Selasa, Mei 29, 2012

Wahai Manusia, Belajarlah pada Binatang

Konon, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di dunia ini. Kata siapa? Tentu saja kata manusia, yang bisa bicara, membuat dokumen, menulis buku, bikin aneka status di fesbuk, dan memaksakan pendapatnya tentu.
Namun kurang perfect apa Tuhan menciptakan burung, semut, lebah, dan bahkan anjing?
Kau lihatkah burung-burung yang tiap pagi keluar sarang mencari makan? Apakah ia ngerti ke mana hendak mencari di mana makanan berada? Bagaimana jika sore hari ia pulang tanpa membawa makanan, dan anak-anak mereka kelaparan di sarang?
Kita tak pernah lihat burung bunuh diri karena kegagalannya itu. Tak kemudian duduk di pojok sarang, menyendiri, dan menulis status melow dengan bahasa alay. Jika pun ada, pastilah dalam dunia kartun, yang dicipta manusia berdasar preferensi manusia tentu.
Kau bilang, disitulah manusia lebih unggul, karena bisa berhitung dan menabung. Tapi, bagaimana dengan semut? Kita sering menggambarkan semut dengan kebiasaan bergotongroyong. Kepeduliannya terhadap sesama semut untuk saling membantu. Sebesar dan seberat apapun pekerjaan, dihadapi dengan team-work yang baik.
Tapi, bukankah semut juga rajin menabung? Mengumpulkan cadangan makanan untuk komunitasnya, dan tidak menjadi beban bagi mahluk lainnya. Bahkan, kebiasaan para semut menabung makanan itu, justru memberi efek manfaat bagi alam. Kumpulan makanan yang mereka timbun dapat menyuburkan dan menggemburkan tanah di sekitarnya.
Kau bilang lagi, ah itu kan naluriah, kebiasaan?
Baiklah. Lihat lagi makhluk lainnya bernama lebah. Ini makhluk yang memiliki struktur organisasi dan manajemen kemasyarakatan yang paling terukur dan penuh disiplin.
Lebah adalah sejenis serangga yang hidup berkelompok dalam sebuah tempat atau koloni. Biasanya, kita dapat menjumpainya di daerah yang cenderung jauh dari pemukiman penduduk, dan berada di tempat-tempat yang tinggi. Dalam kelompoknya, lebah terbagi menjadi: Lebah Ratu yang berperan sebagai penghasil keturunan. Lebah Pekerja yang tugasnya mencari makanan, dan, lebah Tentara atau Penjaga yang bertugas untuk menjaga keamanan sekitar sarang tempat tinggal koloninya. Entahlah, ada yang jadi intel apa tidak.
Lebah bukanlah makhluk konstumtif. Ia hanya menghisap nektar dari bunga, dan tak pernah diulanginya lagi pada bunga yang sama (sic). Ternyata, setiap kali ia mendatangi bunga untuk menghisap nektarnya, kaki-kaki mungilnya ikut menyebarkan serbuk sari. Saat hal ini terjadi, sesungguhnya ia sedang membantu proses penyerbukan bunga menjadi buah. Ia tidak sekedar ngisep mulu. Ia bersimbiosis mutualisma.
Kau masih bisa berkata, itu semua instink saja. Dan itu karena kesempurnaan Tuhan menciptakan keseimbangan alam. Lhah, kalau demikian, apa klaim manusia sebagai makhluk sempurna bisa dipercaya? Biasanya, akal budi yang ada pada manusia yang sering dibanggakan. Tapi bagaimana jika akal budi juga bisa dipakai dan tidak dipakai oleh manusia?
Baiklah. Satu lagi, manusia juga bisa belajar dari anjing. Anjing? Ada memang yang mengharamkan hewan satu ini. Tapi walau begitu, anjing memiliki sifat yang mungkin tidak dimiliki oleh makhluk yang sesempurna kita ini.
Anjing adalah hewan yang paling setia kepada majikannya. Bahkan dalam kisah ashabul kahfi, yang menjaga pemuda-pemuda muslim saat tidur di dalam gua selama 309 tahun adalah anjing. Anjing? Ya, anjing.
Dia rela menjaga majikan-majikannya sampai akhir hayatnya. Dan itu berlangsung 309 tahun. Bukan hanya sejak reformasi 1998 kemarin, dan sudah menuntut cem-macem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar