Minggu, Februari 12, 2012

Sedang Apakah, Duhai, Engkau Di Sana?

Oleh Sunardian Wirodono

Sedang apakah, duhai, engkau di sana? Sedang menyesali hidup, merutukinya? Atau sedang menikmati cinta yang meriah? Apapun, sepanjang engkau tahu, bahwa semuanya bukan tanpa sebab, bukan tanpa akibat.
Bahwa perjalanan hidup ini, tidak mak-bedunduk, tidak sekonyong-konyong dan tidak sebagaimana Mr. Bean yang menyanyikan masa lalu (Yesterday, Beatles) tanpa harmony, "Suddenly,..."
Dalam keyakinan Islam ada "asbabul nujum dan asbabul wurud", dalam keyakinan Asmuni ada asbab-asbab tempat puntung rokok, dan tak ada hil-hil yang mustahal, ada teks ada konteks, ada alpha dan omega, yang semuanya itu mengajarkan kepedulian kita mengingat, merenungkan, memikir ulang; Bahwa tak ada ini tanpa itu, tak ada itu tanpa ini.
Cobalah lamunkan pengalamanmu secara lebih terorganisasi, lebih intens, dan terfokus. Ia akan membuatmu lebih berenergi dan mengajakmu untuk siap beraksi kembali. Cobalah dengarkan musik yang indah, dengan semua inderamu. Bukan hanya mendengarkan suaranya, melainkan melihatnya, merasakannya, dan bergerak bersamanya. Dengan itu kau akan lakukan perjalanan mental ke suatu tempat yang lain. Ciptakanlah film layar lebar di batinmu, dan jadilah tokoh satu-satunya di dalamnya. Engkau pastilah jauh lebih "ahik punya" dibanding Brad Pitt, dibanding Angelina Jolie, dibanding siapapun bintang pesonamu.
Susunlah sebuah cerita petualangan, sebuah film sequel, bagaimana kau menembus ruang angkasa luar, perjalanan menembus batas waktu, bertualang di bawah samudera fana hidupmu, terjun bebas dari angkasa impian.
Lepaskan ketergantungan dari para penulis skenario yang cethek, atau lupakan para sutradara abal-abal, yang lebih bangga menduplikasi film-film asing daripada film-film kehidupan sekitarnya.
Sedang apakah, duhai, engkau di sana? Semoga kau baik-baik saja. Jangan bersedih dan mengeluh, sekiranya TOEFLmu tak mencapai 600, karena diluar PNS di Deperindag, masih banyak pekerjaan lainnya. Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tapi imajinasi, demikian dikatakan Einstein. Kenapa? Karena imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Logika akan membawamu dari A ke B, namun imajinasi akan membawa kemana-mana. Karenanya Sukarno suka berteriak-teriak, "Imagination! Imagination! Imagination!"
Orang-orang seperti kita yang percaya pada fisika, lagi-lagi ini kata Einstein, mengetahui bahwa perbedaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang terus menerus ada. Tapi apakah cinta itu ilusi? Renungkanlah, dan cobalah dengarkan lagu yang dilantunkan Whitney Houston (3 Agustus 1963 - 11 Februari 2012), yang baru saja meninggalkan kita, dalam 'I Will Always Love You';

"I hope life treats you kind.
And I hope you have all you dreamed of.
And I'm wishing you joy and happiness.
But above all this - I wish you love,..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar