Selasa, November 06, 2012

Perampokan Freeport Atas Emas Papua


Sebentar hari lagi, Amerika Serikat akan menentukan presiden barunya. Apakah masih Obama, atau dimenangkan oleh penantangnya, Romney.
Adakah pentingnya bagi Indonesia? Bisa ada bisa tidak, baik berkait dengan Pilpres 2014, atau masalah-masalah geo-politik dan ekonomi kita.
Tapi, marilah kita baca soal Freeport, pertambangan emas terbesar di dunia yang ada di Indonesia dengan kuasa AS!  Ia terbesar dan termahal, namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang, adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut.
Freeport juga banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. They are no better than a leech!
Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah "JFK, Indonesia, CIA and Freeport", antara lain begini bunyinya, dengan penggubahan:
Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan, jika Freeport Sulphur (demikian nama perusahaan itu awalnya), nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.
Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasi. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya, terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.
Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu, tentang apa yang ditulis Jean Jaques Dozy, yang selain memaparkan tentang keindahan alamnya juga menulis kekayaan alamnya yang begitu melimpah.
Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, kandungan biji tembaga yang ada di sekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, bukan tersembunyi di dalam tanah.
Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat, mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bangkit kembali, dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg, dan juga wilayah sekitarnya. Penelitian ini kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul “The Conquest of Cooper Mountain”. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi, karena semua harta karun itu  terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.
Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!
Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama “Gold Mountain”, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company, untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama, dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda memanas, dan Sukarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.
Tadinya Wilson ingin meminta bantuan Presden AS, John Fitzgerald Kennedy, agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK spertinya mendukung Sukarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan, jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar, untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu, sepertinya, Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.
Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat, menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS, dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!
Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat, ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan, penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya, atas kebijakan politik di Amerika.
Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy, mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.
Tokoh ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).
Sukarno pada tahun 1961, memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen laba diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia, sangat terpukul oleh kebijakan Sukarno ini. Augustus C. Long amat marah dan amat berkepentingan agar Sukarno disingkirkan secepatnya.
Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital, NY, tempat dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi, jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Dalam tulisan Lisa Pease, secara cermat ditelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini, dalam masa itu (1965) yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial?
Pease mendapatkan data, jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS, untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu.
Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Sukarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat, yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.
Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Soeharto akan mendesak Angkatan Darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Sukarno berhalangan.
Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee, juga pernah bersaksi, jika hal itu benar adanya.
Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Sukarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Sukarno masih sah sebagai presiden Indonesia, bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?
Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam Angkatan Darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.
Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto adalah Freeport!
Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Sukarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Soeharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.
Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.
Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik "Jim Bob" Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia, dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.
Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul "Grasberg", setebal 384 halaman, dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar di dunia.
Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS, dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis, jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, yang ada di Irian Barat itu, merupakan yang termurah di dunia!
Istilah Kota Tembagapura, sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya, dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu, dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura, sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru. Di sana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika.
Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!
Kesaksian seorang reporter CNN, yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara dengan helicopter, melaporkan gunung emas tersebut pada tahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut, telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun, yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua, yang sampai detik ini masih saja layaknya hidup di zaman batu.
Freeport merupakan ladang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer, sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri-sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran menganggarkan dana untuk itu, yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil, karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat besar. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.
Belum lagi dalam perkembangan terakhir, yang menyedihkan, PT Freeport Indonesia itu terlibat dalam hutang pada Pemerintah Indonesia, karena belum membayar royalti kepada pemerintah Indonesia sebesar Rp1,6 triliun, selama kurun waktu 2002-2010.
Koordinator Analisis Anggaran ICW Firdaus Ilyas, mengatakan berdasarkan kontrak perhitungan royalti antara pemerintah Indonesia dan Freeport, total royalti yang seharusnya dibayar Freeport dalam kurun 2002-2010 adalah AS$1 miliar atau sekitar Rp8,8 triliun. Namun, ternyata royalti yang dibayar Freeport dalam kurun waktu itu hanya AS$873,2 juta. Dalam tahun 2012, Freeport pun masih mengutang deviden ke Indonesia Rp 350 milyar. Sampai saat ini pemerintah cuma mendapatkan jatah 9,36% saham PT Freeport Indonesia.  | Dikutipkan dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar