Rabu, Januari 25, 2012

Dan Kita Hanya Mengulang-ulang Keluhan dan Sumpah Serapah

Oleh Sunardian Wirodono

Apriani Susanti (29), sekarang ini menjadi sasaran amuk massa, sebagai pembunuh berdarah dingin yang dalam sekali hantam menewaskan sembilan nyawa manusia. Dengan adanya berbagai media sosial seperti fesbuk dan twitter, masyarakat menjadi lebih mendapatkan tempat, untuk meluncahkan semua kekesalan dan kemarahan.
Sesuatu yang wajar dan bisa dimengerti. Sama halnya dengan seorang pencopet atau maling ayam, yang dihajar massa beramai-ramai, di kampung, jalanan, atau tengah pasar.
Semuanya itu hanya menunjuk, bagaimana masyarakat kita, di tengah berbagai mitos yang digenggamnya mengenai nilai kemuliaan, juga berada dalam situasi membutuhkan katup-katup pemicu, bagi berbagai kanalisasi kehidupan yang makin maha-kompleks dan njelimet.
Pada dasarnya, kita memiliki nilai-nilai dan norma sosial yang baku, pakem, dan sering disebut normatif. Sebagai suatu nilai yang bersifat normatif, ia menjadi cenderung tidak operasional. Karena ia tidak mempunyai daya untuk melakukan reduksi atau aksi, atau bahkan pengenyahan, kecuali katup pelepasan yang bersifat psiko-sosial. Eksistensi dan keberadaan publik menjadi terjaga, terwakili dan terwadahi, bahwa mereka mempunyai pendapat dan harkat.
Selebihnya? Kejadian-kejadian yang terkutuk dalam norma sosial itu, terus saja terjadi. Bukan hanya Apriani, maling ayam, copet, tetapi juga perilaku koruptif, penyimpangan sosial yang dilakukan oleh anggota DPR, politikus, menteri, bahkan presiden, terus saja dimungkinkan tumbuh, berkembang, bahkan massif dan semakin mengalami pencanggihan.
Bahkan, secara sistemik, kejahatan sosial, ekonomi, dan politik, bisa dirancang masuk ke dalam sistem yang diciptakan, untuk bisa mentolerir semuanya itu, agar menjadi sah dan secara hukum formal bukan pelanggaran. Sering atas nama hukum yang dikedepankan, muncul pernyataan yang pada dasarnya bisa melukai logika dan moralitas publik. Contoh mudah; Bagaimana polisi selalu mengatakan bahwa tindakannya sesuai protap, bagaimana para penjahat politik selalu berteriak semuanya sesuai undang-undang, dan seterusnya. Lihat misalnya, bagaimana antara yang berada di KPSI-PSSI dan yang berada di luarnya. Semua konon mengacu undang-undang, peraturan, statuta FIFA, dan sebagainya. Namun tidak ada yang mempunyai kemampuan untuk mengurai akar permasalahan. "Sebab" hanya dicari yang berkait dengan "akibat yang ditimbulkan". Tidak pernah "sebab" dicari karena "akibat dari apa" (bukan mengakibatkan apa).
Kita percaya, kepercayaan normatif masyarakat suatu bangsa, akan menjadi benteng peneguhan nilai sosial kita. Namun sekuat-kuatnya benteng, ia bisa runtuh karena kecanggihan yang hendak meruntuhkannya selalu mengalami kenaikan kelas. Sementara, semakin tinggi tembok yang kita bangun, dalam adagium kuno, juga menunjuk betapa semakin lemahnya yang berada di dalam. Belum lagi, jika pembangunan benteng itu ternyata dibangun dengan material yang buruk, kualitas penyemenan yang sudah dikorupsi, dan sejenisnya. Buktinya? Pemakaian jilbab Apriani, tak bisa menutupi penyidikan laboratorium, bahwa ternyata ia mengkonsumsi narkoba. Itu artinya benteng yang dibangunnya, hanyalah dalam kualitas dan kepentingan kamuflase, dan berbagai analogi bisa kita kenakan.
Media telah melakukan blow-up sedemikian rupa, dengan berbagai efek mediasinya. Semestinyalah kita segera memulai untuk membicarakan substansi masalah dan solusinya. Meski tentu ajakan ini tidak akan populer, karena bukan hanya kaum awam, namun MUI dan para elite kita pun, mengalami degradasi intelegentia, lebih suka menyalahkan orang yang salah, dan enggan untuk mempertanyakan "kenapa semua itu bisa terjadi?". Dan kita hanya akan mengulang-ulang keluhan, dan sumpah serapah.
Apriani tentu bersalah. Namun bukan mengecilkan arti kejadian itu, kita semestinya tak enggan mencari tahu penyebabnya. Dan kembali ke fokus masalah kita. Karena kesalahan Apriani, dalam kasus berbeda, juga bisa berlaku pada keputusan menteri, keputusan presiden, keputusan anggota legislatif, keputusan polisi, jaksa, hakim, karena mereka juga dalam situasi fly, melayang, tidak membumi, karena narkoba dalam bentuk dan arti lain. Yang bisa jadi bukan hanya menewaskan sembilan atau seratus nyawa, melainkan bisa jadi satu generasi hilang, karena terjebak dalam kemiskinan struktural.
Semestinya, masyarakat harus lebih pintar dari media. Jika media masih memblow-up peristiwa, masyarakat mestinya memblow-up masalah-nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar