Minggu, Juni 10, 2012

Ketika KLB Membawa Serta Sukarno ke Jogja!



Oleh Sunardian Wirodono

Jam berdetak amat pelahan. Semuanya gelap. Jakarta gelap.
Suara tembakan sepanjang malam, bahkan juga siang, terus saja menteror.
Apalagi di sekitaran rumah Bung Karno dan Bung Hatta.
Tentara Belanda terus saja berkeliling, hampir tiada perlawanan.
Akhir tahun yang menggelisahkan.
Dedaunan rontok, hanya menyisakan sunyi-senyap. Kegelisahan.

Beberapa orang, dengan mata nanap dan mulut terkatup,
Menyusup sore yang pengap. Mengendap.
Suara adzan maghrib menyelinap di kejauhan, di lubuk hati yang rusuh.
“Bawalah Bung Karno dan Bung Hatta ke Jogja!
Minta perlindungan Raja Jogja!” Tan Malaka berbisik pada Pandu Kartawiguna.
Sementara mitraliyur NICA terus berdesing di sekitar Pegangsaan.

Waktu itu, tanggal tiga bulan Januari, pada tahun 1946,
Republik ini benar-benar masih belia, sangatlah belia.
Tapi gelora kemerdekaan di dada ini, takkan pernah ingkar.
Tiada ‘kan mundur sejengkal pun, seinci pun,
Karena di sana jembatan emas itu akan mengantarkan kita,
Sebagaimana Bung Karno berkata, di depan BPUPKI, pada 1 Juni 1945;

“Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat,
yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar,
padahal semboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan!
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka,
bahkan sejak tahun 1932, dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan
“INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan tiga kali sekarang,
Yaitu, Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!”


Terbangun dari tidurnya, Bung Karno menatap Pandu Kartawiguna,
“Tidak ada waktu lagi, Bung!” pendek saja kata pemuda bertubuh mungil itu.
Di Gondangdia, Kereta Api Luar Biasa bergerak maju-mundur,
Pura-pura langsir tepat di belakang rumah Bung Karno.
Malam mulai merayap, Bung Karno dan Bung Hatta menyelinap.
Buick Eight warna hitam dan ‘de Soto bercat kuning turut serta.

Lampu-lampu dalam gerbong dipadamkan, dan kereta berderak,
Beradu cepat dengan jantung yang berdetak. Semuanya bungkam.
Tiba-tiba, di Stasiun Manggarai, para Tentara Belanda merandek.
Mereka ini, Bung, para Tentara Belanda ini, ialah orang-orang Indonesia juga.
Hanya seragam yang dikenakannya saja yang membedakan.
Tapi lantaran gelap, kereta pun dibiarkan lewat. Mereka kira itu gerbong kosong.


Sementara itu di luar sana, peluru berdesingan, dan Tentara Belanda ngamuk,
Karena TKR menyerangnya. Siapa jadi korban? Rakyat jelata yang tiada tahu apa.
Tentara Belanda membabi-buta, memuntahkan peluru ke mana suka.
Jakarta porak-poranda. Angin pun lesi kehilangan kata-kata.
Langit hitam tohor. Tiada bintang. Kusam dan runyam.
Hanya isak tangis, merintih tertahan, menggenapkan duka-cita.

Di Stasiun Jatinegara, kereta luar biasa itu pun terpaksa berhenti.
Sepasukan Tentara Belanda merandeknya. Mereka masuk dalam gerbong, Bung!
Tapi, ini benar-benar perjalanan luar biasa. Luar biasa.
Para Tentara NICA itu tak menemukan apapun. Karena gerbong kereta gelap-gulita.
Jangankan gerbong kereta, lanskap Jakarta pun waktu itu hitam jelaga.
Tiada cahaya. Segala harapan dan kemungkinan pun seolah sirna.

Tapi ini perjalanan luar biasa, dengan kereta luar biasa.
Kereta pun akhirnya selamat, menggeblas tinggalkan Ibukota Proklamasi.
Gemeretak roda kereta menyusuri batangan besi memanjang,
Masuk menyusup dalam kedalaman malam.
Angin berdesingan seolah berlomba, beradu cepat, tiada sabar;
Jogja, wahai, Jogja!

Matahari pagi seolah pecah dalam buaian. Di Stasiun Tugu, matamu cemerlang.
Orang-orang berebut depan mengelukan, “Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Sepanjang Malioboro, rakyat berjajar melambaikan tangan, “Merdeka! Merdeka!”
Buick Eight warna hitam mulus, disusul ‘de Soto kuning kucing,
Menyusur membelah Malioboro, dan kau lambaikan tangan, “Merdeka!”
Air mata air, mengalir bening dari kelopak bunga merah dan putih merona.

Dari corong RRI Jogja, kau berteriak-teriak; “All is running well in the Republic!”
Dan mendadak sontak, Yogyakarta meledak, dari 17.000 menjadi 600.000 jiwa.
Banyak penduduk atau pengungsi dari Jakarta, Semarang, Jawa Barat, Jawa Timur
dan lain-lain, terus mengalir dalam rengkuhan Sultan Jogja!
Enam juta gulden pun mengalir dari pundi-pundi Kraton Jogja,
Untuk yang kau istilahkan perkumpulan penggarong.

Bung! Bung Karno! Masih ingatkah apa yang kau katakan dulu;
“Caranya kami bekerja jauh daripada cara suatu pemerintah yang wajar,
ia lebih mirip dengan cara suatu perkumpulan penggarong.
Kami tidak punya apa-apa. Tidak punya mesin ketik, tidak punya alat tulis,
apalagi pesawat terbang. Satu-satunya perlengkapan radio yang dapat di selamatkan
adalah barang keluaran tahun 1935,…”


Tapi, itulah Indonesia kita. Tapi itulah perjalanan luar biasa,
Kereta sejarah yang luar biasa. Dan dalam gerbong pengap gelap,
Aku tahu, kau ialah masinis. Dan hanya para NICA yang buta sajalah,
Tiada pernah melihat engkau, dalam sinar cemerlang,
Parak pagi bangsamu,
Indonesia Raya!

Yogyakarta, 6 Juni 2012

1 komentar:

  1. SELAMAT JALAN BAPAK INDONESIA, SMOGA ENGKAU TANANG DISANA

    BalasHapus