Sabtu, Mei 05, 2012

Ciri-ciri Perdebatan Kita di Berbagai Media

Jika kita mencermati forum-forum diskusi, talkshow di televisi antara para politisi-pengamat-akademisi, berbagai kritik dan kontra-kritik pemerintah, atau forum-forum diskusi di lapangan mana pun (politik, seni, ekonomi, hukum, dsb), sering kita dapati kecenderungan-kecenderungan yang menunjukkan, betapa banyaknya orang pintar di sekitar kita, tapi kehidupan ini tetap saja stagnan dan bahkan melorot makin anjlog. Tak bisa menentukan agenda dan prioritas kerja. Beberapa kecenderungan itu antara lain:

1. Berkecenderungan me-negasi-kan pendapat orang lain. Menolak, mementahkan, atau bahkan mencari kesalahan, namun sebatas kesalahan teknis, bukan substansial. Bermain kata-kata dan silogisme untuk menunjukkan dirinya lebih hebat dari yang lain.
2. Tidak mengerti prioritas, lebih suka ribut pada hal-hal yang remeh-temeh. Tidak faham mana yang permasalahan pokok, dan mana permasalahan yang sebenarnya dicari-cari.
3. Tidak mampu menemukan solusi bersama, dan tidak pernah dapat memformulasikan masalah menjadi agenda kerja bersama, dan hanya asyik-masuk dalam debat semantik (ribet dengan kata, istilah dan penuh retorika), tapi tidak autentik.
4. Memuja citra diri sebagai lebih penting dibanding esensi masalah. Sehingga perdebatan hanya sebuah ajang mempromosikan diri, bukannya pokok masalah itu sendiri yang harus dipecahkan.
5. Terjebak dalam retorika akademik, bahwa saya berfikir maka saya ada, sehingga keberadaan diri lebih penting, tetapi untuk apa keberadaannya hanyalah untuk dirinya, bukan untuk memecahkan masalah. Berdebat akhirnya hanyalah sebuah kegenitan pikiran, bukan pemecahan masalah, karena kadang cita-citanya hanya sepele: Menjadi debator profesional, tukang debat yang ngarep honor sebagai penghasilan finansialnya.
Dan last but not least:
6. Alangkah sulitnya mereka bekerja sama untuk menyelesaikan masalah secara nyata, karena setelah debat, yang diurus hanya citra diri dan honorarium. Jika besok ada masalah lagi, ya cari referensi agar tampil lebih hebat dalam perdebatan.
Jakob Oetama, CEO Kompas Grup menyebut, kita kehilangan ketulusan. Dan kita tak pernah serius untuk mengentaskan Indonesia dalam keterpurukannya, karena banyaknya orang pintar yang tidak tulus itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar