Rabu, Maret 14, 2012

Dongeng tentang Anjing dan Sekerat Daging

Dongeng Gubahan Sunardian Wirodono

Syahdan, menurut sahibul bokis, adalah seekor anjing yang merasa bingung saking laparnya. Sebentar hari lagi, BBM naik, demikian juga TDL. Anjing itu benar-benar sedih. Apa hubungannya?
Tentu saja ada, karena ia seekor anjing yang dipelihara oleh keluarga miskin, yang kebetulan tinggal di Indonesia, di jaman SBY pula! Kenaikan BBM dan TDL, pastilah berimbas padanya. Dan itu sudah dirapatkan oleh keluarga yang memeliharanya. Pembagian jatah masing-masing akan dipangkas. Termasuk dog-food bagi beliau (si anjing) ini.
Persoalan yang dihadapinya kini, pantaskah seekor anjing berdemonstrasi menuntut Presiden lengser, karena tak becus mengelola negara besar seperti Indonesia ini? Huks, huks!
Seharian penuh, beliau tidak mendapat makanan. Padahal, hampir seluruh bak sampah yang ia temui, tak ada sisa makanan. Karena sudah diembat oleh para manusia, yang entah darimana tiba-tiba saja seperti dikopipaste hingga jumlahnya berjibun. Rasanya, bahkan lebih banyak dari timbunan sampah itu sendiri. Di depan Istana Negara, anjing banget deh (ini makian), bak sampah pun tak ada. Kata para filsuf, mereka yang tak menghasilkan sampah pun, pastilah karena tidak pernah menghasilkan apa pun.
Tiba-tiba, ketika saat-saat genting menjelang, yakni ketika rasa putus asa menjerat leher dan melilit di usus perutnya, sang Anjing pun akhirnya melihat sepotong daging yang lezat. Tergeletak begitu saja di atas tanah. Bergegas beliau menggondol daging itu, dan berlari ke tempat tinggalnya, tak putus-putusnya ia bersyukur, “Oh, my Godness! Sungguh Tuhan Mahabesar!”
Belum sampai ke tujuan, di tengah perjalanan ia melewati jembatan sebuah sungai. Ia berjalan denga hati-hati, sekali pun jembatan itu masih utuh. Di tengah-tengah sungai, ia melongok ke bawah. Ia kaget, ia melihat seekor anjing yang lain, di bawah jembatan, juga sedang menggigit sepotong daging yang sama besarnya. Oh, tidak, sepertinya, bahkan lebih besar dari daging yang digondolnya.
“Gila, Meck! Daging yang digondolnya itu tampaknya lebih besar,” gerutu si Anjing kita ini, “jika aku sedikit lebih galak padanya, siapa tahu ia akan melepaskan daging itu dan lari,...”
Anjing kita pun kemudian beraksi. Ia pelototin si anjing di bawah jembatan itu. Eh, anjing itu balik memelototinya pula. Makin melotot Anjing kita ini, makin melotot pula si anjing di bawah. Begitu terus, apapun kelakuan Anjing kita begitu pula yang dilakukan bersamaan oleh si anjing di bawah.
“Grrrrrggghhhhhhh,...” si Anjing kita menjadi marah. Dasar anjing, ia menggonggong. Ia membuka mulutnya, dan, lepaslah sekerat daging yang digigitnya. Jatuh ke sungai!
Sampai dongeng ini ditulis, Anjing kita itu tak pernah tahu, bahwa anjing di bawah jembatan itu adalah bayangan dari si Anjing tokoh kita itu sendiri.
Anjing itu berdiri bengong di atas jembatan. Adakah kita mesti beritahu si tokoh kita ini? Rasanya tidak perlu. Apalagi, sekerat daging yang jatuh tadi, telah mengundang para kere di bawah jembatan untuk berebutan. Huks, huks!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar