Sabtu, November 10, 2012

Dongeng Malming tentang Sarung


Hujan turun dengan derasnya di malming ini. Betapa menyebalkan. Bukan soal hujan itu, tapi sejak sore tadi, William Wallace (nama tokoh kita ini, biar keyen dikit), terpaksa harus nemenin bokap ceweknya. Betapa menyebalkan, apalagi yang bokap tak bergeser duduknya. Padahal acara bola Timnas, yang berjalan nggak mutu itu, sudah lama usai. Kapan kesempatan untuk generasi muda bangsa untuk beraksi kalau begini ini? Huh!
"Sudahlah, Nak Wallace, nggak usah gelisah," berkata bokap si cewek, "Nak Wall tidur saja di sini, kalau pulang nanti malah kehujanan, masuk ngain,..."
Sebenarnya, tawaran itu sesuai harapan bangsa. Tapi si double u double u (WW) itu mesti jaga performance, "Ah tidak usah, Pak. Nanti malah merepotkan. Lagian, nggak nyampe lima menit udah nyampe ke kost, Pak,..."
Rumah, tepatnya tempat kost WW memang dekat, namanya juga cinlok, agar hemat transport.
"Tidak kok. Nak Wall bisa tidur di kamar tamu,... Mmmm, ya udah, bapak tinggal dulu ya," jawab si bokap sambil beranjak melangkah masuk ke kamarnya.
Jihaaaa, merdeka!
William Wallace pun penuh semangat. Si pacar berinisiatif membuatkan minuman hangat, dan meninggalkannya  menunggu sendirian di ruang tamu.
Tak lama kemudian, sang cewek muncul sembari membawa minuman. Namun, ternyata si WW tak ada.
Ruang tamu kosong.
Namun, tak berapa lama kemudian, muncullah WW dari balik pintu depan, dengan pakaian basah kuyup sambil membawa kain sarung, "Maaf Dik, aku tadi pulang ke kost bentar, ambil sarung ini," kata WW yang basah kuyup, "soalnya, aku nggak bisa tidur kalau nggak pakai sarung kesayanganku ini,..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar