Selasa, Juni 12, 2012

Film Pertama Usmar Ismail: Sebuah Pengakuan

Saya masih ingat pertunjukan perdana di Istana Negara buat film Perfini yang pertama "Darah dan Doa" atau "The Long March". Kalau tidak salah, itu adalah pertengahan tahun 1950 dan Presiden Sukarno barulah beberapa bulan menempati Istana Merdeka.
"Darah dan Doa", mungkin adalah film Indonesia yang pertama yang mendapat kehormatan untuk diputar di tempat kediaman Bung Karno yang baru. Peristiwa itu adalah film Indonesia yang pertama yang mendapat kehormatan untuk diputar di tempat kediaman Bung Karno yang baru. Peristiwa itu adalah suatu hal yang sukar saya lupakan, karena buat saya, itulah pertama kali, film yang saya sutradarai akan dinilai oleh banyak pemuka-pemuka Bangsa (Note: waktu itu usia Usmar Ismail 29 tahun, sw).
Sebelumnya saya telah membuat dua buah film untuk maskapaj (perusahaan, sw) Belanda "South Pacific Film Corporation", yaitu film "Harta Karun" berdasarkan karangan Moliere, "Si Bachil" dan "Tjitra" menurut sebuah lakon sandiwara yang saya tulis pada tahun 1943. Tetapi saya dapat mengatakan, bahwa kedua film itu adalah bukan film saya, karena pada waktu penulisan dan pembuatannya saya banyak sekali harus menerima petunjuk-petunjuk yang selalu saya setujui dari pihak produser.
Meskipun "Tjitra" mendapat sambutan yang baik dari pihak pers, terus-terang film itu terlalu banyak mengingatkan saya kepada ikatan-ikatan yang saya rasakan sebagai pengekangan terhadap daya kreasi saya.
Karena itu saya lebih senang menganggap "Darah dan Doa" sebagai film saya yang pertama, yang seratus persen saya kerjakan dengan tanggungjawab sendiri. Hati saya berdebar-debar dalam pertunjukan perdana di Istana Negara itu, karena perasaan saya sangat tertekan memperhatikan adegan demi adegan tersorot di layar putih.
Ada-ada saja kesalahan yang saya lihat. Teranglah teknis film itu lebih buruk dari film-film "Harta Karun" dan "Tjitra", karena dikerjakan dengan peralatan yang jauh lebih primitif dan dengan jumlah orang yang lebih sedikit.
Film "Darah dan Doa" dibuat berdasarkan sebuah cerita Sitor Situmorang dan dimaksudkan sebagai suatu film yang berambisi besar, artinya sebagai film pertama tentang Revolusi Indonesia secara fisik yang baru saja selesai, film itu banyak maunya. Kalau dapat rasanya hendak dirangkul seluruh kejadian-kejadian besar yang baru saja berlangsung itu dalam film yang sempurna. Mungkin saya salah perhitungan, karena saya lebih banyak hanya dipimpin oleh semangat yang meluap-luap. Tetapi tanpa semangat yang meluap, film itu tidak akan pernah terjadi dan barangkali Perfini (Perusahaan Film Indonesia, perusahaan yang digagas oleh Usmar Ismail sejak di Yogyakarta pada 1949, sw) sebagai perusahaan tidak pernah pula akan bangun.
Waktu Sitor datang kepada saya dengan beberapa halaman cerita yang mengisahkan pengalaman seorang perwira Tentara Nasional Indonesia dalam mars yang bersejarah dari Timur ke Barat pulau Jawa, yang kemudian disebut menurut pengalaman Tentara Merah Tiongkok "The Long March", saya dengan segera tertarik kepada cerita itu.
Sejak ada berita-berita bahwa kedaulatan akan dipulihkan beberapa kawan dari Multifilm sudah saya ajak omong-omong tentang kemungkinan mendirikan suatu usaha sendiri. Yang sukar adalah modal dan peralatan. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mendekati Mr. Sjamsuddin almarhum yang pada waktu itu menjabat Menteri Penerangan R.I., tentang kemungkinan memakai alat-alat bekas Multifilm, dengan suatu sikap tegas, bahwa saya tidak mau jadi pegawai Pemerintah. Saya ingin membuat film atas tanggungjawab sendiri. Mr. Sjamsuddin pada prinsipnya tidak keberatan dan atas dasar kesediaan itu kami berkumpul, antara lain dari bekas Multifilm HB Angin, Nawi Ismail, Max Tera dan beberapa yang lain, sedang dari Yogya datang kawan-kawan seperti Suryo Sumanto, Naziruddin Naib, dan Basuki Resobowo.
Tetapi pada saat terakhir, sesudah terbentuknya Perusahaan Film Negara, yang meneruskan pembuatan film-film cerita di bawah penyutradaraan bekas seorang letnan Belanda, angin dan Nawi merasa lebih aman untuk tetap tinggal di PFN. Saya tidak dapat menyalahkan mereka, karena dalam usaha baru yang hendak didirikan itu belumlah sama sekali kelihatan perspektif masa depan yang terang. Sampai waktu itu baru terkumpul uang Rp 30.000, uang pesangon sebagai berkas anggota-anggota TNI. Separoh antaranya dengan segera dibayarkan kepada PFN sebagai persekot, sewa studio, hingga waktu akan mulai produksi uang tinggal kurang lebih Rp 12.500. Meskipun nilai uang pada waktu itu masih rada lumayan, tetapi mengingat ongkos produksi film terakhir yang saya buat untuk "South Pacific" 67.500 Gulden (Belanda, sw), maka masih harus dicarikan tambahan banyak, dikirakan Rp 15.000.
Kendati pun demikian, dibuatlah suatu firma pada 30 Maret 1950 dan para hari itu juga saya berangkat ke daerah Subang untuk melakukan opname pertama. Tergesa-gesanya pembuatan akte notaris itu juga disebabkan karena oleh beberapa finansir telah disanggupi persekot Rp 100.000, malahan sudah akan diterimakan. Tetapi momok campur tangan orang lain yang tak mengerti sama sekali kepada cita-cita pembuatan film itu telah menggagalkan utang-piutang tersebut.

Shooting di Purwakarta | Baiklah saya kembali sebentar kepada persiapan-persiapan yang sementara telah dikerjakan di bidang kreatif pembuatan "Darah dan Doa".
Pada hakekatnya yang sudah punya pengalaman di bidang pembuatan film cerita hanyalah saudara Max Tera (kameraman) dan saya. Saudara Sjawal Muchtaruddin (sound-man) hanya punya pengalaman di radio, Basuki Resobowo (art-director) di atas panggung.
Kami telah mengadakan beberapa test-shooting dengan saudara Rendra Karno (waktu itu masih memakai nama Sukarno) di daerah hutan Ancol, tetapi sebagai orang baru yang penuh ambisi saya belum puas dengan hasil test itu. Saya ingin muka-muka baru dengan bakat-bakat yang segar, maka dipasanglah adpertensi di koran untuk mencari pemain-pemain. Dari beberapa ratus orang yang melamar, terpilih kurang lebih duapuluh orang pria dan wanita. Terbanyak pemuda-pemuda yang masih duduk di bangku sekolah, antaranya yang kemudian memegang peranan dalam film itu Del Juzar (sekarang SH), Sutjipto (sekarang Drs), Awaluddin (sekarang Drs., polisi), Aedy Mowardi (sekarang ahli imigrasi). Yang lain sekarang sudah punya nama di bidangnya masing-masing antara lain Trisnojuwono, Wisjnu Mouradi dan beberapa orang yang sekarang sudah jadi perwira pada angkatan bersenjata.
Mereka yang terpilih mendapat latihan dasar-dasar berperan di Gedung Kesenian selama beberapa minggu.
Demikianlah dengan sebuah kamera Akeley yang telah puluhan tahun umurnya dengan menyewa sebuah opelet rongsokan rombongan menuju ke Purwakarta. Sebelum, telah di urus ke sana saudara Sumanto untuk menghadap Overste Sambas yang pada waktu itu menjabat komandan resimen. Tetapi tidak bisa kembali untuk melaporkan hasil-hasil pembicaraannya karena kehabisan uang belanja.
Sebelum itu saya juga sudah pergi menghadap panglima Divisi Siliwangi Kolonel Sadikin ke Bandung untuk memohon bantuan pihak tentara dan pada prinsipnya disetujui. Tetapi sampai di Purwakarta semuanya harus dibicarakan ulang dengan Overste Sambas yang syukur saja mempunyai sikap yang luwes. Akhirnya kami diserahkan kepada Mayor Supardjo untuk mendapat bantuan di daerah Subang.
Semua rombongan menginap di sebuah pesanggrahan dan mulailah suatu cara kerja yang hingga saat ini masih sangat menakjubkan saya karena keistimewaannya. Pergi shooting dengan tiada cukup uang dan dengan persiapan yang kurang sekali, pada galibnya pastilah akan mengakibatkan malapetaka.
Tiap malam sehabis kerja, saya mengetik skrip buat esok harinya, berdasarkan cerita Sitor Situ8morang yang beberapa helai. Beberapa kawan yang turut dari Jakarta, sebagai peninjau antara lain saudara-saudara Asrul Sani dan Rivai Apin cuma geleng-geleng kepala saja. Memanglah, membuat film pada waktu itu masih dianggap sesuatu yang aneh dan banyak kawan-kawan yang ingin tahu, bagaimana saya sanggup menyelesaikan tugas itu.
Tetapi ada sesuatu yang menolong, yang pada waktu ini tak akan bisa lagi dialami, yaitu bahwa cetakan percontohan (rush prints) dengan segera dapat diselesaikan di PFN., dan terus dikirimkan kembali ke tempat lokasi untuk dilihat. Sementara saya menulis skrip, saudara Max Tera dan Djohan Sjafri menyelenggarakan montage film "Darah dan Doa" dan dari sehari ke sehari dapatlah diikuti pertumbuhan cerita itu.

Gadis Tunggal di Tengah Rombongan | Pada suatu hari, sesudah percobaan pemutaran montage kasar (editing offline, istilah anak sekarang, sw) itu, saya didatangi saudara Tong, pemilik bioskop. Ia memuji dan bertanya apakah sudah ada yang akan mengedarkan film itu. Sungguh mati, sampai saat itu, belum terpikir sedikitpun tentang peredarannya. Dan tawaran saudara Tong yang punya kantor peredaran di Jakarta telah saya terima dengan baik, apalagi sesudah dia menyatakan kesediaannya pula untuk memberikan persekot guna menyelesaikan film itu.
Hutang sudah bertumpuk, pesanggrahan sudah agak lama belum dibayar, para pemain mulai menggerutu, maka tawaran saudara Tong itu, sesungguhnya datang seperti pucuk dicinta ulam tiba. Bahwa perusahaan baru itu kemudian akan terlibat dalam semacam sistem ijon, pada waktu itu belum terpikir. Pokoknya produksi dapat diselesaikan.
Sesudah masuk ke studio di Jakarta, ternyata banyak adegan yang tak bisa dipakai karena ceritanya tak jalan. Diadakan lagi perombakan dan shooting tambahan, sampai-sampai menerobos ke lereng Gunung Lawu, kemudian pindah lagi ke lereng Gunung Gede untuk akhirnya terhampar ke pinggir Kali Citarum.
Untunglah pada waktu itu segala bantuan, baik dari pihak sipil maupun militer, diberikan dengan spontan dan,... cuma-cuma (sekarang situasinya agak lain). Untung pula di mana-mana berjumpa teman-teman lama dari ketentaraan (Usmar Ismail pernah tergabung dalam kesatuan TNI waktu perang kemerdekaan, sw). Salah seorang penaseghat tentara yang selalu turut dengan rombongan kami adalah kapten-dokter Sadono. Jasa-jasanya tidak mudah dilupakan. Amat terasa sekali kekurangan kemahiran dalam menghadapi persoalan-persoalan cinematografis, yaitu mencarikan penyelesaian visual yang efektif untuk suatu problema dramatis. Terasa ada, tetapi dalam pelaksanaan banyak kali luput.
Di samping itu ada lagi kesulitan-kesulitan tenaga yang memang belum punya pengalaman dan jumlahnya pun sedikit.
Saya masih ingat, bagaimana kami harus merangkap berbagai-bagai jabatan. Saya sendiri, selain dari produser-sutradara-penulis skenario, seringkali harus menjadi sopir, kuli angkut, make up man, pencatat skrip, assisten sendiri.
Sekarang rasanya tidak sanggup mengulangi kembali semua pengalaman itu. Banyak cerita-cerita nyata (anekdote) dapat saya kisahkan, cerita-cerita lucu, tetapi juga cerita-cerita sedih, pengalaman-pengalaman perseorangan, tetapi juga pengalaman secara rombongan.
Yang turut dengan rombongan hanyalah seorang gadis, di antara begitu banyak pemuda. Buat peranan wanita turut main seorang gadis Kalimantan namanya Farida. Hidungnya tidak mancung, tetapi matanya yang besar dan sendu menguasai seluruh air mukanya. Tidak mengherankan, beberapa pemuda dalam rombongan itu, lambat laun memberikan perhatian istimewa kepada Farida. Hal itu menimbulkan sedikit banyak pergeseran antara mereka. Seperti halnya dalam film, biasanya yang menang dalam perlombaan demikian adalah peran utama. Untunglah segala-galanya tidak mengakibatkan ekor yang lebih panjang dari masa shooting itu saja. Lagi pula gadis manis itu sudah ada yang punya.

Kesulitan dengan Pemain | Salah satu kesalahan saya sebagai orang baru ialah bahwa saya ingin segala-galanya autentiek, seperti aslinya dan di tempat aslinya. Tambah-tambah lagi para penasehat saya yang resmi dan tidak resmi juga mendorong saya, supaya jangan menyimpang dari kejadian-kejadian yang sebenarnya. Hanyalah, perlahan-lahan saya mengerti, bahwa film itu adalah betul-betul seni "make believe", membuat orang percaya tentang sesuatu, membuat kenyataan baru dari yang ada. Karena, banyak kali yang dibuat di tempat lain atau studio misalnya, lebih meyakinkan dari jika dibuat di tempat asalnya.
Di atas panggung sudah pengalaman saya mengendalikan pemain-pemain amatir, tetapi belum pernah saya menjumpai kesukaran yang lebih besar seperti pada film saya yang pertama itu. Seorang pemain pria amat perlente. Rambutnya tidak boleh kusut dan bajunya harus tetap bersih, meski pun dalam cerita dia harus kelihatan kumal, karena baru saja kembali dari pertempuran.
Pemain yang lain dengan kepala batu mengemukakan konsepsinya tentang peranan yang dijalankan, meski pun sudah berkali-kali diberi keterangan, bahwa dia seharusnya menginterpretasikan secara kreatif apa yang dimaksud oleh si pengarang, bukannya membikin kreasi sendiri.
Jawabn "tetapi saya merasakan lain" seringkali nkedengaran dalam pembahasan peranan-peranan. Berlainan dengan pemain profesional, kebanyakan pemain-pemain amatir dalam "Darah dan Doa" takut sekali akan over-acting, suatu hal yang memang sejalan dengan pendapat saya waktu itu.
Sesudah lebih banyak pengalaman dalam penyutradaraan, saya kemudian tahu, bahwa bermain kurang dari semestinya, under-acting, tidaklah selalu cocok dengan semua peranan. Kadang-kadang suatu peranan justeru mengharuskan over-acting.
Film pertama yang saya buat dengan tidak terikat kepada siapapun itu, memberikan pula kepada saya pelajaran, bahwa meskipun kita adalah majikan kita sendiri, tidaklah dengan sendirinya kita dapat berbuat sekehendak hati kita, karena masih banyak lagi ikatan-ikatan yang lain, seperti terbatasnya modal, peralatan, kemampuan, dan lain-lain.

Kisah Manusia Soedarto | Banyak yang ingin saya ceritakan dalam film "Darah dan Doa", justeru karena segala yang terjadi dalam film itu masih segar dalam ingatan, clash kedua, peristiwa Madiun, pemberontakan DI, penyerahan kedaulatan. Tetapi karena barangkali segala peristiwa itu masih terlalu dekat waktu kejadiannya, maka belumlah cukup kesempatan bagi saya untuk memilih peristiwa-peristiwa yang benar-benar ada hubungannya dengan kisah manusia Sudarto yang hendak diceritakan itu.
Sudarto ceritanya adalah seorang guru yang sebelum revolusi 17 Agustus yang kemudian dengan sadar turut revolusi bersenjata dan menjalankan tugasnya sebagai seorang prajurit yang baik sampai dia menjadi kapten.
Dengan patuh dia turut hijrah sesudah persetujuan Renville di tempatkan di Sarangan, di mana dia berkenalan dengan seorang gadis Jerman. Hubungannya dengan gadis itu tidak disetujui oleh rekannya, hingga pecahnya peristiwa Madiun merupakan suatu pelarian buat dia dari sangkaan kawan-kawannya. Tetapi peristiwa Madiun itu pula menimbulkan dalam jiwanya suatu perjuangan batin yang tidak tertahankan, karena dia harus menumpas kawan-kawannya yang lama dalam suatu pertempuran yang tak kenal ampun. Kembali dia mendapat kelegaan sementara, waktu dia di perintahkan kembali ke Jawa Barat, merembes masuk ke dalam daerah pendudukan Belanda dengan jalan kaki melalui hutan rimba gunung dan jurang. Dalam perjalanan itu Sudarto berkenalan dan jatuh cinta pada seorang jururawat yang kemudian tewas oleh peluru Belanda.
Dalam kesedihan itu dia menawarkan diri untuk menyusup ke dalam kota, tetapi dia tak dapat mengendalikan diri untuk tidak singgah ke tempat gadis Jerman yang dikenalnya di Sarangan dulu. Kelalaiannya itu menyebabkan dia ditangkap Belanda, dijebloskan ke dalam penjara dan dianiaya. Dia barulah keluar sesudah penyerahan kedaulatan, untuk turut serta merayakan kedatangan Presiden Sukarno di Jakarta. Tetapi waktu dia kembali ke pondoknya, peluru maut telah menunggunya. Dia ditembak mati oleh salah seorang kawannya dari Sarangan yang mau membalas dendam atas kejadian-kejadian pada peristiwa Madiun, kendatipun dia adalah orang yang paling tidak setuju dengan sesuatu pertikaian antara sesama bangsa.

Kenangan Sejarah | Kisah Sudarto adalah kisah sedih. Sudarto bukanlah pahlawan dalam arti yang biasa, tetapi adalah seorang manusia Indonesia yang terlibat dalam diseret oleh arus revolusi dan akhirnya menjadi korban revolusi itu, sebelum dia sempat menilai segala kejadian di sekelilingnya dengan sadar.
Saya tertarik kepada kisah Sudarto, karena menceritakan dengan secara jujur kisah manusia Indonesia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah. Tetapi tidak semua orang Indonesia setuju dengan saya antara lain sebagian dari para perwira Angkatan Darat di beberapa daerah yang menganggap saya tidak menggambarkan keperwiraan, tetapi melukiskan kelemahan-kelemahan seorang anggota tentara. Menilik kembali, saya tak ingat lagi, berapa bagian dari kisah itu kepunyaan Sitor dan berapa bagian daripadanya adalah karangan saya.
Meski pun bagaimana, "Darah dan Doa" sesungguhnya film Indonesia yang pertama tentang manusia Indonesia dalam revolusi. Pada tahun 1950, kendati pun revolusi fisik baru saja habis, sudah kedengaran keluh-kesah dari bekas-bekas pejuang yang merasa dirinya tidak dihargai dan beralih mengambil tindakan-tindakan yang negatif. Tetapi Sudarto sampai nafas yang terakhir, tetap percaya kepada tujuan perjuangannya. Dan sesungguhnya tindakan-tindakan yang diambil oleh beberapa komandan daerah untuk melarang beredarnya film itu menunjukkan kesempitan cara berfikir, suatu hal yang tak perlu diherankan dan disesalkan ketika itu.
Pada akhir pertunjukan di Istana Negara itu, saya merasakan suatu suasana yang tertekan, seolah-olah akhir film itu juga merupakan akhir segala jalan. Penuturan saya secara filmis, teranglah tidak sempurna, tetapi apa yang hendak saya katakan kiranya dapat dipahami oleh semua orang yang melihat meski pun tidak disetujui mereka.
Film "Darah dan Doa", bukanlah merupakan suatu sukses komersial, tetapi juga tidak menjadi kegagalan total. Film itu selesai dengan ongkos produksi kurang lebih Rp 150.000, suatu jumlah yang sangat besar karena pada waktu itu orang membuat film hanya dengan uang Rp 100.000.
Meski pun saya telah membuat dua film sebelum "Darah dan Doa", film itu saya rasakan sebagai film saya yang pertama.
Buat pertama kali sebuah film diselesaikan seluruhnya baik secara teknis-kreatif, maupun secara pertanggung-jawaban ekonomi, oleh anak-anak Indonesia. Dan buat pertama kali pula film Indonesia mempersoalkan kejadian-kejadian yang nasional sifatnya.
Dalam salah satu musyawarah bersama Dewan Film Indonesia, hari shooting pertama film "Darah dan Doa", yaitu tanggal 30 Maret, telah ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.
Dengan segala jerih-payah dan pengorbanan lahir-batin selama pembuatan film itu, kiranya kehormatan yang diberikan Dewan Film Indonesia kepada film saya yang pertama itu, merupakan penghargaan yang tak ada taranya hingga sukar bagi saya untuk menyatakan terima kasih karena kata-kata saja tidak akan ada artinya.
Bagi saya sendiri, kisah pembuatan sebuah film telah menjadi kisah hidup seorang anak manusia yang tidak sanggup lagi melepaskan diri dari suatu pekerjaan yang pada mulanya dipilihnya dengan tiada sengaja.

|Tulisan ini dikutipkan dari tulisan Usmar Ismail yang dimuat di majalah Intisari, no 1, th. I., 17 Agustus 1963.

4 komentar:

  1. menangis saya membacanya.. beliau adalah kakek saya. terima kasih atas tulisan ini.

    Alvin Rizky Ismail

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya ini IBU PUSPITA seorang TKI dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar ibu hayati yg dari honkong tentan MBAH KABOIREN yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya juga saya mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor toto 6D dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus,kini saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH KABOIREN dan jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KABOIREN di 085-260-482-111,saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui MBAH KABOIREN saya juga sudah bisa sesukses ini dan jangan mudah percaya kepada MBAH yg lain selain MBAH KABOIREN karna saya juga pernah mengalami yg namanya dibohongin sama para normal yg lain,ini bukan rekayasa dari saya melainkan ini kisah nyata dari seorang TKI....Untuk yg punya rum erimakasih atas tumpangannya. KLIK _ GHOB _ 2D 3D _ 4D _ 6D _ DISINI












      Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya ini IBU PUSPITA seorang TKI dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar ibu hayati yg dari honkong tentan MBAH KABOIREN yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya juga saya mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor toto 6D dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus,kini saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH KABOIREN dan jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KABOIREN di 085-260-482-111,saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui MBAH KABOIREN saya juga sudah bisa sesukses ini dan jangan mudah percaya kepada MBAH yg lain selain MBAH KABOIREN karna saya juga pernah mengalami yg namanya dibohongin sama para normal yg lain,ini bukan rekayasa dari saya melainkan ini kisah nyata dari seorang TKI....Untuk yg punya rum erimakasih atas tumpangannya. KLIK _ GHOB _ 2D 3D _ 4D _ 6D _ DISINI

      Hapus
  2. menangis saya membaca tulisan ini, beliau adalah kakek saya. terima kasih atas tulisan ini.

    Alvin Rizky Ismail

    BalasHapus
  3. saya PAK SLEMET posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan







    saya PAK SLEMET posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan

    BalasHapus