Sabtu, Oktober 27, 2012

Sumpah Pemuda dan Sumpah Serapah Kita Hari-hari Ini

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar Indonesia, mengatakan sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945, hingga penggulingan diktator Soeharto. Hanya sayang, yang terakhir itu, mereka tidak melahirkan pemimpin, kata Pram.
Perhimpunan Indonesia, yang beranggotakan mahasiswa Indonesia di Belanda, merupakan salah satu organisasi pemuda yang banyak menyumbang gagasan mengenai Indonesia merdeka, terutama terkait terselenggaranya Kongres Pemuda dan lahirnya Sumpah Pemuda.
Para pemuda-pemuda itu, sekembali mereka ke tanah air, telah menjadi kemudi dari berbagai partai politik pergerakan di tanah air: Partai Nasional Indonesia (PNI) sebelum dibubarkan, Partindo, PNI-Baru, PKI, dan Partai Syarekat Islam.
Merekalah, yang masih dalam usia dua-puluhan, menulis panjang lebar mengenai gagasan-gagasan Indonesia Merdeka: Sukarno, Hatta, Sjahrir, Semaun, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Gagasan-gagasan itu tidak hanya diuraikan dalam coretan tinta di atas kertas, tetapi diperjuangkan habis-habisan dan menjadi pegangan politik di sepanjang hidupnya. Mereka rata-rata sudah mencapai posisi politik yang menentukan pada usia-usia di bawah 30 tahun, bahkan beberapa di bawah 20 tahun.
Sekarang, yang disebut generasi muda adalah mereka yang kadang sudah berumur 40-an tahun. Fakta ini jelas menunjuk dua hal, jika tidak terjadi kemunduran, bisa jadi memang involusi, yang keduanya ditengarai sebagai gagalnya regenerasi pada bangsa ini.
Sementara itu, jika menurut para jadulers "pemuda adalah harapan bangsa", maka menurut para pembokis "pemuda adalah harapan pemudi".
Meski Sukarno pernah megintrodusir sebutan macam "seniman-seniwati", "karyawan-karyawati", "pemuda-pemudi", maka sebutan yang kedua jarang muncul. Buktinya, seniman dianggap lebih merupakan penerjemahan dari "artist" karena tak kita kenal lagi penyebutan seniwati.
Kita kemudian juga lebih mengenal generasi muda, anak muda, dan tak pernah ada generasi mudi, anak mudi. Begitu juga adanya Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), yang sesungguhnya memang dilakukan para pemuda. Dan sejarah tak pernah mencatat adanya peristiwa "Sumpah Pemudi", kecuali "Konges Perempuan".
Kenapa begitu? Bertanyalah pada sejarah kita yang sexis dan bias gender itu. Menyebut "pemuda adalah harapan pemudi" juga menunjukkan penyakit itu, karena memposisikan sang pemuda lebih mulia, meski faktanya bisa sebaliknya.
Lantas, jika hari ini kita mengenang 28 Oktober 1928 sebagai Hari Sumpah Pemuda, apa yang bisa kita renungkan, ketika sumpah (atau janji) itu menjadi sumpah serapah? Niatan untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa persatuan bahasa Indonesia, sama sekali tak menemukan bentuk dan arahnya.
Partai politik yang kita yakini sebagai alat menuju demokrasi, telah menjebak anak-anak muda dalam pragmatisme kekuasaan, dan bahkan menjebloskan mereka menjadi maling-maling uang Negara.
Teriakan-teriakan revolusi, tak pernah meyakinkan kita, karena lebih banyak muncul sebagai idiom kemarahan, namun kita tak mampu diyakinkan karena tiadanya konsepsi. Jangankan revolusi Indonesia, revolusi PSSI yang pernah popular diteriakkan beberapa waktu lalu pun, sampai sekarang juga tak jelas, jika tak boleh dibilang lebih buruk.
Ini memang bangsa yang sibuk dengan kata-kata. Dan akhirnya, Sumpah Pemuda itu pun lebih sering menjadi Sumpah Serapah Pemuda. Bukan sebuah janji akan masa depan, namun kemarahan karena ketidakmampuannya menerjemahkan hari-hari kita saat ini. Selamat bersumpah serapah!

Anak Muda dan Revolusi Indonesia


Hampir semua pemimpin dunia, selalu mengatakan yang bernama perubahan, senantiasa dipelopori oleh pemuda. Sukarno mengatakan, dengan satu pemuda saja, ia mampu membuat revolusi.
Ada dua hal mesti dicurigai dalam pernyataan itu. Pertama, ia sedang hendak mengatakan, bahwa ia dulu pernah muda, dan berjasa melakukan perubahan. Dua, ia sendiri sedang membujuk para pemuda, agar lupa diri dan tidak menuntut posisi pemimpin itu, dengan memuji-muji kaum muda.
Kenapa? Bagi Indonesia semata, kita tahu pasti, bahwa tak ada anak muda revolusioner yang usianya di bawah atau setara dengan Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, yang telah menghunjukkan kematangannya dalam awal perjuangan dan dengan usia rata-rata di bawah 30, dan bahkan 20.
Kita lihat kini, seolah ada degradasi angka, sehingga mereka yang sudah berusia di atas 35-50, masih boleh dikatakan generasi muda. Pernyataan ini, jika datang dari generasi umur itu, tandanya mereka adalah orang yang minta bagian, posisi, atau telat dalam merebut kekuasaan. Dan hanya tahu, bahwa manusia pengabdi itu harus dengan status, posisi, jabatan, lembaga,...
Para manula (manusia lanjut usia) itu, selalu mengatakan, anak muda sekarang, kualitasnya jauh dibanding yang dulu. Sesunguhnya, pernyataan itu hanya ingin mengatakan, bahwa mereka dalah bagian dari kegagalan dalam proses transformasi generasi itu.
Dalam hukum alam dan kausalitas, tak ada kemendadakan, tak ada ujug-ujug, karena semuanya saling mengait.
Apa yang terjadi pada masa kini, beserta kualitasnya, adalah cerminan dari perilaku berupa kesuksesan dan kegagalan generasi sebelumnya. Dalam formalisme berfikir (termasuk beragama, berbangsa, bernegara), makin membuat kita masuk dalam pragmatisme, yang lebih memandang azas manfaat, lebih menghargai management by product dan bukan by proccess. Sehingga makin menjadi vandalis dalam hal cara mencapai kesuksesan, kemenangan, dan itu berarti kekuasaan.
Kita tak pernah merenungi, bahwa itu semua adalah limbah kapitalisme, di samping kemiskinan struturalistik, yang diakibatkan oleh praktik penghisapan. Kapitalisme bukan sekedar angka-angka ekonomi, melainkan juga wajah kebudayaan yang bopeng, lebih karena ia bersujud pada materialisme daripada idealisme.
Revolusi yang ditawarkan para petualang di negeri ini, akan sama saja akhirnya dengan para penguasa dan tiran yang mereka kritik. Karena revolusi politik tanpa perubahan mind-set manusia Indonesia, adalah omong kosong. Pada sisi ini, kita juga bersedih, karena kelompok agama pun masuk dalam praksis politik, setelah mereka pun merasa gagal mendidik bangsa dan negara ini menjadi beradab.
Mengapa tidak mau berendah hati, untuk bersama berhimpun, menyusun road-map Indonesia ke depan? Masing-masing sibuk berargumen. Dan kita benar-benar tak punya pemimpin dengan kepemimpinan berkelas. Kita berada dalam kehidupan yang penuh pertikaian. Pertikaian itu, sebagaimana pertikaian di rumah, tak pernah sempat mendidik anak-anaknya, kecuali dendam, keberpihakan, sakit hati, fanatisme buta, dan balas dendam.
Maka jalan satu-satunya, biarkanlah periode pembusukan generasi ini terjadi. Sembari menyatakan salut pada anak-anak muda, yang bekerja diam-diam, di pelosok-pelosok negeri Indonesia Raya ini, jauh dari sorotan media dan tak pernah duduk sembari ketawa-ketiwi di forum-forum talk-show yang eksploitatif.
Mereka melakukan pendampingan, pembelajaran, pemberdayaan, pada tumbuhnya generasi baru Indonesia, dengan cara masing-masing. Mengisi pada sisi yang selama ini kita abaikan, tumbuhnya manusia Indonesia yang berfikir dan mempunyai keteguhan karakter. Karena hanya dengan itulah, semoga mata rantai kebuntuan bangsa ini bisa terputus. Karena, menyedihkan ketika generasi Anas Urbaningrum, Andi Arief, atau siapa pun, tak bisa membebaskan diri dari jebakan pragmatisme politik yang makin parah.
Sebagaimana ghalibnya bangsa-bangsa di dunia, yang tumbuh dari kembangan sayap eksplorasi dan ekploitasi, kita lebih cenderung abai pada yang pertama, serta mendewakan sisi eksploitasi, karena berjalan tanpa keteladanan.
Jika kaum muda inginkan revolusi, singkirkan kaum tua dan para komprador yang macet dan stagnan itu. Itu artinya, memang dibutuhkan generasi baru, karena barisan Anas pun termasuk generasi lama yang juga tidak relevan lagi untuk masa depan.
Selamat bersumpah serapah, wahai Pemuda dan Pemudi Indonesia, yang bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa persatuan Bahasa Indonesia! | Sunardian Wirodono, Lereng Merapi, 26 Oktober 2012

Kamis, Oktober 25, 2012

Dongeng Kebijaksanaan Nabi Sulaiman

Syahdan, menurut sahibul bait, adalah pertengkaran antara seorang Pemilik Kebun (PK) dengan Pemilik Kambing (PK juga). 
Waktu itu, Sulaiman masih sangatlah muda, namun cahaya wajahnya menyiratkan kecerdasan. Sang ayah, Kanjeng Nabi Daud allaihi sallam, waktu itu memutuskan agar PK yang pemilik kambing menyerahkan ternaknya kepada PK yang pemilik kebun. Hal itu dipanda

ng sebagai ganti rugi, disebabkan kambingnya memasuki dan merusakkan kebun itu.
“Wahai bapakku,” Sulaiman menyela, “menurut pandanganku, keputusan itu sepatutnya berbunyi; Kepada pemilik tanaman yang telah dirusakkan oleh kambing, maka semestinya diserahkanlah kambing yang merusak itu untuk dipelihara, diambil hasilnya, dan dimanfaatkan bagi keperluannya. Sementara, tanaman yang binasa itu diserahkan kepada pemilik kambing untuk dijaga, sehingga kembali kepada keadaan asal. Di kemudian hari-hari, masing-masing menerima kembali miliknya. Dengan cara demikian, masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau menderita kerugian lebih daripada sepatutnya.”
Demikianlah. Orang-orang pun kagum kepada anak muda itu. Tak ada tawuran massal. Tak ada wartawan yang mengeksploitasi berita sampah. Tak ada kyai dan penyanyi ndangdhut yang mengipas-ipas hati yang panas. Tak ada polisi yang diamuk massa gara-gara salah urus. Kenapa tak ada? Karena juga jaman itu, segala bentuk wartawan, kyai, penyanyi ndangdhut, atau pun polisi, memang belum ada.
Kenapa belum ada? Ya, karena Sulaiman yang kita ceritakan ini, hidup sekitar 975-935 SM. Ia Raja Israel, anak Daud, yang juga disebut King Solomon, yang arti keduanya adalah “damai” alias ‘pis” sebagaimana sering dikatakan para slankers.
Demikian Kanjeng Nabi Sulaiman, yang bala tentaranya terdiri daripada manusia, hewan dan jin, dan angin ialah kendaraannya. Dan Ratu Balqis yang cantik dari Saba tunduk padanya.
Istananya sangatlah indahnya. Dibangun dengan gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan sebagainya. Kanjeng Nabi Sulaiman, juga dapat memahami bahasa semua binatang.
Ah, jika saja kita mendapatkan pemimpin seperti itu. Tak usah mesti mengerti bahasa semua binatang atau jin, mengerti bahasa rakyat jelata saja deh,…!

Selasa, Oktober 23, 2012

Alon-alon Waton Kelakson

Membunyikan klakson kendaraan kita, entah itu sepeda motor atau mobil, sangatlah mudah. Bahkan Anda yang tidak bisa menaiki, atau memilikinya sekali pun. Karena membunyikan klakson tentu saja tinggal menyediakan ujung jempol atau jari, untuk memencet tombol klakson. Satu-satunya yang menjadi unsur penggagal pembunyian klakson, ialah klaksonnya tidak bunyi. Kenapa? Mungkin kla
ksonnya rusak.
Tapi jika klakson itu berbunyi, apalagi di tengah kemacetan jalanan, di tengah kita berhenti menunggu lampu merah ke hijau, suaranya akan membuat Anda mangkel, kuaget, jengkel, geleng-geleng kepala. Klakson kini bukan lagi sebagai penanda mengingatkan orang lain, bagi pemotong jalan atau penyeberang, melainkan penanda ketidaksabaran. 
Padahal, tanpa diklakson, kendaraan yang menunggu di lampu lalin itu, pastilah juga akan jalan begitu lampu merah berganti hijau. Tapi, begitu baru mau pindah ke hijau, suara klakson bersahut-sahutan, memekakkan hati (bukan lagi memekakkan telinga). Padahal, tanpa membunyikan klakson, semua kendaraan yang terhenti karena aturan lalin itu, pasti juga akan jalan begitu si hijau nyala.
So kenapa mesti membunyikan klakson? Dugaannya, karena dengan alat itu, Anda ingin menunjukkan eksistensi Anda, keberadaan Anda, mengabarkan bahwa Anda ada, hadir, punya sepeda motor atau mobil, caper, atau Anda merasa berhak dengan semua itu, agar orang lain memberi jalan. Bahkan, dengan klakson Anda bisa menghardik orang lain, "Cepeten Luh! Gua udah kebelet nih,... mau mens!"
Fungsi lain dari itu, sebenarnya tak ada. Bahkan, para sopir angkot, truk, mencoba mencari dan mengoleksi klakson aneka bentuk dan suaranya. Makin kenceng makin asyik. Bahkan, jika perlu dilengkapi dengan lampu, atau kalau perlu sirene sekalian.
Untuk apa? Klakson adalah wajah ketidaksabaran kita, dan bagaimana kita pengen semua orang melihat kita, menyingkir dan memberi jalan pada kita, karena kita pengen menjadi yang terdepan, seperti kata iklan. Filosofi kita tentu sudah berubah. Bukan lagi "alon-alon waton kelakon" (biar lambat asal selamat atau sampai ketujuan), melainkan "alon-alon waton kelakson".
Sementara kita sering lupa mengklakson diri kita sendiri. Atau mungkin karena kita sendiri sudah menjadi budeg, sehingga tak pernah tahu bahwa suara klakson itu bermakna penindasan bagi orang lain? Kurangilah mencet klakson, dan tambahlah mencet yang lain saja, yang sebenarnya juga bisa bunyi kok kalau dipencet.

Sabtu, Oktober 06, 2012

Rasulullah dan Korupsi di Indonesia

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa telah diinformasikan kepadanya oleh Sufyan, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Abu Hamid as-Sa’idi, dia berkata , “Rasulullah shallallahu allaihi wassallam menugaskan seorang laki–laki dari suku al-Azd yang bernama Ibnul Lutaibah untuk memungut sedekah. Maka, setelah tiba ia pun berkata kepada Kanjeng Nabi, "Ini untukmu dan ini dihadi
ahkan untukku.”
Kanjeng Nabi pun kemudian berdiri di atas mimbar, “Bagaimana urusan petugas itu? Kami tugaskan dia untuk melakukan suatu tugas, tetapi kemudian dia berkata, ”Ini untukmu dan ini dihadiahkan untukku.” Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ibunya, lantas menunggu apakah ada orang yang memberi hadiah kepadanya ataukah tidak? Demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang mengambilnya melainkan ia akan membawanya pada hari kiamat di atas pundaknya dan barang korupsinya itu berupa unta yang berteriak–teriak, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,...”
Kanjeng Nabi lantas mengangkat kedua belah tangannya, hingga terlihat putih ketiaknya, ”Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikan (risalah).”
Rasull Allah itu mengucapkan hingga tiga kali (hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Dalam versi Imam Ahmad dengan isnadnya dari Abu Hurairah, menuturkan: "Sungguh aku akan melihat seseorang di antara kamu datang pada hari kiamat sedang di atas pundaknya terdapat unta yang bersuara, lalu dia berkata, ”Wahai Rasulullah, tolonglah aku.” Kemudian aku menjawab, ”Aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari siksa Allah, sesungguhnya aku telah menyampaikan (ajaranku) kepadamu.” Sungguh aku akan menjumpai seseorang di antara kamu datang pada hari kiamat sedang di atas pundaknya terdapat kuda yang meringkik, lalu dia berkata, ”Wahai Rasulullah, tolonglah aku.” Kemudian aku menjawab, ”Aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari siksa Allah, sesungguhnya aku telah menyampaikan (ajaranku) kepadamu.” Sungguh aku akan menjumpai seseorang dari kamu datang pada hari kiamat sedang diatas pundaknya terdapat benda–benda yang tidak bersuara, lalu dia berkata, ”Wahai Rasulullah, tolonglah aku.” Lalu aku menjawab, ”Aku tidak dapat menolong kamu dari azab Allah sedikit pun, sesungguhnya aku telah menyampaikan (ajaranku) kepadamu.”
Masih menurut Imam Ahmad, yang meriwayatkan dengan isnadnya dari Adi bin Umairah al-Kindi, disampaikan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, "Hai manusia! Barangsiapa yang menjalankan tugas untuk kami, lalu dia menyembunyikan dari kami barang sebesar jarum atau lebih, maka apa yang disembunyikannya itu adalah kecurangan (korupsi) yang kelak akan dibawanya pada hari kiamat.”
Dan jika engkau fantasikan, demikian ujar SW, maka di akhirat kelak, kau akan melihat pada pundak siapa muncul ringkik kuda, unta yang berteriak-teriak, sapi yang melenguh, dari koruptor di sebuah negara yang konon gemah ripah loh jinawi, dengan para kalifatullahnya yang entah di mana, tak terlihat, karena sama-sama memanggul binatang-binatang itu,...

Save KPK! Save Kepolisian dari Koruptor. Save Indonesia

Apa yang terjadi di gedung KPK semalam (5-6/10/2012), adalah sebuah drama politik hukum kita yang menyedihkan. Kita semua, warga masyarakat sipil pembayar pajak di sebuah negara demokrasi, tentu membutuhkan polisi, sebagai aparat hukum. Namun, karena itulah pula, kita tidak membutuhkan polisi yang korup, sama tidak butuhnya kita akan anggota legislatif yang korup, pimpinan D
PR yang korup, ketua umum parpol yang korup, dan apalagi presiden yang korup. Semuanya jelas. Jika kita menulis kemarahan, kejengkelan kita atas pelanggaran tugas-tugas kemuliaan mereka, adalah wajar dan tak perlu menunggu kita kenalan dulu dengan mereka satu-per-satu dalam daftar teman kita di fesbuk. Karena yang kita bicarakan di sini adalah tentang masalah publik, di ranah publik. Resistensi dan resonansi publik itu jauh lebih penting, agar juga semangat untuk menyelamatkan KPK, menyelamatkan Polri dari kejahatan korupsi, bisa termanifestasikan. Bahwa kita rakyat kecil, rakyat miskin, dan kecil, dan bodoh, dan belum tentu bisa mengurusi persoalan hidup kita sehari-hari yang ruwet dan tak kalah heboh, bukan alasan untuk saling menghalangi suara hati nurani kita melihat apa yang terjadi dalam konflik antara KPK versus Kepolisian, KPK versus legislator, dan tentunya KPK versus Koruptor yang tentu senang dengan apa yang terjadi semalam. Barisan koruptor dan simpatisannya, tentu bergembira mengenai konflik itu, karena "Komisi Pemberantasan Korupsi" bisa mereka ubah menjadi "Komisi Pemberantasan KPK". Para koruptor juga tentu senang, jika di antara rakyat bisa berkonflik dalam wacana (dengan mengatakan "nggak usah ikut-ikutan urusan orang gede", "hidup kita tetap saja susah", "nggak usah marah-marah di fesbuk atau twitter buang-buang energi"), untuk mereduksi sikap kritis masyarakat atas kejahatan kemanusiaan bernama korupsi itu. Save KPK, Save Kepolisian dari Korupsi, Save Indonesia!