Jumat, September 21, 2012

Analisis Post Factum Kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta

Di wall ini dulu, beberapa bulan lalu pernah saya postingkan dongeng yang absurd. Yakni tentang kemenangan semut melawan gajah. Bagaimana cara? Salah satu semut merayap ke telinga gajah dan memberikan informasi confidential: Bahwa si Gajah mesti tahu jika salah satu anak gadis dari semut itu telah hamil, dan ia minta sang Gajah bertanggungjawab atas hal itu. Mendengar itu, si Gajah pun terjungkal.
Jokowi, sebagaimana bisa kita kutipkan dari tulisan Sara Schonhardt, The New York Times, “Outsider Breathing New Ideas Into Jakarta Election” (10 September 2012), menjawab pertanyaan yang sama, bagaimana koalisi semut bisa mengalahkan gajah, padahal Anas Urbaningrum dan Amien Rais (dan para tokoh dengan nama-nama terhormat lain) pun yakin, bahwa Foke-Nara bakal menang? Mr. Joko, meanwhile, is steadfast in his fight. Asked during a recent press gathering what it would mean if the “elephant” defeated him on Thursday, he chuckled and said: “Nah, the ants will win.”
Adakah Jokowi membisiki “sesuatu” pada Foke? Apakah yang dibisikkan? Jakarta sudah mendengarnya. Hasil pilihan rakyat pada putaran satu sudah terbuktikan. Bahkan pada putaran dua ini, pun, meski masih versi hitung cepat, juga sudah terbuktikan.
Reaksi berlebihan atas kemunculan Jokowi, dengan berbagai bentuk black-campaign, telah bisa dipatahkan oleh rakyat, yang kepentingannya cuma satu; Mendapatkan harapan dan kemungkinan. Sementara reaksi yang muncul melawannya, berada dalam arus berlawanan, yakni mempertahankan kepentingan. Hukum alam dari pertarungan abadi itu, selalu bertahmid pada yang bernama harapan dan kemungkinan.
Di ruang abu-abu itulah, bermain para petualangan. Dunia internet yang menjadi mainan baru Indonesia, mudah dimainkan oleh nama-nama akun palsu, yang oleh orang sekapasitas Rhoma Irama pun dikatakan, “data internet pasti valid,…” Sementara dalil komunikasi tak pernah dimengerti, bahwa siapapun yang menyembunyikan identitasnya, namun bermain-main dengan fakta dan kepentingan public, segala produknya adalah sampah. Karenanya, sangatlah memprihatinkan jika siapapun bisa diadu-domba oleh triomacan dan lain sebagainya, yang tentu agendanya tidak berada dalam aras kepentingan public, karena yang ia ciptakan adalah menunggangi arus yang sama sekali tak bisa dikonfirmasi.
Siapa Jokowi? Wimar Witoelar, sebagaimana dikutip Sarah Schonhardt mengatakan, “He’s a cute figure, a funky figure, him and his checkered shirts and naïveté. It’s nice to have somebody busting the party oligarchy.”
Menurut si kribo Wimar, Jokowi itu lucu, dan ia menyenangkan dengan segala kenaifannya, yang pada kenyataannya mampu menumbangkan oligarki partai politik.
Hal terakhir itulah yang penting. Jokowi berada dalam momentum. Ia adalah kendaraan rakyat (bukan hanya rakyat Jakarta, karena pendukung “Jokowi for Jakarta” ini datang dari mana pun, bukan hanya di dunia maya melainkan juga di dunia nyata, bukan hanya dari Solo, melainkan juga dari Maumere, Aceh, dan seterusnya,… Bahkan karena dimudahkan akses informasi, beberapa warga Indonesia yang sedang di luar negeri pun, menyatakan dukungan pada Jokowi).
Jokowi, sekali pun ia diusung oleh PDI Perjuangan dan Gerindra (partai bukan pemenang dan minoritas di DKI Jakarta), sebagaimana kata Wimar, adalah sosok yang independen, dan rakyat melihat itu sebagai alat untuk menyampaikan sinyal; “Lu Parpol, ati-ati pade!”
Sinyal itu penting, bagi para elite partai yang selama ini gemar sesumbar dengan berbagai atribut religiusitas dan slogan kepintaran akademik mereka untuk menjustifikasi dan mengeliminated pihak lain yang dipreposisikan sebagai musuh.
Sayangnya, ajaran nenek moyang sering dilupakan. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Karena masalahnya bukan konspirasi internasional dan tetek-mbengek agendanya, tapi rakyat ingin didengar. Dan kalian tidak mendengarnya, atau pura-pura budeg.
Keinginan rakyat untuk kehidupan yang lebih baik, dicurigai ini dan itu. Sementara gajah kepemimpinan yang empiric tak berjalan linier dengan pesan dan harapan rakyat, sama sekali tidak terlihat.
Cara memperlakukan agama dalam politik Pilkada DKI Jakarta juga terbukti berbahaya. Karena mestinya bukan dengan memunculkan dalil-dalil agama dalam politik (apalagi hanya sebagai alat pembunuhan karakter lawan politik), tetapi bagaimana mestinya agama menjadi dasar perilaku kita untuk berpolitik secara beradab, santun, amanah, berlaku adil. Kalau sudah begini ini, Jokowi-Ahok menang, ‘pan jadi malu ati dengan apa yang kita omongkan kemarin dengan takbir, dengan sumpah, dengan demi Allah, dengan mengafirkan orang lain, sedang Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Allaihi Wassalam tak pernah mengajarkan itu. Makanya, ulama dan habib jangan urusi politik praktis. Berapa duit sih, yang didapat? Mau beli sorga di dunia? Uruslah umat agar berkarakter sesuai agama yang baik dan benar. Dari sini, akan lahir politikus yang baik, pedagang yang baik, trio-macan yang baik, birokrat yang baik,… | Sunardian Wirodono, penulis adalah penulis. Kalimalang 2012

2 komentar:

  1. Analisis bagus, perlu dilanjutkan dengan handicap yg akan dihadapi Jokowi dan solusinya.

    BalasHapus
  2. Kok ndak pakai analisa ilmu jawa ya? Penasaran dengan "serbet"nya Jokowi yang full sanepan............

    BalasHapus