Kamis, Juli 12, 2012

Kemenangan Jokowi Atas Lembaga Survey Politik Kita

Kemarin Rabu waktu coblosan, meluncur di jalanan Jakarta antara jam 14.00-20.00, sungguh menyenangkan. Melintasi kawasan Jakarta Timur, Selatan dan Pusat, tak ada kemacetan berarti. Teman saya bilang, "Ini Jokowi baru mau jadi gubernur saja jalanan lancar,..."
Di Plaza Senayan, di tengah pembicaraan serius, monitoring berita penting hari itu lewat BB masing-masing terus berlangsung, apalagi jika bukan penghitungan perolehan suara Jokowi "melawan" Foke. Fokusnya, sudah sampai pada titik kulminasi itu.
Sementara seorang teman mempunyai pendapat lain. Kemenangan Jokowi di putaran pertama, adalah perlawanan pada otoritas. Foke hanyalah sasaran antara, namun sinyal rakyat lebih ditujukan pada Demokrat, Golkar, dan utamanya LSI serta lembaga survey lainnya. Lho?
Demokrasi di Indonesia, menjadi ribet dan aneh justeru dengan adanya lembaga-lembaga survey ini. Kenapa? Karena demokrasi menurut mereka menjadi sangat predictable dan bisa disimulasikan dengan berbagai konfigurasi khayali. Dibutuhkannya manusia sebagai responden, hanya dilihat sebagai qua-data, yang bersifat check-point, namun tidak memberi tempat untuk lahirnya jawaban-jawaban yang murni. Bahkan sangat menyedihkan ketika akademisi bisa berapologetik menyatakan balik; Apa itu murni? Apa itu kemurnian? It's nonsense! Apalagi jika lembaga survey ini masuk lingkaran dari agenda setting kelompok kepentingan, lain lagi soalnya.
Dan untuk berkilah, para akademisi kita sama persis dengan kaum politisi. Punya segudang alasan, yang pada pokoknya kesalahan ada pada orang lain.
Di tengah sengkarutnya sistem kepolitikan kita, saya kira rakyat pemilih melihat sosok pribadi Jokowi, itu sebabnya sulit mencari korelasi antara partai pengusung dengan calon, sebagaimana tak kuatnya perolehan suara HNW yang dicalonkan PKS. Gerindra dan PDI-P bukanlah partai pemenang di DKI-Jakarta, namun jika Jokowi-Ahok memakai jalur independen sebagaimana Faisal-Biem, post-factum kita bisa ngomong hasilnya lain lagi.
Meski saya bukan pemilik suara dalam pilgub DKI ini, saya turut senang Jokowi menang, karena sejak semula ia sudah dikalahkan oleh lembaga survey, apalagi lembaga survey yang dibiayai Foke. Ini fakta yang menyedihkan dalam demokrasi kita.

Keterangan Foto: Tampaknya, adegan di atas itu bermakna peristiwa politik biasa saja. Namun dalam gambar, selalu terkirimkan pesan nilai. Anas Urbaningrum, yang mendukung Fauzie Bowo, tampaknya lebih banyak memproduksi sinyal negatif. (Foto: Tempo.Co).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar