukan corong untuk mengkritisi dan memediasi, melainkan bagian dari permainan media setting, karena ia juga dikuasai oleh super-elite sebuah negeri, untuk agenda setting yang lainnya lagi. Jika pun ini disangkal, maka kita lihat kualitas pemberitaan media kita, yang cenderung memakai dan berada dalam teory of conflict, namun tidak sungguh-sungguh menjadi problem solver, kecuali ikut-ikutan menabuh gendang agar orang menari-nari di dalam area konflik.
Adakah kita sedang pesimis, atau skeptis menghadapi bangsa yang mandeg ini? Menyedihkannya, pada satu sisi kebangkitan Soehartoisme tak bisa dibendung. Ciri-cirinya, mereka percaya para pengritik pemerintah harus membuktikan omongannya, melarang pengritik ngomdo, menuding pengritik tak lebih baik dari yang dikritik, dan menyadarkan pengritik dengan dalil-dalil agama sembari meniupkan ancaman bahwa mengritik penguasai itu dosa. Pada sisi lain, munculnya para penggugat otoritas kekuasaan pemerintah kita yang sekarang ini, tidak mampu memberikan gambaran yang sama meyakinkan, bahwa mereka juga tidak akan berperilaku yang sama jika sudah berkuasa. Buktinya, 32 tahun kekuatan Soeharto hingga hari ini tidak sirna. Empatbelas tahun reformasi, tidak lebih bagus daripada Orde "Soeharto" Baru, sekali pun mereka sering mengusung kata-kata kebebasan dan demokrasi.
Benarkah manusia Indonesia ini ramah tamah, pancasilais, penuh persaudaraan? Rasanya tidak. Begitu orang Indonesia menjadi kelompok kepentingan dan kelompok identitas, mereka kehilangan karakter dan keteguhan pribadi, yang memang mudah goyah. Bahkan sejak yang dinamakan reformasi, kita tak melihat kesantunan dan ketulusan menjadi tujuan kemuliaan. Dan sampai kini pun, dari sejak 1945, 1966, 1971, 1998, kita tidak melihat adanya resolusi bangsa, untuk fokus dan mengedepankan prioritas. Tetap saja agenda kita elitis dan penuh kompromi elite.
Maka, betapa mengharukan ketika Indonesia Mengajar melakukan gerakan kaum sipilis (upaya warga) untuk turut menyegarkan ingatan bangsa ini, bahwa negara abai dalam memenuhi amanah Undang-undang Dasar. Anggaran Pendidikan 20%, yang konon sesuai undang-undang, pada dasarnya berbeda dengan yang dicitrakan, karena alokasi untuk pendidikan itu sendiri kurang dari 20% karena lebih banyak disedot untuk sektor pembelanjaan lainnya.
Gerakan yang diprakarsai oleh ARB (maaf, bukan Aburizal Bakrie, tapi Anies R. Baswedan) bukanlah yang pertama kalinya, namun banyak sebelumnya para perintis, anak muda, yang bekerja untuk pemuliaan peradaban melalui pendidikan di kolong jembatan, di rumah kumuh, bahkan di hutan-hutan, dan pelosok nun jauh di sudut mata hati Indonesia. Tidak semeriah dan segemerlap talkshow-talkshow yang seolah canggih di studio TV, di rumah perubahan, di kafe, apalagi di Senayan.
Demikian juga ketika muncul momentum Mobil Esemka. Seandainya saja pemerintahan kita punya road-map jelas, betapa mengerikannya jika mampu mempersatukan anak SMK dengan para mahasiswa teknik seluruh Indonesia, untuk membuat mobil nasional. Bukan pada satu nama bernama Tommy Soeharto dan sejenisnya, melainkan kembali pada kedigdayaan bangsa dan negara. Bukan justeru memunculkan sinisme, iri dan dengki, dan menilai upaya Jokowi sebagai gerakan politik menuju 2014, dan seterusnya.
Jika saja KPK mampu merekrut para fresh-graduate menjadi para wadyabala penyidiknya yang independent. Jika saja Presiden berani menegosiasi untuk menggusur nepotisme dan kolusi di kejaksaan, kehakiman, dan kepolisian, dan berani menyingkirkan pidato gombalnya yang selalu mengatakan "tidak ingin intervensi" dan sejenisnya itu.
Bangsa dan negara Indonesia adalah bangsa dan negara yang besar, karena wilayahnya luas, beragam, dan sumber daya manusianya terbesar ke-empat di seluruh dunia. Namun, sebagaimana sumber daya alam yang kita banggakan selama ini, yang hanya digerus penguasa korup dan pengkhianat bangsa, maka nasib sdm yang besar pun juga hanya akan menjadi obyek tipuan dan sapi perah belaka, jika salah kelola. Dan salah kelola itu yang terjadi sekarang ini.
Celakanya, para pembelanya membabi-buta, sampai perlu mengatakan mengritik pemimpin itu dosa. Taeklah!

Jumat, Januari 06, 2012

SUDAH BEREDAR BUKU "BELAJAR DARI SERATUS PUISI DARI SERATUS PENYAIR"

Membacai puisi-puisi seorang penyair, adalah belajar mengenai hikmat kebijaksanaan hidup dan kehidupan itu sendiri.
Merangkum 100 puisi dari 100 penyair Indonesia, mulai dari RA Kartini, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, Angkatan 70-an, Angkatan 80-an, Angkatan 90-an, hingga penyair-penyair periode mutakhir.

Data Buku | Ukuran 11x18 Cm, 320 halaman, kertas HVX\S, 70 gram. Harga Rp 50.000 per-eksp, sudah termasuk ongkos kirim.

Syarat pemesanan dan pembelian:
(1) Kirimkan nama dan alamat Anda lengkap, yang terjangkau pos, serta no hp untuk konfirmasi, di sini atau email sunardianwirodono@yahoo.com
(2) Untuk wilayah Yogyakarta, melayani delivery order, culditculrang, sms-kan nama, alamat, dan waktu pengiriman ke no. 087738160139

Rabu, Januari 04, 2012

Dongeng Tahun Baru yang Lama

Syahdan, pada malam tahun baru lalu, seorang Polisi mendatangi lokasi kecelakaan sebuah mobil sedan yang menabrak pohon trembesi. Sopir dan seorang penumpangnya, diketahui tewas, tiga luka parah, empat sehat, dan lima sempurna. Namun meski sempurna, artinya tidak luka dan lecet, kelimanya tak bisa dimintai keterangan. Pak Polisi merasa buntu. Ia kemudian meminta bantuan ke kesatuannya, untuk membawa korban yang butuh segera perawatan.
Maka, hatta, ketika Pak Polisi kembali mengamati sekitar mobil yang hancur itu, tiba-tiba seekor monyet melompat dari semak-semak ke atas mobil yang kecelakaan. Pak Polisi mengamati monyet itu, dan bergumam pada si monyet, berharap sang monyet bisa membantunya memecahkan masalah.
Anehnya, si monyet memandangi Pak Polisi, lalu memberi respon atas pertanyaan polisi dengan menganggukan kepala.
"Kamu mengerti apa yang saya katakan?" tanya Pak Polisi dengan perasaan penasaran.
Kembali si Monyet menganggukan kepala.
"Baik. Apa kamu melihat ini,..?" kata Polisi sambil menunjuk pada mobil yang hancur itu.
Sang Monyet kembali mengangguk.
"Bagaimana kejadiannya bisa sampai begini?" Pak Polisi mulai terasa akran dengan Sang Monyet. Mungkin solidaritas senasib.
Si monyet mengambil kaleng bir yang sudah kosong, lalu pura-pura menempelkan kaleng tersebut seperti sedang menenggak minuman ke dalam mulutnya.
"Mereka habis minum bir?" bertanya Polisi menebak-nebak.
Si Monyet kembali mengangguk-angguk.
"Yang lainnya, apa lagi?" Polisi tak sadar mengajak Monyet berbincang.
si monyet menjepitkan ibu jari dan telunjuknya, lalu menempelkan pada bibir, sembari merem-melek.
"Mereka ngeganja?" tanya Polisi lagi
Kembali si Monyet bulu menganggukkan kepala.
"Tapi tunggu, tadi kamu bilang tuanmu minum bir dan menghisap ganja sebelum terjadi kecelakaan ini?"
Monyet itu kembali lagi menganggukkan kepala. Karena kalau menganggukkan dengkul, tidak dimungkinkan.
"Lalu kamu ngapain dalam mobil ini selama bersama mereka?"
Sang Monyet kemudian pasang aksi di belakang kemudi. Ia memperagakan seolah sedang menyetir.
Pak Polisi pun jadi sewot, "Ooooo, jadi kamu yang mengemudikan mobil ini?' Ngobrong dol!"
Si Monyet malah melonjak-lonjak dengan dua tangan menangkup di kepalanya. Sembari meringis, tiba-tiba ia bisa berkata, "Ampun, Pak, ampun, Pak, jangan brutal, Polisi 'kan suka damai tooooo?"

Menjaga Pohon Hijau dalam Hatimu

Catatan Sunardian Wirodono

Sejak kita masih anak-anak, sudah terlalu sering para orangtua kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan bahkan guru-guru kita, secara langsung atau tidak, mengondisikan pikiran kita untuk menganggap mimpi sebagai hal yang tak dapat dicapai. Mereka sering menyebutnya dengan impian kosong, atau hanya menganggapnya sebagai lamunan belaka. Sehingga rasanya sangat memalukan, karena kata mimpi disamakan dengan suatu pengharapan yang tak realistis, tak nyata.
Mereka beranggapan bahwa impian kita merupakan suatu bentuk keinginan untuk melarikan diri dari kenyataan yang sebenarnya. Bahkan mereka sering merasa kasihan kepada kita, yang memiliki impian besar. Mereka sering menghibur kita dengan kata-kata, yang jika tidak penuh sinisme juga mengandung belas kasihan, “Yah, mudah-mudahan mimpimu dikabulkan oleh Tuhan,...”
Mimpi sesungguhnya merupakan gambaran mental, yang menginspirasi semua usaha manusia untuk menjadikannya suatu bentuk nyata. Dan, Anda sudah membuktikannya sekarang ini. Anda sekarang ini, dapat menikmati berbagai fasilitas, kemudahan dan kenyamanan dalam kehidupan. Semua itu disebabkan oleh mimpi-mimpi sebelumnya. Anda bisa menikmati televisi, menggunakan komputer, memakai telepon genggam, dan membaca tulisan ini sekarang ini.
Juga Anda bisa melihat peninggalan-peninggalan sejarah, yang pasti juga berasal dari mimpi-mimpi besar. Seperti piramid di Mesir, Tembok Besar di China, Taj Mahal di India, Menara Eiffel di Perancis, Candi Borobudur di Indonesia, dan bahkan Tugu Monas di Jakarta, yang lahir karena mimpi gila Sukarno. Itu semua bukti dari keajaiban mimpi-mimpi besar.
Mimpi besar Anda akan membuat jiwa Anda sadar akan kekuatan sejati diri Anda. Di situ masalahnya kemudian. Menyadari potensi Anda yang sebenarnya. Sebagaimana tutur Thomas A. Edison, mimpi itu bisa menjadi mimpi kosong, lamunan belaka, jika sama sekali tak mampu menggerakkan kaki dan tangan Anda. Tak mampu memberdayakan Anda, dan menggali potensi tersembunyi dari Anda. Karena setelah bermimpi, maka langkah berikutnya ialah mengujudkannya. Harus diproses satu-persatu dengan cara, tindakan, dan sikap yang terukur. Keindahan mimpi ialah ketika ia menjadi nyata. Tipuan mimpi, ialah jika ia tak menumbuhkan kekuatan kita, karena kita hanya inginkan kenikmatannya, tanpa mau perjuangannya.
Kesuksesan bukanlah bakat, melainkan sikap, kata Einstein. You must start with a positive attitude or you will surely end without one, kata Carrie Latet. Anda harus mulai dengan sikap positif, atau Anda pasti akan berakhir tanpa satu pun.
Tahukah Anda bagaimana keindahan dunia turun? Kata pepatah Cina, menjaga pohon hijau dalam hatimu, dan mungkin burung bernyanyi akan datang. Keep a green tree in your heart and perhaps a singing bird will come.
Impian adalah cetak biru (blue print) untuk prestasi terbesar Anda, demikian kutbah Napoleon Hill, penulis buku “Think & Grow Rich”. Jika Anda berani bermimpi besar, punya cita-cita setinggi langit, maka itu semakin memperkuat diri Anda, sekiranya hal itu kemudian Anda breakdown menjadi langkah-langkah untuk mencapainya. Karena cara menikmati mimpi, ialah dengan menggapainya menjadi nyata. Dan menjadikannya nyata ialah dengan menapaki jalan kenyataan.
Selamat bermimpi di 2012, dan, selamat tidur.

