Selasa, Mei 01, 2012

Dongeng Malaikat, Gelandangan, dan Para Koruptor

Syahdan pada suatu hari, adalah seorang gelandangan yang berada dalam sakaratul maut. Menurut ramalan, sebentar lagi gugur di medan kelaparannya di jalan Gatot Soebroto, tepatnya di seberang pintu gerbang Gedung DPR-MPR Senayan.
Gelandangan yang budiman itu menemukan sebuah selongsong peluru ajaib di tempatnya terkapar. Entah peluru jenis apa. Ketika
peluru itu digosoknya, tiba-tiba keluarlah Malaikat yang ajaib, dalam dongeng "1001 Masalah". Malaikat itu langsung berkata
santun, "Wahai Gelandangan Budiman, sebelum ajalmu, saya akan memenuhi tiga permintaanmu. Akan tetapi, karena engkau manusia baik, yang selalu menyatakan bahwa dirimu sangat bermanfaat bagi orang lain, ikhlaskah kamu jika ratusan koruptor di seberang jalan itu akan mendapatkan dua kali dari apa yang engkau minta,..."
Ratusan koruptor di seberang jalan? Apa mereka nggak marah membaca dongeng ini? Biasanya sih, yang bukan koruptor tenang-tenang saja.
Gelandangan Budiman melongok ke seberang. Ya, ada ratusan orang sibuk bicara ke sana-kemari di dalam gedung keong Senayan itu. Gelandangan Budiman itu merasa tidak ada ruginya, meskipun ada orang lain yang mendapatkan lebih dari perolehannya. Sekali pun itu untuk para koruptor.
"Saya minta sebuah mobil bikinan Indonesia saja, untuk mengantar mayat saya,...!" berkata Gelandangan budiman akhirnya.
Dan segeralah sebuah mobil buatan Esemka tersedia di hadapannya. Akan tetapi, ratusan koruptor di seberang jalan, juga mendapatkan. Malah masing-masing dua buah mobil yang lebih mewah, Alphard dan Camry. Lengkap dengan nomor palsunya juga, sekiranya mereka takut dikuntit.
"Permintaan kedua", kata Gelandangan Budiman, "Aku minta uang 50 trilyun, untuk membantu KPK menemukan kembali uang negara yang dirampok para politkkus, eh, koruptor ding!"
Bruuuug! Sekantung uang segera ada di hadapan Gelandangan Budiman. Dan di seberang jalan, lagi-lagi ratusan koruptor
masing-masing mendapatkan 100 trilyun.
"Baiklah, ini permintan ketiga," berkata Gelandangan Budiman, "Saya ingin mendonorkan otak saya kepada orang lain, sebelum
ajal saya tiba,...!"
Sang Gelandangan pun akhirnya wafat, setelah sebelumnya Malaikat mengambil otak dan menyimpannya kelak untuk yang
membutuhkan.
Sementara, di seberang jalan, beberapa Malaikat berkerumun di sekitar ratusan koruptor, beberapa di antaranya merangkap politikus. Mereka kebingungan, mencari-cari di mana otak para koruptor itu berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar