Minggu, Juli 01, 2012

Antara Olga, Regina, dan Indonesia 2014

Oleh Sunardian Wirodono

Mengapa prestasi sepakbola kita tak sedahsyat Eropa? Mengapa PSSI masih saja kacau dan tak bisa melepaskan dari para bandar judi? Mungkin bisa kita perhatikan dari segi persiapannya. Atau mungkin dari zona waktunya.
Jika para pemain-pemain profesional Eropa, menjelang pertandingan mereka harus berlatih, harus ini dan itu, termasuk nanti malam ketika final Euro Cup 2012, eh, persiapan kita mah sederhana saja. Kita cukup tidur sore hari, agar bisa bangun tepat jam 02:00, untuk menontonnya full, plus jaga-jaga jika perpanjangan waktu dan adu pinalti! Soalnya bisa sampai subuh, Bo!

Itu dari sisi persiapan. Dari sisi waktu, perbedaan waktu antara Indonesia dan benua Eropa serta Amerika, membuat waktu bermain untuk sepakbola berbeda jauh. Pada saat mestinya malam itu untuk tidur, permainan sepakbola di Eropa dan Amerika justeru lagi dimulai, bahkan sering dilakukan pada dini hari.
Makanya, permainan sepakbola kita, mau pakai ILS atau ILP, biasanya sore hari dan usai sebelum maghrib, atau kalau malam paling banter bakda Isya’ dan jam 22.00 sudah bubar. Itu sesuai ajaran nenek moyang kita; Malam hari itu untuk istirahat, tidur, biar esok hari kita bangun seger dan bekerja giat. Hal itu agar kita punya waktu istirahat cukup, agar kita fresh, produktif dan kreatif pada esok harinya.
Bayangkan, nonton sepakbola dini hari sampai subuh saja, telah membuat beberapa orang ngantuk di tempat kerja. Itu baru nonton. Bagaimana kalau main sepakbola, apa tidak capek? Apa tidak hanya akan pindah tempet tidur di tempat kerjaan? Yang bener aja, deh!
Itulah antara lain sebab-musabab kenapa sepakbola kita tidak maju. Karena kalau maju, juga akan menjadi persoalan. Maju ke mana? Sekarang ini, sudah begitu banyak orang yang maju, atau maunya maju. Hanya tradisi tanam padi saja yang sampai hari ini tetap saja berjalan mundur. Padahal, kalau nanem padinya berjalan maju, pasti makin hancurlah produksi beras kita, wong dengan nanam secara benar pun (berjalan mundur itu), kita sudah impor beras kok, apalagi nanem padinya maju!
Maka, belum waktunya maju pun, sudah maju. Jadi capres saja, meski kerjaan hari ini belum beres, sudah buru-buru dicanangkan dengan ancaman siapa yang tidak setuju bakal dipecat. Emang besok mau kiamat? Emang besok sudah tak kebagian tiket, sebagaimana tiket kereta Lebaran yang sudah ludes? Emang kesanggupan bayar duit lumpur udah beres?
Memikirkan diri-sendiri, agaknya sudah menjadi ciri di jaman kiwari ini. Amanat gotong-royong yang kata Bung Karno inti dari Pancasila, tak bersisa sama sekali. Generasi kini, adalah generasi didikan Orde Baru Soeharto, yakni generasi putusnya mata rantai peradaban bangsa dan Negara Indonesia dari 1908-1955. Generasi yang dibangun dengan pragmatisme yang kapitalistik, atau kapitalisme yang pragmatis (wah, apa pula ini?).
Karena itu, ada seorang ketua umum dewan pembina partai politik, yang kebetulan jadi presiden, bisa enteng berucap; Korupsi di parpol lain lebih besar! Artinya, ia mengakui ada korupsi pula di partainya, hanya jumlah dan kadarnya lebih kecil. Saya cuma maling jam, sedang mereka maling jam sekalian pabriknya. Tapi, apakah artinya besar dan kecil dalam korupsi? Tetap disebut korupsi bukan? Dan tidak bisa disebut ongol-ongol bukan? Hayo, ngaku, bisa enggak?
Belum lagi seorang doctor di bidang agama, dalam kapasitas wakil menteri, bisa memberi pernyataan, “silakan korupsi di tempat lain, tapi jangan korupsi Alquran!” Apa bedanya dengan Olga Syahputra, yang katanya tidak ngerti agama tapi rajin shalat itu?
Bagaimana mungkin bisa muncul slip of the tounge itu? Tentulah tentu, dan tentu sekali, kita bisa berkilah, manusia sarangnya khilaf, manusiawi. Dan kita juga akan menyebut manusiawi, karena kalau mereka disebut setaniawi, bisa dikira fitnah nanti, sekali pun agak sedikit benar.
Kenapa? Karena ukuran-ukuran kita selama ini, selalu dikembalikan ke norma-norma, ke harga dasar masing-masing pribadi. Kita selalu percaya tentang konsep manusia sempurna, yang konon lebih sempurna daripada jin dan setan. Tapi, tanpa sistem yang jelas, tanpa aturan yang ditegakkan, bukan hanya Olga Syahputra yang akan jadi korban, tapi juga akan sering kita dapati anggota DPR yang bego tapi culas, jaksa dan hakim yang cerdik tapi tak amanah, polisi yang gagah berani tapi lebih cinta damai, anggota KPI yang sok moralis tapi gamang menerapkan aturan, presiden yang gantheng tapi azisgagap, ketua parpol yang cool tapi suka berendam dari makam keramat sunan ini dan kyai itu.
Sampai-sampai ada cagub yang berposter; “Pilihlah pemimpin yang dekat dengan ulama dan habieb!” Kalau yang dekat rakyat? Jangan dipilih, nggak penting! Anggota DPR dari PPP, berkait saweran rakyat untuk gedung KPK, bisa mengatakan, “Kita harus bangun ketauhidan baru, untuk menghindari pemberhalaan KPK,…” Simbol-simbol agama terus di-introdusir, namun bukan mengajak kita ke nilai hakiki agama itu sendiri, melainkan seperti seorang intel atau reserse, yang memasang sticker di pintu rumah tentang profesinya; Reserse. Hanya untuk menakut-nakuti tetangga, atau mungkin debt collector.
Kapan Indonesia Raya maju? Ya kalau mereka sudi belajar dari para petani menanam padi. Yakni mencucukkan benih dan melangkah mundur. Selama mereka mendaku melakukan regenerasi tapi tetep juga melangkah maju, kita takkan pernah sampai pada otentisitas sebagai bangsa; yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya, sebagaimana kutbah Sukarno dalam pidato Trisakti 1963 itu.
Ah, ah, pentingkah? Bukankah kita bangsa Indonesia sedang menunggu siapa yang menang, antara Spanyol dan Italia? Antara Regina dan Sean?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar