Selasa, Februari 28, 2012

Kado Bagi 76 Tahun Nh. Dini

Catatan : Sunardian Wirodono

NURHAYATI SRI HARDINI, 76 tahun lalu lahir (29 Februari 1936) di Semarang. Siapa nama ini, tentu agak asing. Namun tidak jika kita menyebut favename-nya sebagai Nh. Dini. Dengan segera kita akan mengetahui beberapa karyanya seperti "Pada Sebuah Kapal" (1972), "La Barka" (1975), "Namaku Hiroko" (1977), "Orang-orang Tran" (1983), "Pertemuan Dua Hati" (1998), dan sebagainya. Ia adalah perempuan penulis sastra terkemuka kita.
Jika kita hendak mengenalnya, sangat mudah, karena ia menulis serangkaian cerita kenangan, seperti "Sebuah Lorong di Kotaku" (1978), "Padang Ilalang di Belakang Rumah" (1979), "Langit dan Bumi Sahabat Kami" (1979), "Sekayu" (1981), dan "Kuncup Berseri" (1982). Semuanya itu, secara sangat jelas menggambarkan kehidupan masa lalunya di Semarang.
Sesuai bentuknya sebagai cerita kenangan, kelima karya itu bercerita mengenai kenangan dan pengalamannya dari masa kecil sampai menjelang memasuki usia dewasa. Meski pun dalam cerita kenangan tersebut, Nh. Dini tidak hanya menceritakan kenangan pribadi, melainkan juga menyoroti berbagai peristiwa dan budaya masyarakat tempat dia tumbuh, yaitu budaya Jawa. Untuk melanjutkan pemahaman tentang beliau, ada baiknya kemudian jika kita membaca novel terbaru Nh. Dini "La Grande Borne" (2007), yang dengan sedikit terang-benderang menceritakan episode penting perkawinannya dengan Yves Coffin (diplomat Prancis), hingga pada mimpinya untuk melarikan dua anaknya, Lintang dan Padang.
Tahun 1957-1960 bekerja di GIA (Garuda Indonesia Airways), sebagai pramugari. Setelah menikah dengan Yves Coffin, berturut-turut ia bermukim di Jepang, Perancis, Amerika Serikat. Namun perkawinannya retak, hubungannya dengan suami memburuk. Apalagi ketika suaminya tak lagi sebagai diplomat, namun justeru makin sibuk sendiri dengan hobi fotografi.
Dua anaknya memang tidak mengikuti Dini, karena mahligai perkawinannya ambruk 1980. Dan ia tidak mendapatkan apa-apa. Waktu itu semua orang menyalahkannya, karena dia meninggalkan konstitusi perkawinan dan anak-anak (Marie-Claire Lintang, kini tinggal di Perancis, 43 tahun) dan Pierre Louis Padang (kini tinggal di Kanada, 37 tahun). Dan karena itu pula, ia tak memperoleh apa-apa dari mantan suaminya. Ia hanya memperoleh 10.000 dollar AS, yang itu pun kemudian digunakan untuk membuat pondok baca anak-anak di Sekayu, Semarang, ketika memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Nh. Dini kembali berpindah kewarganegaraan Indonesia pada 1985, setelah lima tahun sebelumnya mulai menetap di Jakarta dan Semarang.
Dini dididik dalam tradisi kepriyayian Jawa yang menjunjung nilai-nilai ke-kstaria-an, kedua orangtuanya bisa dibilang liberal dan egaliter dalam mendidik anak-anaknya, meski tetap memegang teguh kesantuan priayi. Dan memang, jadilah Dini seorang yang kritis, apalagi sebagai perempuan yang risau akan persoalan gender (menurut Budi Darma, semua itu tercermin dalam karya-karya Dini yang penuh kemarahan pada kaum laki-laki).
Kehidupan di Indonesia, adalah masa-masa sulitnya. Apalagi pada tahun-tahun 1996-2000. Ia tak punya rumah. Nebeng di rumah temannya yang sempit dan reyot. Bahkan ia juga hidup dari topangan keuangan teman-temannya. Royalti dari buku-bukunya yang laris, tidak memadai, apalagi itu diberikan per-semester. Ia belum masuk dalam periode booming buku sebagaimana Andrea Hirata misalnya. Padahal, ia banyak menerima penghargaan dari berbagai pihak. Saking pahitnya hidup, piagam, piala, trofi, semuanya dikumpulkan untuk kemudian dijualnya ke penjual rongsokan. Hasilnya? Dari semua penghargaannya itu, ia mendapat uang Rp 200.000 (duaratus ribu rupiah), karena ia memang butuh uang untuk hidupnya.
Belum lagi ketika hepatitis B merangseknya. Hidupnya seolah hancur. Ia butuh perawatan kesehatan yang tidak sedikit jumlahnya. Demikian pula kemudian penyakit vertigonya, hingga ia tidak bisa menulis lagi. Ia banting setir menjadi pelukis, sempat pameran dan laku beberapa. Namun, beberapa tahun kemudian, ia merasa Tuhan tidak merestui tentang banting setir profesi itu.
Dini seorang yang keras kepala, dan untuk prinsipnya, tak bisa ditawar. Karena itu juga, ia seorang yang gigih. ia bisa tidak kompromi. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, kalau pemiliknya pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan mereka. Barang-barang inilah yang ia jual untuk hidup sampai tahun 2000. Hingga sampai piagam dan piala-piala penghargaan yang dijualnya dengan "penghargaan" Rp 200.000 dari si penjual rongsokan tadi.
Baru pada tahun 2003, ia mendapat penghargaan berupa uang dari Pusat Bahasa (Depdiknas) sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah), itu pun, karena Megawati (sebagai Wakil Presiden waktu itu), mendengar Ratu Sirikit memberinya hadiah Rp 50.000.000 (limapuluh juta rupiah) berkait dengan SEA Write Award yang diterima Dini dari pemerintah Thailand. Baru pada 2011, Freedom Institute memberinya penghargaan Bakrie Award dengan nominal Rp 50.000.000.
Namun biaya hidup Dini memang tinggi. Boros? Ya, terutama untuk perawatan kesehatannya yang setiap minggu harus melakukan terapi bagi penyakit yang dideritanya. Ia benar-benar paria dan tak punya apa-apa. Dewan Kesenian Jawa Tengah pernah menggalang dana, dan mendapatkan Rp 11 juta untuk pembiayaan perawatan hepatitys B yang disandangnya waktu itu. Untuk kehidupan kesehariannya, dulu ada seorang teman pramugari GIA yang membantunya, sebulan memberinya Rp 500.000, namun setelah suami dari teman itu meninggal, bantuan itu tak pernah ada lagi.
Sebagai orang yang hidup sendiri, sampai akhirnya 2003-2006 ia tinggal di Panti Wreda (Rumah Lansia) di Yogyakarta, dan sempat memindahkan perpustakaan anak-anaknya ke Yogya pula. Tapi 2007 ia pindah ke Rumah Lansia Wisma Langen Werdhasih, Desa Lerep, Kec. Ungaran, Kab. Semarang (30 km selatan kota Semarang). Untuk mengobati penyakit vertigonya, karena tak mau menyusahkan orang lain, NH Dini merelakan sekitar 30 lukisan yang dibuatnya untuk dijual.
Dalam perbincangan saya di Yogya (2004), Dini pernah mengatakan, bagaimana penghargaan pemerintah Malaysia pada seniman. Seorang setaraf Nh, Dini, di Malaysia, akan diangkat sebagai sastrawan negara, yang artinya semua kehidupannya ditanggung oleh negara. Biasanya, untuk mereka yang telah berusia di atas 50 tahun dan telah mengabdi dalam profesinya selama 10 tahun.
Saya tiba-tiba teringat pada film "Iris" (Richard Eyre, 2001), true story novelis Iris Murdoch yang diperankan Judi Dench dan Kate Winslet sekaligus, gambaran kehidupan terkininya hampir mirip.

Dalam sebuah wawancara dengan media online, Nh. Dini menceriterakan bahwa dirinya pernah berkirim surat kepada Presiden SBY. Bukan untuk meminta bantuan, melainkan meminta Askes (Asuransi Kesehatan), yang itu pun artinya hanya akan mendapat subsidi 10% dari biaya perawatan kesehatan. Tiga kali ia menulis surat dan baru kemudian mendapatkan jawaban dari Setneg, bahwa dirinya tidak termasuk nama yang mendapatkan Askes. "Itu betul-betul kurangajar," Dini geram, "itu akan kualat sama saya nanti. Dan itu masuk dalam doa saya,..."
Kini, Nh. Dini yang mempesona dengan karya-karyanya itu, menunggui lukisan-lukisannya, di lereng perbukitan sunyi di Ungaran. Menunggui lukisan-lukisan itu dibeli oleh siapapun yang sudi, untuk membiayai vertigonya.
Mbak Dini, Tuhan besertamu. Semoga dikuatkan dan dipasrahkan, dalam 76 tahun perjalanan hidupmu! | Lereng Merapi, 28 Februari 2012

10 komentar:

  1. Woah! I'm really loving the template/theme of this blog. It's simple, yet effective.
    A lot of times it's challenging to get that "perfect balance" between user friendliness and appearance. I must say that you've done
    a great job with this. Also, the blog loads super quick for me on Safari.
    Excellent Blog!

    Have a look at my blog ... how to make money fast without a job

    BalasHapus
  2. inilah dunia.... dimana keadilan? tp semua sdh diatur oleh tuhan YME, manusia hanya menjalani dan berusaha menjadikan hal yg lebih baik,....

    BalasHapus
  3. Seperti tdk ada lagi ikatan batin antara anak anaknya yg berbangsa asing, yg telah sukses, dengan ibunya. Semoga Allah SWTmemuliakan ibu Dini dan memeliharanya. Potret bangsa kita yg tdk mempedulikan assetnya yg berharga.

    BalasHapus
  4. Post ini memang sudah lebih dari setahun yang lalu.
    Namun siapa menyangka lebih dari setahun kemudian malah nam anaknya yang kian mencuat ke dunia perfilman?
    Dunia memang tengah dibuat terbahak-bahak melalui kisah buatan anaknya di Despicable Me, ironinya adalah sang ibunda tengah bersedih di dalam keadaannya yang memilukan.

    How can we help?

    BalasHapus
  5. Bagaimana caranya saya menghubungi beliau, pak?

    BalasHapus
  6. Saya kagum dengan hasil karya & prinsip Ibu Dini. Smoga ALLOH slalu melindungimu & memudahkan jalan bagi cobaanmu. Ibu memang wanita hebat !

    BalasHapus
  7. Jadi penasaran ingin ke Ungaran bertemu dengan legenda hidup NH Dini... seharusnya negara mengurus semua kebutuhan hidup seorang NH Dini sebagai seorang sastrawan yang telah melahirkan karya-karya hebat...Indonesia sangat beruntung memiliki tokoh sastra perempuan ini.... Ingin secepatnya bertemu beliau kemudian membeli langsung karya-karyanya... jadi teringat, banyak seniman dunia justru diburu karyanya setelah ybs meninggal dunia (Galileo Galilei, Emily Dickinson, Van Gogh, dll)

    BalasHapus
  8. Saya bangga, sebagai generasi muda bisa mengenal penulis terkenal dijamannya NH Dini
    Bagaimana jika bukunya dicetak kembali supaya mampu membantunya untuk mengobatinya..

    BalasHapus