Kamis, Juli 12, 2012

Kemenangan Jokowi Atas Lembaga Survey Politik Kita

Kemarin Rabu waktu coblosan, meluncur di jalanan Jakarta antara jam 14.00-20.00, sungguh menyenangkan. Melintasi kawasan Jakarta Timur, Selatan dan Pusat, tak ada kemacetan berarti. Teman saya bilang, "Ini Jokowi baru mau jadi gubernur saja jalanan lancar,..."
Di Plaza Senayan, di tengah pembicaraan serius, monitoring berita penting hari itu lewat BB masing-masing terus berlangsung, apalagi jika bukan penghitungan perolehan suara Jokowi "melawan" Foke. Fokusnya, sudah sampai pada titik kulminasi itu.
Sementara seorang teman mempunyai pendapat lain. Kemenangan Jokowi di putaran pertama, adalah perlawanan pada otoritas. Foke hanyalah sasaran antara, namun sinyal rakyat lebih ditujukan pada Demokrat, Golkar, dan utamanya LSI serta lembaga survey lainnya. Lho?
Demokrasi di Indonesia, menjadi ribet dan aneh justeru dengan adanya lembaga-lembaga survey ini. Kenapa? Karena demokrasi menurut mereka menjadi sangat predictable dan bisa disimulasikan dengan berbagai konfigurasi khayali. Dibutuhkannya manusia sebagai responden, hanya dilihat sebagai qua-data, yang bersifat check-point, namun tidak memberi tempat untuk lahirnya jawaban-jawaban yang murni. Bahkan sangat menyedihkan ketika akademisi bisa berapologetik menyatakan balik; Apa itu murni? Apa itu kemurnian? It's nonsense! Apalagi jika lembaga survey ini masuk lingkaran dari agenda setting kelompok kepentingan, lain lagi soalnya.
Dan untuk berkilah, para akademisi kita sama persis dengan kaum politisi. Punya segudang alasan, yang pada pokoknya kesalahan ada pada orang lain.
Di tengah sengkarutnya sistem kepolitikan kita, saya kira rakyat pemilih melihat sosok pribadi Jokowi, itu sebabnya sulit mencari korelasi antara partai pengusung dengan calon, sebagaimana tak kuatnya perolehan suara HNW yang dicalonkan PKS. Gerindra dan PDI-P bukanlah partai pemenang di DKI-Jakarta, namun jika Jokowi-Ahok memakai jalur independen sebagaimana Faisal-Biem, post-factum kita bisa ngomong hasilnya lain lagi.
Meski saya bukan pemilik suara dalam pilgub DKI ini, saya turut senang Jokowi menang, karena sejak semula ia sudah dikalahkan oleh lembaga survey, apalagi lembaga survey yang dibiayai Foke. Ini fakta yang menyedihkan dalam demokrasi kita.

Keterangan Foto: Tampaknya, adegan di atas itu bermakna peristiwa politik biasa saja. Namun dalam gambar, selalu terkirimkan pesan nilai. Anas Urbaningrum, yang mendukung Fauzie Bowo, tampaknya lebih banyak memproduksi sinyal negatif. (Foto: Tempo.Co).

"Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini," demikian ujar Jean Marais kepada Minke dalam roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (1980), lanjutnya, "Tak ada cinta muncul mendadak, karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit."
Sementara lewat tokoh Dr. Martinet, Pram menuliskan, "Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bendungan bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang."
Apa guna pagi-pagi menyodorkan kutipan sastra? Saya hanya sekedar mengingat ulang nasehat jufrouw Magda Pieters kepada para akademisi atau kaum pintar Indonesia, "Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai,..." Maksudnya, hanya berakal namun dengan kepekaan nurani yang normatif saja. Selamat menempuh hidup baru!

Kenapa Doa Harus Dipanjatkan?

"Mengapa doa harus dipanjatkan?" bertanya Gus Dur.
"Karena doa tidak bisa manjat sendiri,..." jawab Gus Dur pula.
Lucu? Tampaknya iya. Namun juga yang tak kalah bermakna, joke Gus Dur itu mengandung kebijaksanaan yang sederhana saja, namun tidak ringan.
Kenapa doa tak bisa memanjat sendiri untuk naik (itu jika dibayangkan Tuhan yang menjadi target doa berada di atas)? Karena doa pada hakikatnya adalah kata-kata. Ia adalah salah satu anasir penggerak, namun bukan satu-satunya tentu. Kata Rhoma Irama, perlunya doa dan perjuangan.
Doa tidak bisa naik dan makbul menjadi kenyataan, jika hanya diharapkan semata. Ia harus diperjuangkan, harus dipanjatkan dengan perbuatan, pelaksanaan. Sebagaimana keyakinan Rendra, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, pelaksanaan doa-doa, harapan. Selebihnya? Berpasrah mengenai hasilnya.
Pasrah bukan bentuk kepasifan, melainkan penyerahan setelah kita bekerja keras menggapai, setelah berjuang, setelah berusaha, karena betapa tak berdayanya manusia dengan berbagai kemungkinan di luar kuasanya yang rahasia. Senyatanya, meski telah berjuang di jalan benar, tekun, pintar, bisa jadi gagal. Karena apa? Karena banyak faktor yang kompleks, yang tak sesederhana simulasi sebagaimana metode klasik lembaga survey.
Doa perlu dipanjatkan dengan berbagai kebaikan cara dan kemuliaan pelaksanaan untuk mendapatkan hasil. Karena kalau hanya ampuh-ampuhan doa, kita bisa bayangkan, bagaimana tim kesebelasan Spanyol dan tim Italia sama-sama berdoa meminta pada Tuhan agar bisa menjuarai Piala Euro kemarin.
Bagaimana murid-murid SD, SMP, SMA, berdoa bersama-sama, dengan dukungan para habib, agar lulus UAN, agar bisa lulus 100%, dan bagaimana hasilnya? Ada yang lulus ada yang tidak. Karena apa? Kurang ampuhnya doa? Atau kurang ampuhnya usaha?
Kita juga bisa melihat, bagaimana hampir semua kandidat yang bertarung, apakah Pilgub, Pilbup, Pilpres, semua didukung oleh kekuatan-kekuatan doa. Bahkan di Jakarta, ada kandidat yang mengajak "pilihlah pemimpin yang dekat dengan habib dan ulama", sebagai simbol nilai. Sementara fakta membutuhkan kenyataan nilai.
Itulah sebabnya, sebagaimana kata Gus Dur, karena doa tak bisa manjat sendiri maka harus dipanjatkan. Selamat memanjatkan doa, dengan tindakan.

Senin, Juli 09, 2012

Kuasa Waktu dengan Nama-nama Tertentu

"Let us always meet each other with smile, for the smile is the beginning of love," ujar Mother Teresa. Marilah kita bertemu satu sama lain dengan selalu tersenyum, karena senyum adalah awal dari cinta.
Karena menurut Eva Gabor, itu artis film sexy jaman Nyak-Babe kite mude, cinta adalah sebuah permainan yang bisa dimainkan oleh dua orang, dan dua-duanya menang.
Kalau hanya salah satu yang menang, artinya pasti ada salah satu pula yang kalah. Dan cinta bukan ajang peperangan tentu, meski ada istilah "nembak" untuk menyatakan cinta itu di jaman sekarang.
Kita diam-diam dipaksa untuk memahami take and give sebagai dua hal yang terpisah, karena begitu seringnya para motivator kapitalis membujuk kita menjadi pemenang tunggal. Padahal antara take dan give, selalu ada benang merah, atau hijau, kuning, kelabu, yang sering menghubungkan tapi sering tak terlihat. “Tidak ada kebahagiaan dalam memiliki atau mendapatkan, kata pujangga Kanada (1851-1860), katanya lagi; "Kebahagiaan hanya ada dalam memberi.”
Namun nasehat bijak itu, oleh pemahaman sekarang bisa disalahartikan, atau dilecehkan, bagaimana kita bisa bahagia dan mampu memberi, jika tidak memiliki dan mendapatkan?
Tentu saja, cara pembacaan masa kini itu karena tidak memahami filsafat logikanya. Karena kalimat kedua sebenarnya bukan me-negasi (menolak) kalimat sebelumnya, melainkan sebagai "kelanjutan dari" atau meresume dengan menaikkan maknanya. Ia mesti dipahami dalam pengertian; bahwa sebahagia-bahagianya kau memiliki dan mendapatkan, lebih bahagia lagi jika yang kau miliki dan dapatkan (dengan perjuangan dan doa) itu sebagiannya kau berikan. Lebih dahsyat lagi kalau kau bisa berikan bukan hanya sebagian, namun semuanya. Bagaimana kau bisa berikan semuanya, jika bukan orang bodoh? Tidak selalu bodoh, jika seseorang itu memiliki lebih dari yang ia dapatkan.
Itu jika kita memahami konsep kepemilikan. Karena jika tidak, “Harta benda tak membuat seseorang menjadi kaya raya. Semuanya itu hanya membuatmu menjadi lebih sibuk,” seperti dinasehatkan sang petualang Christopher Columbus (1451-1506).
Menjadikan kita lebih sibuk, namun kita bisa bilang 'i hate monday', hanya karena saking besarnya pada 'i love sunday'. Lagi-lagi, karena cara berfikir kita yang materialistik, memisah-misahkan waktu menjadi 'monday' atau 'sunday' seolah tak berhubungan. Cobalah cari hubungannya, apakah baik-baik saja atau buruk-buruk saja, dan kau akan menemu jawabnya.
Kita tak mampu menolak kemutlakkan kuasa waktu, padahal sudah kita coba pecahkan menjadi satuan-satuan waktu. Karena itu, masuklah dalam continum, proses keterus-menerusan.

Minggu, Juli 08, 2012

I Hate Monday, Karena Terlalu I love Sunday?

Untuk menjadi pemenang, apakah kita membutuhkan sebuah tangga dengan anak-anaknya, atau batu lompatan dengan banyak bebatuan? Apakah anak tangga berarti mendaki dari satu level ke level yang lebih tinggi, step by step seperti dinyanyikan NKOTB, dengan suatu proses perubahan yang bersifat akumulatif, penambahan? Dengan level yang lebih rendah yang kita tinggalkan, menjadi pondasi untuk naik ke level yang lebih tinggi?

Sedangkan batu lompatan, adakah berarti kita berpindah dari titik satu ke titik yang lain, yang satu level dan setara tingkatannya, dan kita akan memulai semuanya dari awal kembali, dalam momentum atau perluasan? Yang dengan begitu apakah kita harus menyesuaikan dari awal, semua situasi dan kondisi yang pernah kita lakukan? Semua kembali pada kita masing-masing, adakah hendak mendaki, atau melompat, atau melompat-lompat kesana-kemari dengan berbagai batu lompatan. Kata para orangtua, tergantung niatannya, tergantung kemanfaatannya bagi orang lain, atau pun jika sekiranya merugikan seseorang, hanyalah setidaknya proses bagi penyadarannya untuk mendapatkan peruntungannya yang sejati. Tidak ada rumus tunggal mengenai hidup dan kehidupan orang-perorang, demikian juga soal kemenangan atau kekalahan, kesuksesan atau kegagalan. Jadi? Meyakini diri-sendiri adalah bagian dari langkah awal untuk memulai. Sebelum Senin tiba kembali, dan kembali Senin, kemudian Senin lagi, lebih karena kita I hate Monday dan terlalu I love Sunday?



Sabtu, Juli 07, 2012

Adakah Rahasia Kebahagiaan, Jika Demikian?

Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah cahaya yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama sekali. Apalagi sampai harus memalsu lukisan, dan memakai Oei Hong Djin untuk melegitimasinya, dan membuat cerita karangan sampai perlu memalsu sebuah foto Hendra Gunawan.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit (bukan meluncurinya semata), kaki seseorang 'kan tumbuh menjadi kuat.
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.

Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap. Sungguh kasihan. Padahal sumpah, bebek goreng juga nikmat rasanya, kecuali huruf "b"-nya ilang.
Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu. Tak ada alasan Anda untuk mengklaim sebagai pemilik tunggal sembari menistakan yang lain.
Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka sebagai hakim yang suka main hakim sendiri.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke mana pun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat. Itu pun belum kalau beliau kentut.
Rahasia kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti matahari yang memancarkan sinarnya, tanpa terlebih dahulu bertanya, apakah orang-orang patut menerima kehangatannya. Hanya matahari buatan manusialah, yang membujuk-bujuk kita menjadi konsumtif, karena dari itulah ia menangguk untung.
Rahasia kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Rahasia kebahagiaan adalah membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan. Bukan dengan kekukuhan ego yang budeg-bisu setahun 'ra jejamu.
Rahasia kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya, realitasnya; Menginginkan mereka bukan sebagaimana keinginan kita. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal, bila semua bunganya berwarna ungu, sekali pun ia memukau dengan warna itu?
Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar, dan tidak pengap.
Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipil, yang remeh-temeh, yang sebenarnya bisa diselesaikan jika masing-masing sudi mengalah.
Rahasia kebahagiaan adalah, mampu menerima segala tiba. Kenyataan seutuhnya ialah kenyataan sosial dan kenyataan dalam diri kita, yang kita persepsikan sama, karena itulah karakter kita, dibangun bukan oleh nilai-nilai yang tak kita mengerti. Berdamai dengan diri-sendiri, ialah menerima kenyataan sebuah kemungkinan yang terbuka. Bukan sebuah penghentian yang memasung kita dalam kesedihan, hanya karena kita tak mau mengerti hikmah di balik semuanya.
Selamat berbahagia, di balik penderitaan hidup ini. Karena segala penderitaan, sesungguhnya juru mudi terpercaya menuju kebahagiaan, dengan mengenali dan bukan membencinya.
Adakah rahasia kebahagiaan? Tidak ada rahasia, sekiranya kita mau sedikit saja mengerti.

Jumat, Juli 06, 2012

Adakah Jalan Pintas Menuju Kebahagiaan?

Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah cahaya yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama sekali.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit (bukan meluncurinya semata), kaki seseorang 'kan tumbuh menjadi kuat.
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap. Sungguh kasihan. Padahal sumpah, bebek goreng juga nikmat rasanya.
Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.
Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka sebagai hakim.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke mana pun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
Rahasia kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya, tanpa terlebih dahulu bertanya, apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Rahasia kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Rahasia kebahagiaan adalah membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.
Rahasia kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu, sekali pun ia memukau dengan warna itu?
Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipil.
Rahasia kebahagiaan adalah, mampu menerima segala tiba. Kenyataan seutuhnya ialah kenyataan sosial dan kenyataan dalam diri kita, yang kita persepsikan sama, karena itulah karakter kita dibangun bukan oleh nilai-nilai yang tak kita mengerti. Berdamai dengan diri-sendiri, ialah menerima kenyataan sebuah kemungkinan yang terbuka. Bukan sebuah penghentian yang memasung kita dalam kesedihan, hanya karena kita tak mau mengerti hikmah di balik semuanya.
Selamat berbahagia, di balik penderitaan hidup ini. Karena segala penderitaan, sesungguhnya juru mudi terpercaya menuju kebahagiaan, dengan mengenali dan bukan membencinya. Karenanya, adakah jalan pintas kebahagiaan? Lewatilah penderitaan itu, untuk mencapainya.

Anonim, My Hero! Don't Follow the Leader

Sikap lebih dari sekedar berkata "saya bisa"; sikap adalah percaya bahwa Anda bisa.
Sikap bukanlah sekedar kondisi pikiran; sikap juga merupakan cerminan dari apa yang kita hargai. Sikap adalah lebih dari sekedar mengatakan bahwa kita bisa. Sikap adalah percaya bahwa kita bisa.
Sikap menuntut rasa percaya sebelum melihat, karena melihat berdasarkan pada keadaan dan percaya berdasarkan pada iman.
Kita berkuasa penuh atas sikap-sikap kita. Tidak ada orang lain yang berkuasa untuk mengubah sikap kita tanpa izin dari kita. Sikap kita memungkinkan diri kita lebih berdaya daripada uang, mengatasi kegagalan-kegagalan kita dan menerima orang lain sebagaimana diri mereka, dan apa yang mereka ucapkan.
Sikap lebih penting daripada bakat, dan adalah lebih penting daripada segala keterampilan yang diperlukan untuk kebahagiaan serta kesuksesan. Sikap kita bisa digunakan untuk membangun diri kita atau untuk menghancurkan kita, kitalah yang menentukan pilihan.
Sikap juga memberikan kebijaksanaan kepada kita untuk mengetahui bahwa diri kita tidak bisa mengubah peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau.
Saya yakin bahwa hidup terdiri dari 10% apa yang terjadi pada diri saya, dan 90% bagaimana saya menanggapinya. Dengan kondisi pikiran semacam itu, saya tetap berkuasa atas sikap saya.
Don't follow the leader, karena Andalah pahlawan itu. Sikap adalah suatu pilihan! | Anonim, My Hero!, 2004, Sunardian Wirodono

Kamis, Juli 05, 2012

Menjadi Manusia Pelengkap Penderita

Dalam persahabatan, dan juga lingkaran-lingkaran kehidupan lainnya, selalu saja ada manusia tengah dan pinggiran. Engkau ada di manakah? Yang menggerakkan atau digerakkan?
Tidak selalu persoalannya mana lebih penting, karena ada saatnya juga perlu menyadari, bahwa masing-masing mempunyai peran, masing-masing mempunyai pilihan. Dan masing-masing membawa konsekuensi atau resiko, sebagaimana masing-masing menuntut konsistensi dan penghayatan peran.
Dalam sebuah arus putaran, dari suatu lingkaran, ada as atau poros, namun ada sumbu-sumbu, jeruji, yang menghubungkan dengan seberapa jauh lingkar luar yang hendak diraihnya.
Pola pikir kita yang inginkan menjadi pusat segala, menjadi poros dari perputaran, menyingkirkan pemahaman kita akan perlunya organisme, suatu kesatupaduan yang saling, dan kita susah untuk menjadi organize, susah untuk bekerja sama serta saling dukung, karena semua ingin peran yang satu.
Pola hubungannya kemudian pada struktur kepentingan dan kekuasaan. Mencoba pengaruh-mempengaruhi, dan kalau perlu lakukan dengan dalil-dalil kuasa itu, merebut atau menindasnya. Hingga akhirnya muncul korban-korban, dan pengesahan akan piramida manusia, ada patron dan klien.
Orientasi dan juga proyeksi kehidupan kita, dibelenggu dengan pemahaman-pemahaman mengenai kesuksesan, kemenangan, dan kemutlakan. Namun, celakanya, sama sekali kita hanya lebih melihat pada tujuan akhir, bukan pemahaman atas semua proses yang mesti dilakoni. Itu sebabnya, perlahan kemudian sepanjang pragmatisme Orde Baru Soeharto selama 32 tahun, semuanya menjadi sistemik, dan masuk dalam bawah sadar sikap kita. Pendidikan kita, di segala sektor dan jenis, selalu lupa mengajarkan tentang kesatuan organis itu. Kita hanya diiming-imingi menjadi pemenang, tetapi tidak pernah diajari bagaimana cara meraih dan menggunakan kemenangan.
Strategi kemenangan kita, diambil alih oleh sekolah, kursus, lembaga survey, konsultan ahli, dan kemudian di-ekstrak menjadi pil ajaib, yang harus dibeli tentu. Untuk menjadi pemimpin, bupati, gubernur, presiden, tidak bagaimana berproses menjadi, melainkan cukup menyewa konsultan politik dengan rumus-rumus dan strategi pemenangan. Untuk lulus sekolah, bukannya berproses memahami, melainkan menguasai cara belajar yang efektif dan efisien, sampai pada pemikiran bagaimana cara mendapatkan kunci jawabannya, bussines as usual.
Apa yang terjadi sekarang ini, tentang pejabat yang lebay tapi korup, tentang pemimpin yang wangi tapi majal, tentang rakyat yang penuntut tapi letoy, adalah buah dari benih yang ditanam dalam pikiran-pikiran pendek itu.
Jika kita merindukan perubahan, tentu saja harus berubah. Bagaimana cara? Berhimpunlah, dalam mimpi yang saling mendukung. Dalam kesatuan organis, yang jika tak bisa kita teladani dari para orangtua yang mabuk kepayang, mesti dicari dari keyakinan diri kita sendiri. Seberapapun dan sebetapapun. Agar kita bukan sekedar jadi manusia pelengkap penderita.
Mau di tengah atau di pinggir, yang lebih penting adalah penghayatan kualitas peran. Sekali pun kita tahu, presiden yang buruk selalu lebih mempesona, daripada tukang sapu jalanan yang menjalankan tugasnya dengan baik dan benar.

Rabu, Juli 04, 2012

Dongeng tentang Orangtua Gila

Syahdan, di provinsi Shandong, China, tepatnya di kota Qingzhou, terdapat sebuah legenda kuno. Pada jaman dinasti Ming, terdapat sebuah desa yang disebut desa Tang, yang berbatasan dengan Lie dan Yuan.
Seluruh penduduk di desa itu bermarga Tang. Mereka hanya terdiri dari 30 keluarga, dengan mata pencaharian sebagai petani.
Mereka hidup makmur, namun seluruh penduduk desa ini agak egois. Tak peduli orang disekeliling, dan kualitas moral mereka sangat rendah.
Pada suatu pagi buta, desa ini dikunjungi seorang tua gila. Di atas pundaknya memikul cangkul, di depan dadanya juga terdapat sebuah cangkul. Mulutnya tidak berhenti berteriak, “Kebakaran, kebakaran besar, coba lihat apakah kobaran api yang sangat besar ini? Di depan api besar, di belakang api besar,...”
Orangtua itu sepanjang pagi berteriak, gayanya sangat teatrikal, sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri membaca puisi dengan bir. Namuni tak ada seorang penduduk desa pun memperdulikan. Mereka beranggapan orangtua itu hanya sosok orang gila.
Ketika orangtua ini hendak pergi dari desa itu, dia berjalan melewati sebuah rumah. Kebetulan tuan rumah sedang memasak air untuk membuat teh. Melihat orangtua gila ini melewati pintu rumahnya, ia berkata, “Hai, orangtua, Anda kelihatan capek. Jangan berteriak mulu, cepatlah masuk, minum teh dan melepaskan lelah!"
Orangtua gila ini tanpa segan lagi, masuk dan duduk. Mereka berdua mulai mengobrol. Terlihat kemudian, setelah mengobrol ngalor-ngidul, bahwa orangtua itu sama sekali tidak gila. Bahkan tampaklah ia berpendidikan, sopan, serta orang yang berkecukupan.
“Di desa ini hanya keluarga kamu yang baik," berkata yang disebut orangtua gila itu, "saya melihat di desa ini besok akan terjadi kebakaran besar. Saya khusus datang menyelamatkan orang. Jika engkau percaya kepada perkataan saya, besok pagi bawalah seluruh anggota keluargamu serta harta dan bahan makanan. Segeralah meninggalkan tempat ini. Jika tidak, akan terjadi bencana besar yang tidak ada seorangpun bisa hidup,..”
Setelah berkata demikian, orangtua gila itu meninggalkan desa tersebut.
Atas hal itu, orang yang menjamu orangtua gila itu, mengajak para saudara dan tetangganya, untuk pergi meninggalkan desa. Namun tak satu pun yang percaya. Bahkan ia pun dikatakan telah pula gila dibuatnya.
Keesokan harinya, keluarga ini membawa seluruh anggota keluarga beserta bekal makanan dan barang-barang yang bisa dibawa.
Benar saja, ketika mereka keluar dari desa itu, terjadi kebakaran besar. Asap hitam menutupi seluruh desa. Api berkobar sangat besar. Seluruh desa beserta isinya hangus terbakar.
Akhirnya keluarga itu berjalan ke sebelah barat, dan sampailah ke desa Suiji.
Mereka menetap di Suiji, melanjutkan hidup dan meneruskan mata pencaharian mereka dengan cara bertani. Turun-temurun mereka hidup di desa ini dengan aman.
Menurut cerita, marga Tang yang tinggal di desa Suiji, adalah keturunan dari keluarga yang terlepas dari bencana kebakaran tersebut.

Indonesia, Negara Bangkrut dalam Gali Lubang Tutup Lubang

SBY masih bisa berpidato soal partai politik lain korupsinya lebih besar dari partainya. Namun sebagai presiden, ia tak bisa berkilah merupakan presiden Indonesia pembawa utang terbesar bagi negeri ini. Masalahnya, siapa yang membayar utang negara Republik Indonesia ini? Dan dalam penjadwalan utang kita, 24 tahun yang akan datang (2033) ketika posisi utang dalam negeri senilai Rp 129 trilyun akan jatuh tempo, siapa pula yang akan terkena dampaknya?

Data angka utang dari sumber-sumber resmi, menunjuk bahwa dua kali pemerintahan SBY lebih menunjukkan pada pertumbuhan utang yang paling fenomenal.
Persoalannya, besarnya jumlah utang Indonesia ternyata tidak menunjukkan korelasi signifikan terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi, yang indikatornya ditunjukkan oleh perbaikan kualitas pelayanan dasar kepada masyarakat.
Infrastruktur energi, transportasi, pendidikan, serta kesehatan kita, masih minim dan terbatas. Posisi indeks pembangunan manusia Indonesia, masih lebih rendah dibanding Thailand dan Malaysia. Begitu juga dengan daya saing dan kemudahan melakukan usaha, atau doing business, juga masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tersebut. Jika demikian, utang semakin naik tajam untuk apa?
Utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN) yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52% dari total penerimaan pajak yang dibayarkan rakyat sebesar Rp 219,4 triliun.
Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada IMF. Pelunasan sebesar 3,181,742,918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang seharusnya jatuh tempo pada akhir 2010.
Ada tiga alasan yang dikemukakan atas pembayaran utang tersebut, adalah meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak kuartal ketiga 2005 dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen; kemampuan Bank Indonesia (BI) membayar cicilan utang kepada IMF; dan masalah cadangan devisa dan kemampuan kita (Indonesia) untuk menciptakan ketahanan.
Sementara itu, sejak krisis 1997, angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Berdasar data Badan Pusat Statistik Nasional Indonesia (BPS) bahwa 17,7 persen atau 39 juta penduduk Indonesia tergolong kategori penduduk miskin. Pengangguran sebanyak 10,4 persen. Di antara 100 juta angkatan kerja menganggur, 10,5 juta pengangguran terbuka.
Saat membuka Sidang Pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pernyataan bahwa pemerintah sekarang boleh dibilang sedang bangkrut atau tidak punya cukup uang untuk membangun dan membiayai perekonomian negara ini. “Government is broke. Penerimaan pemerintah berkurang karena pajak yang masuk berkurang,” kata Presiden ketika menyikapi kondisi perekonomian Indonesia saat krisis global terjadi. Pernyataan tersebut merefleksikan kondisi ekonomi nasional yang sangat rapuh saat menghadapi krisis. Maka, jalan untuk keluar dari masalah ini adalah lagi-lagi dengan berutang?
Ada jalan lain. Maka SBY terus-menerus berseru, bagaimana pendapatan pajak bisa digenjot hingga bisa mencapai 100%. Untuk apa? Jika dilihat dari pembelanjaannya, maka porsi untuk membayar utang memang merupakan target utamanya. Dengan kata lain, pemerintahan yang berutang rakyat jualah yang harus menanggung bebannya. Mending jika utang itu untuk kesejahteraan rakyat, namun jika habis dikorupsi oleh para pejabat negara dan pemerintahan?

SUKARNO (1945-1966) | Pada akhir pemerintahan Soekarno, negara ini ternyata dibebani oleh utang. Jumlah utang itu (Republika, 17/4/2006), mencapai US$6,3 miliar, terdiri dari US$4 miliar warisan utang Hindia Belanda, dan US$2,3 miliar adalah utang baru. Utang warisan Hindia Belanda disepakati dibayar dengan tenor 35 tahun sejak 1968 yang jatuh tempo pada 2003, sementara utang baru pemerintahan Soekarno memiliki tenor 30 tahun sejak 1970 yang jatuh tempo pada 1999.

SOEHARTO (1966-1998) | Dalam pemerintahan Orde Baru, utang luar negeri dimasukkan dalam sektor penerimaan selain pajak.
Selama 32 tahun berkuasa, ciri kuat pemerintahan Orde Baru adalah sangat sentralistik dan sering disindir berasaskan “Asal Bapak Senang” (ABS) sehingga kerap membuat masalah utang negara menjadi hal yang “tabu” untuk dibicarakan. Akibatnya, pengelolaan utang negara pun menjadi sangat tidak transparan. Orde Baru “diklaim” berutang sebesar Rp1.500 triliun yang jika dirata-ratakan selama 32 tahun pemerintahannya maka utang negara bertambah sekitar Rp46,88 triliun tiap tahun.
Sampai 1998, dari total utang luar negeri sebesar US$171,8 miliar, hanya sekitar 73% yang dapat disalurkan ke dalam bentuk proyek dan program, sedangkan sisanya (27%) menjadi pinjaman yang idle dan tidak efektif. Alhasil, di masa Orde Baru, utang negara tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sistem pemerintahan yang sentralistik mengakibatkan pemerintah sulit melakukan pemerataan pembangunan berdasarkan kebutuhan daerah.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (2009) mengeluarkan pernyataan bahwa utang Orde Baru jatuh tempo pada 2009 dengan struktur utang yang jatuh tempo sepanjang tahun 2009 adalah sebesar Rp94 triliun, terdiri dari Rp30 triliun berupa utang domestik dan Rp64 triliun berupa utang luar negeri.

HABIBIE (1998–1999) | Habibie hanya memerintah kurang lebih setahun. Pada 1998 terjadi krisis moneter yang menghempaskan perekonomian Indonesia dan pada saat yang bersamaan juga terjadi reformasi politik. Kedua hal ini mengakibatkan rating kredit Indonesia oleh S&P terjun bebas dari BBB hingga terpuruk ke tingkat CCC. Artinya, iklim bisnis yang ada tidak kondusif dan cenderung berbahaya bagi investasi.
Pada masa Habibie, utang luar negeri Indonesia sebesar US$178,4 miliar dengan yang terserap ke dalam pembangunan sebesar 70%, dan sisanya idle. Terjadinya penurunan penyerapan utang, yaitu dari 73% pada 1998 menjadi 70% pada 1999, disebabkan pada 1999 berlangsung pemilihan umum yang menjadi tonggak peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Banyak keraguan baik di kalangan investor domestik maupun investor asing terhadap kestabilan perekonomian, sementara pemerintah sendiri saat itu tampak lebih “disibukkan” dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

GUS DUR (1999–2001) | Abdurrahman Wahid (Gus Dur), naik sebagai Presiden RI ke-4. Namun, pada masa pemerintahan Gus Dur kerap terjadi ketegangan politik yang kemudian membuat Gus Dur terpaksa lengser setelah berkuasa selama kurang lebih dua tahun 1999–2001. Pada masa Gus Dur, rating kredit Indonesia mengalami fluktuasi, dari peringkat CCC turun menjadi DDD lalu naik kembali ke CCC. Salah satu penyebab utamanya adalah imbas dari krisis moneter pada 1998 yang masih terbawa hingga pemerintahannya.
Saat itu utang pemerintah mencapai Rp1.234,28 triliun yang menggerogoti 89% PDB Indonesia. Porsi yang cukup membahayakan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Selain porsi utang yang besar pada PDB, terjadi pula peningkatan porsi bunga utang terhadap pendapatan dan belanja negara. Rasio bunga utang terhadap pendapatan pada 2001 meningkat sekitar 4,6%, dari 24,4% menjadi 29%, sedangkan terhadap belanja meningkat sebanyak 2,9% menjadi 25,5% pada tahun yang sama. Saat itu Indonesia dikhawatirkan akan jatuh ke dalam perangkap utang (debt trap). Pemerintahan Gus Dur mencatatkan hal yang positif dalam hal utang, yaitu terjadi penurunan jumlah utang luar negeri sebesar US$21,1 miliar, dari US$178 miliar pada 1999 menjadi US$157,3 miliar pada 2001. Namun, utang nasional secara keseluruhan tetap meningkat, sebesar Rp38,9 triliun, dari Rp1.234,28 triliun pada 2000 menjadi Rp1.273,18 triliun pada 2001. Sementara itu, porsi utang terhadap PDB juga mengalami penurunan, dari 89% pada 2000 menjadi 77% pada 2001.

MEGAWATI (2001–2004) | Pemerintahan Megawati Soekarnoputri hanya berlangsung. Namun, pada masa pemerintahan presiden wanita Indonesia pertama ini banyak terjadi kasus-kasus yang kontroversial mengenai penjualan aset negara dan BUMN. Pada masanya, Megawati melakukan privatisasi dengan alasan untuk menutupi utang negara yang makin membengkak dan imbas dari krisis moneter pada 1998/1999 yang terbawa sampai saat pemerintahannya. Maka, menurut pemerintah saat itu, satu-satunya cara untuk menutup APBN adalah melego aset negara.
Privatisasi pun dilakukan terhadap saham-saham perusahaan yang diambil alih pemerintah sebagai kompensasi pengembalian kredit BLBI dengan nilai penjualan hanya sekitar 20% dari total nilai BLBI. Bahkan, BUMN sehat seperti PT Indosat, PT Aneka Tambang, dan PT Timah pun ikut diprivatisasi. Selama tiga tahun pemerintahan ini terjadi privatisasi BUMN dengan nilai Rp3,5 triliun (2001), Rp7,7 triliun (2002), dan Rp7,3 triliun (2003). Jadi, total Rp18,5 triliun masuk ke kantong negara.
Alhasil, selama masa pemerintahan Megawati terjadi penurunan jumlah utang negara dengan salah satu sumber pembiayaan pembayaran utangnya adalah melalui penjualan aset-aset negara. Pada 2001 utang Indonesia sebesar Rp1.273,18 triliun turun menjadi Rp1.225,15 triliun pada 2002, atau turun sekitar Rp48,3 triliun. Namun, pada tahun-tahun berikutnya utang Indonesia terus meningkat sehingga pada 2004, total utang Indonesia menjadi Rp1.299,5 triliun. Rata-rata peningkatan utang pada tiga tahun pemerintahan Megawati adalah sekitar Rp25 triliun per-tahun.
Namun, terdapat hal positif lain yang terjadi pada masa pemerintahan Megawati, yaitu naiknya tingkat penyerapan pinjaman luar negeri Indonesia. Sejak 2002 hingga 2004, penyerapan utang mencapai 88% dari total utang luar negeri yang ada. Hal ini memperlihatkan bahwa pemerintah makin serius menggunakan fasilitas utang yang ada untuk kegiatan pembangunan. Keseriusan pemerintah dapat dilihat dari porsi utang terhadap PDB yang makin turun, yakni dari 77% pada 2001 menjadi 47% pada 2004. Menurunnya rasio utang terhadap PDB turut menyumbang meningkatnya rating kredit yang dilakukan oleh S&P dari CCC+ pada 2002 menjadi B pada 2004.

SBY (2004–2009) | Sistem politik yang makin solid membawa ekspektasi dan respons positif pada kondisi perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari nilai PDB Indonesia yang terus meningkat hingga mendekati angka Rp1.000 triliun pada 2009. Tingkat kemiskinan pun diklaim “turun” oleh pemerintah (meskipun sampai saat ini definisi mengenai kemiskinan masih menjadi perdebatan).
Namun, bagaimana dengan masalah pengelolaan utang negara pada pemerintahan ini? “Diwarisi” utang oleh pemerintahan sebelumnya sebesar Rp1.299,5 triliun, jumlah utang pada masa pemerintahan SBY justru terus bertambah hingga menjadi Rp1.700 triliun per Maret 2009. Dengan kata lain, rata-rata terjadi peningkatan utang sebesar Rp80 triliun setiap tahunnya atau hampir setara dengan 8% PDB tahun 2009. Utang pemerintah sebesar Rp1.700 triliun itu terdiri dari Rp968 triliun utang dalam negeri (57%) dan Rp732 triliun utang luar negeri (43%). Pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai program-program dan proyek-proyek pemerintah yang berkaitan dengan kemanusiaan, kemiskinan, lingkungan, dan infrastruktur.
Meski jumlah utang bertambah besar, dalam lima tahun pemerintahan SBY, penyerapan utang terhitung maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat penyerapan yang rata-rata mencapai 95% dari total utang. Lalu, apa implikasi dari penyerapan ini? Nilai PDB Indonesia pun makin tinggi. Apabila ditelusuri lebih jauh, selama lima tahun terakhir, rasio utang negara terhadap PDB terlihat makin kecil, hingga menyentuh 32% pada 2009.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan fakta-fakta bahwa utang makin besar, tetapi tingkat penyerapan tinggi, PDB makin tinggi, dan rasio utang terhadap PDB makin rendah? Dengan jumlah utang meningkat rata-rata Rp 80 triliun per tahun selama lima tahun terakhir, sementara nilai PDB rata-rata meningkat 6,35% tiap tahun pada 2005–2008 (dengan memakai tahun dasar 2000 sesuai data Bank Indonesia) dengan target PDB 2009 mendekati angka Rp1.000 triliun, dan rasio utang terhadap PDB makin kecil, maka dapat dikatakan bahwa salah satu faktor kunci pembangunan negara ini adalah utang. Rasio utang yang makin mengecil terhadap PDB bukanlah karena utangnya yang mengecil, melainkan karena PDB-nya yang makin membesar.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan RI, dapat dilihat bahwa pada APBN tahun anggaran 2009 terdapat kekurangan pembiayaan anggaran sebesar Rp204,837 miliar, yang terdiri dari Rp116,996 miliar untuk kebutuhan pembayaran utang (57%) dan Rp139,515 miliar untuk menutupi defisit (68%). Lalu, dari manakah sumber pembiayaan untuk menutupi kekurangan pembiayaan anggaran ini?
Lagi-lagi berasal dari utang, sebesar 99% atau Rp201,772 miliar, baik berupa utang dalam negeri maupun utang luar negeri. Jadi, boleh dibilang, Indonesia membayar utang dengan berutang alias gali lubang tutup lubang.

|Dari berbagai sumber.

Minggu, Juli 01, 2012

Antara Olga, Regina, dan Indonesia 2014

Oleh Sunardian Wirodono

Mengapa prestasi sepakbola kita tak sedahsyat Eropa? Mengapa PSSI masih saja kacau dan tak bisa melepaskan dari para bandar judi? Mungkin bisa kita perhatikan dari segi persiapannya. Atau mungkin dari zona waktunya.
Jika para pemain-pemain profesional Eropa, menjelang pertandingan mereka harus berlatih, harus ini dan itu, termasuk nanti malam ketika final Euro Cup 2012, eh, persiapan kita mah sederhana saja. Kita cukup tidur sore hari, agar bisa bangun tepat jam 02:00, untuk menontonnya full, plus jaga-jaga jika perpanjangan waktu dan adu pinalti! Soalnya bisa sampai subuh, Bo!

Itu dari sisi persiapan. Dari sisi waktu, perbedaan waktu antara Indonesia dan benua Eropa serta Amerika, membuat waktu bermain untuk sepakbola berbeda jauh. Pada saat mestinya malam itu untuk tidur, permainan sepakbola di Eropa dan Amerika justeru lagi dimulai, bahkan sering dilakukan pada dini hari.
Makanya, permainan sepakbola kita, mau pakai ILS atau ILP, biasanya sore hari dan usai sebelum maghrib, atau kalau malam paling banter bakda Isya’ dan jam 22.00 sudah bubar. Itu sesuai ajaran nenek moyang kita; Malam hari itu untuk istirahat, tidur, biar esok hari kita bangun seger dan bekerja giat. Hal itu agar kita punya waktu istirahat cukup, agar kita fresh, produktif dan kreatif pada esok harinya.
Bayangkan, nonton sepakbola dini hari sampai subuh saja, telah membuat beberapa orang ngantuk di tempat kerja. Itu baru nonton. Bagaimana kalau main sepakbola, apa tidak capek? Apa tidak hanya akan pindah tempet tidur di tempat kerjaan? Yang bener aja, deh!
Itulah antara lain sebab-musabab kenapa sepakbola kita tidak maju. Karena kalau maju, juga akan menjadi persoalan. Maju ke mana? Sekarang ini, sudah begitu banyak orang yang maju, atau maunya maju. Hanya tradisi tanam padi saja yang sampai hari ini tetap saja berjalan mundur. Padahal, kalau nanem padinya berjalan maju, pasti makin hancurlah produksi beras kita, wong dengan nanam secara benar pun (berjalan mundur itu), kita sudah impor beras kok, apalagi nanem padinya maju!
Maka, belum waktunya maju pun, sudah maju. Jadi capres saja, meski kerjaan hari ini belum beres, sudah buru-buru dicanangkan dengan ancaman siapa yang tidak setuju bakal dipecat. Emang besok mau kiamat? Emang besok sudah tak kebagian tiket, sebagaimana tiket kereta Lebaran yang sudah ludes? Emang kesanggupan bayar duit lumpur udah beres?
Memikirkan diri-sendiri, agaknya sudah menjadi ciri di jaman kiwari ini. Amanat gotong-royong yang kata Bung Karno inti dari Pancasila, tak bersisa sama sekali. Generasi kini, adalah generasi didikan Orde Baru Soeharto, yakni generasi putusnya mata rantai peradaban bangsa dan Negara Indonesia dari 1908-1955. Generasi yang dibangun dengan pragmatisme yang kapitalistik, atau kapitalisme yang pragmatis (wah, apa pula ini?).
Karena itu, ada seorang ketua umum dewan pembina partai politik, yang kebetulan jadi presiden, bisa enteng berucap; Korupsi di parpol lain lebih besar! Artinya, ia mengakui ada korupsi pula di partainya, hanya jumlah dan kadarnya lebih kecil. Saya cuma maling jam, sedang mereka maling jam sekalian pabriknya. Tapi, apakah artinya besar dan kecil dalam korupsi? Tetap disebut korupsi bukan? Dan tidak bisa disebut ongol-ongol bukan? Hayo, ngaku, bisa enggak?
Belum lagi seorang doctor di bidang agama, dalam kapasitas wakil menteri, bisa memberi pernyataan, “silakan korupsi di tempat lain, tapi jangan korupsi Alquran!” Apa bedanya dengan Olga Syahputra, yang katanya tidak ngerti agama tapi rajin shalat itu?
Bagaimana mungkin bisa muncul slip of the tounge itu? Tentulah tentu, dan tentu sekali, kita bisa berkilah, manusia sarangnya khilaf, manusiawi. Dan kita juga akan menyebut manusiawi, karena kalau mereka disebut setaniawi, bisa dikira fitnah nanti, sekali pun agak sedikit benar.
Kenapa? Karena ukuran-ukuran kita selama ini, selalu dikembalikan ke norma-norma, ke harga dasar masing-masing pribadi. Kita selalu percaya tentang konsep manusia sempurna, yang konon lebih sempurna daripada jin dan setan. Tapi, tanpa sistem yang jelas, tanpa aturan yang ditegakkan, bukan hanya Olga Syahputra yang akan jadi korban, tapi juga akan sering kita dapati anggota DPR yang bego tapi culas, jaksa dan hakim yang cerdik tapi tak amanah, polisi yang gagah berani tapi lebih cinta damai, anggota KPI yang sok moralis tapi gamang menerapkan aturan, presiden yang gantheng tapi azisgagap, ketua parpol yang cool tapi suka berendam dari makam keramat sunan ini dan kyai itu.
Sampai-sampai ada cagub yang berposter; “Pilihlah pemimpin yang dekat dengan ulama dan habieb!” Kalau yang dekat rakyat? Jangan dipilih, nggak penting! Anggota DPR dari PPP, berkait saweran rakyat untuk gedung KPK, bisa mengatakan, “Kita harus bangun ketauhidan baru, untuk menghindari pemberhalaan KPK,…” Simbol-simbol agama terus di-introdusir, namun bukan mengajak kita ke nilai hakiki agama itu sendiri, melainkan seperti seorang intel atau reserse, yang memasang sticker di pintu rumah tentang profesinya; Reserse. Hanya untuk menakut-nakuti tetangga, atau mungkin debt collector.
Kapan Indonesia Raya maju? Ya kalau mereka sudi belajar dari para petani menanam padi. Yakni mencucukkan benih dan melangkah mundur. Selama mereka mendaku melakukan regenerasi tapi tetep juga melangkah maju, kita takkan pernah sampai pada otentisitas sebagai bangsa; yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya, sebagaimana kutbah Sukarno dalam pidato Trisakti 1963 itu.
Ah, ah, pentingkah? Bukankah kita bangsa Indonesia sedang menunggu siapa yang menang, antara Spanyol dan Italia? Antara Regina dan Sean?