Sabtu, Oktober 06, 2012

Save KPK! Save Kepolisian dari Koruptor. Save Indonesia

Apa yang terjadi di gedung KPK semalam (5-6/10/2012), adalah sebuah drama politik hukum kita yang menyedihkan. Kita semua, warga masyarakat sipil pembayar pajak di sebuah negara demokrasi, tentu membutuhkan polisi, sebagai aparat hukum. Namun, karena itulah pula, kita tidak membutuhkan polisi yang korup, sama tidak butuhnya kita akan anggota legislatif yang korup, pimpinan D
PR yang korup, ketua umum parpol yang korup, dan apalagi presiden yang korup. Semuanya jelas. Jika kita menulis kemarahan, kejengkelan kita atas pelanggaran tugas-tugas kemuliaan mereka, adalah wajar dan tak perlu menunggu kita kenalan dulu dengan mereka satu-per-satu dalam daftar teman kita di fesbuk. Karena yang kita bicarakan di sini adalah tentang masalah publik, di ranah publik. Resistensi dan resonansi publik itu jauh lebih penting, agar juga semangat untuk menyelamatkan KPK, menyelamatkan Polri dari kejahatan korupsi, bisa termanifestasikan. Bahwa kita rakyat kecil, rakyat miskin, dan kecil, dan bodoh, dan belum tentu bisa mengurusi persoalan hidup kita sehari-hari yang ruwet dan tak kalah heboh, bukan alasan untuk saling menghalangi suara hati nurani kita melihat apa yang terjadi dalam konflik antara KPK versus Kepolisian, KPK versus legislator, dan tentunya KPK versus Koruptor yang tentu senang dengan apa yang terjadi semalam. Barisan koruptor dan simpatisannya, tentu bergembira mengenai konflik itu, karena "Komisi Pemberantasan Korupsi" bisa mereka ubah menjadi "Komisi Pemberantasan KPK". Para koruptor juga tentu senang, jika di antara rakyat bisa berkonflik dalam wacana (dengan mengatakan "nggak usah ikut-ikutan urusan orang gede", "hidup kita tetap saja susah", "nggak usah marah-marah di fesbuk atau twitter buang-buang energi"), untuk mereduksi sikap kritis masyarakat atas kejahatan kemanusiaan bernama korupsi itu. Save KPK, Save Kepolisian dari Korupsi, Save Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar