Minggu, Februari 26, 2012

Revolusi Indonesia dalam Involusi Pemikiran

Oleh Sunardian Wirodono

Para remaja Indonesia, sering mewarisi hal yang mereka tak mengerti hakikat masalahnya. Sering lebih cenderung, hal itu membuktikan bahwa ajaran syariat kita begitu dominan, hingga dari generasi ke generasi yang muncul adalah pemikiran formalis. Perkelahian anak-anak SMA 70, Boedoet, Berland, dan lain-lain, bisa terjadi turun-temurun, bahkan sering muncul para mentor masing-masing.
Para fanatikus Indonesia, yang terdidik di kampus maupun jalanan, juga mencirikan hal yang setali tiga uang. Para pengidola Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Sukarno, Mohammad Natsir, seolah mewakili absolutisme bagaimana pertarungan ide-ide para mentornya dulu.
Bagaimana mau mengadakan revolusi jika yang terjadi adalah involusi pemikiran? Seriuskah kita dengan Indonesia ini? tentu jawabnya serius. Namun kotak-kotak pemikiran itu membuat tak ada reformasi dalam pemikiran sesungguhnya, kecuali hanya dalam slogan. Tak ada restorasi yang sesungguhnya, kecuali hanya tagline sebuah parpol.
Di antara "Trio Minang" Tan Malaka, Hatta, dan Sjahrir pun, juga berkelahi sendiri-sendiri. Dan Bung Karno, si Jawa yang tidak berpendidikan luar negeri itu, sering dalam percaturan itu dikambingcongekkan seolah paria.
Seandainya, ya, seandainya. Bukan hanya borjuasi gaya hidup, tapi kadang kita mewarisi borjuasi pemikiran. Padahal, pengertian borjuis di situ lebih kepada "berada dalam kelompok elite". Sementara pola hidup Sjahrir, Hatta, Tan Malaka, tetaplah sederhana, dan penganut humanisme universal dalam praktik. Sjahrir dan Hatta walaupun berbeda pandangan dari visi politik, tetapi dalam hubungan pribadinya mereka berteman dekat. Sama halnya dengan Bung Karno, pada sisi lain sebelum dan sesudah berada di tampuk kekuasaan. Sementara dalam pandangan Islam "kiri"-nya, Tan Malaka yang berwatak keras, radikal dan tidak kompromi, tentu karena dipengaruhi dari mana dia berasal.
Bisakah kita keluar dari kotak involusi pemikiran? Bisakah kita berada dalam "the Indonesian dream team"? Itu persoalan besar. Pokok dan pojok pikiran para founding father kita dulu, untung berada dalam bingkai karakter manusia intelektual dan berbudi. Sehingga fokus perjuangan masih menjadi prioritas. Tapi generasi kini? Yang penting adalah tawuran, dan tak tahu apa masalah sebenarnya. Kemudian, hanya mewarisi semangat asal beda, dan saling tuding. Persis tawuran anak SMA sikapnya.
Padahal, ya, padahal, seandainya Tanri Abeng lahir pada jaman dulu, mungkin the nation management itu bisa diuraikan. Karena manajemen tim itulah kelemahan kita. Kita tidak bisa membedakan peran, tugas, dan fungsi.
Dalam ilmu manajemen, ada beda antara orang marketing dan sales. Orang marketing bisa saja sarat dengan pengetahuan dalam hal pemasaran, tetapi orang sales lahir sebagai orang sales, menjual. Talenta sales itu tidaklah bisa dipelajari secara teoritis, meski sekarang ada banyak buku mengenai hal itu.
Itulah yang terjadi kira-kira pada kelompok-kelompok ini dan itu. Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, memang adalah pemikir-pemikir handal. Namun mereka bukanlah terlahir sebagai pemimpin yang "merakyat" (= popular, jangan lekas ngamuk dengan istilah ini). Sementara Bung Karno lahir dengan talenta dan kharisma pemimpin, terlepas kita menyukai atau tidak fakta ini. Senyatanya, ketika Sjahrir menjadi PM, sekiranya dia memiliki talenta kepemimpinan, tentunya dia tidak akan gagal dalam periodenya yang pendek itu.
Jadi ada yang mesti ngomong, dan ada yang mikir. Dalam manajemen ideal, CEO tidak perlu orang pintar, tapi harus orang yang punya kemampuan memimpin. Orang pintar bisa dibayar oleh CEO perusahaan. CEO justru tugasnya memang ngomong, dan tidak kebagian "mikir" (jangan cepat menyimpulkan, karena "tidak mikirnya" pemimpin berkualitas tentu beda dengan "mikirnya" orang bodoh).
Seandainya saja para orangtua kita dulu mau mengalah pada ego masing-masing, dan seandainya mereka berada dalam satu tim, Indonesia Raya sudah maju dari dulunya. Tapi, cobalah renungkan, mengapa dalam tim sepakbola saja, tak ada jaminan berkumpulnya individu-individu berkualitas itu menjadi kesebelasan yang handal?
Mampukah kita mengurai benang kusut, dan mengubah cara berfikir, dan tidak mengulang-ulang fanatisme sempit kita? Melakukan re-interpretasi, dan keluar dari jebakan masa lalu? Kita masih saja terkotak-kotak, dan merasa paling pintar. Nasehat sang gitaris rock Jimmy Hendrix, sesungguhnya sederhana saja, "Yang pinter ngomong, yang bijak mendengarkan!" Bisakah? Bisakah menanggalkan kacamata kuda, menyalah-nyalahkan masa lalu, dan berebut benar sudut pandang?
Perlakuan paling konyol yang sering diterima sejarah, ialah manusia tak pernah mau belajar darinya. Demikian mengutip kutbah G.W.F. Hegel (1770–1831), pengarang AS. Dan, sebagaimana tawuran anak-anak SMA, mereka sering tidak tahu, apa sih sebenarnya yang mereka pertawurkan?
Revolusi tak pernah bisa bergulir dari involusi. Jika rakyat diam, lebih karena mereka tak punya pilihan, kecuali bertahan dalam piramida korban kekuasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar