Minggu, Agustus 26, 2012

Jokowi-Ahok, Pertarungan pada Parpol bukan Foke-Nara


Oleh Sunardian Wirodono

Tentu saja kita tahu, bahwa Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) dan Ir. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), keduanya diusung oleh PDI Perjuangan dan Gerindra dalam pilkada DKI Jakarta 2012.
Namun, sosok Jokowi dari Solo, dan juga fenomena Ahok dari Belitung, tampaknya mampu membebaskan keduanya dari simbolisasi partai. Bahkan, personalitas Jokowi dan Ahok jauh melampaui kedua partai pengusungnya, dan lebih khusus lagi hal itu melampaui sosok sang pertahana Dr. Ing. H. Fauzie Bowo, apalagi Nachrowi Ramlie.
Itu yang menyebabkan Jokowi-Ahok menjadi top-idolatry, yang baju kotak-kotaknya merambah ke seluruh Indonesia, meski dipasaran berharga cukup mahal mencapai Rp 300-400 ribu. Bukan saja dari anak-anak yang tidak mempunyai hak pilih, melainkan bahkan ke berbagai lapisan masyarakat di luar yang ber-KTP DKI Jakarta.
Ghirah semacam itu, sesuatu yang melesat di luar batas-batas teori kenormalan para pengamat dan pelaku politik, yang berkutat dengan asumsi dan angka-angka. Biasanya hal itu sesuatu yang sulit untuk direkayasa.
Sudah pada ghalibnya, calon incumbent yang tidak mempunyai prestasi menonjol, akan kesulitan membendung melejitnya sang penantang. Apalagi jika sang incumbent ini pun tidak mempunyai cukup amunisi untuk “menghabisi” lawan. Yang ada kemudian hanyalah kemarahan dan kelinglungan, karena serangan-serangan yang dimuntahkan menjadi tidak proporsional.
Meski tidak mengakui bahwa serangan itu merupakan rancangan tim incumbent, namun munculnya berbagai statement verbal dari orang-orang partai pendukung incumbent tampak, bahwa itulah material dan tema utama mereka. Menyerang dari sisi suku dan agama. Ahok dianggap sisi paling lemah dari Jokowi yang tak terelakkan, tanpa melihat bagaimana dulu Ahok sebagai bupati dari Belitung, yang sangat didukung dan dicintai oleh masyarakatnya yang mayoritas muslim (karena kepemimpinannya oleh para ulama setempat dinilai sangat islami).
Menggarap isyu SARA di Jakarta, sungguhlah konyol. Menganalogikan mayoritas penduduk Indonesia Islam (bahkan dalam jumlah Islam terbanyak di dunia) dengan kepatuhan “keislaman”, tidak relevan sama sekali. Karena Islam sebagai ideology, bukan sesuatu yang bulat, dari sejak adanya mazhab-mazhab dan bahkan kini sampai pada pertentangan garis keras dan garis lunak, sampai pada munculnya fenomena fron-fron pembela keislaman dengan konflik-konflik kelompok yang mencoba menyingkirkan Ahmadiyah dan kemudian Syiah. Bahkan, untuk soal penetapan Ramadhan dan Syawal sendiri, kita melihat ambivalensi antara mazhab agama dan Negara.
Berbagai rilis lembaga survei belakangan ini, satu suara menyebutkan elektabilitas partai Islam turun. Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan, hal itu semakin menegaskan partai Islam tidak akan menjadi partai pemenang Pemilu.


"Dalam sejarahnya, partai Islam tidak pernah bersatu, apalagi pada masa Orde Baru hanya satu partai Islam, yakni PPP, tapi banyak faksi dan friksinya," ujarnya (jaringnews.com,  22/8/12).

Masyarakat tidak pernah menginginkan partai agama yang menjadi partai penguasa. Masyakat Indonesia mayoritas beragama Islam tapi dalam partai mereka lebih memilih sekuler, ketimbang agama.

Meski penganut agama Islam mayoritas di Tanah Air, masyarakat cenderung tidak menginginkan hukum Islam atau syariat Islam diterapkan di Indonesia.

"Mereka lebih nyaman dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945. Ketimbang penerapan hukum Islam," demikian tutur Asvi.
Sementara jika isyu yang dipakai adalah kesukuan, jauh lebih celaka lagi, karena dalam hampir sejarah populasi penduduk di ibukota Negara mana pun (kecuali Timur Tengah, mungkin), taka da kebudayaan yang dominan. Jika pun Jawa sebagai mayoritas di situ, maka kebudayaan yang lebih kental adalah kebudayaan kaum urban, yang relative lebih cair, terbuka, cosmopolitan. Sekali pun kaum urban di Jakarta memiliki karakter yang  berbeda dengan kaum urban di kota-kota dunia yang struktur masyarakat dan ekonominya mapan.
Mayoritas masyarakat Jawa, tentu mempunyai kaitan emosionalitas, psikologis, dan personal dengan Jokowi, dan itu tak terbantahkan.
Pada sisi itu saja, maka berbagai himbauan ulama, ustad, tokoh agama, pemimpin politik formal, untuk tidak memiliki Jokowi-Ahok dengan argument-argumen demagognya, tidak akan sangat berpengaruh.
Kaum apatis dan golput boleh saja mengatakan bahwa; “Siapapun gubernurnya, taka da ngaruhnya”, namun sama seperti ketika seseorang menonton sepakbola antara Barca dan Madrid, apa kepentingan kita atas kemenangan dan kekalahan satu di antaranya? Taka da, kecuali factor-faktor psiko-sosiologis yang nyambung antara masyarakat pendukung dan yang didukungnya.
Menakar tebal-tipis hal yang terakhir itu, yang biasanya tak bisa dilakukan oleh siapapun yang sudah terkontaminasi kepentingan. Contohnya, rontoknya semua lembaga survey, yang dulunya mengunggulkan Foke-Nara.
Ada yang patut dicermati di sini. Jika para pengamat dan praktisi politik selalu mengaitkan Pilkada DKI Jakarta 2012 ini dengan Politik Indonesia 2014, masyarakat sipil pendukung Jokowi-Ahok justeru berangkat dari tesis berbeda, yakni ingin berunjuk rasa pada kekuatan kartel politik, yang selama ini mengkhianati daulat rakyat.
PDI Perjuangan dan Gerindra tidak bisa menafikan ini, kecuali keduanya juga ingin sama bodohnya dengan partai-partai yang mendukung Foke-Nara.
Artinya, jika Jokowi-Ahok mampu dimenangkan oleh pendukungnya pada 20 September mendatang, maka itu warning penting dan genting bagi para elite politik, untuk melakukan pertaubatan nasional. Dan itu saatnya, rakyat menyodorkan surat kontrak politik yang tidak akan memberikan keleluasaan, bagi para politikus tanpa reserve.
Pertarungan terpentingnya, bukan antara Jokowi-Ahok melawan Foke-Nara, namun justeru lebih pada kaum elite partai-partai politik itu sendiri.

Seandainya Bumi Hanya Dihuni 100 Orang Saja





















Sungguh menarik membayangkan jika bumi hanya dihuni oleh 100 orang saja. Cobalah hitung model para ilmuwan demografi, jika seluruh populasi penduduk bumi tinggal dalam satu desa, dan disusutkan hingga menjadi tinggal 100 orang, dan jika seluruh perhitungan rasio kependudukan masih berlaku, seperti inilah kira-kira profil desa bumi tersebut:
Berdasar analisa Philip M. Hartner, MD dari fakultas kedokteran Stanford University Amerika Serikat, maka ditemukan komposisi sebagai berikut :


Dari Perbandingan Suku Bangsa, maka bumi akan dihuni oleh;
#57 orang Asia,
#21 orang Eropa,
#14 orang dari bagian bumi sebelah barat dan
#8 orang Afrika

Dari Perbandingan Jenis Kelamin :
#52 orang perempuan
#48 orang laki-laki

Dari Perbandingan Warna Kulit:
#20 orang kulit putih,
#80 orang kulit berwarna

Dari Tingkah Laku Seksual:
#89 orang heteroseksual,
#11 orang homoseksual

Dari Kekayaan dan Kesejahteraan:
#6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan ke enam orang tersebut berasal dari Amerika Serikat,
#80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak memenuhi standar,
#70 orang tidak bisa membaca,
#50 orang menderita kekurangan gizi,
#1 orang hampir meninggal,
#1 orang dalam kondisi hamil,
#1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi,
#1 orang mempunyai komputer.

Sekarang mari kita renungkan analisa Hartner, dan simak hal-hal berikut ini :

*Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca; maka Anda adalah bagian dari kelompok terpilih dan lebih kaya dari 75% penduduk bumi yang lain.
*Jika Anda memiliki rumah yang baik, memiliki banyak makanan, dapat membaca, memiliki computer; maka Anda adalah bagian dari kelompok elit.
*Jika Anda bangun pagi ini dan merasa sehat; Anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak dapat bertahan hidup hingga minggu ini.
*Jika Anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksaan, atau kelaparan; Anda lebih beruntung dari 500 juta orang yang lainnya.
*Jika Anda dapat menghadiri pertemuan politik, ikut kampanye, menjadi caleg, diskusi dan pertemuan keagamaan tanpa merasa takut ditangkap, disiksa, dikucilkan; Anda lebih beruntung, karena lebih dari 3 milyar penduduk bumi tidak dapat melakukannya dengan bebas.
*Anda juga mungkin termasuk anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya dunia; jika Anda sekarang ini memiliki uang di dompet, di bank dan mampu membelanjakan sebagian uang Anda untuk makan di restoran.
*Dan jika Anda membaca pesan ini sampai selesai, maka Anda baru saja mendapatkan karunia ganda. Yakni, karena seseorang memikirkan Anda, dan Anda lebih beruntung dari 2 milyar orang yang tidak dapat membaca sama sekali.

Selasa, Agustus 21, 2012

Lebaran, Memandang dari Sisi Negatif


Persoalan klasik dalam setiap Lebaran adalah soal arus mudik dan arus balik. Dan persoalan yang juga klasik dalam hal ini, ialah sikap yang sama sekali tidak berubah. Terutama kritik pemerintah, para cerdik pandai, para elite kita, dan para “sosiolog Lebaran”, yang itu-itu saja. Kritik kepada kaum pemudik di seluruh Indonesia Raya ini, contoh klasiknya ialah kritik soal konsumerisme, menghambur-hamburkan uang selama Lebaran, mudik dengan sepeda motor atau moda transportasi apapun yang tidak sesuai dengan norma-norma atau kriteria kaum mapan yang mampu membeli mobil atau bahkan pesawat pribadi misalnya, kemacetan nasional di mana-mana, dan berbagai kritik tentang hal-hal “negatif” dalam berlebaran itu.
Adanya arus mudik (dan arus balik), tentu saja tak bisa dilepaskan dari soal urbanisasi. Dan menyangkut soal ini, tentu berkait dengan persoalan distribusi atau soal sirkulasi duit nasional kita, yang dari semenjak berdirinya Orde Baru, tak pernah beranjak dari sekitar 70% berputar di Jakarta dan sisanya ke daerah-daerah (yang kini berjumlah 33 propinsi).
Meski sudah ada UU Otonomi Daerah, yang juga mengatur tentang pembangunan dan roda ekonomi daerah dalam prinsip desentralisasi, namun pada praktiknya, pemerintah pusat tetap saja tidak mau melepaskan total dan mengaturnya dengan berbagai PP serta kebijakan pusat mengenai hal itu. Sehingga pusat (entah kementerian maupun bahkan kini DPR-RI) bisa sangat berperanan dalam pengucuran anggaran pusat ke daerah. Belum jika hal itu ditambah dengan perilaku korup para pengampu kepentingan ini, yang mencoba mempertahankan sistem sentralisasi itu.
Jika daerah bisa memenuhi dan menyerap SDM atau tenaga kerja yang melimpah di daerahnya, maka tentu urbanisasi tidak sedahsyat di Indonesia, yang hampir memenuhi semua sektor kehidupan. Urbanisasi di Indonesia sangat tidak sehat karena meliputi pekerjaan-pekerjaan non-skill yang semestinya hal tersebut bisa ditampung di daerah-daerah. Karena itu, sejak jaman Ali Sadikin dikatakan bahwa Jakarta adalah kampung besar, yang perilaku penduduknya (sebagai warga kosmopolitan, tak berbeda jauh dengan keadaban dari kampung halaman, dalam soal kebersihan, disiplin berlalu-lintas, dan berbagai life style mereka).
Pernahkah pemerintah, dan juga para sosiolog amatiran mendata, berapa jumlah kaum urban di Jakarta yang selalu menjalankan ritual mudik ini? Punyakah mereka data komposisi pemudik dengan jenis moda transportasi masing-masing, berapa pengguna sepeda motor, kereta api, bis, pesawat, kapal, dan lain sebagainya? Tidak pernah ada data mengenai hal itu, bahkan dalam 10 tahun terakhir ini. Yang ada, tetap saja kritik itu-itu juga dari mereka pada kaum urban ini.
Pemandangan arus mudik dan arus balik yang serupa, bisa dilihat pada beberapa Negara yang tingkat ekonominya relatif tidak merata seperti di Bangladesh dan beberapa Negara Timur-Tengah. Sebaliknya, hal itu tidak terlihat pada Negara-negara dengan tingkat pemerataan ekonomi yang lebih baik.
Mengapa akar persoalan ini tidak menjadi pangkal analisis sebelum menyalahkan semua hal berkait mudik dan urbanisasi itu.
Soal berlebaran dengan sepeda motor, seolah adalah sumber kebodohan dan kesalahan rakyat miskin dalam bermudik nasional. Dengan teori-teori normatif bahwa sepeda motor tidak didisain untuk jarak jauh (seolah kita adalah disainernya), sepeda motor tidak ini dan itu, dan seterusnya. Namun kita tidak pernah melihat memakai sepeda motor sebagai bentuk kritik atau protes dari rakyat yang tidak mendapatkan pelayanan umum yang baik, dari sisi transportasi kita, kondisi jalan raya kita, jaminan keamanan di tempat mereka tinggal dan seterusnya dan sebagainya. Kita tidak pernah bisa melihat, bahwa mereka yang mudik berlebaran dengan sepedamotor adalah karena mereka terpaksa (karena kalau mereka bisa beli pesawat terbang mungkin mereka akan beli).
Jangankan berpikir sampai sejauh itu, berfikir bagaimana melayani pemudik sepeda motor pun pasti males, atau bahkan sama sekali tak punya bayangan. Bagaimana misalnya (entah siapa) menyediakan kantong-kantong peristirahat per berapa kilo meter dari titik pusat Jakarta, dengan membuat peta Lebaran, menyediakan layanan pos peristirahatan yang memadai, menyediakan fasilitas kesehatan, area refreshing dan sebagainya dari titik Jakarta ke berbagai titik tujuan mudik nasional itu. Pernahkah ada pemikiran itu, sehingga pemudik nasional dengan sepeda motor bisa aman dan nyaman sampai ke daerah? 
Bagaimana pemerintah antar daerah bekerja sama, mengerahkan para punggawanya, dan para mahasiswa-pelajar, calon dokter, calon insinyur, calon komandan dan lain sebagainya, membuat simpul-simpul social melayani dan mengantisipasi soal mudik ini. Pernahkah ada? Tak pernah, karena toleransi dan solidaritas sosial itu tidak pernah nyata, kecuali dalam statemen yang bersifat narsis atau ada di teks-teks iklan yang manipulatif. Bayangkan coba, dalam malam takbiran, sama-sama sedang bertakbiran pun, dua kelompok bisa bentrok hanya karena masalah sepele.
Itu semua karena tak adanya toleransi, keinginan untuk melayani atau sekurang-kurangnya mengantisipasi. Karena yang ada pada kita hanyalah menyalahkan kemiskinan, sebagai bentuk ketidakmampuan mengatasi masalah ekonomi rakyat ini.


Lebaran adalah contoh nyata mengenai karut-marutnya infrastruktur dan suprastrutur kita. Yakni pemerintahan yang cenderung tidak bertanggungjawab, karena gagalnya pemimpin yang mampu menjadi solidarity maker, problem solver. Lebih banyak “pemimpin” yang justeru merupakan bagian dari masalah, karena mereka produk dari sistem yang bermasalah. Sistem politik demokrasi kita, yang tidak lahir dari suatu proses pemahaman makna, melainkan lebih hanya sebagai pengertian formalistik
Yang lebih nyata lagi, kritik terhadap konsumerisme kaum urban atau para pemudik ini, ialah soal tingginya konsumerisme, atau penghasilan setahun hanya habis dalam waktu semingguan. Jika benar fakta ini, kenapa tak pernah ditemukan jalan keluar? Kenapa selalu dikatakan; seolah itu merupakan kebanggaan?
Penghasilan setahun habis seminggu, pastilah kondisi yang menyedihkan. Bandingkan dengan penghasilan seminggu bisa untuk hidup setahun. Tapi, itulah kenyataan sesungguhnya. Bahwa disparitas penghasilan rakyat kiyta, sangat tidak memadai. Pemerintah, dan para ahli ekonomi kita hanya asyik mengolah angka itu, namun tak pernah mampu menggerakkannya menjadi proyeksi, untuk menyejahterakan rakyat.
Karena itulah, dalam konsumerisme nasional yang tinggi itu, terdapat ironi fakta, bahwa melalui para urbanis inilah mengalir uang dari Jakarta ke daerah-daerah. Jauh melampaui kemampuan pemerintah dalam mendisitribusikan ekonomi nasionalnya. Itu artinya fakta yang tak bisa dibantah, bahwa sistem pembangunan ekonomi yang dilakukan pemerintah, yang masih sentralistis dan tidak adil itu, dengan cepat dan mudah bisa diatasi rakyat jelata, sekiranya terjadi proses pemerataan atau jual–beli secara seimbang sebagaimana dalam gairah Lebaran itu.
Kenapa kita hanya melihat sisi konsumerisme ini, tetapi tidak melihat bagaimana “cara rakyat mengritik” ketidakbecusan pemerintah dalam melakukan distribusi keuangan nasionalnya?
Sementara itu, siapapun makhluk hidup, memerlukan untuk memelihara cinta, kerinduan, dan simbol-simbol nilai yang mampu meneguhkan mereka menjadi insan-insan yang berkebudayaan. Dan Lebaran, dengan mudik atau sungkem pada tradisi dan kampung halaman, adalah sebuah katarsis jiwa yang penting dalam kehidupan yang maha-pedih ini. Karena ia memberi kesegaran, inspirasi dan motivasi baru, untuk kembali menjalani rutinitas hidup, di mana jaminan keamanan, jaminan kesehatan, jaminan masa depan, masih samar-samar diberikan oleh pemerintah kita pada rakyatnya.
Sayang sekali, kita lebih mempunyai pemerintahan yang suka mengeluh dan menyalahkan rakyatnya, sebagaimana lebih banyak sosiolog amatiran, ideolog bayaran, dan ekonom teoritis yang lebih berpihak pada pikiran-pikiran yang normatif dan formalistik.
Sementara, sebagaimana perayaan Nyepi di Bali, maka Lebaran bagi Jakarta, sesungguhnya adalah juga sebuah penciptaan ruang oase, bahwa ada satu fase udara Jakarta tiba-tiba dibersihkan dari polusi, dikosongkan dari hingar-bingar, menjadi sebuah katarsis yang mestinya mampu membuat perenungan bagi para pengampu kebijakan dalam mengambil keputusan.
Kita semua merindukan pemikiran yang out of the box, pemikiran yang imagining, yang inspiring, yang mampu menguak tabir kebesaran Allah untuk diimplementasikan dalam realitas keseharian kita dengan bahasa yang operasional.
Selamat Lebaran, selamat mencuci jiwa. Mohon maaf lahir dan batin.

Sunardian Wirodono, Yogyakarta, 3 Syawal 1433.

Sabtu, Agustus 18, 2012

Kampung Sawah, Tentang Betawi yang Lainnya

Ini mengenai etnis Betawi yang lain. Berada tidak jauh dari akses jalan tol Cikunir-Hankam, Kampung Sawah masih menyisakan secuil kesejukan suasana desa pinggiran kota. Maklum, di kiri kanan jalan utama, yang membelah kampung di Kelurahan Jati Melati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, pohon-pohon besar masih berdiri rindang.
Hanya saja, hamparan sawah, yang dulu luas, kini semakin sempit, berganti kompleks-kompleks perumahan.
Kampung di pinggiran Kota Bekasi ini menyimpan keunikan. Kampung, yang dulunya masuk wilayah Kelurahan Jatiwarna, adalah salah satu kampung Betawi di Bekasi, tetapi memiliki dua gereja tua, yang berusia lebih dari seabad. Salah satunya Gereja Katolik Santo Servatius, yang berdiri pada akhir abad ke-19 dan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Sawah.
Berdampingan dengan Gereja Kristen Pasundan ada masjid besar, yang dikelola Yayasan dan Pondok Pesantren Fisabillilah. Kekhasan lainnya, kompleks makam Katolik di Kampung Sawah berdampingan dengan makam Muslim.




Dulu, pada jaman "penjajahan", di tahun 1996 ketika masih bekerja di Indosiar, kami mendapatkan protes beberapa organisasi agama Islam, karena menayangkan acara Natal di Kampung Sawah, Pondok Gede, Bekasi, dengan tuduhan melecehkan agama. Pasalnya, dalam adegan misa gereja, ummat kristiani yang merayakan memakai baju khas Betawi, yang mereka identikkan dengan agama Islam. Padahal, sumpah mampus, demikianlah yang terjadi di sana, bertahun-tahun dengan damai.
Kampung Sawah, terletak sekitar 40 kilo meter timur Jakarta, memanglah unik. Karena di sana hampir bersandingan Gereja Kristen Pasundan, Gereja Katholik Servatius, dan Masjid Istiqamah. Dan semuanya rukun damai. Jika Idul Fitri begini, panitia perayaan Ied selalu warga yang Kristen Protestan dan Katholik, namun jika Natal, giliran warga beragama Islam yang sibuk menjadi panitia.
Ah, terbayangkan bagaimana tempat itu, beberapa tahun lampau menyambanginya. Betapa suara adzan dhuhur mengalun dengan nada mendayu-dayu, meluncur dari sebuah masjid di lingkungan Pesantren Fisabilillah. Namun beberapa menit kemudian, dari gereja Katholik Servatius, yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid, lonceng tua berdentang. Kedua tempat itu, berdiri gagah Gereja Kristen Pasundan. Di situlah segi tiga emas, titik pusat Kampung Sawah.
Jemaat Protestan, pemilik tempat ibadah ini, bisa beribadah tenang, tanpa takut terusik. Suara adzan tak terasa riuh di dalam gereja. Sebaliknya, dentang lonceng juga tak memekakkan telinga jamaah masjid. Baik adzan maupun lonceng gereja, volumenya memang diatur agar tak saling mengganggu.
Jika warga kristen atau katholik ke gereja memakai peci dan kerudung, maafkan, memang demikianlah mereka, sebagai orang aseli Betawi. Tak ada yang aneh dan unik disitu dalam konteks budaya Betawi, kecuali tentu bagi yang tidak mengerti sejarah dan tergesa berprasangka dengan identitas-identitas agama.
Kampung Sawah adalah kampung betawi pertama yang agama warganya beraneka. Sejak seabad lampau, warga setempat ada yang beragama Islam, Protestan, maupun Katolik. Gejala ini sedikit "menyimpang" dari kelaziman warga betawi yang identik dengan Islam.
Menurut Abdul Azis, peneliti pada Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama (Balitbang Depag), yang mengkaji profil kerukunan beragama di kampung tersebut pada 1996. "kerukunan beragama di Indonesia memiliki basis budaya yang lebih kokoh dibanding Eropa. "Sejarah Eropa kental pengalaman konflik antaragama," katanya. Masyarakat Nusantara tak demikian. Perbedaan agama di sini sering kali melahirkan kreasi lokal dalam mengembangkan kerukunan antar agama," ujar Master sosiologi dari Universitas Monash Australia ini menunjuk Kampung Sawah sebagai contoh.
Awalnya, hampir semua warga Kampung Sawah menganut Islam. Protestan baru hadir 1886, ditandai munculnya Jemaat Meester F.L. Anthing di bawah Perhimpunan Pekhabaran Injil Belanda. Pada akhir 1880-an perkembangan Protestan kian pesat, akibat banyaknya jemaat dari Mojowarno, Jawa Timur, dan lereng Gunung Muria, Jawa Tengah, yang hijrah ke Kampung Sawah.
Pemeluk Protestan yang mulai multi etnis itu, tahun 1895, pecah jadi tiga kelompok. Satu di antaranya memilih Katolik Roma, meski saat itu tak sadar bahwa Katolik bukan bagian Protestan. Perkembangan Katolik di Kampung Sawah itu ditandai dengan pembaptisan 18 putra setempat pada 6 Oktober 1896 oleh Pater Bernardus Scwheitz, dari Katedral Batavia.
Penganut Kristen di Kampung Sawah kemudian membentuk sistem marga, tradisi yang tak ditemukan di betawi lainnya. Misalnya, marga Baiin, Saiman, Bicin, Napiun, Kadiman, Dani, Rikin, dan Kelip. Jangan kaget bila tiba-tiba ketemu nama Musa Dani, Marthius Napiun, atau Sulaeman Kadiman.
Nama marga adalah bentukan sistem hukum kolonial. Masa itu berlaku hukum Islam, adat, dan barat. Kolonial Belanda menerapkan sistem hukum yang berbeda pada masing-masing golongan masyarakat. Bagi warga Kristen bumi putera yang hendak menikah, berlaku peraturan khusus mirip hukum sipil Barat. Mereka harus menggunakan nama keluarga ditambah nama baptis.
Antarwarga asli Kampung Sawah masih terikat hubungan kerabat. Meski agama berbeda-beda. "Ini salah satu modal terjaganya kerukunan beragama di antara kami," kata M. Encep, sang Kepala Desa. Hubungan kerabat itu tak saja berupa hubungan darah, melainkan juga melalui jalur perkawinan. Banyak terjadi kawin silang antarpemeluk agama berbeda. Ada yang kemudian melebur ke agama pasangannya. Ada juga yang bertahan pada agama masing-masing.
Pengasuh Pesantren Fisabilillah, KH Rahmadin Afif, 55 tahun, misalnya, punya saudara sepupu yang jadi tokoh Protestan dan Katolik. Persaudaraan mereka tak terganggu. "Kalau lebaran, kami biasa mengirim rantang dan saling berkunjung," kata Afif. Kakek Afif juga masih ada hubungan keluarga dengan kakek Musa Dani, 72 tahun, sesepuh Protestan.
"Kalau lebaran di sini, Anda susah membedakan mana muslim dan mana Kristen," kata Musa. Di bulan Ramadhan, Musa mengaku tak terganggu. Karena salat taraweh dan tadarus tidak pakai pengeras suara berlebihan. Jam 22.00 pun sudah selesai. "Di sini ndak ada orang yang malam-malam keliling kampung nyuruh sahur," kata Musa.
Bila ada kematian, apapun agama yang meninggal, warga serempak melayat. Mereka membantu semampunya, dan turut mengantarkan jenazah. Saat tahlilan, warga non-muslim menunggu di luar rumah. Begitu acara usai, semua bergabung mencicipi hidangan atau sekadar bercengkerama. Begitu pula ketika penghiburan. Kerabat muslim akan sabar menunggu di luar, sampai acara ritualnya selesai.

Di Kampung Sawah, penggabungan keyakinan iman dan tradisi juga berlanjut. Misal, tradisi ekedah bumi salah satunya. Tradisi tahunan umat Katolik Paroki Santo Servatius Kampung Sawah, merupakan acara tahunan yang telah berlangsung puluhan tahun lalu.
Kalau dulu Kampung Sawah masih dikelilingi sawah dan umat sebagian besar bertani, sedekah bumi identik dengan persembahan hasil panen, seperti padi dan sayur-mayur lainnya. Kini ketika zaman mulai modern, representasi rasa syukur tetap terjaga, meski mereka tak lagi bertani. Acara ini telah berlangsung puluhan tahun, sejak tahun 1996, diperingati setiap 13 Mei ini selain wujud ungkapan syukur, juga dikaitkan dengan hari pelindung paroki tersebut, yakni Santo Servatius.
Sejak 72 tahun lalu, upacara sedekah bumi pertama kali dilangsungkan di lingkungan gereja. Sewaktu Pastor Oscar Cremers OFM menggembalakan umat paroki Kampung Sawah. Kala itu, Poespasoepadma, guru dan katekis yang sangat dekat dengan umat berhasil membujuk pastor untuk memberkati panen padi umat. Misionaris asing itu pun setuju, terjadilah upacara sedekah bumi di halaman rumah Yafet Napiun dan Nias Pepe.
Awalnya sedekah bumi hanya pemberkatan panen dan pembagian sebagian panenan kepada para penderep atau orang yang membantu empunya sawah memetik padi. Seiring waktu, wujud persembahan umat beragam.
Berbagai hasil bumi lainnya seperti kelapa, durian, nangka, rambutan, singkong pun dipersembahkan. Gereja yang berada di pinggir Kota Jakarta ini, memang identik dengan budaya Betawi.
Di sana berdiam komunitas Betawi Kristen yang hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya, seperti Kristen Protestan dan Islam. Tak heran, Misa inkulturasi diiringi musik gambang kromong digelar jika bertepatan dengan perayaan Hari Kenaikan Tuhan Yesus.
Sedekah bumi tahun ini bertema "Nyok Bareng-Bareng Bersyukur dan Berbagi". Sejumlah biarawan dan Uskup Agung Jakarta, juga hadir dalam acara tersebut. Lewat acara ini umat diajak untuk berbagi segala hasil karya dan berkat. Rasa syukurnya dinyatakan dengan cara berbagi. Seusai Misa, umat menyantap makanan bersama yang disajikan dalam meja besar. Seluruh makanan yang ada tambah Albertus, dibawa oleh umat.
Berbagi dan bersyukur, wujud ini tak ditinggalkan dengan mengundang pula tokoh-tokoh Betawi setempat.
Bahkan, pengiring gambang kromong pun berasal dari berbagai agama .seperti Kristen, Islam dan Budha. Selain mensyukuri berkat Tuhan, umat dan gereja bersyukur atas kerukunan dan kedamaian, serta kesempatan gereja berdiri dan berkembang.

Ngaduk Dodol
Tradisi mengaduk dodol merupakan kegiatan yang tidak pernah punah dan menjadi primadona. Mengaduk dodok biasanya dilakukan sehari sebelumnya, mulai pukul 02.00 dini hari, dan baru ketika Misa usai paginya, setelah diberkati Uskup, dodol bisa dinikmati umat.
Ngaduk dodol ini punya makna mendalam. Proses pembuatan yang memakan waktu lebih dari 7 jam dan diaduk secara bergantian mengajarkan kesabaran, toleransi, solidaritas dan gotong royong. Albertus berharap sedekah bumi yang telah dimulai 40 tahun lalu tetap terjaga, sebab wujud keimanan dan rasa syukur hendaknya menjadi bagian dari keimanan itu sendiri.

Kampung Sawah
Kampung secara bahasa berarti desa atau dusun yang berada di perkotaan. Sedangkan sawah adalah tempat bercocok tanam. (WJS. Purwadarminta : 2003). Kampung Sawah berarti kampung yang dikelilingi areal persawahan. Jenis tanamannya pun bermacam-macam dan yang paling dominan adalah padi.
Kampung Sawah yang kita bahas merupakan perkampungan dengan gejala uniknya dalam konteks budaya Betawi. Ia adalah kampung Betawi pertama yang agama warganya beraneka ragam. Sejak seabad lalu, warga setempat ada yang beragama Islam, Protestan, maupun Katolik. Gejala ini sedikit “menyimpang” dari kelaziman warga betawi yang identik dengan ajaran Islam. Meski agama berbeda-beda, kuci kerukunan di kampung sawah, ternyata adalah kekerabatan yang tetap dijaga. Hubungan kerabat itu tak saja berupa hubungan darah, tapi juga melalui jalur perkawinan. Banyak terjadi kawin silang antar pemeluk agama berbeda. Ada yang kemudian melebur ke agama pasangannya. Ada juga yang bertahan pada agama masing-masing. ( Wikipedia Indonesia : 2006 )
Di negara Indonesia satu kampung yang sesuai dengan praktek wawasan ke-bhineka tunggal ika-an ditinjau dari sejarah agamanya, mungkin hanyalah Kampung Sawah ini, walaupun ada daerah lain yang kurang lebih sama. Karena penduduknya yang bermacam-macam agama inilah, daerah ini menjadi lahan ‘rebutan’ untuk menjalankan penyiaran agama. Bukan dari dulu jumlah tempat ibadah tumbuh dan berkembang tidak wajar di daerah ini. Didapatkan di kampung ini empat buah gereja yang berdiri megah dalam satu RT saja. Padahal dalam peraturan SKB dua menteri tahun 1969 tentang pendirian tempat ibadah minimal 100 orang untuk dapat mendirikan tempat ibadah baru. Sedang dalam surat keputusan baru tahun 2006 ini yang juga menjadi keputusan bersama menteri dalam negeri dan menteri agama, syarat untuk mendirikan rumah ibadah adalah dengan adanya minimal 90 orang penduduk beragama dalam satu daerah dengan dukungan 60 KK daerah tersebut selain tentunya mendapatkan perizinan dari pemerintah. (Situs Resmi Pemerintah Kota Bekasi : 2006).

Keadaan Geografis Wilayah Kampung Sawah

Nama Kampung Sawah sendiri menjadi sebuah jalan yang membujur dari JORR Jatiasih, tol lingkar luar Jakarta di sebelah utara hingga pertigaan KC Kampung Jati Rangga, Kelurahan Pondok Ranggon di selatan. Secara otomatis daerah ini membelah kecamatan Pondok Melati menjadi dua kelurahan, Jati Melati dan Jati Murni. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak aktivitas perdagangan dan lembaga pendidikan, hanya saja SDM pendidikan untuk daerah pelosok kampung sedikit sekali dari penduduk, khususnya muslim yang dapat melanjutkan proses hingga ke pendidikan tinggi. Sebab yang paling mendasarinya adalah faktor ekonomi. Kebanyakan dari kelompok muda masih didapatkan tidak memiliki pekerjaan alias menganggur. Sehingga dari faktor ekonomi ini menjalar ke sektor yang lain. Intensitas dakwah Islamiyah di daerah ini juga masih sangat jauh jika dibanding dengan aktivitas misi non muslim. Nasib penduduk muslim daerah ini lebih sedikit tertinggal dari daerah sekitarnya semisal Ujung Aspal Pondok Ranggon di kecamatan Jati Sampurna. Walaupun sama-sama menjadi daerah Kristenisasi, namun aktivitas dakwah Islamiyah daerah Pondok Ranggon lebih sedikit marak.
Komposisi jumlah Penduduk muslim di Kampung Sawah ini sekitar 43314 orang, masing-masing dengan perincian Islam Kristen 9736 orang, Budha 274 orang dan Hindu 164 orang. Adapun tempat ibadah yang tersedia secara resmi di dua kelurahan jumlah masjid sekitar 21 buah dan gereja 9 buah. Sedangkan jumlah Tempat Pemakaman Umum ( TPU ) ada 9 buah, masing-masing TPU GKP Kristen, TPU Protestan, TPU Katholik, TPU Islam, TPU Kecapi dan TPU Darma Asih Jaya, semuanya di kelurahan Jati Melati sedang tiga sisanya, yaitu TPU sundari, Mede dan Sendeng masing-masing di kelurahan Jatimurni dan berlaku untuk umum. (Arsip Data 3 Kelurahan).
Kampung Sawah sendiri masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai batas wilayahnya hingga sekarang. Pada awalnya Kampung Sawah merupakan suatu dusun di bawah Pemerintah desa Jati Ranggon yang mengalami pemekaran. Pemekaran tersebut terbagi menjadi 3 wilayah, yakni desa Jati Murni, desa Jati Warna dan desa Jati Ranggon.
Dulunya, Kampung Sawah zaman adalah daerah tempat pembuangan para buronan kriminal menyembunyikan diri, sebagaimana terjadi pada masa VOC (Vereenigde Oost Indische Cornpagnie, 1602 /1798 ). ( Serial Media Dakwah : September 1989 ). Keterangan tersebut agaknya layak dipercaya, sebab letak Kampung Sawah memang cukup strategis, hanya berjarak kurang lebih 40 km dari pusat kota Batavia.
Zaman dahulu transformasi utama ke Kampung Sawah hanya kuda, jarak tersebut harus ditempuh satu hari penuh dan tak ada orang yang berani menempuh perjalanan pada malam hari. Berada di Kampung Sawah terasa berada di suatu desa yang amat jauh dari Ibukota Negara. Jalan belum beraspal sehingga jalan setapak masih sangat berfungsi.
Saat ini Kampung Sawah menjadi daerah yang cukup ramai. Jalan sudah beraspal dan mobil angkutan sudah masuk, tepatnya sejak bulan Februari 1995. Pembangunan semakln terlihat, bahkan sudah didirikan perumahan DPR, Puri Gading, Bulog 3 dan perumahan-perumahan lain yang menandakan Kampung Sawah adalah daerah terbuka dan bukan lagi daerah yang terbelakang.

Data Penduduk Dan Komunitas Beragama
Untuk Indonesia secara umum berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa penduduk Indonseia, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen. Namun data-data berikutya, mencatat bahwa jumlah umat Islam anjlok drastis dari 90 persen menjadi 75 persen (tabloid SIAR : Nopember 1999 ).
Adapun untuk wilayah Bekasi, dalam tempo tiga tahun ini saja setiap tahunnya telah terjadi peningkatan pemeluk Katolik sebesar 1 persen. Sementara Kristen Protestan diperkirakan mengalami kenaikan antara 1 hingga 2 persen per tahun. Belum diketahui secara pasti apapenyebab meningkatkan penganut Katolik dan Kristen di Bekasi.
Leo Paldaeli, salah seorang penggagas dan penyelenggara Bimbingan Masyarakat Katolik, Departemen Agama, Kota Bekasi pada 3 Agustus tahun lalu, tidak membantah adanya kenaikan penganut Katolik sebesar 1 persen setiap tahun. Dijelaskan, tahun 2003 pemeluk Katolik baru mencapai 58.000 orang. Satu tahun kemudian yaitu tahun 2004, pengakut Katolik naik menjadi 67.000 orang. Lalu tahun 2005 melonjak menjadi 77.000 orang.
Pendeta Jonathan, mengklaim penganut Kristen tahun 2003 saja sudah mencapai 85.655 atau sebesar 4,93 persen dari jumlah penduduk kota Bekasi saat itu. Tentu kini jauh lebih besar lagi. Sebab gerakan Kristenisasi yang dilakukan Kristen Protestan lebih gencar. Bahkan mereka tidak segan-segan menggarap anak-anak gelandangan, fakir miskin, untuk dimurtadkan. (Suara Muslim : Oktober 2006)
Dalam bidang sosial keagamaan masyarakat kampung sawah juga mempunyai karakteristik tersendiri, yang secara fenomenologis terlihat dari wujud rumah peribadalan yang secara kuantitatif cukup kornpetitif. Pada tahun 1965, Kampung Sawah adalah kampung yang tidak mempunyai kepedulian terhadap agama. Meskipun secara resmi kaum muslimin tercatat sebagai urutan yang mayoritas, tetapi tempat ibadah yang tersedia pada waktu itu hanya sebuah mushalla kecil milik keluarga Bagung ( wafat tahun 1970-an ). Hanya satu dua orang yang taat melaksanakan ibadah. Untuk shalat Jum’at saja, mereka harus pergi ke desa tetangga yang jaraknya cukup jauh. Kepedulian terhadap agama mulai tumbuh seiring dengan penumpasan pemberontakan G.30.S / PKI. Sesudah tahun 1965, muncul semangat membangun di kalangan kaum muslimin Kampung Sawah. Mushalla kecil milik keluarga Bagung dibangun kembali dan direnovasi di atas tanah wakaf keluarga Bagung seluas lebih kurang 200 m2. Namun hal ini baru sebatas kegiatan muamalah saja, sedangkan untuk rutinitas ibadah masih sedikit dilakukan, itupun masih dipengaruhi oleh aliran kepercayaan animisme pada masa itu, seperti membakar kemenyan, menghitung hari, sesajian dan berbagai bentuk khurofat lainnya (Serial Media Dakwah : 1989).

Secara historis, umat Islam dan kristen di Kampung Sawah berasal dari satu rumpun ataupun satu keturunan. Akibatnya hubungan kekeluargaan sangat terlihat akrab, tentunya karena terikat oleh tali persaudaraan. Bahkan ada dalam satu keluarga terdapat beberapa penganut agama. Suasana demikian juga didukung oleh letak desa yang cukup terpencil, sehingga satu sama lain saling membutuhkan dan saling membantu apabila memperoleh kesusahan. Kegiatan yang saling menunjang tersebut membuat kerukunan beragama secara kasat mata cukup tercipta di Kampung Sawah.
Keadaan seperti ini sangat positif, karena dalam kondisi lingkungan yang memiliki perbedaan, apalagi dalam masalah agama, tetapi terdapat hubungan yang harmonis, rukun dan sejahtera antara masyarakatnya. Dalam konteks ini keadaan tersebut cukup membantu perkembangan daerah Kampung Sawah pada khususnya dan daerah Bekasi pada umumnya.
Adapun dampak negatifnya terutama bagi pandangan ajaran Islam adalah, adanya perkawinan campuran antara dua agama yang berbeda. Hal ini disebabkan karena mereka sangat rukun dan tidak menjadikan perbedaan agama sebagai masalah atau pemlsah antara mereka yang berlainan agama, sehingga masyarakat tidak peduli lagi dengan ajaran agama, terutama ajaran Islam yang melarang keras perkawinan antar umat beragama. Kondisi seperti ini sangat sering terjadi, misalnya suatu perkawinan antara mempelai laki-laki dan wanita yang berbeda agama. Hal ini sangat dikhawatirkan, karena satu keluarga,tetapi memiliki agama yang berbeda, tentu tidak akan menghasilkan generasi penerus Islam yang tangguh dan tlaat kepada ajaran agamanya (wawancara Ust. Iman Sutarman).
Adapun dari data Kristen menyebutkan pada tahun Yubileum (tahun peringatan) ini mereka mengaku jumlah umat Katolik Paroki Kampung Sawah mempunyai 3920 jiwa, yang terdiri atas: 1410 jiwa, suku Jawa (37%) 760 jiwa, , asal Nusa Tenggara Timur (18%) 370 jiwa, asal Tapanuli atau Batak (10 %) 220 jiwa, warga keturunan Tiongha (7%) 120 jiwa, Sunda dan Betawi non-Kampung Sawah (3%) 90 jiwa, dari suku-suku lainnya (2,5%) dan asli Kampung Sawah (20%) 670 jiwa.
Ada juga ratusan warga Katolik asli Kampung Sawah tinggal di Jakarta dan di tempat-tempat lain. Bapa Dradjat, Pendeta Gereja Pasundan yang mempunyai 700 anggota Kampung Sawah asli, malah memperkirakan bahwa jumlah orang Protestan asli Kampung Sawah, yang tinggal di luar daerah asalnya, lebih dari 700 jiwa.
Problemnya ialah, ketika ajaran formalisme agama makin menguat, maka yang kita lihat kemudian pengerasan keyakinan dengan pendekatan yang verbal dan dangkal. Kekhawatiran akan penguatan identitas-identitas ini, pada sisi negatifnya, mengundang menipisnya toleransi, dan keengganan untuk mengerti.
Namun, mewartakan betapa kebaikan-kebaikan atas kebersamaan, sering terlibas dari eforia media, yang jauh lebih suka mengeksploitasi perbedaan, yang konon selalu dijustifikasi dengan rahmat itu. Padahal, memandang perbedaan tanpa kematangan, akan menimbulkan chaos. Berita yang menyejukkan, tentang kerukunan agama di Kampung Sawah, jauh lebih menguatkan kita semuanya. Sayangnya, media yang merupakan agen kapitalis dunia, tentu saja tak punya agenda itu, kecuali mikirin keuntungannya sendiri. | Sunardian Wirodono

Jumat, Agustus 10, 2012

Seberapa Besar Nabi Adam itu?




Siapa manusia pertama di dunia? Semua pasti menjawab Adam.  Ya! Dari anak kecil hingga dewasa, tak akan membantah jika Adam adalah manusia di zaman awal penciptaan.
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu allaihi wassallam, bersabda: “Allah menciptakan Adam dan tingginya 60  dzira” (hasta).
Kemudian Allah berfirman kepada Adam: “Pergilah, ucapkan salam kepada mereka para malaikat”.
“Lalu dengarlah salam mereka kepadamu, sebagai salammu dan salam keturunanmu!’ Maka Adam berkata: “Assalamu’alaikum”.   Malaikat-malaikat Allah menjawab:  Assalaamu’alaika warahmatullah”.
“Maka semua orang yang masuk jannah (tinggi badannya) seperti Adam. Dan manusia terus menerus berkurang (ketinggiannya)”. 

(Hadits shahih Muttafaqun ‘alaihi)

Dengan dasar hadits tersebut, Hamdan al Mas’udiy, seorang lelaki warga Jeddah, Saudi Arabia, mewujudkan sabda Nabi Muhammad itu dalam wujud visual nyata.
Hadits Nabi yang menjelaskan bahwa tinggi Nabi Adam adalah 60 hasta ((1 kaki = 30 cm, 1 hasta = 1,5 kaki, jadi 60 hasta = 90 kaki =  30 meter), adalah rujukan bagi Hamdan untuk menghadirkan ukuran tubuh Bapak Manusia itu dengan membuat jahitan baju yang disesuaikan dengan sirah dari Rasulullah.
Dengan dibantu empat orang penjahit, ia membuat baju raksasa berukuran tinggi 29 meter dan lebar 12 meter.
Tujuan dari dibuatnya pakaian raksasa itu adalah agar manusia saat ini bisa mengetahui dengan jelas Nabi Adam yang  sebenarnya, walaupun Hamdan mengaku pakaian raksasa yang dibuatnya itu belum tentu persis dengan ukuran Nabi Adam yang sebenarnya.
“Saya hanya mencoba menghadirkan profil bentuk tubuh Nabi Adam sesuai dengan sirah yang digambarkan oleh Rasulullah,” terang Hamdan, dikutip waraqat.
Proyek besar itu dikerjakan Hamdan dan rekan-rekanya selama 18 hari dnegan jumlah gulungan kain mencapai 40 gulungan dan 30 ribu gulungan benang.
Panjang pakaian berwarna putih itu adalah 29 meter, lebar dua pundak 9 meter, lebar bawah  12 meter, panjang lengan 10 meter, lingkar leher 6 meter dan kerah (diameter lingkar leher) mencapai 2 meter.
Dengan menyaksikan bahu hasil rancangan Hamdan, manusia dapat mengambil kesimpulan bagaimana bentuk tubuh manusia pertama di dunia itu. Gede banget!

Selasa, Agustus 07, 2012

AGB Nielsen: Rating Palsu Televisi Indonesia?

Ibaratnya sebuah hakim , rating adalah kata penentu kemenangan atau kekalahan dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Hidup atau matinya sebuah program televisi sangat tergantung oleh angka rating yang bagus.
Kalau sebuah program televisi mendapat rating yang tinggi, maka dapat diasumsikan akan ada banyak pendapatan dari iklan yang akan masuk ke televisi tersebut. Namun sebaliknya bila rating sebuah program turun, televisi tersebut kehilangan pemasukan iklan.
Dengan demikian rating adalah TUHAN bagi para pekerja televisi. Mereka rela berjumpalitan kerja siang malam demi memperoleh angka rating tersebut. Di Indonesia ,SATU- SATUNYA jasa penyedia rating adalah AC nielsen, perusahaan dari Amerika ini praktis menjadi tumpuan utama atau MONOPOLI bagi semua stasiun televisi , biro iklan dan semua produsen pemasang iklan.

Selama 14 tahun terakhir ini AC Nielsen juga selalu berhasil menampik semua tudingan yang mempertanyakan keabsahan penelitiannya, maupun validitas data responden yang telah ditebarnya. Namun sebenarnya jaminan mutu internasional itu hanyalah lip servis semata.
Kenyataannya sungguh jauh dari tampilan make up luarnya.
Yang pertama AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia , yang
sebagian besar dari mereka adalah fresh graduated ( sebagian besar adalah lulusan statistik dan matematika ). Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar- benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia, mereka dapat lebih banyak mendapat keuntungan.
Yang Kedua dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data. Terutama data- data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata-mata.
Yang Ketiga Untuk pemilihan demografis responden rating televisi cenderung dilakukan dengan asal – asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran datanya Misalnya , untuk mengetahui berapa kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Sehingga angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada prakteknya , AC Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah.
Profil mereka sebagian besar adalah : ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain- lain. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah. Seperti musik dangdut, tayangan gosip artis, tayangan mistik, film- film hantu, dan sinetron – sinetron picisan.
Tayangan–tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC Nielsen. Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang
diambil adalah kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.
Yang Keempat Untuk pemilihan responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari
Jakarta saja.
Yang Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja per bulannya. Sehingga responden cenderung ogah- ogahan untuk menjaga integritasnya.
Yang Keenam Idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data. Agar secara psikologis , mood responden tidak mempengaruhi data
selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan.
Yang Ketujuh para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak mempunyai integritas. Dengan demikian , beberapa oknum televisi beserta oknum AC Nielsen dapat memberikan "pesanan" kepada ratusan responden sekaligus agar "memanteng " program televisi tertentu,
agar hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali
"memanteng" ( demikian sebutannya ) tiap responden meminta bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali "manteng". Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah sebenarnya bagi para stasiun televisi.

PENUTUP
Demikianlah sebersit informasi dari saya sekitar rating. Karena memang sebagai karyawan yang sudah bekerja 6 tahun disana (AC Nielsen), sudah banyak orang yang bertanya- tanya pada saya mengenai bagaimana cara rating itu bekerja, atau adakah penyimpangan didalamnya ? Dan juga karena termotivasi melihat begitu banyaknya para pekerja televisi yang sangat gigih dalam pekerjaan mereka, yang padahal selama ini para pekerja televisi tersebut tidak mengejar apapun melainkan hanya RATING PALSU !!!
Saya menjadi tidak tega melihat jahatnya skandal dan penipuan yang dilakukan orang- orang didalam AC Nielsen. Secara organisasi itu sendiri sebenarnya ia cukup baik sebagai barometer dunia pertelevisian kita agar semakin maju dan menghasilkan tayangan-tayangan yang berkualitas. Bagi ANDA yang sudah menerima pesan ini, tolonglah disebarkan terutama apabila anda mempunya teman, saudara, keluarga ataupun rekan kerja yang bekerja di televisi, biro iklan, dan media lainnya agar mereka tahu kebenaran dari apa yang mereka
usahakan selama ini!!!
Salam dari saya , Steven Sterk (nama samaran)

TANGGAPAN DARI AGB NIELSEN

Menanggapi artikel Saudara "Steven Sterk" dalam artikelnya yang berjudul "Rating Palsu AC Nielsen", rasanya banyak sekali hal yang perlu dijernihkan.
*Benarkah rating menjadi penentu hidup matinya suatu program atau stasiun TV? Apakah rating juga menjadi acuan bagi industri TV dan periklanan? Kenyataannya, rating cuma satu dari sekian banyak analisis yang dihasilkan dari Survei Kepemirsaan TV yang digunakan oleh industri dalam menjalankan bisnisnya. Dalam industri TV, penyelenggara survei kepemirsaan TVdi Indonesia adalah AGB Nielsen Media Research (bukan AC Nielsen), yang
berkantor pusat di (Italia) dan Buochs serta Lugano (Swiss), bukan di Amerika.

Survei kuantitatif ini berjalan secara berkesinambungan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di lebih dari 30 negara lainnya. Sebagai potret dari kepemirsaan TV, data yang
dihasilkan dari survei ini menjadi mata uang (currency) yang berlaku secara global sebagai nilai tukar didalam industri. Hasil dari survei ini diperlukan oleh industri untuk mengetahui jumlah pemirsa, profil pemirsa, berapa biaya dalam beriklan untuk menjangkau sejumlah pemirsa tertentu, dan sebagainya. Dengan miliaran rupiah yang dihabiskan setiap tahunnya untuk program dan iklan TV, informasi atas kepemirsaan TV tentunya diperlukan untuk mengevaluasi dan memaksimalkan efektivitas investasi tersebut.*
*Semua standar pelaksanaan survei AGBNielsen ini disusun berdasarkan panduan "Global Guidelines for Television Audience Measurement" (GG TAM), yang dipublikasikan pada tahun 1999 dan berlaku secara internasional. Standar global atas pengoperasian TAM ini penting karena semakin banyak perusahaan media, pengiklan dan agensi periklanan yang mendunia dan membutuhkan informasi kepemirsaan TV yang berstandar internasional, dimana perhitungan angka 1 rating di Indonesia sama dengan 1 rating di Italia dan Afrika, misalnya. Seiring dengan konsolidasi yang terus berjalan dalam industri periklanan TV, dan semakin banyak perusahaan yang menciptakan jejak global, kebutuhan akan riset kepemirsaan multinasional yang homogen tentunya juga akan terus tumbuh. Dengan pelaksanaannya yang berlangsung di banyak negara, Survei Kepemirsaan TV ini diawasi dan diaudit oleh kantor pusat AGBNielsen untuk memastikan compliance terhadap standar internasional yang ditetapkan sehingga segala penyimpangan yang mungkin terjadi akan segera terdeteksi.*
*Meski hasil survei ini menjadi mata uang dalam industri, informasi yang dihasilkan dari survei ini bukanlah satu-satunya acuan bagi kelangsungan bisnis penyiaran dan periklanan. Tentunya setiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan. Namun baik kualitatif dan kuantitatif merupakan metode yang bisa saling melengkapi untuk memperkaya penelitian.

**AGBNielsen sendiri memfokuskan riset kepemirsaan TV ini pada penelitian kuantitatif. Dan
penelitian kuantitatif ini tidak terkait dengan kualitas program. Tentu saja karena metodenya kuantitatif, hal-hal yang menyangkut alasan menonton untuk menggali kualitas program tidak bisa diungkap. Hasil riset ini semacam "pisau bedah" yang bisa dipilih oleh pengguna data, mau ditelan mentah2 atau mau digunakan secara bijaksana. Untuk memperkaya hasil survei AGBNielsen yang sifatnya kuantitatif, industri juga melakukan survei Kualitatif untuk mengetahui di antaranya apa yang diinginkan oleh pemirsa TV dari program TV, apa alasan pemirsa menonton program tertentu, bagaimana perilaku membeli konsumen, gaya hidup, dsb. Informasi yang tentunya tidak bisa diperoleh dari survei kuantitatif. Karena sekali lagi, Survei Kepemirsaan TV yang dilakukan oleh AGBNielsen hanya memotret kebiasaan menonton dari pemirsa di10 kota besar di Indonesia.*

*AGBNielsen:*
*Validitas data AGBNielsen bisa dibuktikan dari Tingkat Kepercayaan (Confidence Level) dan Margin of Error yang berlaku dalam dunia statistik untuk menggambarkan keterwakilan sampel terhadap populasi, dalam hal ini populasi TV. Tingkat kepercayaan yang ditolerir oleh AGBNielsen sebagai gambaran keterwakilan sampel terhadap populasi adalah sebesar 95%. Sementara Tingkat Kepercayaan sampel AGBNielsen di 10 kota besar di Indonesiaadalah sebesar 98.89%. Artinya kepercayaan bahwa sampel mewakili populasi TV hampir mencapai 100%.*


*AGBNielsen:*
*Untuk memperoleh tenaga handal profesional, tidak harus dari luar negeri.Tenaga lokal pun memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan tenaga asing. Semua tenaga yang direkrut oleh AGB Nielsen melalui proses seleksi yang sangat ketat. Khususnya mengenai keberadaan panel, bahkan statusnya pun dirahasiakan dari karyawan AGBNielsen yang tidak berkepentingan langsung dengan panel tersebut. Kerahasiaan panel ini sangat dijunjung tinggi untuk menghindari kemungkinan intervensi dari pihak-pihak lain, khususnya pelaku
industri, yang nantinya justru akan mempengaruhi survei itu sendiri. *

*Survei ini juga melalui beberapa tahapan kendali mutu (quality control/QC) untuk meminimalisir kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi. QC dilakukan sebanyak 5 kali dalam tujuh tahapan survei, yang mencakup QC pada saat Establishment Survey (untuk menentukan populasi TV), QC pada saat Rekrutmen Panel, QC pada tahap pemasangan alat Peoplemeter dan penarikan data, dan QC pada tahap produksi data. Para petugas yang terlibat di bagian operasional, termasuk petugas lapangan (Technical Field Officer), d**iko**ntrol performa kerjanya melalui standar KPI (Key Performance Indicator), di mana para petugas dengan KPI
di bawah standar akan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja.*

*AGBNielsen:*
*Survei AGBNielsen mencakup 10 kota besar, yaitu
Jakarta,
Surabaya, Medan,
Semarang
Bandung, Makassar, Yogyakarta,
Palembang
Denpasar, dan Banjarmasin.

Tingkat penyebaran panel didasarkan pada survei awal atau Establishment Survey (ES)
di10 kota tersebut untuk menetapkan dan mengidentifikasi profil demografi penonton TV. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. *

*Hal yang sama juga berlaku dalam hal penyebaran panel berdasarkan target pemirsa, misalnya Status Ekonomi Sosial, pendidikan, pekerjaan, dsb. Sama dengan penyebaran panel per area yang telah dijelaskan diatas, pembagian panel per SESjuga didasarkan atas ES. Jika dari ES tergambar bahwa populasi TV Jakarta sejumlah 19% berasal dari tingkatpopulasi yang persentasenya tentu tidak merata antara kelas atas (26%), menengah (51%), dan bawah (23%). Dengan demikian, penyebaran panel tidak bisa disamaratakan dengan proporsi masing-masing 33,3% karena yang akan terjadi nantinya justru sampel tidak mewakili populasi. Pemilihan panel ini juga tidak ada kaitannya dengan uang imbalan yang harus dikeluarkan untuk membayar para responden. GGTAM juga mengatur mengenai 'imbalan' yang diberikan kepada panel, yang bentuknya tidak berupa uang.*

*Tayangan TV tidak mendapat nilai rating dari AGBNielsen. Sekali lagi, AGBNielsen hanya memotret kebiasaan alami menonton pemirsa di 10 kota besar. Analisa terhadap data ini memang harus disikapi secara cerdas, tidak semata-mata ditelan mentah-mentah, karena data-data yang dihasilkan dari survei ini akan memberikan gambaran yang berbeda-beda antara target pemirsa yang satu dengan yang lain. Program-program yang ditonton oleh anak-anak tentunya berbeda dengan program-program yang ditonton oleh orang dewasa, sehingga untuk program yang sama, ratingnya akan berbeda berdasarkan target pemirsa yang dianalisa. Besar kecilnya rating juga sangat relatif karena tergantung pada potensi pemirsa yang tersedia pada jam tayang program tertentu. Misalnya, rating 3,7
di sore hari mungkin sudah termasuk tinggi, tapi untuk malam hari, rating tertinggi bisa mencapai 9,0 atau bahkan lebih.*

Yang Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya mendapat souvernir
senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja per bulannya. Sehingga responden cenderung ogah- ogahan untuk menjaga integritasnya.

*AGBNielsen:
Apresiasi atas partisipasi rumahtangga sebagai responden AGBNielsen diberikan dalam Bentuk poin setiap bulannya. Panel dapat memilih hadiah –yang berupa perabot rumahtangga, seperti timbangan, setrika, tea set, dinner set, kompor, blender, dsb – dari katalog AGBNielsen berdasarkan poin yang dikumpulkan. Semakin lama waktu kerjasama, semakin besar poin yang bisa dikumpulkan. Nilai nominal hadiah yang diberikan tergantung pada jumlah poin tersebut. *

*Masing-masing panel diberikan edukasi untuk menekan tombol riset ketika menonton TV (tombol khusus diberikan untuk masing-masing anggota rumah tangga, misalnya tombol 1 untuk ayah, 2 untuk ibu, dsb). Ketidakdisiplinan mereka dalam menekan tombol akan terpantau oleh tim manajemen panel, baik dalam bentuk 'uncovered viewing' (jeda waktu antara TV menyala dengan penekanan tombol riset) maupun 'lazy viewing' (TV menyala terus tanpa ada yg menekan tombol riset). Kami memberikan batasan terhadap banyaknya kepemirsaan uncovered viewing dan lazy viewing, di mana ketika levelnya di suatu rumah tangga panel melebihi tingkat toleransi, data kepemirsaannya tidak akan diproduksi lebih lanjut. Untuk mencegah hal ini terjadi berlarut-larut, tim lapangan bertugas melakukan edukasi terhadap panel. Jika re-edukasi tidak berhasil mendisiplinkan panel, maka panel tersebut akan diganti oleh panel lain dengan kriteria yang sama.*

Yang Keenam Idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data. Agar secara psikologis , mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan.

*AGBNielsen:
Lamanya sebuah rumahtangga menjadi panel adalah maksimal 2 tahun, namun penggantian panel tidak dilakukan secara serentak. Berhentinya suatu rumahtangga sebagai panel secara normal adalah 20-25% dari rumahtangga yang terpasang alat setiap tahunnya. Tidak ada penggantian yang dipaksakan dalam keadaan normal. *

*Penggantian panel diakibatkan beberapa alasan. Penggantian panel bisa terjadi secara alami karena penolakan panel rumahtangga untuk meneruskan kerjasama, panel tidak memperbolehkan semua TV-nya dipasangi alat, perubahan pada kondisi/keadaan anggota rumah tangga, pindah rumah/renovasi, dsb. Namun penggantian panel juga bisa terjadi secara paksa jika panel menolak mengikuti aturan, tidak kooperatif, tidak disiplin dalam menekan tombol handset, perangkat TV-nya rusak, dsb. Perubahan panel ini bisa terjadi sekitar 4% setiap bulan. *

*Selain itu, penggantian panel juga mungkin terjadi untuk menjaga komposisi panel balance yang disesuaikan dengan komposisi populasi TV hasil Establishment Survey terbaru.*

*AGBNielsen:*
*AGBNielsen adalah perusahaan independen yang beroperasi dilebih dari 30 negara, di mana survei ini merupakan bisnis kepercayaan. Melakukan pengukuran kepemirsaan TV berdasarkan pesanan pihak tertentu berisiko tinggi yang bisa berdampak pada kredibilitas AGBNielsen, termasuk di negara-negara lain. Hubungan tertutup dengan kelompok kepentingan ter tentu akan menimbulkan prasangka atas data yang dihasilkan, yang pada akhirnya akan mencegah penerimaannya sebagai mata uang. *

*Di lain sisi, survei ini juga menekankan azas confidentiality (kerahasiaan) atas para responden, di mana responden diminta untuk merahasiakan statusnya sebagai responden
dengan menandatangani perjanjian kerahasiaan. **Hal ini merupakan standar yang berlaku global untuk menghindari campur tangan industri terhadap responden, yang pada akhirnya berkemungkinan besar mempengaruhi kemurnian data kepemirsaan TV.*

Klarifikasi ini perlu kami sampaikan untuk meluruskan kesalahpahaman yang berlarut-larut mengenai analisa rating. Mudah-mudahan informasi ini bisa membuka mata berbagai pihak mengenai Survei Kepemirsaan TV yang dijalankan oleh AGBNielsen; dan tentunya menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi informasi-informasi yang menyesatkan.

Mohon informasi ini juga disebarluaskan pada teman, saudara, keluarga ataupun rekan kerja yang terlibat atau tertarik dengan penggunaan hasil Survei Kepemirsaan TV di dalam industri pertelevisian dan periklanan agar tidak lagi terjadi salah paham terhadap survei ini. Kami yakin rekan-rekan milis cukup cerdas dan dewasa dalam menyikapi dan menyaring informasi yang beredar.

Salam,
*Andini Wijendaru*
*AGB Nielsen Media Research*

Jumat, Agustus 03, 2012

Mencari Penulis Komedi yang Cerdas

ANDA seorang penulis komedi, sitkom, menguasai Inggris? Usia antara 25-35? Saya sungguh membutuhkan bekerja sama untuk sebuah pembuatan sitkom full-script, bukan dagelan ecek-ecek seperti para komedian dogol di televisi kita selama ini. Hubungi Sunardian di sunardianwirodono@yahoo.com.