Sabtu, Maret 10, 2012

Dongeng Kancil Versus Siput

Didongengkan Kembali oleh Sunardian Wirodono


Syahdan, pada suatu pagi gokil, Kancil sedang nongkrong di Monas. Matanya terus menatap sebongkah emas yang nangkring di pucuk tugu itu.
Seekor siput mengagetkannya, “Ngapain ente, pagi-pagi bengong di sini?”
Kancil tak bergeming, tatapannya terus ke atas. Ia menggeremeng, “Gimana ya, kalau Anas Urbaningrum digantung di situ?”
“Siapa? Anas Urbaningrum? Itu nama makhluk apaan? Binatang juga?” Siput bertanya.
“Hus! Itu makhluk berjenis manusia. Dia politikus!”
“Oh, sebangsa tikus,…”
“Dogol! Politikus itu julukan manusia yang bekerja di ranah politik!”
“Hmmm, kalau ranah Minang?”
“Garing lu!” Kancil sewot.
“Cil, gini aja deh, daripada ente mikirin gimana cara nyolong emas, kita lomba lari aja gimana?” Siput tiba-tiba menawarkan gagasan yang ajaib.
“Lomba lari? Lomba lari ame elu?” Kancil menoleh dan membelalakkan matanya.
“Iya, daripada ente cuma mikir menaikkan derajat dari nyolong timun ke nyolong emas, mendingan lomba lari. Badan sehat, tubuh kuat, bisa bikin timnas sepakbola yang hebat,…!”
“Elu kagak sakit ‘kan?” Kancil masih juga belum percaya.
“Yeeee, sombong deh! Kalau ente bisa menang lomba lari ame ane, Indonesia boleh ente ambil semuanya,…”
“Enak aja. Emang ini Negara elu, main ngasih ke orang aja!”
“Jangan hanya koruptor yang bisa jual negeri ini, Siput juga bisa!”
Hatta, akhirnya, Kancil pun bersetuju. Lomba lari antara Kancil versus Siput digelar. Entah bagaimana cerita, lomba lari ini agaknya menjadi event langka di dunia, dan banyak pihak tertarik. Beberapa sponsor dunia mendukung acara ini. Beberapa stasiun TV mancanegara berdatangan, bahkan ada pula yang mau siaran live. Tiga TV Indonesia, yang konon kaya raya, ditolak panitia, karena penawaran mereka sangat rendah.
Sepanjang route lomba lari itu, terlihat meriah. Umbul-umbul, spanduk, baliho, dan juga penonton yang memenuhi kanan-kiri jalan. Dari Monas, Thamrin, Gatot Subroto terus menggeblas sepanjang tol Cipularang menuju Bandung, Ciamis, Banjarnegara, Banyumas, Yogya, Sala, Pacitan, Banyuwangi, Tabanan, Maumere, Papua, pokoknya muter melintas Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, dan akhirnya melintasi ke Bakauheni, Cilegon,… dan kembali ke Monas (Catatan Panitia, sebenarnya mau melintas ke Cikeas, tapi lantaran ribet soal protokoler, lintasan itu dibatalkan).
“Siaaaaappppp,… 7, 6, 5, 4,… goooo!”
Tapi Kancil tidak bersegera lari. Ia bahkan hanya jalan santai, “Huahahaha, mana bisa Siput ngalahin gue. Gue jalan gini aja dia masih di belakang,…”
“Cil, kamu di mana?” suara Siput terdengar di depan Kancil.
Busyet! Bujugbuneng! Kagak salah? Kancil mempercepat langkah. Setiap ia menengok ke belakang, ia dengar suara Siput sudah di depannya. Kancil pun akhirnya berlari, tapi terus kejadian itu berulang. Setiap menengok ke belakang, Siput tidak terlihat, dan ia dengar suara Siput memanggil-manggil di depannya. Kancil makin mempercepat lari.
Tak terasa Kancil sudah berlari sampai ke luar tol, menuju Ciamis. Tapi, terus saja kejadian berulang seperti itu. Siput selalu memanggil di depan Kancil.
Di Malioboro malam-malam, nafas Kancil sudah mau putus, kehausan dan laper. Pengen ia ngegudeg bentar aja, eh, si Siput meneriakinya dari Sala, “Hoiiii, Cil, aku lagi nikmati Nasi Timlo nih, uwenak nan,…!”
Kancil segera menggeblas. Masa’ dirinya kalah dengan Siput? Bener-bener ini dongeng ngaco.
Tapi demikianlah. Sampai ke hutan-hutan Papua, yang merupakan medan paling dikuasai Kancil, Siput selalu terdengar memanggil di depannya. Sulawesi, Kalimantan,… terus hingga akhirnya di bunderan Monas kembali. Kancil melihat Siput itu nangkring di pelana kuda yang ditunggangi Pangeran Diponegoro di taman itu.
“Di jaman pembangunan ini,…” teriak Siput, membaca puisi Chairil Anwar yang terukir di kaki patung Pahlawan Goa Selarong itu.
Bagaimana bisa Kancil kalah cepat dengan Siput? Oh, my Godness!
“Majuuuu, ini barisan tak bergenderang berpalu,…” Siput terus saja berteriak bagaikan Rendra berdeklamasi.
Akhirnya, Kancil pun gantung diri di Monas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar