Jumat, September 28, 2012

Tawuran Pelajar, Menamai dan Mendidiknya


Nama adalah penanda, juga doa, konon demikian katanya. Karenanya, ketika seseorang anak dinamakan “Fitra Ramadhani”, mungkin pemberi nama ingin mengingatnya sebagai penanda, lahir di bulan Ramadhan nan suci, dan doanya, semoga nama itu terefleksikan, atau terinspirasi, atau termotivasi keutamaan-keutamaan barakah di bulan suci itu. Perkara bahwa kemudian anak itu jadi pembunuh sesama generasinya? Itulah menurut Gus Dur, kenapa doa perlu dipanjatkan, karena doa tak bisa “manjat” sendiri. Sepertinya sebuah joke yang segar, tapi maknanya dalam. Karena memang doa tidak bisa naik dan makbul dengan sendirinya, karena doa yang makbul juga mengisyaratkan kualitas subyek yang didoakan. Ketika saya berinfaq pada seorang pengemis di pinggir jalan, dan pengemis itu mendoakan “semoga enteng jodoh”, jelas agak susah makbul, karena saya sudah menikah dan saya bukan penganut poligami. Seorang kyai sokeh boleh saja mendoakan seseorang naik kelas, tapi kalau yang didoakan itu bodoh dan malas belajar, keajaiban agaknya jika hal itu makbul. Dan keajaiban itu tentu hanya otoritas sang maha-ajaib. Demikian juga ketika seseorang didoakan beramai-ramai agar bisa menjadi kaya, maka antara lain juga harus melihat adakah yang didoakan bekerja dengan baik, tekun, jujur, dan sejenisnya untuk meraih kesuksesan?
Orang Indonesia, sangat pintar memberikan nama-nama kebaikan pada sesuatu subyek atau obyek. Namun sangat malas mengkondisikan hal itu dalam suatu proses, sesuatu yang diyakini dan diperjuangkan. Karena doa tanpa pengupayaan, adalah kepasrahan yang tidak tulus (gelem nangkane gemang pulute, kata pepatah Perancis).
Namai anak-anakmu dengan kebaikan, tapi juga upayakan menuju kebaikan itu, dengan mendidiknya, memberikannya tauladan, memprosesnya, jangan merasa selesai tanggungjawab setelah memberi nama, sebagaimana banyak pejabat kita hanya berdoa pada saat pengguntingan pita peremian jembatan, namun tak bisa merawat dan menjaga jembatan itu, yang akhirnya dibiarkan karatan atau ambrol. Lebih celaka lagi, jika ketika proses membangun jembatan itu, bukan hanya sekedar mark-up biaya, melainkan juga mengurangi kualitas material, dengan mengharap margin keuntungan yang besar.
Dan kita lebih sering meniru perilaku ini. Karenanya, perihal menalangi tawuran pelajar dengan menggabung dua sekolah yang berseteru, memperpanjang jam belajar, atau mendidik anak murid pelajaran kemiliteran, rasanya hanya memperpanjang cara menjadikan anak sebagai obyek, dan tak pernah diberikesempatan sebagai subyek atau pribadi yang mesti ditumbuhkan.
Nama “Doyok” panggilan dari Fitra Ramadhani, lebih menegaskan dan menjelaskan, bagaimana perilaku anak itu, yang “hanya didoakan” tapi lupa diupayakan. Dan outputnya seperti tercermin dalam nama panggilannya itu. Untuk soal ini, jangan sekedar salahkan Doyok, melainkan juga bagaimana orangtuanya, bagaimana guru di sekolahnya, bagaimana masyarakatnya, tiga pilar pendidikan yang diyakini oleh Ki Hajar Dewantara harus ditegakkan terlebih dulu. Dan itu pula yang suka kita abai.
HM Nuh mendiknas kita, toh juga membuktikan, tidak sedahsyat Nabi Nuh Allaihi Sallam yang bisa mengenali bahasa hewan bukan? | Sunardian Wirodono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar