Selasa, Oktober 23, 2012

Alon-alon Waton Kelakson

Membunyikan klakson kendaraan kita, entah itu sepeda motor atau mobil, sangatlah mudah. Bahkan Anda yang tidak bisa menaiki, atau memilikinya sekali pun. Karena membunyikan klakson tentu saja tinggal menyediakan ujung jempol atau jari, untuk memencet tombol klakson. Satu-satunya yang menjadi unsur penggagal pembunyian klakson, ialah klaksonnya tidak bunyi. Kenapa? Mungkin kla
ksonnya rusak.
Tapi jika klakson itu berbunyi, apalagi di tengah kemacetan jalanan, di tengah kita berhenti menunggu lampu merah ke hijau, suaranya akan membuat Anda mangkel, kuaget, jengkel, geleng-geleng kepala. Klakson kini bukan lagi sebagai penanda mengingatkan orang lain, bagi pemotong jalan atau penyeberang, melainkan penanda ketidaksabaran. 
Padahal, tanpa diklakson, kendaraan yang menunggu di lampu lalin itu, pastilah juga akan jalan begitu lampu merah berganti hijau. Tapi, begitu baru mau pindah ke hijau, suara klakson bersahut-sahutan, memekakkan hati (bukan lagi memekakkan telinga). Padahal, tanpa membunyikan klakson, semua kendaraan yang terhenti karena aturan lalin itu, pasti juga akan jalan begitu si hijau nyala.
So kenapa mesti membunyikan klakson? Dugaannya, karena dengan alat itu, Anda ingin menunjukkan eksistensi Anda, keberadaan Anda, mengabarkan bahwa Anda ada, hadir, punya sepeda motor atau mobil, caper, atau Anda merasa berhak dengan semua itu, agar orang lain memberi jalan. Bahkan, dengan klakson Anda bisa menghardik orang lain, "Cepeten Luh! Gua udah kebelet nih,... mau mens!"
Fungsi lain dari itu, sebenarnya tak ada. Bahkan, para sopir angkot, truk, mencoba mencari dan mengoleksi klakson aneka bentuk dan suaranya. Makin kenceng makin asyik. Bahkan, jika perlu dilengkapi dengan lampu, atau kalau perlu sirene sekalian.
Untuk apa? Klakson adalah wajah ketidaksabaran kita, dan bagaimana kita pengen semua orang melihat kita, menyingkir dan memberi jalan pada kita, karena kita pengen menjadi yang terdepan, seperti kata iklan. Filosofi kita tentu sudah berubah. Bukan lagi "alon-alon waton kelakon" (biar lambat asal selamat atau sampai ketujuan), melainkan "alon-alon waton kelakson".
Sementara kita sering lupa mengklakson diri kita sendiri. Atau mungkin karena kita sendiri sudah menjadi budeg, sehingga tak pernah tahu bahwa suara klakson itu bermakna penindasan bagi orang lain? Kurangilah mencet klakson, dan tambahlah mencet yang lain saja, yang sebenarnya juga bisa bunyi kok kalau dipencet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar