Senin, Februari 27, 2012

Hari Gini Masih Berfesbuk? Sebuah Metamorfosis Jejaring Sosial

Catatan Sunardian Wirodono

Penemuan jejaring sosial seperti facebook dan twitter, bagi masyarakat Indonesia, bisa menjadi berkah namun juga bisa sebaliknya. Menjadi berkah, karena ruang partisipasi publik, yang semenjak "Demokrasi Terpimpin" Sukarno (1957) makin dimutlakkan oleh Soeharto (1968-1998), dan tidak mengalami revisi atau reformasi dalam sistem politik kita hingga hari ini, seolah bisa seketika dipotong. Faham demokrasi yang paling purba meruak, siapa saja boleh ngomong.
Celakanya, ada dua hal yang menghawatirkan mengenai hal ini. Yang pertama, masyarakat kita tidak terdidik untuk partisipasi itu, karena lama terkungkung sebagai obyek. Ketika ujug-ujug ruang itu terbuka, ketidakterlatihan itu bisamemunculkan masalah-masalah baru.
Secara teknis, karena masyarakat kita dipaksa berkomunikasi secara tertulis, namun masyarakat kita bukanlah masyarakat yang terdidik dalam hal itu. Sehingga bentuk komunikasi tertulis itu masih saja mengesankan fakta, bahwa kita adalah masyarakat lisan. Bukan masyarakat yang mengalami proses literacy media, wong minat baca saja rendah. Padahal kita tahu, ketiadaan referensi tentu akan memberikan problem serius dalam berkomunikasi tulis. Munculnya bahasa alay, adalah contoh bagaimana komunikasi tulis bisa dipaksa oleh keterbatasan keypad handphone dan jumlah karakter maksimal yang dibolehkan. Belum lagi ketika Mark Zuckerbergh harus berkompetisi dengan jejaring sosial lainnya, sehingga facebook kini bisa diakomodasi memakai handphone, yang tentu targetnya adalah pemudahan pengaksesan, untuk menjaring pemakai sebanyak-banyaknya. Sementara kita tahu, kemampuan akses hp yang terbatas, makin membuat pola komunikasi fb menjadi makin personal dan eksklusif. Apalagi, fb yang semula mengatakan carilah sebanyak-banyaknya sahabat, kini dibatasi dengan syarat aneh, "apakah anda mengenal dia,..." kalau sudah kenal ngapain juga kenalan (lagian kalau belum kenal, emang mau ngenalin)?
Faktor kedua; Dengan mudahnya membuat email, sebagai syarat untuk membuat akun fb, media ini kemudian menjadi semacam "junk media", karena jati diri atau identitas pemilik akun tidak terverifikasi. Ada banyak nama-nama indah di sana, seperti "Penyair Berdarah", "Rembulan Retak", "Pengelana Asmara", "Yang Tersakiti Selalu", "Pemuja Janda", dan entah apalagi, yang entah apa pula tujuannya.
Dari dua hal tersebut, maka kita bisa mengerti, apa saja yang muncul dalam berbagai status dan komentar jejaring sosial bernama fesbuk itu. Ia kemudian tak jauh beda dengan handphone yang bisa mengirim SMS atau MMS, hanya dengan cara yang sedikit lebih canggih. Misalnya, bisa serentak diketahui oleh mutual friends atau yang terkoneksi. Dalam komunikasi handphone, ia hanya bisa berkomunikasi dengan satu nomor saja (BB dan hp yang canggih mengembangkan komunikasi grup, namun tetap saja terbatas). Sementara, di fesbuk (atau twitter) bisa terakses dengan komunikan yang lebih terbuka, meski di luar "komunitas" dan kepentingannya, tetap saja tidak terjadi komunikasi karena komunike-nya tidak dikenali alias asing.
Maka kemudian perkembangan fb ditengarai dengan dua kecenderungan. Pertama para fesbuker yang tidak nyaman, pada akhirnya kembali ke fitrahnya, dengan memakai fasilitas fesbuk seperti membuat "grup" atau "page", karena di sana mereka bisa memilih yang seide, sehobi, sepemikiran, seminat, karena merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi. Kecenderungan kedua, pola komunikasi fesbuk menjadi makin terseleksi hanya pada kelompok yang memang di dunia nyata sudah saling kenal, baik teman sekolah, kampus, yang kini masih satu kota atau tersebar ke berbagai negara. Isi "pembicaraan tertulis" mereka, adalah persoalan-persoalan internal mereka, isyu-isyu domestik dengan idiom-idiom personalnya yang orang di luar kepentingan dan komunitas itu tidak dengan leluasa bisa "tune in". Apalagi jika yang muncul adalah soal yang benar-benar sangat pribadi, dengan kalimat menggantung, informasi yang sesat dan "ngapain juga urusannya,...!"
Pada pertama kali, tampaknya hal itu menyenangkan, karena media fesbuk mampu menawarkan alternatif, pola lain dalam berkomunikasi. Bagi mereka para pemuja konsep "antitese" yang selalu melafalkan perlawanan pada berbagai kebekuan sistem, fesbuk dianggap sebagai media yang membebaskan. Namun pada sisi lain, perlahan dan pasti, pada akhirnya fesbuk justeru menjadi penjajah baru, karena kita tidak berada dalam kapasitas yang sama, sejajar, setara, yang memungkinkan munculnya komunikasi dan informasi yang elegant.
Lantas, apa masalahnya? Tak ada. Ini hanya analisis fakta, yang fungsinya lebih untuk memposisikan diri atau menyikapinya. Karena masing-masing orang tentu mempunyai pilihannya sendiri-sendiri. Maka, kita akan melihat, bagaimana jika kelak facebook melakukan verifikasi data mengenai akun-akunnya. Artinya, seseorang hanya akan mempunyai satu akun, dengan data pemilik yang telah diverifikasi kebenaran faktualnya. Maka nama-nama "alias" yang puitis dan sadis itu, dengan sendirinya akan musnah. Jika pun ada fave-name, maka identitas kepemilikannya jelas.
Kenapa? Tentu saja Mark Zuckerberg tak mau kehilangan muka, karena medianya pada satu sisi dianggap tidak memiliki peran significant dalam dunia komunikasi, karena ia hanya sekedar mengeksploitasi (dan bukan mengeksplorasi) pertumbuhan masyarakat. Dalam masyarakat yang un-educated, media yang mempunyai kelebihan dan kelemahan seperti fesbuk, akan menjadi alat ampuh untuk tumbuhnya anomali dan dekadensi. Beberapa penelitian membuktikan, bagaimana pola komunikasi di fesbuk (juga twitter) ditengarai mulai menjadi tidak nyaman. Kenapa? Karena media itu memfasilitasi orang tidak bertanggungjawab untuk melakukan apa saja tanpa bisa ditengarai kualitasnya. Dalam masyarakat normal saja, tak sedikit kita temui perilaku lempar batu sembunyi tangan, apalagi ketika ada teknologi yang memberikan fasilitas untuk itu.
Masyarakat yang rindu eksis, dan masyarakat yang kurang terdidik, akan merasakan bagaimana kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi dunia maya. Namun, kecanggihan teknologi itu tidak memberikan makna apa-apa kecuali pemuasan nafsu pribadi, sebagai masyarakat konsumen yang pemilih, namun tak mampu menyodorkan content. Itu jika kita sepakat yang bernama content bukanlah sekedar "isi" melainkan "berisi". Isi adalah fakta, bisa besar bisa kecil, tetapi "berisi" adalah suatu proses pemuliaan untuk menambah, memuliakan, memproses ke arah kebaikan, dan sejenisnya.

2 komentar: