Minggu, September 30, 2012

"A Separation", Sebuah Pelajaran Film dari Iran

Sehabis menonton "A Separation" (karya sutradara Iran, Asahar Farhadi) di XXI Pejaten, hampir jam tiga pagi kami menghabiskan waktu mengobrol di angkringan seberang Circle K 
Pejaten, Jakarta Selatan. Film Iran peraih film berbahasa asing terbaik di Governors Ball Academy Awards ke 84 (2012) di Hollywood ini, benar-benar menarik, meski waktu itu di Cinema 3, film itu hanya ditonton delapan orang (lebih sedikit dari penonton Srimulat di THR Surabaya atau dulu Wayang Wong di Kalileo, Senen, Jakarta, yang lumayan bisa menarik menonton sampai 10-15 orang). Ada dua pasang penonton, dan kami berempat (Adies, Odoth, Oke, dan saya, penting nggak sih keterangan ini?).
Yang paling anjrit, kesan kami sama, seolah sedang menonton sebuah FTV (sinetron kebanggaan orang film dan TV di Indonesia) di layar segede gambreng. Mungkin dibanding FTV pun, dari sisi look, gambar, framing, editing, artistik, masih lebih bagusan kita dari film Iran (bahkan ada yang meyakini film "Sang Penari" yang dikirim ke Oscar tahun ini, masih lebih bagus dari film ini). Tapi kenapa "A Separation" (Perpisahan) ini menang di Oscar?
Film drama lokal yang ditulis dan disutradarai oleh Asghar Farhadi tersebut, bertutur tentang pasangan Iran yang sedang menjalani proses cerai, namun menjadi spesial karena sentuhan tradisi, keadilan, serta hubungan pria dan perempuan di Iran yang lebih modern. Dan memang, "A Separation" telah menyabet berbagai penghargaan di Eropa dan Amerika Serikat, justeru karena perspektif ini. Film yang dinominasikan sebagai 'the best original screenplay' itu merupakan film asal Iran kedua yang dinominasikan di Oscar, dan yang pertama kali memenanginya. "Ketika pembicaraan tentang perang, intimidasi serta agresi membuat politikus saling serang, namun melalui film ini, Iran berbicara melalui kekayaan budayanya yang tinggi dan berumur tua, yang selama ini tertutup oleh pekatnya debu politik," kata Farhadi.
Dari sana, saya segera meyakini, film boleh sederhana, namun ada konsep luar biasa, ada visi, ada misi, ada premis dan tesis di sana. Saya kira, penghargaan itu diarahkan ke sana, sesuatu yang tidak saya dapatkan untuk alasan apa film-film Indonesia dibuat. Dengan segenap permohonan maaf.


FILM IRAN DAN PEMBATASAN | Film Iran ini banyak menuai kritik pujian dari berbagai pihak, membuatnya sejajar dengan daftar 10 film terbaik 2011. Film yang digarap dengan dana sebesar 800.000 dolar A.S. (anjrit, betapa dahsyatnya, Indonesia bisa bikin film dengan dana belasan milyar, tetapi tetap saja buruk), ini telah mengumpulkan lebih dari 13 juta dolar A.S. untuk penjualan film ini di seluruh dunia, termasuk pemasukan sebesar 2,6 juta dolar A.S. di Amerika Serikat.
Sebagian penonton menginterpretasikan "A Separation" sebagai komentar atas perbedaan status sosial, atau sebagai kritik atas sistem keadilan di Iran, atau bahkan perpecahan antara modernitas dengan tradisi. Fahradi membuat film di bawah peraturan sensor Iran, yang menyebabkan kreatifitas pembuat film Iran menjadi lebih sempit, dengan alasan atas nama moralitas Islam dan moral nasional. Namun dia mengatakan bahwa dirinya tidak terkonfrontasi dengan sensor tersebut.
Sutradara asal Iran Jafar Panahi yang memenangi penghargaan lain, telah dijebloskan ke penjara pada 2010 dan dilarang untuk membuat film. Farhadi telah berbicara atas nama Panahi, menempatkan dirinya dalam aliran garis keras dalam pemerintahan Iran. Meski Farhadi juga mengkritik masyarakat Iran, yang mendukung sensor dalam promosi film ke luar negeri. Dia menilai bahwa mereka juga patut disalahkan seperti pemerintah Iran yang menetapkan sensor. Iran dalam Festival Film Oscar tahun depan, memboikot untuk mengirimkan filmnya, sebagai protes terhadap munculnya film sampah yang menista Islam.
Dari informasi itu, makin nyata bahwa seorang seniman, di dalamnya adalah juga seorang cendekiawan, pemikir, memahami permasalahan kehidupan, bukan hanya manusia kreatif yang terobsesi oleh masalah teknis dan artistik.











CARA MENYAMPAIKAN SEBUAH PESAN | Film ini secara sederhana dibuka dengan adegan persidangan perceraian. Pengadilan belum memutuskan, karena masih ada masa bagi hakim untuk memberi waktu selama 40 hari, adakah perkawinan itu bisa terhindarkan dari perceraian.
Tapi justeru dalam saat menunggu itulah, cerita mengalir. Dalam jarak tembak kamera yang sempit, dengan pengadeganan yang hanya dipenuhi orang ngomong dan ngomong dan ngomong. Tentang peristiwa yang remeh-temeh, dan belum tentu mereka ketahui persis. Bahkan tentu, jauh lebih remeh daripada masalah besar perceraian antara Nader dan Simin.
Saya dan Adies diingatkan pada film "Ibunda" garapan Teguh Karya (film ini masih suka saya tonton berkali-kali). Saya ingat benar, bagaimana Niniek L. Karim menjadi Godmother yang cerewet sepanjang film. Sangat natural. Sangat real. Meski Teguh tentu kita tahu sebagai Mr. Perfect yang kadang terlalu bermanis-manis.
Pada "A Separation", bahkan musik pun tak ada, kecuali pada awal dan akhir doang. Selebihnya, ritme dibangun dari omongan demi omongan para tokohnya. Dipenuhi oleh karakter-karakter yang semuanya ingin membela diri, dan menuding orang lain bermasalah. Bukan hanya orang dewasa dan biasa, melainkan juga anak-anak, dan bahkan ulama (meski dengan cerdik diakali hanya sebagai pertautan referensi Razieh).
Saya, memakai istilah Adies, seperti sedang menonton tetangga sebelah. Dan dengan kamera handheld, kita diajak untuk terlibat, bukan sebagai penonton film, tetapi langsung masuk sebagai penyaksi dalam permasalahan (bukan peristiwa) itu. Bahkan kita disengaja dimasukkan dalam masalah.
Tesisnya selalu sama, hanya mereka yang memahami masalah yang akan punya kemampuan bertutur. Karena dari masalahlah muncul peristiwa. Hal yang selama ini sering terbalik dalam film Indonesia, hanya sibuk membangun peristiwa demi peristiwa (dengan subplot yang fullpower) dan sibuk mencari-cari masalah. Itu ciri-khas industri kreatif yang tergesa, karena sibuk berfikir dan menyiasati, namun bukan merenungi dan memahami masalah.
Itu sebabnya, film-film baik selalu mampu menaklukkan masalah teknis. Sementara, banyak sutradara dan penulis Indonesia, jika membuat film serius, begitu tegang dan begitu banyak yang ingin dimasalahkan. Cara berfikir ruwet itu melahirkan cara bertutur tak kalah ruwetnya (termasuk Garin, yang selalu diuntungkan oleh gambar bagus, karena film adalah karya visual katanya).
Situasi perfileman Iran, berbeda dengan Indonesia tentu. Di Iran, tentu tak selonggar dan sebebasmerdeka Indonesia, karena di sini membuat film buruk pun masih dibela-belain, bahkan oleh pers dan beberapa pesohor kambrat masing-masing. Tapi situasi seketat apapun, tak pernah menaklukkan kehendak bebas dari pikiran dan kreativitas. Hanya manusia bodoh saja, yang suka menyalahkan batasan-batasan yang ada, sembari menyalahkan situasi dan pihak lain tentu.
Dunia sinema Iran mendapat pengakuan internaisonal setelah lebih dari 20 tahun melewati sensor ketat dan represif dari pemuka pembuat film di sana. Ini merupakan film Iran pertama yang meraih penghargaan di ajang bergengsi. Sebelumnya, 1998, sutradara Majid Majidi lewat karyanya Children of Heaven juga dinominasikan untuk kategori yang sama, namun dikalahkan oleh film Italia, Life Is Beautiful karya Roberto Benigni.
Film tanpa adegan seks dan kekerasan adalah ciri khas perfilman Iran. Film Iran adalah tentang bagaimana caranya menyampaikan sebuah pesan tanpa perlu menggambarkannya lewat adegan yang kurang semestinya. Ini seolah kritik bagi industri film yang sering hanya bertumpu pada eksploitasi, dan bukan eksplorasi. Film yang sekarang diminati kebanyakan orang adalah film yang sarat dengan aksi kekerasan, film romansa, melodrama, atau film yang penuh adegan hubungan intim di batas-batas kritis norma. Namun sekali lagi, eksploitasi bukanlah adab yang menumbuhkan.


MELIHAT DENGAN KACAMATA KUDA | Jika kita pernah menonton film Carnage, garapan Roman Polanski, sangat mudah untuk menemukan titik persamaan antara "A Separation" dengan film itu. Namun tidak seperti Carnage, A Separation tidak memiliki lokasi dan latar belakang cerita yang monoton. Dan tentu saja, tak seorang pun yang masih memiliki jalan pemikiran normal akan tertawa, ketika menyaksikan A Separation seperti halnya mereka akan tergelak ketika menyaksikan Carnage, atau "The War of the Rose" (1989, garapan Danny de Vito). 
Yang agak anjrit dari garapan Farhadi (juga menulis sendiri skenario dan sekaligus produser) ini, berbeda dengan Carnage, A Separation memberikan penonton sebuah perbandingan cara pandang, dari beberapa permasalahan hidup ketika sedang dihadapi oleh sekelompok orang yang berasal dari kelas dan status sosial yang berbeda. Dan hal itu dihadirkan dalam rangkaian pertukaran dialog antara dua pasangan yang saling bersitegang. Jika Polanski berangkat dari gaya bertutur komedi satire, untuk mengejek kenyataan itu, maka A Separation dihadirkan sebagai sebuah drama dengan tesis sederhana, namun memiliki jalan cerita begitu kompleks dan cenderung tragis.
Pada akhir film, bukan hanya kita penonton yang capek telah dilibatkan dalam permasalahan mereka, namun mereka sendiri (para tokoh dalam film itu) juga capek. Jangankan masalah dua orang, suami-isteri, yang hendak bercerai pun belum bisa diselesaikan oleh pengadilan manusia, apalagi masalah banyak orang yang kadang tak jelas. Bagaimana itu keadilan, kejujuran, ketulusan, kita tempatkan? Hingga kemudian semuanya hanya termangu, terdiam, mencoba mengosongkan pikiran, tapi tak bisa.
Dan kita sering melakukan hal itu. Masalah-masalah remeh-temeh, tidak substansial, tetapi kita angkat dalam perspektif dan persepsi pribadi dengan kemutlakan-kemutlakan yang sangat Soehartoism, memandang dengan kacamata kuda (semoga Tuan Kuda tidak marah). Sampai kini. Juga dalam masalah berbangsa.
Dan kami berempat mengobrolkan itu semua, dengan mengabiskan 24 tusuk sate kikil, ceker, endog gemak, tempe bacem, tahu, dengan wedang kopi jahe susu, kopi jahe, dan teh jahe. Semuanya menghabiskan dana Rp 55.000 tambah Rp 80.000 untuk karcis nonton (itu semua sumbangan Odoth, yang justeru tersinggung dengan film itu, entah apa alasannya. Itu sekiranya info terakhir ini penting dan perlu kita perdebatkan). Yang jelas, sepanjang perjalanan pulang menjelang subuh, melintasi depan makam para pahlawan bangsa, Oke kentut lima kali, dan saya menggonceng dia. Bangsat betul, itu pun sekiranya penting. | Sunardian Wirodono

Jumat, September 28, 2012

Tawuran Pelajar, Menamai dan Mendidiknya


Nama adalah penanda, juga doa, konon demikian katanya. Karenanya, ketika seseorang anak dinamakan “Fitra Ramadhani”, mungkin pemberi nama ingin mengingatnya sebagai penanda, lahir di bulan Ramadhan nan suci, dan doanya, semoga nama itu terefleksikan, atau terinspirasi, atau termotivasi keutamaan-keutamaan barakah di bulan suci itu. Perkara bahwa kemudian anak itu jadi pembunuh sesama generasinya? Itulah menurut Gus Dur, kenapa doa perlu dipanjatkan, karena doa tak bisa “manjat” sendiri. Sepertinya sebuah joke yang segar, tapi maknanya dalam. Karena memang doa tidak bisa naik dan makbul dengan sendirinya, karena doa yang makbul juga mengisyaratkan kualitas subyek yang didoakan. Ketika saya berinfaq pada seorang pengemis di pinggir jalan, dan pengemis itu mendoakan “semoga enteng jodoh”, jelas agak susah makbul, karena saya sudah menikah dan saya bukan penganut poligami. Seorang kyai sokeh boleh saja mendoakan seseorang naik kelas, tapi kalau yang didoakan itu bodoh dan malas belajar, keajaiban agaknya jika hal itu makbul. Dan keajaiban itu tentu hanya otoritas sang maha-ajaib. Demikian juga ketika seseorang didoakan beramai-ramai agar bisa menjadi kaya, maka antara lain juga harus melihat adakah yang didoakan bekerja dengan baik, tekun, jujur, dan sejenisnya untuk meraih kesuksesan?
Orang Indonesia, sangat pintar memberikan nama-nama kebaikan pada sesuatu subyek atau obyek. Namun sangat malas mengkondisikan hal itu dalam suatu proses, sesuatu yang diyakini dan diperjuangkan. Karena doa tanpa pengupayaan, adalah kepasrahan yang tidak tulus (gelem nangkane gemang pulute, kata pepatah Perancis).
Namai anak-anakmu dengan kebaikan, tapi juga upayakan menuju kebaikan itu, dengan mendidiknya, memberikannya tauladan, memprosesnya, jangan merasa selesai tanggungjawab setelah memberi nama, sebagaimana banyak pejabat kita hanya berdoa pada saat pengguntingan pita peremian jembatan, namun tak bisa merawat dan menjaga jembatan itu, yang akhirnya dibiarkan karatan atau ambrol. Lebih celaka lagi, jika ketika proses membangun jembatan itu, bukan hanya sekedar mark-up biaya, melainkan juga mengurangi kualitas material, dengan mengharap margin keuntungan yang besar.
Dan kita lebih sering meniru perilaku ini. Karenanya, perihal menalangi tawuran pelajar dengan menggabung dua sekolah yang berseteru, memperpanjang jam belajar, atau mendidik anak murid pelajaran kemiliteran, rasanya hanya memperpanjang cara menjadikan anak sebagai obyek, dan tak pernah diberikesempatan sebagai subyek atau pribadi yang mesti ditumbuhkan.
Nama “Doyok” panggilan dari Fitra Ramadhani, lebih menegaskan dan menjelaskan, bagaimana perilaku anak itu, yang “hanya didoakan” tapi lupa diupayakan. Dan outputnya seperti tercermin dalam nama panggilannya itu. Untuk soal ini, jangan sekedar salahkan Doyok, melainkan juga bagaimana orangtuanya, bagaimana guru di sekolahnya, bagaimana masyarakatnya, tiga pilar pendidikan yang diyakini oleh Ki Hajar Dewantara harus ditegakkan terlebih dulu. Dan itu pula yang suka kita abai.
HM Nuh mendiknas kita, toh juga membuktikan, tidak sedahsyat Nabi Nuh Allaihi Sallam yang bisa mengenali bahasa hewan bukan? | Sunardian Wirodono

Jumat, September 21, 2012

Analisis Post Factum Kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta

Di wall ini dulu, beberapa bulan lalu pernah saya postingkan dongeng yang absurd. Yakni tentang kemenangan semut melawan gajah. Bagaimana cara? Salah satu semut merayap ke telinga gajah dan memberikan informasi confidential: Bahwa si Gajah mesti tahu jika salah satu anak gadis dari semut itu telah hamil, dan ia minta sang Gajah bertanggungjawab atas hal itu. Mendengar itu, si Gajah pun terjungkal.
Jokowi, sebagaimana bisa kita kutipkan dari tulisan Sara Schonhardt, The New York Times, “Outsider Breathing New Ideas Into Jakarta Election” (10 September 2012), menjawab pertanyaan yang sama, bagaimana koalisi semut bisa mengalahkan gajah, padahal Anas Urbaningrum dan Amien Rais (dan para tokoh dengan nama-nama terhormat lain) pun yakin, bahwa Foke-Nara bakal menang? Mr. Joko, meanwhile, is steadfast in his fight. Asked during a recent press gathering what it would mean if the “elephant” defeated him on Thursday, he chuckled and said: “Nah, the ants will win.”
Adakah Jokowi membisiki “sesuatu” pada Foke? Apakah yang dibisikkan? Jakarta sudah mendengarnya. Hasil pilihan rakyat pada putaran satu sudah terbuktikan. Bahkan pada putaran dua ini, pun, meski masih versi hitung cepat, juga sudah terbuktikan.
Reaksi berlebihan atas kemunculan Jokowi, dengan berbagai bentuk black-campaign, telah bisa dipatahkan oleh rakyat, yang kepentingannya cuma satu; Mendapatkan harapan dan kemungkinan. Sementara reaksi yang muncul melawannya, berada dalam arus berlawanan, yakni mempertahankan kepentingan. Hukum alam dari pertarungan abadi itu, selalu bertahmid pada yang bernama harapan dan kemungkinan.
Di ruang abu-abu itulah, bermain para petualangan. Dunia internet yang menjadi mainan baru Indonesia, mudah dimainkan oleh nama-nama akun palsu, yang oleh orang sekapasitas Rhoma Irama pun dikatakan, “data internet pasti valid,…” Sementara dalil komunikasi tak pernah dimengerti, bahwa siapapun yang menyembunyikan identitasnya, namun bermain-main dengan fakta dan kepentingan public, segala produknya adalah sampah. Karenanya, sangatlah memprihatinkan jika siapapun bisa diadu-domba oleh triomacan dan lain sebagainya, yang tentu agendanya tidak berada dalam aras kepentingan public, karena yang ia ciptakan adalah menunggangi arus yang sama sekali tak bisa dikonfirmasi.
Siapa Jokowi? Wimar Witoelar, sebagaimana dikutip Sarah Schonhardt mengatakan, “He’s a cute figure, a funky figure, him and his checkered shirts and naïveté. It’s nice to have somebody busting the party oligarchy.”
Menurut si kribo Wimar, Jokowi itu lucu, dan ia menyenangkan dengan segala kenaifannya, yang pada kenyataannya mampu menumbangkan oligarki partai politik.
Hal terakhir itulah yang penting. Jokowi berada dalam momentum. Ia adalah kendaraan rakyat (bukan hanya rakyat Jakarta, karena pendukung “Jokowi for Jakarta” ini datang dari mana pun, bukan hanya di dunia maya melainkan juga di dunia nyata, bukan hanya dari Solo, melainkan juga dari Maumere, Aceh, dan seterusnya,… Bahkan karena dimudahkan akses informasi, beberapa warga Indonesia yang sedang di luar negeri pun, menyatakan dukungan pada Jokowi).
Jokowi, sekali pun ia diusung oleh PDI Perjuangan dan Gerindra (partai bukan pemenang dan minoritas di DKI Jakarta), sebagaimana kata Wimar, adalah sosok yang independen, dan rakyat melihat itu sebagai alat untuk menyampaikan sinyal; “Lu Parpol, ati-ati pade!”
Sinyal itu penting, bagi para elite partai yang selama ini gemar sesumbar dengan berbagai atribut religiusitas dan slogan kepintaran akademik mereka untuk menjustifikasi dan mengeliminated pihak lain yang dipreposisikan sebagai musuh.
Sayangnya, ajaran nenek moyang sering dilupakan. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Karena masalahnya bukan konspirasi internasional dan tetek-mbengek agendanya, tapi rakyat ingin didengar. Dan kalian tidak mendengarnya, atau pura-pura budeg.
Keinginan rakyat untuk kehidupan yang lebih baik, dicurigai ini dan itu. Sementara gajah kepemimpinan yang empiric tak berjalan linier dengan pesan dan harapan rakyat, sama sekali tidak terlihat.
Cara memperlakukan agama dalam politik Pilkada DKI Jakarta juga terbukti berbahaya. Karena mestinya bukan dengan memunculkan dalil-dalil agama dalam politik (apalagi hanya sebagai alat pembunuhan karakter lawan politik), tetapi bagaimana mestinya agama menjadi dasar perilaku kita untuk berpolitik secara beradab, santun, amanah, berlaku adil. Kalau sudah begini ini, Jokowi-Ahok menang, ‘pan jadi malu ati dengan apa yang kita omongkan kemarin dengan takbir, dengan sumpah, dengan demi Allah, dengan mengafirkan orang lain, sedang Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Allaihi Wassalam tak pernah mengajarkan itu. Makanya, ulama dan habib jangan urusi politik praktis. Berapa duit sih, yang didapat? Mau beli sorga di dunia? Uruslah umat agar berkarakter sesuai agama yang baik dan benar. Dari sini, akan lahir politikus yang baik, pedagang yang baik, trio-macan yang baik, birokrat yang baik,… | Sunardian Wirodono, penulis adalah penulis. Kalimalang 2012

Senin, September 17, 2012

Jokowi-Foke Memberi Pelajaran Apakah Kelak?

Oleh Sunardian Wirodono

Pelajaran apakah yang kita dapat dari peristiwa 20 September 2012 kelak, di DKI Jakarta Raya? Para pihak yang berkepentingan langsung maupun tidak, hari-hari ini akan menunggu, harap-harap cemas, apa yang akan terjadi.

Benarkah Joko Widodo dan Basuki Cahaya Purnama akan menang dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta, ataukah Fauzi Bowo dan Nachrowie Ramli yang akan memenangkan putaran kedua setelah pada putaran pertama dipecundangi Jokowi-Ahok.
Tentu saja semuanya akan sangat tergantung pada para pemegang hak pilih, dan juga kejujuran serta ketidakberpihakan para panitia pemilihan sehingga bisa menegakkan pemilihan yang fairness. Dalam hal ini, para ahli dan tukang survey, tak berani lagi jumawa memprediksi hasilnya, setelah analisis ilmiah mereka terjungkalkan pada pemilihan putaran pertama yang dimenangkan Jokowi-Ahok.
Tapi poin penting yang menginspirasi dalam peristiwa ini, ada ghirah politik rakyat, yang memposisikan head-to-head melawan parpol, sekalipun Jokowi-Ahok bukan dari jalur independen (melainkan dari PDI Perjuangan dan Gerindra). Namun personalitas Jokowi-Ahok mengalahkan partai politik pendukungnya, melawan parpol mayoritas yang mendukung Foke-Nara. Kotak-kotak phenomenon.
Jika pasangan Jokowi-Ahok menang, maka ini isyarat penting bagi parpol, bahwa hari-hari ini, rakyat sedang mengirimkan sinyal peringatannya. Bahwa para demagog dan oligarkis parpol tak lagi bisa main-main dengan daulat rakyat. Dan itu mesti menjadi renungan penting mereka menjelang 2014.
Namun jika Foke-Nara yang memenangkan partarungan politik ini, banyak hal perlu dicermati pengaruh-pengaruhnya, yakni akan bermunculkan klaim-klaim politik atas nama dan bendera-bendera eksklusivisme yang bisa jadi tidak produktif, mengenai isyu-isyu kepolitikan, suku, ras, dan agama, yang banyak dikatakan oleh elite politik kita sebagai sesuatu yang wajar (seperti dikatakan oleh Marzuki Alie, Mubarok, Anas Urbaningrum, Wiranto, Suryadharma Ali, Rhoma Irama, para elite PKS, FPI, dan sejenisnya, yang melontarkan wacana isyu SARA bisa ditolerir).
Senyampang dengan itu, jika kemungkinan Foke-Nara menang, maka semakin kuat dugaan kita, bahwa jejaring sosial-media di Indonesia, bukanlah pencerminan kenyataan sosial-politik kita, melainkan hanyalah benar-benar dunia maya kelas sosial tertentu, yang tidak terintegrasikan dengan kenyataan sosialnya. Lebih celaka lagi, jika jejaring sosial itu hanya dipakai sebagai masturbasi politik, euforia seolah demokratisasi sedang berjalan. Karena juga tak bisa ditutupi, para pendukung Jokowi-Ahok di dunia maya sebagian tentu bukanlah pemegang kartu-suara Pilkada Jakarta 2012, sebagaimana kita juga tak tahu seberapa besar dari 7 juta pemegang kartu suara itu mengakses media internet dan aktif di jejaring sosial media.
Adakah benar-benar Jokowi dan Ahok, sebagaimana para cowboy dari desa-desa di Amerika (dengan baju kotak-kotaknya yang khas, dengan muka kotor-berdebu, namun suka cengar-cengir ndesit itu), memenangkan pertarungan melawan para petinggi kotapraja, yang dalam film-film western suka digambarkan duduk di kursi goyang menunggu setoran? Cobalah tonton film-film western klasik tahun-tahun 1970-an, dan pindahkan settingnya di Jakarta September 2012.
Semoga kita mendapatkan pelajaran bermutu, dari kampanye-kampanye politik yang tidak bermutu dari siapapun para kandidat yang maju dalam Pilkada DKI Jakarta ini.

Selasa, September 11, 2012

Dongeng tentang Sajadah Besar dan Sajadah Kecil


Syahdan, pada jaman kini kala, menurut sahibul hikayat, adalah dua orang yang berdiri berdampingan hendak mendirikan shalat. Berbarengan keduanya membentang sajadah yang dibawanya. Salah satunya memiliki sajadah berukuran jumbo, lebih panjang dan lebar. Sementara, satu lagi, bersajadah lebih kecil.
Orang bersajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadah, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara yang empunya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain, yang sudah lebih dulu datang.
Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melakukan shalat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!” berkata Iblis di sudut ruang, memulai dialognya lagi, setelah terputus beberapa bulan lalu di wall ini (hiks).
“Yang mana?” sang Kyai Gondrong, karena memang berambut gondrong dan demikian ia dijuluki jemaahnya, bertanya.
“Ada dua orang yang sedang shalat sunnah itu,” tukas Iblis, “Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka,…”
Iblis pun lenyap. Sruffuuuthhhhzz, begitu sound effectnya!
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kyai Gondrong hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan shalat sunnah. Ia menunggu apa yang hendak dilakukan Iblis.
Pemilik sajadah lebar ruqu’ dan kemudian sujud. Namun sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil berada di bawahnya.
Si sajadah besar kemudian berdiri. Sementara pemilik sajadah kecil melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah besar.
Itu berjalan hingga akhir shalat. Bahkan pada saat shalat wajib pun, kejadian-kejadian itu berulang. Berkali-kali, dan di beberapa masjid.
Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa memiliki sajadah lebih lebar, maka ia akan meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang lebih kecil.
Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembeda kelas.
“Astaghfirullahal adziiiim,…” geletuk Kyai Gondrong dalam pertemuan kesekian kalinya dengan Iblis.
“Kau akan menduga, pasti yang memproduksi sajadah itu orang Yahudi ‘kan? Atau orang Cina?” Iblis mengkili-kili kuping Kyai Gondrong.
Sang Kyai mendesah, “Oh, no! Siapapun boleh membuat sajadah, tapi aku tak akan menuding siapa-siapa, kecuali pada diriku sendiri yang hina, yang lebih mudah tergoda menyalahkan orang lain, karena kelemahan diriku, dan terjebak dalam cermin tipu daya,…”
“Wah, Kyai nonton Kapai-kapainya Arifin C. Noer, dong?” selidik Iblis.
Kyai Gondrong tidak menjawab, dari mulutnya menggeremeng ayat Kursi pada surat Al Baqarah 255.

Jumat, September 07, 2012

Munir Said Thalib, Delapan Tahun Lampau


Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.
Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini.

Bandara Soekarno-Hatta, 6 September 2004. Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam, termasuk di antaranya adalah Munir Said Thalib (yang akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda), dipersilakan petugas bandara naik ke pesawat.
Rombongan orang kulit putih bergegas, banyak dari mereka adalah warga negara Belanda. Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk kelas bisnis.
Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang. Diawali percakapan dengan Polly, Munir berakhir di tempat duduk kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara milik Munir adalah 40G. Polly selanjutnya naik ke kokpit di lantai dua untuk bersalaman dan mengobrol dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat mundur dan siap tinggal landas, Polly dipersilakan oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas premium karena banyak tempat duduk yang kosong di kelompok termahal itu. Purser adalah pimpinan kabin yang bertanggung jawab atas kenyamanan seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat duduk mereka. Lelaki berseragam pilot kemeja putih dan celana biru dongker itu pun duduk di 11B.
Ada dua cerita tentang kepindahan Munir ke kelas bisnis itu, yaitu menurut kisah Brahmanie dan Polly. Dalam sidang PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat, Brahmanie bersaksi, “Saat sedang di depan toilet bisnis, saya berpapasan dengan Saudara Polly. Lalu, Saudara Polly, sambil memegang boarding pass warna hijau, bertanya dalam bahasa Jawa, ‘Mbak, nomer 40G nang endi? Mbak, aku ijolan karo kancaku,’ (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak, saya bertukar tempat dengan teman saya.) tanpa menyebutkan nama temannya. Karena nama temannya tidak disebutkan, saya ingin tahu siapa teman Saudara Polly. Lalu, saya datangi nomor 3K, dan ternyata yang duduk di sana Saudara Munir, yang lalu saya salami. Saudara Polly tidak duduk di 40G, tapi di premium class nomor 11B atas anjuran saya karena banyak tempat duduk yang kosong.”
Sementara itu, dalam wawancara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Polly bercerita, “Saya ketemu Munir di pintu pesawat Garuda Indonesia, di bandara Jakarta. Dia tanya di pintu bisnis, ‘Tempat duduk ini di mana?’ Saya bilang, ‘Wah Bapak ini di ekonomi, cuma tempat duduknya yang mana saya tidak hafal.’ Kemudian, itu kan antre, ada banyak penumpang lain mau masuk, saya persilakan duluan. Saya sebagai kru lebih baik ngalah, toh sama-sama naik pesawat, nggak mungkin ditinggal. Setelah itu, karena saya mau masuk ke ruang bisnis, mau melangkah ke dalam pesawat, saya bilang kepada Munir, ‘Saya duduk di bisnis, kalau Bapak mau di sini, ya Bapak tanya dulu sama pimpinan kabin, kalau diizinkan ya silakan, bila tidak ya mohon maaf.’ Bahasa saya seperti itu. Sudah, itu saja.”
Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas bisnis, Yeti Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang diminta mengambil gelas berisi sampanye, jus jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk. Selesai minuman pembuka, pramugari senior itu membagikan sauna towel (handuk panas), yang biasa digunakan untuk mengelap tangan, lalu memberikan surat kabar kepada penumpang yang ingin membacanya. Semua layanan itu disajikan Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara senior, yang menyiapkan segala keperluannya di pantry. Pukul 22.02 WIB pesawat yang dikendalikan Kapten Pilot Sabur Muhammad Taufik itu tinggal landas. Untuk mengukur waktu tinggal landas dan mendarat secara tepat, industri penerbangan menggunakan istilah block off dan block on. Block off adalah waktu yang menunjukkan saat ganjal roda pesawat di bandara dilepas dan pesawat mulai bergerak untuk terbang. Block on digunakan sebagai penanda waktu kedatangan pesawat di bandara tujuan, yaitu saat ganjal roda pesawat dipasang.
Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Selesai mi, Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih banyak pilihan daripada welcome drink. Pilihannya adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red wine, white wine, dan bir), soft drink, jus apel serta jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air mineral Aqua, teh, dan kopi. Munir kembali memilih jus jeruk. Setelah mengarungi langit pulau Jawa, Sumatera, dan laut di sekitarnya selama 1 jam 38 menit, pesawat GA 974 mendarat di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di Bandara Changi selama 45 menit.
Karena keluar dari pintu bisnis, Munir pun lebih cepat mencapai Coffee Bean dibanding jika keluar dari pintu ekonomi. Usai singgah di kedai itu, dia kembali menuju ke pesawat melaui gerbang D 42.
Di perjalanan menuju pintu Garuda, dia disapa oleh seorang laki-laki. “Anda Pak Munir, ya?”
“Iya, Pak.”
“Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke Belanda?”
“Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun.”
“Di mana?”
“Utrecht.”
“Wah, Indonesia kehilangan, dong. Anda kan orang penting?” komentar dr. Tarmizi.
“Ya… ini perlu untuk saya, Pak,” timpal Munir sambil tersenyum.
“Anda ‘kan pernah nulis tentang Aceh. Bagaimana sih, bisa beres nggak tuh?” tanya dokter lagi, sambil keduanya berjalan.
“Ah, itu tergantung niat, Dok.”
“Maksudnya?”
“Kalau niatnya membereskan, tiga bulan juga beres.”
Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu namanya sambil berkata, “Kapan-kapan, bila perlu, silakan menghubungi saya.” 





Munir menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas bisnis, Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan duduk di kursi 40G kelas ekonomi, sebagaimana tercantum di boarding pass-nya. Karena Polly hanya sampai Singapura, Munir pun kembali ke tempat duduk aslinya untuk penerbangan Singapura-Amsterdam. Total waktu transit di Changi (antara block on dan block off) adalah 1 jam 13 menit, jumlah waktu yang digunakan pesawat untuk pengisian bahan bakar, penggantian seluruh awak kokpit dan kabin, serta penambahan penumpang dari Singapura.
Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat. Penerbangan menuju Schipol ini dipimpin oleh Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib Nasution sebagai penanggung jawab pelayanan penumpang. Sebelum pesawat mengangkasa, pramugari Tia mengecek kesiapan penumpang untuk tinggal landas. Saat melakukan kewajibannya, dia dipanggil oleh Munir yang meminta obat Promag. Pramugari bernama lengkap Tia Dewi Ambara itu meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak kabin harus duduk di tempat masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan earphone, dilanjutkan dengan makanan pengantar tidur. Saat Tia sampai di 40G, lelaki berkaus abu-abu dan bercelana jins hitam itu sedang tidur. Tia membangunkannya dan bertanya, “Apa Bapak sudah dapat obat dari teman saya?”
“Belum.”
“Maaf, kami tidak punya obat.” Tia lalu menawarkan makanan, yang ditolak oleh Munir. Namun, lelaki ini meminta teh hangat. Tia pun menyajikan teh panas yang dituangkan dari teko ke gelas di atas troli. Munir menerima uluran minuman itu, lengkap dengan gula 1 sachet. Ketika Tia melanjutkan melayani penumpang lain, Munir melewatinya di gang menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.
Tiga jam sudah pesawat besar itu terbang dan sedang berada di langit India saat Munir semakin sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di gang kabin yang hanya diterangi oleh lampu baca, dia berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa. Dia mengeluhkan sakit perut dan muntaber kepada Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi yang duduk di kelas bisnis. Munir juga memberinya kartu nama dokter itu. Sesuai prosedur untuk situasi semacam ini, Bondan pun melapor kepada purser Madjib Nasution yang berada di Purser Station.
“Bang, ini Pak Munir penumpang kita sakit. Buang-buang air, muntah-muntah. Ini ada kawannya, dokter, tapi saya tidak tahu duduk di mana. Tolong carikan tempat duduknya,” ujar Bondan sambil menyerahkan kartu nama dr. Tarmizi.
Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi Hakim di Passenger Manifest dan menemukannya di kursi nomor 1J. Belum sempat dia beranjak, Munir sudah berada di depan Purser Station.
Sambil memegangi perut, Munir berkata, “Saya sudah buang-buang air, pakai muntah juga. Mungkin maag saya kambuh. Seharusnya tadi tidak minum jeruk waktu dari Jakarta-Singapura.”
Munir pun melanjutkan perjalanannya ke toilet. Madjib dan Bondan lalu mendatangi 1J dan mendapati dr. Tarmizi sedang tidur di 1K, kursi sebelah kanannya yang, karena dekat jendela dan dia dapati kosong, lalu dia duduki.
“Dokter, dokter…,” Madjib berusaha membangunkan. Keduanya mengulanginya beberapa kali dengan suara lebih keras, tapi tidur dokter bedah itu tetap tak terusik. Madjib kembali berjumpa Munir di gang dan memintanya membangunkan dr. Tarmizi sendiri, sementara Bondan pergi ke pantry untuk melaksanakan tugas terjadwalnya. Akhirnya, dr. Tarmizi bangun. Munir menjelaskan kondisi tubuhnya yang saat itu tampak sangat lemah dengan berkata, “Saya sudah muntah dan buang air besar enam kali sejak terbang dari Singapura.”
Dr. Tarmizi mengusulkan kepada Madjib supaya Munir pindah tempat duduk ke nomor 4 karena tempat itu kosong dan dekat dengannya. Munir pun duduk di kursi 4D. Dr. Tarmizi mengambil posisi di samping kirinya.
“Pak Munir makan apa saja dua hari terakhir ini?” tanya dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu.
Munir hanya diam, mungkin akibat nyeri perutnya. Pertanyaan itu disambut oleh Madjib, “Pak Munir tadi sempat minum air jeruk, padahal Pak Munir tidak kuat minum jeruk karena punya maag.”
Munir tetap diam, tidak berkomentar.
“Kalau maag tidak begini,” kata si dokter, yang lalu bertanya kepada Munir, “Anda makan apa?”
“Biasa saja.”
“Kemarin?”
“Biasa saja.”
“Kemarinnya lagi?”
“Biasa saja.”
Dokter itu melakukan pemeriksaan secara umum dengan membuka baju pasiennya. Dia lalu mendapati nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter berpendapat Munir menunjukkan gejala kekurangan cairan akibat muntaber.
Munir kembali lagi ke toilet, diikuti dokter, pramugara, dan pramugari. Setelah muntah dan buang air, dia pulang ke kursi 4D, sambil terus batuk-batuk berat. Dr. Tarmizi meminta seorang pramugari mengambilkan Doctor’s Emergency Kit yang dimiliki setiap pesawat terbang. Kotak itu dalam keadaan tersegel. Setelah melihat isinya, dia berpendapat obat yang tersedia sangat minim, terutama untuk kebutuhan Munir.
Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi tidak ada. Tidak ada obat khusus untuk sakit perut mulas, juga obat muntaber biasa. Si dokter pun mengambil obat dari tasnya sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-masing satu tablet untuk dua terakhir. Dr. Tarmizi lalu meminta seorang pramugari membuatkan teh manis dengan sedikit tambahan garam di dalamnya. Namun, lima menit setelah meminum teh hangat itu, Munir kembali ke toilet. Munir rampung setelah lima menit dan membuka pintu. Dr. Tarmizi lalu membimbing Munir berjalan menyusuri gang sambil berkomentar kepada purser Madjib, “Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini?”
Di kotak obat pesawat terdapat cairan Primperam, obat antimual dan muntah, yang kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh Munir sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri ini cukup berpengaruh karena Munir kemudian tidur. Penderitaannya reda selama 2-3 jam.
Munir bangun dan kembali masuk ke toilet. Dia cukup lama berada di dalamnya, kira-kira 10 menit, dan pintunya pun tidak tertutup dengan sempurna.
Madjib memberanikan diri melongok lewat celah yang ada dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari orang yang sedang menderita di dalam sana. Madjib membuka pintu lebih lebar dan melihat laki-laki 38 tahun itu sedang bersandar lemas di dinding toilet. Purser Madjib langsung memanggil dokter yang selama setengah jam terakhir paling tahu kondisi penumpangnya itu.
Dr. Tarmizi mengajak Madjib dan pramugara Asep Rohman mengangkat Munir kembali ke kursi 4D. Setelah didudukkan di kursi, Munir menjalani pemeriksaan oleh dr. Tarmizi, dalam gelapnya kabin pesawat yang hanya diterangi lampu baca. Kegelapan ini keadaan yang tak bisa mereka atasi sebab demikianlah aturan penerbangan. Pertama pergelangan tangan, lalu perut. Saat perutnya diketuk oleh si dokter, Munir mengeluh, “Aduh, sakit,” sambil memegang perut bagian atas.
Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, “Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah,” sambil tetap memegangi perut.
Pramugari Titik Murwati yang berada di dekat situ berinisiatif memberi balsem gosok, tindakan yang dia harap bisa membantu meredakan derita penumpangnya. Atas persetujuan dr. Tarmizi, Titik menggosok perut Munir dengan balsem yang bisa memberikan rasa hangat. Munir berkata dia ingin istirahat karena capek. Dr. Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil obat suntik Diazepam.
Kali ini, dokter menyuntikkan 5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser Madjib. Jarak antara kedua suntikan sekitar 4-5 jam. Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih merasakan mulas di perut. Lima belas menit berlalu dan Munir ke toilet lagi, ditemani dokter, purser, serta pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang air. Kembali ke tempat duduk, Munir berkata dirinya ingin tidur telentang. Purser dan seorang anak buahnya membentangkan sebuah selimut sebagai alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal di atasnya. Dia pun berbaring di sana, dengan dua selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat.
Dr. Tarmizi berkata kepada awak kabin itu supaya Munir dijaga, dan bahwa dirinya ingin istirahat karena besok kerja (dia akan melakukan operasi jantung di rumah sakit di Swole), sambil minta dibangunkan bila terjadi apa-apa dengan Munir. Juga, dia berpesan agar mereka memastikan dokter dari Amsterdam yang besok masuk ke pesawat membawa infus. Setelahnya, si dokter kembali ke kursi di 1K dan tidur.
Munir kembali bisa tidur, tapi sering berubah posisi, dan posisi itu selalu miring, tidak pernah telentang atau tengkurap. Madjib terus setia menjaga Munir sampai sekitar 3 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, saat awak kabin menyiapkan makan pagi penumpang.
Madjib berjalan ke tempat duduk dr. Tarmizi dan bertanya apakah perlu dirinya membangunkan Munir untuk sarapan, yang dijawab dengan anjuran untuk membiarkan Munir tetap istirahat. Madjib pun melakukan tugas rutinnya mengawasi lingkungan pesawat.
Sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat, jam 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib kembali melangkahkan kaki mengunjungi “tempat tidur” Munir.
Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas menuju kursi sang dokter. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil dengan tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, “Pak Munir… Pak Munir….“
Akhirnya, memandang purser Madjib, dr. Tarmizi berkata pelan, “Purser, Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari.”
Purser Madjib meminta Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar selimut, kedua matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.
Bondan dan Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir.
Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya. Namun demikian, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta tiga hakim yang memvonisnya bebas itu sempat diperiksa. Namun juga tak ada kabar beritanya kemudian.

Rabu, September 05, 2012

Isyu SARA Fakta Menyedihkan Pilkada Jakart


Oleh Sunardian Wirodono

Isyu SARA (Suku, Agama, dan Ras), sesungguhnya bukan barang baru di Indonesia, juga di dunia tentu. Hanya yang mengherankan, hal itu masih terus saja menimbulkan persoalan, hingga hari ini. Lantas, apakah peran agama, ilmu-pengetahuan, yang keduanya melahirkan peradaban manusia, dalam perjalanan kehidupan manusia selama ini? Keduanya sama sekali tidak mengalami perkembangan, secara linier, dengan pembaikan keadaban manusia?

Penulis memastikan tidak demikian halnya. Isyu SARA di mana pun, sesungguhnya merupakan gerakan anti-tesis dan bersifat kasuistis. Anti-tesis dalam pengertian bahwa ia tidak mengalami perkembangan significant dibanding perikeadaban manusia itu sendiri. Namun secara kasuistis, dalam momen-momen kelompok kepentingan, isyu ini sering masih dipercaya sebagai bagian dari senjata untuk ofensive maupun defensive.
Kita bisa deretkan semua kasus yang memunculkan konflik SARA. Faktor kepentingan antar kelompok, menjadi dominan karena ia seolah berdiri secara diametral satu-sama lain dan tak bisa dipertemukan.
Beberapa kerusuhan rasial di Negara-negara Eropa, juga kecemburuan sosial di Amerika, selalu bersumber pada ordinat dan sub-ordinat, kepentingan dan kekhawatiran kelompok. Pertarungan antara imigran dan pribumi, antara pendatang dan yang merasa sebagai penduduk asli (pribumi), ujung-ujungnya berhenti pada persoalan kepentingan sosial dan ekonomi.
Munculnya isyu SARA dalam pilkada DKI Jakarta 2012, juga bukan sesuatu yang luar-biasa, meskipun cukup mengherankan. Mengherankan, karena hal itu terjadi di DKI Jakarta, di sebuah kota metropolis, sebuah area meltingpot yang semestinya lebih toleran dan terbuka, karena boleh dikata mayoritas adalah pendatang yang beragam. Bagaimana bisa?
Jika itu terjadi 30 tahun lampau, di sebuah pemukiman kecil di wilayah tempat tinggal saya yang kecil dan terbelakang, saya bisa memakluminya. Saya ingat bagaimana pada tahun 1980-an, ketika menjadi “tim perumus” pemilihan Ketua RT (Rukun Tetangga), pun tak terhindarkan dari isyu kepentingan itu. Beberapa pengurus RW (Rukun Warga, level di atas RT), meminta saya untuk mencegah agar kepengurusan tidak dipegang oleh yang “palang” (kaum salib, Kristiani). Demikian juga ketika seorang tetangga perempuan, maju mencalonkan diri menjadi Kepala Desa, juga dihantam isyu SARA, dengan menyebutkan ia beragama itu dan bukan beragama ini.
Tetapi “hare gene” di Jakarta, memanfaatkan isyu SARA? Padahal, dari Suryadharma Ali, Rhoma Irama, Mubarok, orang-orang PKS, tokoh MUI, Marxuki Alie, dan berbagai tokoh yang “pro Foke”, selalu mengatakan bahwa Jakarta bisa seperti sekarang ini karena masyarakat Betawi adalah kelompok etnis yang terbuka, toleran. Menurut mereka, Jakarta tak akan berkembang jika etnis Betawi adalah masyarakat yang arogan, tertutup. Hal itu dikatakan, dalam konteks dan sembari ingin menjelaskan, bahwa “bukan mereka” yang mengeluarkan atau memanfaatkan isyu SARA itu. Bahkan secara ekstrim, mereka mengatakan itu bukan isyu, melainkan kesadaran keimanan mereka sebagai orang Islam.
Fakta-fakta di lapangan, sebagaimana terungkap dari kejadian yang dilakukan oleh Rhoma Irama (yang penyanyi Ndangdhut), Marzuki Alie (yang Ketua DPR-RI), Suryadharma Ali (yang Menteri Agama RI), Mahruf Amien (yang Ketua MUI), kemudian diteruskan beberapa ustadz di berbagai tempat ibadah dan waktu pengajian, menunjukkan sentiment agama dalam hal “pemimpin se-iman”.
Secara jelas persoalan SARA itu ditembakkan pada pasangan cagub Jokowi-Ahok, yang notabene “bukan Betawi” dan “bukan Islam”. Mulai dari ibu dari Jokowi yang “Kristen” (padahal Islam), Ahok yang Cina (padahal ketika menjadi bupati Belitung ia didukung juga para ulama Islam, dan pembangunan masjid di sana lebih marak), sampai pada kelak Jokowi tidak menuntaskan pekerjaannya (karena diproyeksikan jadi capres 2014, sehingga meninggalkan wagub Kristen dan Cina yang praktis akan naik jadi gubernur, ini dengan menyontohkan “jika” Jokowi jadi gubernur DKI maka ia meninggalkan wawali Solo yang katholik naik menjadi walikota, dan seterusnya).
Belum lagi berbagai komentar mengenai Islam versus Jawa, kembali dipertentangkan, dengan vibrasi yang diharap tentu adalah Jokowi = Jawa = Klenik = Tidak Islami, dan seterusnya dan sebagainya. Beberapa ustadz di beberapa masjid di Jakarta, selama Ramadhan, terus mengintrodusir mengenai bahaya bencana atau laknat Allah akan menimpa jika ummatnya memilih pemimpin yang “bukan kaumnya”. Secara lebih tegas, Suryadharma Ali dari PPP, sebagaimana PKS, juga menyebutkan kenapa mendukung Foke-Nara, karena “Islam dan Betawi”.
Sementara Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia, dari sejak munculnya Sunda Kelapa, Pangeran Jayakarta, hingga VOC, tidak pernah terbuktikan dikuasai oleh kelompok etnis tertentu, apalagi Betawi. Bahkan, etnis ini, sebagai peristilahan demografis, juga baru dikenali pada tahun 1930-an, itu pun dengan catatan kesejarahan bahwa etnis ini merupakan “turunan” dari berbagai kelompok etnis.
Sunda Kelapa, sebagai kota Bandar, dengan dinamika ekonominya yang tinggi, tentu juga berkait dengan mobilitas manusia yang tinggi, dari berbagai penjuru. Oleh karena itu, sebagai kota bisnis, wajar Jakarta pada akhirnya menjadi meltingpot yang memungkinkan banyak suku atau etnis berdatangan, hilir-mudik dan menetap. Bahkan, hingga pada akhirnya, jika kaum Betawi meng-klaim sebagai penduduk asli, sebagaimana kaum Indian di Amerika Serikat, mereka tidak menjadi kelompok dominan, dan akhirnya menyingkir ke daerah-daerah pinggir.
Beberapa daerah kantong Betawi yang masih bertahan, bisa disebut misalnya Kemayoran, Klender, Pasar Minggu, Ciganjur, Ciputat, Pondok Kopi, dan di beberapa tempat dalam kelompok-kelompok kecil, dan beberapa mencoba survivalitas mereka dengan mendirikan kelompok atau komunitas bernama Forkabi (Forum Keluarga Betawi), FBR (Forum Betawi Rempug), dan kini FBB (Forum Betawi Bersatu). Sementara yang “tidak mampu bertahan”, memilih keluar dari Jakarta, dalam kelompok-kelompok yang lebih besar, sebagaimana di Tambun, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Serang (Banten).
Pada sisi itu, urbanisasi yang terjadi bukan sekedar persoalan Jakarta tempat berputarnya ekonomi nasional (yang konon mencapai 70% dari sirkulasi perputaran uang nasional), melainkan juga soal ketersediaan SDM ketika Jakarta sebagai ibukota Negara membutuhkan tenaga-kerja dari berbagai daerah (utamanya tentu Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat), sebagai pemasok SDM yang lebih siap dalam kuantitas dan kualitas, sebagaimana dilakukan pemerintahan Sukarno ketika membutuhkan pegawai negeri secara besar-besaran di beberapa departemen (kemudian mereka di tempatkan di wilayah Slipi dan Tebet).
Maka, jika kemudian komposisi penduduk Jakarta mayoritas adalah Jawa (pengertian istilah ini adalah etnis Jawa, antara lain Jateng, Jatim, dan DIY) yang jika ditambah dengan Sunda (Jabar), hal itu menjadikan Betawi sebagai minoritas di Jakarta. Belum lagi jika kita juga menghitung suku-suku se Indonesia Raya dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Bali, dan lain sebagainya masuk ke Jakarta.
Jakarta, Ibukota Negara, wajar jika ia menjadi meltingpot, multiras. Dan itu bukan hanya terjadi di ibukota Indonesia, melainkan di seluruh dunia, yang bernama ibukota Negara mesti menjadi pusat dari kaum urban. Hal itu sebagai sebuah kewajaran, kelumrahan, yang tak terbantahkan.
Adalah paket bunuh diri bagi mereka yang hendak menjadikan Jakarta sebagai sesuatu yang beridentitas eksklusif, Betawi misalnya, karena hal tersebut juga terasa a-historis. Dari kalkulasi politik pun, hal tersebut menunjukkan kesalahan hitung yang cukup fatal.
Munculnya Foke sebagai pemimpin Jakarta, satu-satunya gubernur Jakarta yang berasal dari etnis Betawi, semestinya juga tidak harus dinilai apakah ia Betawi atau bukan, karena masyarakat Jakarta yang dipimpinnya adalah mayoritas non-Betawi. Foke sendiri, berayah kandung dari Malang (Jawa Timur), sementara isterinya adalah gadis Klaten kelahiran Semarang, anak Soedjono Hoemardhani, tokoh Kejawen jaman Soeharto. Nachrowi atau Nara, cawagub Foke, berorangtuakan dari kawasan Tegal (Jawa Tengah). Mereka sendiri adalah potret kaum urban.
Membicarakan kepemimpinan, yang berujung pada pelayanan, dengan menautkan pada daerah asal dan agama asal, adalah sebuah blunder, karena Allah sendiri berfirman bahwa inti persoalannya ialah apa yang diperbuat manusia itu sendiri.
Jika kita mau lebih tajam lagi; Kita boleh membandingkan ayat yang mengatakan harus pemimpin yang seiman, namun bagaimana jika manusia satu kaum dan satu iman itu tidak berhasil memproduksi manusia yang memenuhi kriteria dan kapasitas itu? Apakah cukup dengan dalil sepintar-pintar kaum lain masih lebih baik sejelek-jelek kaum sendiri? Bagaimana dengan ijhtihad yang dibolehkan, bahwa jika tak ada di antara kaummu maka pilihlah kaum lain, sebagaimana dibukakan apresiasi kita pada dalil yang membolehkan munculnya tokoh lain, biar pun dia non muslim (tapi bermanfaat), dan di sanalah sistem demokrasi dipertahankan?
Ada masalah darurat di situ yang dibolehkan. Pertanyaan untuk kaum Islam, sebagai mayoritas, kenapa bisa terjadi sesuatu yang darurat sifatnya?
Jadi apa kerjamu selama ini? Karena tidak bisa memproses, melakukan pendidikan secara induktif, maka kemudian kau mengancam-ancam, dengan sorga dan neraka? Alangkah mudahnya kerjamu di dunia, sekiranya kita bandingkan bagaimana Muhammad menjadi begitu gagah justeru karena ia lembut dan argumentatif?
Jika boleh memprediksi, maka Foke akan menuai buah blundernya pada 20 September 2012 itu. Karena sesungguhnya yang sedang dinilai bukanlah ia Betawi atau bukan, Islam atau bukan, melainkan ia becus atau tidak bekerja sebagai gubernur. Bukan soal lain-lain.
Jika pun siapa yang menginginkan Jokowi tidak naik dengan menyodor-nyodorkan ia bukan Betawi dan bukan Islam (misalnya), rasa-rasanya hal itu dilakukan karena mereka percaya agama bersifat dogmatif dan normative, yang bisa mengikat siapapun untuk mematuhi hal ini. Dalam hal agama mungkin iya, namun dalam hal politik, ini adalah daerah ideology yang berbeda domainnya. Setidaknya, dua kali menyebut perolehan PKS dalam pilkada 2007 (yang mencapai 42%) dengan 2012 yang hanya mencapai seperempatnya itu, mesti dilihat sebagai betapa tidak selalu cerdasnya kalkulasi politik yang bersifat elitis itu (baik dari elite partai maupun para ulama, dan bahkan pengamat politik dari lembaga survey).
Menyebut Betawi identik Islam pun juga meragukan, karena di Kampung Sawah (Bekasi), etnis ini menganut beragam agama, seperti Katholik dan Kristen Protestan, bukan hanya Islam.  Dan itu telah terjadi berpuluh-puluh tahun lampau.
Namun sekali lagi juga perlu diingatkan, kecenderungan memasang unsur kedaerahan Betawi dalam cagub Jakarta, adalah juga sebuah blunder yang memprihatinkan. Karena apa? Karena etnis Betawi mayoritas kini justeru berada di luar Jakarta, dan tentu saja tak memiliki hak suara.
Bagaimana mengurus Jakarta? Tentu saja ialah menjadikannya sebagai daerah khusus Ibukota. Tempat berpusatnya aneka ragam suku dan budaya Indonesia, ia adalah Indonesia mini. Ada pun dalam kepentingan “kebudayaan” dan “etnis” Betawi, disitu kebijaksanaan berlandaskan kebudayaan bisa dilakukan oleh siapapun gubernurnya, tanpa harus ia dari etnis Betawi atau bukan. Karena jika kita meyakini Foke adalah “satu-satunya” putera daerah (Betawi) yang menjadi gubernur Jakarta, toh tetap saja keterpinggiran dan ketergerusan kelompok Betawi ini tetap terjadi. Bahkan keberpihakan Foke pada kelompok modal di Jakarta, lebih kencang lagi dalam mengguyur kelompok masyarakat Betawi ini ke pinggir dan makin tidak kompetetif.
Dari sisi ini, isyu SARA yang dilemparkan ke public, hanyalah dalam konteks dan kepentingan memenangkan pasangan cagub Foke-Nara, lebih karena tak adanya senjata lain yang dimiliki dari timses pasangan ini. Sentimen yang dimunculkan, lebih karena kekhawatiran pada para pihak yang akan “dirugikan” jika pilkada itu menghasilkan pemimpin yang baru. Artinya, isyu agama atau etnisitas, hanyalah pakaian kedodoran yang makin menunjukkan ketidakkokohan jiwa dan tubuh pemakainya.

Jakarta, Agustus 2012
Sunardian Wirodono