Minggu, Januari 01, 2012

Persoalan Kita adalah Tiadanya Kepemimpinan

Oleh Sunardian Wirodono

Indonesia adalah negara yang besar. Secara faktual, tidak bisa dibantah. Dari teritorial wilayahnya, dari aneka ragam sumber daya alamnya, dan terutama sesungguhnya, dari sumber daya manusianya.
Adalah omong kosong jika kita selalu berkilah, bahwa bangsa ini masih terbelakang, bodoh, tertindas, gaptek, konsumtif, terbelakang, tidak produktif, dan lain sejenisnya. Karena, sesungguhnyalah jika kita dapatkan Indonesia yang bersatu padu, maka sumber daya manusia yang beragam dan berjumlah besar itu (empat terbesar di dunia), akan menjadi kekuatan.
Persoalan kita, lebih pada tiadanya kepemimpinan. Karena, dengan jumlah penduduknya yang besar, tidak sedikit jumlah orang pandai di Indonesia, tidak pula sedikit jumlah orang kaya di Indonesia. Jika sumber daya manusia itu dipimpin oleh kepemimpinan yang baik, maka kita akan mengerti mana yang salah dan mana yang tepat, mana yang tidak penting dan mana yang urgen, mana yang remeh-temeh dan mana yang prioritas.
Tiadanya kepemimpinan, karena tidak bisanya para elite negeri ini menentukan suatu sistem yang tepat. Mereka masih merupakan representasi kepemimpinan yang kuno, yang mengandalkan pada personalitas, pribadi per-pribadi yang satu sama lain tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan elementernya sebagai manusia, yakni masih terjebak dalam kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, dan kepentingan golongan-golongan.
terjadinya berbagai benturan, perdebatan, pertengkaran, perpecahan, adalah cerminan bahwa satu sama lain tidak bisa saling mendengar, karena sibuk dengan kepentingan masing-masing. Akibatnya, tidak pernah kita mendengar bagaimana bangsa dan negara ini mendapatkan jalan keluar, solusi, pemecahan, yang pada akhirnya kita tak pernah bisa menentukan jalan bersama, menciptakan satu sistem dan mekanisme, aturan, road-map apalagi grand design untuk Indonesia Raya.
Jika kita mempunyai arah kepemimpinan yang tepat, maka kita akan dapatkan keteladanan, keteraturan, keterpatutan dan keterpatuhan, yang akan menggiring munculnya agenda-agenda yang terarah dan terukur. Rakyat, pada akhirnya, akan mendapatkan kembali Indonesianya, rumahnya, yang mampu memberikan jaminan dan kenyamanan bersama-sama.
Para elite politik Indonesia saat ini, sama sekali tidak memenuhi prasyarat-prasyarat selaku pemimpin, karena dari sana tidak ada ketulusan dan keteladanan. Pamrih-pamrih mereka, menjadi kemungkinan melahirkan korban-korban bagi kepentingan mereka belaka.
Piramida korban manusia, ialah berjaraknya antara kepentingan hajat hidup sebuah bangsa, dengan hajat berkuasa sang pemimpin. Hingga akhirnya, rakyat sering disebut, tetapi hanya sebagai alasan belaka, bukan tujuan yang asali.
Perlukah revolusi? Tidak! Tetapi kita bersama harus mempunyai keberanian untuk menentukan, untuk tidak terpukau dengan personalitas seseorang. Kepemimpinan tidak ada kaitannya dengan ia militer, sipil, lulusan luar negeri, ganteng, lelaki, perempuan, Jawa bukan Jawa, Islam bukan Islam, partai politik besar atau partai politik omong kosong, melainkan kepemimpinan yang harus muncul adalah adanya sistem. Tidak penting siapa presiden, menteri, dan para pembantunya. Tidak penting wakil rakyat yang pintar omong dan debat, juga tidak penting adanya pers konglomerat atau abal-abal. Tetapi bagaimana mendapatkan sistem yang setepatnya, dan dialah yang memimpin kita.
Bagaimana mendapatkan sistem yang setepat-tepatnya? Sekali lagi, tidak kita butuhkan lagi elite bangsa dan elite politik kita sekarang ini, jika mereka masing merupakan manusia-manusia yang hanya mengedepankan kepentingan mereka dan kelompoknya sendiri. Sampai kapan mereka sadar, waktu akan menggusur mereka. Karena generasi yang akan datang, hanyalah persoalan waktu. Karena akan ada titik jenuh dan pembusukan, bahwa kita semua bersama menginginkan Indonesia yang jaya. Karena pada akhirnya, jika situasi ini tak bisa dipercepat, maka keterpurukan yang menunggu akan menjadi simpul munculnya kepentingan bersama.