Sabtu, April 21, 2012

Memperingati Kartini dengan Membacai Pikirannya

“Panggil aku Kartini saja,” demikian kata Kartini, sekali pun pada waktu itu, ia adalah anak seorang Adipati dan memang menyandang gelar ningrat sebagai Raden Ajeng. “Yang tidak berani, tidak menang,” demikian katanya lagi di suratnya yang lain, sekali pun ia tahu ia kalah atau dikalahkan. Tapi ia meyakini, bahwa, “Kalau orang Jawa (sekiranya konsep negara bangsa Indonesia sudah ada dan dikenalinya, mungkin istilah itu akan berubah menjadi "Indonesia") berpendidikan, ia tidak akan lagi mengiakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan kepadanya oleh atasannya.” Karena, “Betapa luas dan indah sebuah sangkar, penuh kenikmatan, bagi burung di dalamnya sangkar itu adalah kurungan.” Maka keyakinannya, “Habis malam terbitlah cahaya, habis topan datanglah reda, habis juang datanglah mulia, habis duka datanglah suka.” Sekali pun pada akhirnya, dalam taksu keimanannya, ia menulis, “Aku ingin menjadi hamba Allah.” Kutipan-kutipan dari ungkapan-ungkapan Kartini di atas, menunjukkan betapa Kartini adalah seorang manusia yang cerdas. Dalam usia yang sangat muda, ia mampu mengungkapkan, menganalisis, menyelipkan sinisme yang cerdas dalam tulisan-tulisannya. Kesan kedua adalah keberaniaannya. Sebagaimana semboyannya, “yang tidak berani tidak menang, orang pemberani menaklukkan tiga perempat dunia.” Sekali pun tragedi kehidupannya tidaklah mudah, bahkan harus dengan mengorbankan cita-citanya. Bagi kaum perempuan Indonesia, memperingati Hari Kartini (21 April) dengan memakai kebaya atau pakaian adat, tentu tak salah. Namun, memperingati Kartini dengan membaca pikiran-pikirannya (yang terdokumentasikan dengan baik dan dapat diakses hingga kini, secara lebih lengkap dan otentik dibanding, maafkan, tokoh-tokoh perempuan pejuang yang lain), adalah juga kegiatan yang mempesona, apalagi dengan mengerti makna dan mempraktikkannya. Apalagi Kartini adalah sosok pemikir lintas agama, lintas gender, dan lintas bangsa. Ia manusia universal, dan bahkan beberapa pandangannya tentang agama, sungguh sangat tajam dan liberal bagi jaman sekarang ini. Berikut beberapa pemikiran Kartini yang dikutipkan dari berbagai surat-surat Kartini pada teman-temannya di Belanda. Banyak kebijaksanaan lain yang bisa kita dapatkan dalam sosok Kartini. Berikut ini sebagian kutipan dari surat-surat dan karya-karyanya yang bisa diambil dan dibagikan kepada kawan-kawan untuk bahan pembelajaran bersama. 25 Mei 1899 | Panggil aku Kartini saja, itulah namaku. 25 Mei 1899 | Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata "emansipasi" belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. 18 Agustus 1899 | Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut “keturunan bangsawan” itu. 6 Nopember 1899 | Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. Agustus 1900 | Betapapun indah dan bagus serta penuh kemewahan kurungan itu, bagi si burung yang terkurung di dalamnya, dia tetaplah kurungan! 7 Oktober 1900 | Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang; jalan itu berbatu-batu, berjendal-jendul, licin,... belum dirintis! Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan itu sudah terbuka, dan saya turut membantu merentas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera. 7 Oktober 1900 | Hidup ini patut kita hayati! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dahulu? Dan dengan bergulat kita memperoleh kekuatan. Dan dengan tersesat-sesat kita menemukan jejak. 1900 | Tetapi apakah kecerdasan pikiran itu sudah berarti segala-galanya? Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan. Salah satu sifat orang Jawa yang tidak baik, yang kalau perlu dibasmi ialah sifat gila sanjungan. 21 Juni 1901 | Ada kewajiban besar yang disebut rasa terima kasih; ada kewajiban luhur, suci, namanya cinta kasih anak; dan ada kejahatan, memuakkan dan sangat menjijikkan, egoisme namanya! Aduh! Dalam beberapa hal, sukar sekali menetapkan dimana yang baik berhenti, dan dimana yang jelek dimulai. 4 September 1901 | Pergi, garap kerjamu melaksanakan cita-cita; kerja buat hari depan; kerja buat kesejahteraan ribuan, yang terbungkuk-bungkuk di bawah tindasan hukum-hukum yang tidak adil, di bawah paham palsu tentang baik dan buruk; pergi, pergi, menderitalah dan berjuanglah tapi kerjalah bagi keabadian! 11 Oktober 1901 | Dalam kawruh Jawa terdapat banyak petuah yang sangat bagus. Hanya sayangnya, tidak semua orang dapat mengerti simbolik. 31 Desember 1901 | Sudah pastilah, bahwa dunia Pribumi akan menentang aku,... Orang akan menganggap aku gila. Namun, gagasan itu indah, yaitu dengan melalui pers memperjuangkan cita-cita. 10 Juni 1902 | Bukan terhadap kaum pria kami melancarkan peperangan. Tetapi terhadap anggapan kuno, adat, yang tidak lagi mendatangkan kebajikan bagi Jawa kami di kemudian hari, dan juga dengan beberapa orang lain kami akan bersama-sama jadi pelopornya. 21 Juli 1902 | Selalu menurut paham dan pengertian kami, inti segala agama adalah Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh! Orang-orang ini apakah yang telah kalian perbuat atasnya! 15 Agustus 1902 | Tiada terang yang tiada didahului oleh gelap,... Mengendalikan diri adalah kemenangan jiwa atas tubuh; kesunyian adalah jalan ke arah pemikiran. 15 Agustus 1902 | Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi karunia. 15 Agustus 1902 | Habis malam terbitlah terang. Habis badai datanglah damai. Habis juang sampailah menang. Habis duka tibalah suka. 27 Oktober 1902 | Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada yang Mahatinggi. 12 Desember 1902 | Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri. Menolong diri-sendiri. Menolong diri-sendiri itu kerap kali lebih sukar dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar