Kamis, Oktober 25, 2012

Dongeng Kebijaksanaan Nabi Sulaiman

Syahdan, menurut sahibul bait, adalah pertengkaran antara seorang Pemilik Kebun (PK) dengan Pemilik Kambing (PK juga). 
Waktu itu, Sulaiman masih sangatlah muda, namun cahaya wajahnya menyiratkan kecerdasan. Sang ayah, Kanjeng Nabi Daud allaihi sallam, waktu itu memutuskan agar PK yang pemilik kambing menyerahkan ternaknya kepada PK yang pemilik kebun. Hal itu dipanda

ng sebagai ganti rugi, disebabkan kambingnya memasuki dan merusakkan kebun itu.
“Wahai bapakku,” Sulaiman menyela, “menurut pandanganku, keputusan itu sepatutnya berbunyi; Kepada pemilik tanaman yang telah dirusakkan oleh kambing, maka semestinya diserahkanlah kambing yang merusak itu untuk dipelihara, diambil hasilnya, dan dimanfaatkan bagi keperluannya. Sementara, tanaman yang binasa itu diserahkan kepada pemilik kambing untuk dijaga, sehingga kembali kepada keadaan asal. Di kemudian hari-hari, masing-masing menerima kembali miliknya. Dengan cara demikian, masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau menderita kerugian lebih daripada sepatutnya.”
Demikianlah. Orang-orang pun kagum kepada anak muda itu. Tak ada tawuran massal. Tak ada wartawan yang mengeksploitasi berita sampah. Tak ada kyai dan penyanyi ndangdhut yang mengipas-ipas hati yang panas. Tak ada polisi yang diamuk massa gara-gara salah urus. Kenapa tak ada? Karena juga jaman itu, segala bentuk wartawan, kyai, penyanyi ndangdhut, atau pun polisi, memang belum ada.
Kenapa belum ada? Ya, karena Sulaiman yang kita ceritakan ini, hidup sekitar 975-935 SM. Ia Raja Israel, anak Daud, yang juga disebut King Solomon, yang arti keduanya adalah “damai” alias ‘pis” sebagaimana sering dikatakan para slankers.
Demikian Kanjeng Nabi Sulaiman, yang bala tentaranya terdiri daripada manusia, hewan dan jin, dan angin ialah kendaraannya. Dan Ratu Balqis yang cantik dari Saba tunduk padanya.
Istananya sangatlah indahnya. Dibangun dengan gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan sebagainya. Kanjeng Nabi Sulaiman, juga dapat memahami bahasa semua binatang.
Ah, jika saja kita mendapatkan pemimpin seperti itu. Tak usah mesti mengerti bahasa semua binatang atau jin, mengerti bahasa rakyat jelata saja deh,…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar