Selasa, September 11, 2012

Dongeng tentang Sajadah Besar dan Sajadah Kecil


Syahdan, pada jaman kini kala, menurut sahibul hikayat, adalah dua orang yang berdiri berdampingan hendak mendirikan shalat. Berbarengan keduanya membentang sajadah yang dibawanya. Salah satunya memiliki sajadah berukuran jumbo, lebih panjang dan lebar. Sementara, satu lagi, bersajadah lebih kecil.
Orang bersajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadah, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara yang empunya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain, yang sudah lebih dulu datang.
Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melakukan shalat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!” berkata Iblis di sudut ruang, memulai dialognya lagi, setelah terputus beberapa bulan lalu di wall ini (hiks).
“Yang mana?” sang Kyai Gondrong, karena memang berambut gondrong dan demikian ia dijuluki jemaahnya, bertanya.
“Ada dua orang yang sedang shalat sunnah itu,” tukas Iblis, “Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka,…”
Iblis pun lenyap. Sruffuuuthhhhzz, begitu sound effectnya!
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kyai Gondrong hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan shalat sunnah. Ia menunggu apa yang hendak dilakukan Iblis.
Pemilik sajadah lebar ruqu’ dan kemudian sujud. Namun sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil berada di bawahnya.
Si sajadah besar kemudian berdiri. Sementara pemilik sajadah kecil melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah besar.
Itu berjalan hingga akhir shalat. Bahkan pada saat shalat wajib pun, kejadian-kejadian itu berulang. Berkali-kali, dan di beberapa masjid.
Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa memiliki sajadah lebih lebar, maka ia akan meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang lebih kecil.
Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembeda kelas.
“Astaghfirullahal adziiiim,…” geletuk Kyai Gondrong dalam pertemuan kesekian kalinya dengan Iblis.
“Kau akan menduga, pasti yang memproduksi sajadah itu orang Yahudi ‘kan? Atau orang Cina?” Iblis mengkili-kili kuping Kyai Gondrong.
Sang Kyai mendesah, “Oh, no! Siapapun boleh membuat sajadah, tapi aku tak akan menuding siapa-siapa, kecuali pada diriku sendiri yang hina, yang lebih mudah tergoda menyalahkan orang lain, karena kelemahan diriku, dan terjebak dalam cermin tipu daya,…”
“Wah, Kyai nonton Kapai-kapainya Arifin C. Noer, dong?” selidik Iblis.
Kyai Gondrong tidak menjawab, dari mulutnya menggeremeng ayat Kursi pada surat Al Baqarah 255.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar