Senin, Juli 09, 2012

Kuasa Waktu dengan Nama-nama Tertentu

"Let us always meet each other with smile, for the smile is the beginning of love," ujar Mother Teresa. Marilah kita bertemu satu sama lain dengan selalu tersenyum, karena senyum adalah awal dari cinta.
Karena menurut Eva Gabor, itu artis film sexy jaman Nyak-Babe kite mude, cinta adalah sebuah permainan yang bisa dimainkan oleh dua orang, dan dua-duanya menang.
Kalau hanya salah satu yang menang, artinya pasti ada salah satu pula yang kalah. Dan cinta bukan ajang peperangan tentu, meski ada istilah "nembak" untuk menyatakan cinta itu di jaman sekarang.
Kita diam-diam dipaksa untuk memahami take and give sebagai dua hal yang terpisah, karena begitu seringnya para motivator kapitalis membujuk kita menjadi pemenang tunggal. Padahal antara take dan give, selalu ada benang merah, atau hijau, kuning, kelabu, yang sering menghubungkan tapi sering tak terlihat. “Tidak ada kebahagiaan dalam memiliki atau mendapatkan, kata pujangga Kanada (1851-1860), katanya lagi; "Kebahagiaan hanya ada dalam memberi.”
Namun nasehat bijak itu, oleh pemahaman sekarang bisa disalahartikan, atau dilecehkan, bagaimana kita bisa bahagia dan mampu memberi, jika tidak memiliki dan mendapatkan?
Tentu saja, cara pembacaan masa kini itu karena tidak memahami filsafat logikanya. Karena kalimat kedua sebenarnya bukan me-negasi (menolak) kalimat sebelumnya, melainkan sebagai "kelanjutan dari" atau meresume dengan menaikkan maknanya. Ia mesti dipahami dalam pengertian; bahwa sebahagia-bahagianya kau memiliki dan mendapatkan, lebih bahagia lagi jika yang kau miliki dan dapatkan (dengan perjuangan dan doa) itu sebagiannya kau berikan. Lebih dahsyat lagi kalau kau bisa berikan bukan hanya sebagian, namun semuanya. Bagaimana kau bisa berikan semuanya, jika bukan orang bodoh? Tidak selalu bodoh, jika seseorang itu memiliki lebih dari yang ia dapatkan.
Itu jika kita memahami konsep kepemilikan. Karena jika tidak, “Harta benda tak membuat seseorang menjadi kaya raya. Semuanya itu hanya membuatmu menjadi lebih sibuk,” seperti dinasehatkan sang petualang Christopher Columbus (1451-1506).
Menjadikan kita lebih sibuk, namun kita bisa bilang 'i hate monday', hanya karena saking besarnya pada 'i love sunday'. Lagi-lagi, karena cara berfikir kita yang materialistik, memisah-misahkan waktu menjadi 'monday' atau 'sunday' seolah tak berhubungan. Cobalah cari hubungannya, apakah baik-baik saja atau buruk-buruk saja, dan kau akan menemu jawabnya.
Kita tak mampu menolak kemutlakkan kuasa waktu, padahal sudah kita coba pecahkan menjadi satuan-satuan waktu. Karena itu, masuklah dalam continum, proses keterus-menerusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar