Selasa, Februari 21, 2012

Dongeng Bodoh tentang Bodoh dan tidak Bodoh

Oleh Sunardian Wirodono


Entahlah apa sesungguhnya pekerjaan duo sohib kental Susilo dan Mbambang ini. Karena pagi yang sudah kelar dengan mentari gantheng sekaligus cantik itu, dilewatkannya dengan nongkrong di pinggir jalan. Kenapakah mereka berdua nongkrong dipinggir jalan? Karena bisa dituding gilalah mereka, jika nongkrong di tengah jalan yang ribut orang berebut bersidahulu.
Syahdan, Susilo hanya ingin membuktikan kepada Mbambang, tentang seorang manusia terbodoh di dunia, yang konon menurutnya layak masuk The Guinness Book of Record. Kenapa tidak bermaksud tercatat di MURI saja, agar kelihatan nasionalis? Pasalnya bukan nasionalis atau tidak, tapi soal kemampuan membayar sajalah, yang menyebabkan Susilo memilih TGBoR yang tidak berbayar.
"Bentar lagi, kau akan lihat, Indonesia ini punya makhluk terbodoh di seluruh dunia,..." berkata Susilo pada sohibnya.
"Yang bener, Su?" Mbambang balik bertanya.
Hatta, maka muncullah seorang lelaki dewasa, melangkah mendekat ke arah Susilo dan Mbambang nongkrong.
"Nah, ini dia," Susilo beranjak dan menyongsong lelaki dewasa itu. Susilo kemudian berkata pada lelaki dewasa itu, "Hei, kamu boleh pilih, ambil salah satu uang ini. Terserah kamu pilih yang mana?"
Susilo menyodorkan dua lembar uang rupiah. Duaribu rupiah di tangan kanan dan limaribu rupiah di tangan kiri, kepada lelaki dewasa itu.
Seperti mesin, lelaki dewasa itu pun bergerak mengambil uang Rp 2000 dan kemudian pergi begitu saja.
"Nah, lihat, Mbang,..." Susilo antusias menunjukkan pada Mbambang, "dia memilih yang duaribu, bukan yang limaribu! Bodoh banget 'kan?"
"Ah, kebetulan saja 'kali! Mungkin dia khilaf, Su!"
"Enggak, deh!" Susilo menukas penuh semangat, "berkali-kali aku sudah membuktikannya, dan ia tetap pada pilihannya itu. Ini bukan hanya pada kamu aku tunjukkan. Pada Radjasa, pada Silalahi, pada Anas, Poltak, Mallarangeng, Marzuki,... aku tunjukkan pada mereka untuk membuktikan kata-kataku. Semuanya sama, dia memilih yang dua ribu! Bodoh banget 'kan? Rasanya nggak ada deh orang terbodoh yang lebih bodoh dibanding ini semua,...!"
Konon, pada esok harinya, duo sohib Susilo dan Mbambang kembali nongkrong di tempat sama, menunggu kejadian yang sama pula. Dan seperti kemarin, Susilo melakukan hal yang sama, dan lelaki dewasa itu pun juga memilih hal yang sama.
"Nah, iya 'kan? Bodoh banget 'kan?" Susilo meyakinkan Mbambang, "Kalau masih penasaran, besok kita buktikan lagi!"
Karena penasaran, Mbambang menyusul langkah si lelaki dewasa, dan bertanya, "Hei, Bapak, kenapa Bapak lebih memilih uang duaribu rupiah, dan bukannya mengambil yang limaribu rupiah?"
Si lelaki dewasa menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Mbambang, "Pak, sungguh bodohlah saya, jika saya mengambil yang limaribu, teman Bapak itu tentu tak akan mengulang-ulang kebodohannya,...!"
"Hm,.... Su, Su,...!" Mbambang menggeleng-gelengkan kepala sembari menghela nafas. Ia pandangi lelaki dewasa yang melangkah menjauh, ke ujung cakrawala jingga yang jijay.
Mbambang tersentak, lelaki dewasa itu seperti Morgan Freeman, dalam film Bruce Almighty, "jangan-jangan dia Tuhan yang ngejawantah? Aaaah, makin nggak jelas, siapa sesungguhnya yang bodoh di sini, aku atau Susilo! Atau yang baca dongeng bodoh ini?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar