Sabtu, Mei 05, 2012

Chairil Anwar Hidup dan Kepenyairannya

Chairil Anwar (1922-1949) adalah orang yang hidup dalam kegembiraan. Meski hatinya sebenarnya murung dan gelisah, dirinya dipenuhi berbagai pertentangan. Chairil menurut Asrul Sani, “..., setiap saat jiwanya mengalami perbenturan. Perbenturan pada ketenangan yang besar, tetapi pada waktu yang bersamaan ia menyadari, bahkan sampai yakin, bahwa ia tidak mungkin hidup seperti itu. Pada mulanya menggambarkan keinginan untuk hidup tenang, tetapi pada akhirnya ia kemukakan ketidaksanggupannya untuk hidup seperti itu.”
Sebagai seniman, Chairil Anwar, mengedepankan rasa, seperti kaum Stoa di Yunani kuno dulu. Tujuan hidupnya adalah apatheia, mengatasi rasa. Dalam menghadapi dan menghidupi karyanya, ia bukan orang yang percaya sebuah karya yang langsung jadi, atau yang ia sebut sebagai "ange’ ange’ ciri’ ayam" (hangat-hangat tahi ayam). Sebuah karya mesti dulu dilalui dengan segenap pikiran yang sangat tajam, mendalam, hingga tercipta sebuah karya yang baik. Dalam menghidupi dan menghadapi karyanya, ia tetap saja menggunakan intellektualitasnya. Seperti dalam prosanya Pidato Chairil Anwar 1943, "Kita mesti menimbang, memilih, mengupas, dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpul-satukan. Jika kerja setengah-setengah saja, mungkin satu waktu nanti kita jadi impropisator. Sungguh pun impropisator besar! Tapi hasil seni impropisasi tetap jauh di bawah dan rendah dari hasil seni-cipta,..."
Jelas di sini, sikap total Chairil sebagai seniman, juga total dalam menghasilkan karya-karyanya. Sajak Chairil dan hidupnya tidak bisa terpisahkan. Ia dan sajak, saling menghidupkan satu sama lain; "Jalan, ketumbuhan, proses dari penciptaan kembali ini, datangnya, keluarnya, tersemburnya dari konsepsi si penyair, penglihatannya (visie), cita-citanya (ideal-ideaal), perasaan, dan pergeseran hidupnya, pandangan hidupnya, dasar pikirannya, bahan pokok yang besar ini haruslah sesuatu yang dialami, dijalani (dalam jiwa, cita, perasaan, pikiran, atau pengalaman hidupnya sendiri)," tulis Chairil dalam Pidato Radio 1946.
Menurut Iwan Simatupang, "Kelebihan Chairil Anwar dari manusia yang lain, ialah ia jadikan deritanya jadi sumber pengucapan yang berfungsi justru menempiaskan dan membatalkan segala derita dari segala manusia." Chairil Anwar membawa suatu aliran seni yang menghendaki kedekatan pada sumber asal pikiran dan keinsyafan. Pikiran dan keinsyafan dalam pertumbuhan yang pertama, belum lagi diatur dan disusun, dipengaruhi pikiran dan keinsyafan dari luar, pengolahan dan pembetulan dari luar. Dalam ekspresionisme pikiran dan keinsyafan dalam tingkat pertama itu masih sangat kental sangat dekat pada perasaan dan jiwa asal, dan itulah yang sejelasnya dilontarkan atau lebih tepatnya melontar dalam hasil ciptaan.
Demikianlah buah ciptaan bukan lukisan kesan pada jiwa, tetapi teriakan jiwa itu sendiri. Sikap hidup dalam karya-karya Chairil Anwar bisa kita lihat dalam catatan harian, atau prosa Chairil sendiri. "Vitalisme. Tenaga hidup! Api hidup! Mata Ida bertanya kulihat. Kalau-kalau vitalisme ini mungkin diresapkan dalam seni? Mengapa tidak adik. Bahkan sifat ini tidak mungkin dihilangkan, atau ditiadakan," tulis Chairil, dan lanjutnya, “Dalam seni: vitalitas itu chaotisch voorstadium, keindahan kosmich eindstadium." Dalam prosa “Kawan dan Aku”, hal ini kembali ditegaskan, "Pesan kepada generasi muda: wijsheid + inzicht tidak cukup, musti stimulerende kracht + enthousiasme." Kebijaksanaan ditambah wawasan tidaklah cukup. Mesti juga penuh semangat, merangsang daya dan antusiasme (kepenuhminatan).
Kesedihan, dan kegembiraan dalam satu diri Chairil bukanlah suatu hal yang membuat kita memicingkan mata. Karena ia adalah seorang seniman, manusia yang mengedepankan estetika, rasa, dalam hidupnya. Dirinya yang punya sikap hidup berani, memang wajar sekali diterpa oleh gelombang jiwa yang demikian rupa. Hal ini juga yang memungkinkan kekayaan dalam karya kepenyairannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar