Rabu, Mei 30, 2012

Kesamaan Antara Anas Urbaningrum dan Bung Karno

Para Sukarnois jangan ngamuk dulu, memang ada kesamaan antara Anas Urbaningrum dan Sukarno. Setidaknya ada dua. Keduanya, paling tidak sama-sama ada bau Blitar (Jawa Timur), dan keduanya sama-sama pernah bikin nomor plat mobil sendiri, alias plat mobil palsu.
Ya, Sukarno, alias Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia, pernah membuat plat nomor mobil sendiri. Plat nomor tersebut adalah REP 1. Padahal, polisi telah melarang. Berikut kisah yang ditulis Mangil, salah satu pengawal pribadi Bung Karno dalam buku "Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967":
Ibukota Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada suatu hari, Mangil diperintah Bung Karno meminta plat nomor mobil kepada polisi Yogyakarta. Mangil pun lantas menghadap Kepala Polisi Lalu Lintas Soenarjo, meneruskan permintaan Bung Karno supaya mobil merek Buick yang dibawa Bung Karno dari Jakarta diberi nomor polisi REP 1.
Sayangnya, permintaan Bung Karno ini tak dikabulkan Soenarjo, dengan penjelasan tidak ada dalam undang-undang dan peraturan lalu lintas. Jadi, permintaan presiden ini tidak dapat dikabulkan polisi. Mangil melaporkan hal tersebut kepada Bung Karno.
Setelah mendengar laporan ini, Bung Karno berkata, ’’Ya sudah, tidak apa-apa. Saya akan bikin sendiri plat nomor mobil itu.’’
Bung Karno lalu memerintah sopirnya, Arif, untuk membuat plat nomor REP 1. Plat itu kemudian dipasanglah di mobil Bung Karno. Depan dan belakang. Plat ini selalu dipakai Bung Karno dalam perjalanan resmi dalam kota Yogyakarta, dengan dikawal polisi lalu lintas anak buah Soenarjo. Dalam perjalanan ke luar daerah Yogyakarta pun, mobil Bung Karno selalu memakai nomor REP 1. Dan aman.
Bedanya dengan Anas, Bung Karno meminta ijin resmi dulu pada Polisi, meski tak diijinkan (dan Bung Karno tidak sok kuasa mentang-mentang Presiden). Bung Karno mengakui dia yang menyuruh sopirnya.
Dan beda yang menonjol, Sukarno yang membuat Monas, bukan yang meminta digantung di sana.

BUNG KARNO, PRESIDEN DENGAN MOBIL CURIAN DAN BERNOMOR PALSU | Beberapa hari setelah 17 Agustus 1945, tentu Republik Indonesia ini masih compang-camping. Situasinya sangat heroik dan revolusioner. Termasuk dalam segala hal yang berbau darurat situasional. Salah satunya, mobil kepresidenan.
Syahdan adalah pengikut Sukarno yang setia, Sudiro namanya, teringat kepada sebuah mobil Limousine merek Buick. Mobil itu besar dan cantik, bahkan tercantik di Jakarta. Mobil itu muat tujuh orang, bahkan memakai kain jendela di bagian belakangnya.
Tapi, problemnya, mobil itu kebetulan kepunyaan seorang Jepang yang menjabat Kepala Jawatan Kereta Api.
Tapi Sudiro mengesampingkan hal itu. Ini suasana revolusi.
Maka, keputusan revolusioner pun diambil, diiringi sejumlah pengikut setia Bung Karno yang lain, Sudiro mendatangi rumah pemilik Buick yang cantik itu. Kebetulan Sudiro kenal baik sopir mobil itu. Maka setelah memekik salam 'Merdeka!', Sudiro melontarkan maksudnya, “Heh, saya minta kunci mobilmu.”
Tentu saja sang pengemudi gelagapan. Kepalanya penuh tanda tanya, “Kenapa? Kenapa?”
Di tengah raut wajah kebingungan, Sudiro segera menimpali, “Karena saya bermaksud hendak mencurinya buat Presidenmu!”
Si sopir yang patriotis itu meringis, sambil keluar dari mobil dan menyerahkan kunci itu.
Si sopir segera disuruh pulang kampung di Jawa Tengah. Mobil itu, seperti diceritakan Mangil, di Yogyakarta diberi nomor Rep-1, nomor kreasi Sukarno sendiri, alias nomor palsu. | Diulik dan digubah dari tulisan Roso Daras.

Spesifikasi mobil limousine Buick Rep-1 itu, disebut sebagai Buick Eight, buatan Buick. Mobil ini hanya diproduksi sebanyak 1451 unit pada tahun 1939. Dan memiliki kapasitas sebesar 5248cc, dengan mesin empat langkah yang memiliki 8 silinder dan 2 katup di setiap silindernya.
Mobil yang menyandang nomor polisi Rep-1 ini juga memiliki perbandingan kompresi yang cukup prima, yaitu, 6.35:1. Selain itu, mobil ini pun dapat mengeluarkan tenaga yang cukup mumpuni pada zamannya, yakni, dapat mencapai 141 hp pada 3600 rpm. Serta memiliki perbandingan Bore X Stroke, 87.3 X 109.5.
Mobil Buick Limited-8 ini secara visual memang terlihat sangat berwibawa. Apalagi untuk menunjang kemewahan serta guna menjaga ‘rahasia negara’ yang mungkin terucap di dalam kabin mobil tersebut, maka mobil ini pun dilengkapi selembar kaca yang memisahkan penumpangnya dengan pengemudi yang dapat dibuka dengan sebuah tuas yang diputar. Kendaraan kepresidenan itu kini tersimpan rapi di Gedong Joang 45.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar