Selasa, November 13, 2012

Amir Hamzah Pujangga Baru Indonesia


SENYUM HATIKU , SENYUM
Amir Hamzah

Senyum hatiku, senyum
gelak hatiku, gelak
dukamu tuan, aduhai kulum
walaupun hatimu, rasakan retak.

Benar mawar kembang
melur mengirai kelopak
anak dara duduk berdendang
tetapi engkau, aduhai fakir, dikenang orang sekalipun tidak.

Kuketahui, terkukursulang menyulang
murai berkicau melagukan cinta
tetapi engkau aduhai dagang
umpamakan pungguk merayukan purnama.

Sungguh matahari dirangkum segara
purnama raya di lingkung bintang
tetapi engkau, aduhai kelana
siapa mengusap hatimu bimbang?

Diam hatiku , diam
cubakan ria, hatiku ria
sedih tuan, cubalah pendam
umpama disekam, api menyala.

Mengapakah rama-rama boleh bersenda
alun boleh mencium pantai
tetapi beta makhluk utama
duka dan cinta menjadi selampai ?

Senyap, hatiku senyap
adakah boleh engkau merana
sudahlah ini nasip yang tetap
engkau terima di pangkuan bonda.

Tengku Amir Hamzah bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Dari lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam sastra serta kebudayaan Melayu.
Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Disitu ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain. Selama di Pulau Jawa, ia bergaul dengan tokoh pergerakan asal Jawa, seperti Mr.Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodiningrat.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935, terlihat jelas perubahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933). Oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur (Kuala Begumit, 1946) di awal-awal tahun Indonesia merdeka, dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar